
Aku sempat berpikir kalau itu hanya gelombang emosi acak dari Amalia. Rasa acak gelombang emosi yang kuat di kondisi sepi tidak ada orang tentu hanya itu yang kupikirkan. Namun, hal tersebut berbeda ketika aku membuka mata, hal yang berbeda menyambut pandanganku kala itu.
Aku yakin aku sedang ada di wilayah sepi penduduk, hal yang kulihat mungkin adalah sesuatu berupa pemandangan kosong, lampu ringan, dan lingkungan padat dengan pepohonan. Tapi, apa yang kudapat adalah hal yang berbeda.
Lingkunganku berubah sangat drastis sekarang. Tidak ada pepohonan, yang ada hanya kumpulan bebatuan yang menjulang ke atas seperti stalagmit di dalam goa. Tidak jalan setapak lagi, yang ada hanya hamparan berpasir layaknya gurun. Tidak ada suara nyanyian serangga malam lagi, yang ada hanya suara dentuman dan gelombang air dengan atmosfer berat layaknya aku sedang ada di dalam laut.
Ah ... aku ingat kejadian serupa di sini. Sesuatu yang pernah kualami sebelumnya di pertempuran dengan Geza.
Kaivan ... apa kamu baik-baik saja?
*Flap, flap, flap ....
Terdengar suara di dalam kepalaku, itu adalah Pero yang sedang mendekat mengepakkan sayapnya. Sepertinya dia juga sadar terhadap apa yang terjadi.
“Aku gak apa-apa. Cuman sedikit kaget. Tapi, yang barusan itu ... dan yang aku lihat sekarang, ini bukan ilusi, ‘kan?”
Aku menunjukkan pandangan ke arah depan, di mana mataku masih terganggu oleh lingkungan yang berubah drastis. Jika digambarkan secara kasar, aku seperti benar-benar seperti di dalam laut dengan terumbu karang dan suara gelembung-gelembung ditambah ombang-ambing ombak. Sesuatu yang berbeda, aku sekarang bisa bernapas normal, jadi ada perasaan aneh saja.
Iya, ini bukan ilusi. Aku dan Lia juga bisa lihat apa yang kamu lihat. Kita sudah masuk ke dunia animus. Tempat di mana dia membuat ritual sihir mengumpulkan mana tanpa harus berkait langsung dengan dunia kalian.
“...”
Aku melihat ke samping lagi, menatap tubuh Amalia yang sepertinya juga mengalami guncangan kuat. Terlihat dengan kondisi tubuhnya yang sedikit sempoyongan sambil memegang kepala layaknya menahan rasa pusing.
“Kamu gak apa-apa, Amalia?” tanyaku sedikit khawatir.
“...”
*Nod, nod ....
Hn? Oh ... jadi sekarang dia kembali bisu.
Gadis itu mengangguk pelan, menjawab dengan gesture halus seakan bilang untuk tidak mengkhawatirkannya secara berlebihan. Amalia di sana berusaha kuat, memulihkan kondisinya sendiri dan berdiri tegap berusaha menghadapi lingkungan sekarang.
OoooOOOoohhHHh ....
“Hh!?”
Di saat aku diam mengendurkan perhatian, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara keras. Getaran itu terasa menggema hebat sampai membuat dadaku ikut merasakannya. Suara yang besar, berat, bergelombang menjangkau luas menyebar ke berbagai arah ini terasa seram. Suara yang tidak diketahui sumbernya tersebut terasa seperti dia sedang mewakili langit.
Dua orang ... tidak, mungkin aku bisa bilang tiga orang. Apa kalian di sana dapat mendengarkanku? OooOOOoohHH ... sepertinya bisa, iya. Dari raut wajah dan respons tubuh kalian aku bisa menyimpulkannya.
Kembali suara tersebut terdengar. Berbeda dengan suara acak barusan, kali ini dia bicara seolah sedang mengajak kami berkomunikasi. Aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, tapi kalimatnya bergerak maju layaknya komunikasi satu arah. Orang yang sedang bicara sudah bisa mengetahui posisiku di mana.
