Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 53 - Sisi Lain Cara Pandang Literatur


__ADS_3

Tidak ada satu pun yang tahu bagaimana prosedur pengurusan mayat. Dari kami semua, tidak ada yang punya latar belakang seperti itu baik di dunia nyata maupun latar tokoh yang kami perankan. Jadi, yang dilakukan hanya perlu membersihkan, menutupnya dengan kain, lalu dikubur seadanya.


Tapi, ternyata itu tetap tidak mudah.


Badan mayat Verdian sudah terpisah dari kepalanya, menyulitkanku membawa dan memindahkannya. Dilihat dari mana pun, penginapan tidak punya keranda mayat. Di saat yang bersamaan, kami kesulitan menggotongnya, kepala yang terputus kembali menjadi hambatan.


Aku tidak tahu dengan perasaan manusia. Tapi, begitulah rasanya, ketika kepala terpisah dan dibawa menjauh, simpati pun muncul terhadap penghormatan mayat lagi. Ingin kami membawanya sebisa mungkin, tapi luka yang berceceran di banyak tempat membuat dia mengeluarkan darah dan lendir di mana-mana. Ini membuat kami kesulitan agar bisa terbebas dari ceceran darahnya.


Di tengah jalan, aku mengeluh cukup hebat. Bahkan, sampai terpikir untuk menyerah dan membiarkan mayat ini langsung dikubur saja.


Aku sempat bertanya, kenapa tidak memanggil rumah sakit atau polisi saja. Lalu, dengan cepat jawaban didapat, yaitu karena tempat penginapan itu di tengah hutan jauh dari jangkauan.


Ketika mendengarnya, normal orang akan menanyakan kembali.


Lalu, kenapa ada orang yang ingin menginap di sini, hingga dibuat tempat dan ditugaskan staf mengurusnya. Bukankah sifat bisnis adalah mencari tempat menguntungkan baik dari segi pelanggan dan akomodasi. Tempat terpencil sangat buruk untuk menggalang hal seperti ini.


Kemudian, aku pun mendapat jawabannya dari Pero selaku pemeran pemilik penginapan.


Ternyata, semua itu adalah karena pemilik penginapan ini adalah orang pribadi. Dua orang utama dari pengurus utama dan koki, Pero dan Hanz, mereka berdua ternyata berperan sebagai staf orang dalam. Seluruh penginapan ini adalah milik dari salah satu keluarga siswa yang berkuasa. Bisa dibilang, dia adalah tuan putri, anak semata wayang dari keluarga super kaya yang menginginkan hal konyol seperti kesunyian total di hutan.


Lalu, orang yang memerankan itu ternyata adalah Imarine.


Dari ingatan yang diberikan padaku, tidak ada informasi kenapa penginapan ini bisa ada. Sepertinya, memang acara ini dibuat secara sepihak atas kerja sama para guru dan keluarga Imarine yang berpengaruh saja. Kami selaku murid biasa hanya tahu hasil akhirnya.


Acara menginap ini sebenarnya bertujuan sebagai study tour kelompok belajar. Jika ditanya kelompok belajar apa, ternyata kami di sini adalah anggota peneliti batu.


Aku tidak mengerti kenapa ada jenis kelompok seperti ini. Tapi, aku yakin ingatan tersebut tidak salah. Orang-orang berkumpul, bahkan mewakili guru ternyata hanya untuk meneliti bebatuan yang terbentuk di sini sebagai laporan research nanti.


Iya ... karena ada kejadian besar, kurasa tugas itu bisa diabaikan sekarang. Hal yang penting sekarang adalah bertahan hidup dan mengetahui siapa pelaku pembunuhan ini. Karena ada hukuman di mana tidak boleh ada yang keluar dari kami sendiri, itu artinya persediaan makanan juga tidak akan diisi untuk beberapa hari ke depan.


Makanan sudah di stok di dalam dapur, gas sudah tersedia dalam bentuk tabung dan tidak akan habis beberapa minggu ke depan, sedangkan sumber air dapat diambil dari pompa tua jungkat-jungkit yang ternyata masih berfungsi baik, ada satu di kebun belakang dan satu lagi di kamar mandi.


Dengan alat terbatas tersebut, aku sekarang perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurus mayat. Mungkin ini memang keputusanku dari awal, jadi aku tetap mengerjakannya walau berpikir merepotkan.