Pengunjung? Tamu? Penyusup? Atau ... tim penyerang brutal yang mau menghancurkan istanaku? Kalian sekarang yang mana?
Pertanyaan yang langsung menjurus. Sepertinya dugaan, makhluk di belakang suara ini bukan sesuatu yang memiliki otak dangkal. Dia memiliki pikiran jernih layaknya akal manusia.
“Ukhgn, hmn,” batukku sedikit untuk mengawali percakapan karena gugup harus bicara tanpa melihat lawan bicara. “Apa jawaban kalau kami itu pengunjung bisa kamu percaya? Apa kamu mau menerima kami bertemu denganmu langsung?” lalu lanjutku dengan suara lantang ke langit tanpa arah yang jelas.
Tidak melihat lawanku secara langsung sangat menyeramkan bagiku. Jika apa yang dia katakan tentang istananya itu benar, aku masih tidak tahu seberapa luas wilayah dan apa saja yang ada di dalamnya. Kemungkinan kalau aku akan dipermainkan layaknya tikus-tikus dan dikendalikan dari jauh melewati banyak rintangan ... masih ada.
__ADS_1
Itu artinya, bertemu langsung adalah tindakan yang sangat menguntungkan bagiku. Terlebih mengingat tujuan utama datang ke sini adalah sebagai negosiasi.
Menemuiku langsung? Untuk apa? Apa kalian akan memberikan sesuatu padaku?
Sesuatu? Apa itu sebagai oleh-oleh?
Hmn ... aku tidak berpikir sesuatu seperti ini. Karena orang yang akan kutemui benar-benar kosong tanpa petunjuk seperti apa rupanya, maka aku pun tidak punya pikiran apa yang bisa membuatnya senang.
Tidak memberikan apa pun rasanya berat untuk dijawab sekarang. Aku merasakan sebuah tekanan khusus di mana dia ingin bukti kalau aku adalah seorang pengunjung biasa, seorang tamu.
Aku pun di sana segera merogoh kantongku, awalnya di sana hanya terdapat peralatan kecil seperti set ponsel dan obat untuk tangan kananku yang terluka. Tapi, kalau tidak salah masih ada satu hal yang setidaknya masih layak untuk diberikan.
Ah, mungkin ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Aku mulai menemukannya, mengambil keluar benda tersebut dari tas sambil menjunjung tinggi layaknya sedang dipersembahkan pada langit, “Ini, aku bawa roti. Aku gak tahu kamu suka atau enggak, tapi cuman ini yang bisa kubawa sekarang.”
“...”
“...”
Aku mungkin terlihat bodoh, mengajukan satu plastik roti seharga tiga ribu rupiah di tangan dan memperlakukannya sebagai barang sogokan. Rasa tusuk dari tatapan Amalia yang memandang aneh dapat kurasakan. Walaupun aku tidak melirik dan berusaha mengabaikan, gelombang emosi dan instingku masih bisa berfungsi.
Aa ... Kaivan, apa yang kamu lakukan? Apa ini bagian dari rencanamu?
Kali ini Pero yang bicara melalui telepati, ternyata dia juga merasakan kejanggalan dari tindakanku.
“Aku gak punya pilihan, cuman ini yang aku punya sekarang,” ucapku dengan suara sangat pelan layaknya bergumam sendiri agar hanya Pero yang bisa mendengar.
“...”
“...”
Eh? Ternyata ada cara seperti itu?
Tanyaku sendiri dalam hati.
Benar juga, aku sedikit ceroboh untuk tidak memikirkan parameter sihir yang ada di pihakku sekarang.
“Kita gak punya waktu buat itu. Kalau pun kamu pakai sihirmu, orang itu akan sadar dengan tindakan kita.”
Biarpun begitu, aku tetap melanjutkannya. Kalimatku keluar sambil tetap menjaga posisi tangan menengadahkan roti ke atas. Menarik tindakan tersebut sekarang akan terlihat tidak keren dan membuat keraguan lain pada Pero dan si tuan rumah.
OooOHhhh ... Ooohohoho ... menarik, menarik ... baru kali ini aku direndahkan seperti ini.
Ucap suara besar di langit dari tuan rumah.
Mendengar itu aku sedikit berkeringat karena ragu akan pilihan dan tindakan bodohku barusan. Tapi ....
Baiklah, aku terima.
Suara susulan dengan cepat dia lontarkan. Walaupun dia sedikit merendahkan, jawaban positif tetap diberikan padaku.
__ADS_1
*Open
“Hh!?”
Secara bersamaan, tiba-tiba muncul sebuah portal di depanku. Layaknya lubang dengan bias cermin air, di depanku terdapat lubang tanpa dapat terlihat ujungnya mengarah ke mana.
Masuklah, dan berikan apa yang di tanganmu itu langsung di hadapanku. Untuk sesaat aku berikan sebuah hadiah karena bisa menemukan dan masuk ke wilayahku malam ini.
“...”
Aku pun mulai menurunkan tanganku yang memegang roti kala itu. Tidak aku sangka kalau hasil dari tindakanku barusan benar-benar positif seperti ini. Padahal semenjak sadar akan bodohnya keputusan tersebut, aku sudah berpikir berbagai alasan untuk mengelak dan membela diri di depan Pero dan Amalia.
Tapi, baiklah, aku tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku pun mulai berjalan, mendekati sesuatu yang kusebut portal tersebut dan mencoba masuk ke dalamnya.
Woa, woa, woah, tunggu, aku lupa mengatakannya.
Hn?
Tersentak aku oleh ucapan yang tiba-tiba. Itu menyebabkan kakiku terhenti sementara.
Yang boleh masuk cuman satu orang. Kamu si bocah roti, perempuan di belakangmu, atau burung gagak itu. Lebih dari satu tidak diperbolehkan, itu syarat lain dariku.
“...”
Aku melirik ke belakangku, di sana ada Amalia yang memang sedang mengikuti sebelumnya. Dia memiliki jarak yang dekat dan siap untuk menyusulku ketika masuk ke portal. Namun, dengan peringatan barusan, aku dan dia sama-sama berhenti dan menatap merenungkan.
Awalnya aku ingin mengambil sebuah percakapan. Tapi, dari suasana yang terbentuk, Amalia dan Pero sepertinya menekankanku untuk maju sendiri di sana. Dari pada memutuskan siapa yang pantas, mereka seperti mengatakan, ‘Kami baik-baik saja. Kamu bisa pergi sendiri’.
*Nod ....
Dengan satu anggukan, aku pun kembali berjalan untuk masuk ke portal. Tentu kali ini tidak diikuti oleh Amalia dan Pero. Rasanya cukup mengerikan ketika perlu melakukan hal yang tidak diketahui, masuk ke dalam portal yang tidak diketahui apa yang terjadi termasuk ke dalamnya. Pikiranku tentang bisa atau tidaknya kembali lagi menghantui di pikiran.
Aku di sana mencoba memegang portal itu sebelumnya, tidak memasukkan seluruh tubuh. Lalu, hal pertama yang kurasakan di tangan kiriku adalah perbedaan atmosfer. Di tapak lingkungan pertama tempatku berada sebelumnya diisi dengan kondisi lautan pekat dengan tekanan udara yang padat. Tapi, di tanganku sekarang terdapat sebuah sensasi kosong layaknya sedang memegang udara kosong.
Saat itu pun aku mulai yakin dan segera melakukan langkah besar memajukan seluruh tubuh ke dalam portal.
*Whoush ....
“O-oh ...,” responsku setelah masuk ke portal tersebut, perbedaan tekanan membuat badanku bergetar dan tidak stabil hingga hampir membuat jatuh.
“... Lama sekali, apa kamu perlu satu menit hanya untuk masuk ke dalam pintu?”
“Hn?”
Aku mulai membuka mataku, mengembalikan fokus, dan melihat sekeliling. Kali ini, tempat yang kudatangi tidak terlalu asing, hanya seperti ruang kerja biasa dengan meja, kursi, dan satu set laptop.
Namun, tentu yang berbeda adalah pemiliknya. Di sana aku cukup bergidik ketika sadar kalau apa yang kuhadapi ternyata di luar dugaanku.
Gluk.
__ADS_1