Matahari sudah meninggi, kegiatan penguburan pun berakhir hingga saatnya kami kembali ke penginapan untuk menyantap makanan. Ruang makan di sana tentu sudah dibersihkan. Jika dilihat secara sekilas, kita tidak akan tahu ada bercak darah sebelumnya. Tanpa mengabaikan tugas pengawasanku pada Hanz, makanan pun dibuat dan akhirnya semua orang bisa mengisi staminanya sekarang.


Beberapa orang masih ada yang menaruh curiga pada Hanz, sepertinya kesimpulan kalau dia dicurigai menjalar ke seluruh orang. Tapi, di sana aku menjadi alat penengah. Tanpa keberatan dan rasa curiga, aku berani menjadi pencicip makanan. Lagi pula, dari awal aku sendiri yang mengawasi Hanz memasak makanan. Jika mereka tidak mempercayai makanan tersebut, itu artinya mereka juga tidak mempercayai pengawasanku.

__ADS_1


Jika pihak polisi yang mengamankan tempat ini, mungkin mereka memilih membiarkan tempat pembunuh ruang makan diselidiki, difoto, dan diteliti lebih lama lagi. Tapi, mau bagaimanapun kami sangat butuh ruang makan tersebut.


Namun, kami di sana tidak mengabaikan faktor tersebut, foto dan barang bukti lain ada ponsel berkamera milik Imarine mewakilkan walau kualitasnya tidak begitu baik. Sepertinya latar waktu di sini masih belum maju perkembangan gadgetnya. Imarine yang diceritakan berperan sebagai anak konglomerat saja hanya punya ponsel keluaran lama.


Makan pun selesai, tapi kami para siswa dan kak Dina sebagai pelanggan utama masih duduk tidak mengangkat bokong dari kursi di meja utama. Sebelumnya, kami sudah sepakat untuk membatalkan proyek penelitian batu yang jadi niat awal dari cerita di penginapan ini dimulai. Sebagai gantinya, waktu siang ini akan dijadikan rapat khusus untuk menentukan siapa dalang dari pembunuhan tersebut.


Staf sendiri sudah selesai, mereka menyantap makanan di meja berbeda yang terletak di sudut ruangan. Bukan karena intimidasi, hanya saja sebagai penghormatan dan kesopanan sumpah mereka sendiri. Lagi pula, staf di sini hanya dua orang ditambah satu Ann si anak kecil. Lalu, ini juga sebagai bentuk pengawasan Hanz agar dia tidak terpisah dan tidak makan di ruangan yang berbeda.


"Oke, sekarang kita mulai saja. Aku gak mau bikin pembukaan resmi, jadi mulai acak kayak gini."


Aku memulai sendiri percakapan dan rapat tersebut. Bicara dengan nada lantang dan menjadi pusat perhatian di tengah meja tersebut.


"Sebelumnya, apa di sini ada yang pernah baca atau dengar kisah yang mirip kayak misteri pembunuhan ini? Fiksi, sejarah, atau literatur lain yang latarnya mirip sama sekarang?" lanjut tanyaku pada semua orang di sana.


Satu orang aku pandang. Tepat di depanku adalah Imarine, dia tidak menjawab dan mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain. Orang ke dua aku pandang, mengikuti pelarian arah kepala Imarine, di sampingnya ada Azarin. Orang itu juga tidak tahu, dia menggeleng dan mencoba memohon agar tidak ditanyai lebih lanjut.


Rasanya sedikit canggung ketika bertanya dan tidak ada yang menjawab. Beberapa kali aku berkeliling pandang dan masih tidak ada yang terlihat akan menjawab.


"Farrel?"


Hingga pada akhirnya aku menjatuhkan pertanyaan pada orang yang kuanggap paling mudah untuk aku tunjuk.


"Kenapa aku? Kamu pikir aku orang yang suka baca buku?" timpal Farrel dengan pembelaannya yang mengurangi nilai dirinya sendiri.


Iya, memang benar, Farrel adalah tipe yang aktif di luar. Dia cukup tidak nyaman jika harus duduk dan membaca buku seharian. Tentu saja dia tidak akan paham jika aku membahas sesuatu seperti literatur.


"Kalau gitu yang lain?" kataku sekali lagi memanggil orang-orang ke segala arah.


"..."


Lalu, kembali lagi orang-orang terdiam. Di antara mereka, banyak yang menundukkan kepala atau bahkan sekadar mengalihkan pandangan ke arah lain. Di sana aku merasa kesal, tapi di saat yang sama aku tidak bisa menyalahkan.


"Kaivan, apa maksud pertanyaanmu? Apa hubungannya literatur dengan kondisi ini? Atau, kenapa kamu malah mencoba mencari kecocokannya?"


Suara itu berasal dari Pero, dia yang ada di meja berbeda tapi masih di depanku pun bertanya balik mengisi kekosongan suasana tersebut. Mungkin memang benar, dari mereka masih tidak mengerti apa yang aku pikirkan sekarang.


"Aku cuman coba cari karena mungkin ini bisa jadi jalan pintas," jawabku dengan nada menekan berat. "Di tantangan sebelumnya, latar diambil dari kisah terkenal dewa yang mengganti kepala dengan kepala gajah. Jadi, mungkin kita bisa tunjuk pelakunya langsung dari kisah yang sama kalau tahu referensinya."

__ADS_1


Mengatakan dan menjelaskan hal tersebut membuatku sadar kembali kalau apa yang kuucapkan memanglah sulit. Legenda dewa tersebut cukup umum diketahui oleh orang-orang yang memang mempelajarinya. Aku tidak mempelajarinya, hanya tahu dasarnya karena ada kenalanku yang mengetahuinya.


Tapi, kali ini aku bertanya tentang kisah fiksi yang lebih kecil dan acak lagi. Tentu akan sulit untuk ada orang yang tahu.


"Tunggu, dari mana kamu bisa tahu kalau tantangan pertama sebelumnya diambil dari kisah terkenal?" tanya lanjut Pero yang masih ada di sudut tersebut.


"Sederhana, teka-tekinya bilang kita harus ganti kepala sang penjaga. Terus, hewan yang ada di sana cuman gajah. Dari petunjuk lain juga lebih mendukung ke kisahnya. Tapi, hmn ... kamu tanya gini artinya gak tahu?"


"Tidak sama sekali."


"Hoo ... aku pikir semua orang yang ada di sini sudah tahu."


"Aku sama Amalia tidak menuruti kisah itu yang kata kamu harus ganti kepala penjaga pakai kepala gajah. Sebelumnya kami berdua hanya membunuh monster itu dengan memenggal kepalanya."


"Ah, hmn ... sebenarnya aku sama Farrel juga gak sampai bikin si monster ambil kepala gajah itu. Cuman, aku hampir mati dan ujung-ujungnya malah dikirim ke tempat awal."


Sebelumnya aku memang membuat sebuah teori sendiri. Tantangan awal di mana ada monster gorila adalah sebuah tugas yang memerintahkanku agar menggiring gorila bertemu gajah dan bisa mengambil kepalanya nanti.


"Benar juga, kita sudah terlanjur selesai dan dibawa pulang sebelum buktiin teorimu," kata Farrel di salah satu sisi meja ikut bicara.


"Hmn ... soal itu aku juga mulai penasaran. Beda kayak kalian, aku sama Arin malah gak ngapa-ngapain, tapi tahu-tahu sudah dibawa pulang waktu bangun," timpal Imarine di depanku mengikuti topik.


"Hmn ....," dengungku sambil memegang dagu mencoba berpikir.


Keadaan di sana membuat pendapatku semakin melemah. Selama ini, memang belum ada satu tim pun yang termasuk diriku yang berhasil memperagakannya.


"Aku dibawa pulang sebelum mosnter nyerang, Amalia kalahin monsternya, Ima malah gak ketemu sama sekali. Semuanya malah jadi gak punya penyelesaian dari kesimpulanku," lanjutku bergumam walau sedang berdiri di tengah menjadi pusat perhatian.


"Tidak, Kaivan. Kau tidak salah."


"Hn?"


Dari sudut lain, aku mendengar suara halus seorang lelaki. Dia adalah Hanz, dari meja yang disewa berdua untuknya dan Ann si anak kecil makan, Hanz pun mencoba masuk dalam percakapan dan meluruskan kebingungan.


"Kesimpulanmu sudah benar. Hanya saja kau masih keliru soal bagaimana membuktikan kebenarannya. Jawabanmu memang benar, tapi kau masih tidak melihat satu sisi lain dari jawabanmu tersebut. Tantangan pertama memang hasil tiru referensi dewa yang diganti kepalanya dengan kepala gajah."


 

__ADS_1


 


__ADS_2