
Waktu semakin malam, rasa kantuk terus menyerang hingga mata tidak kuasa untuk menutup mengikuti lelap badan yang tertidur. Memang kondisi tidak terlalu nyaman, tidur bersama dua orang perempuan yang bukan anggota keluarga menjadi penghalang tersendiri. Tapi, hal yang membuatku tidak nyaman adalah gelombang emosi dari Amalia. Terkadang dia yang masih tertidur mengalami perbuahan emosi hingga dapat mempengaruhi isi mimpiku.
Aku bangun cukup siang dari biasanya, mungkin karena kelelahan fisik dan waktu tidur yang terlalu larut. Namun, bukan berarti aku terlalu siang untuk beraktivitas, waktu kala aku membuka mata masih cukup pagi untuk menyambut udara sejuk.
Badan belum pulih sempurna, rasa kantuk masih bersisa di mata yang keram. Tapi, aku tetap berusaha bangun, telingaku sudah mendengar suara riuk-riuk keramaian di dalam kamar. Merenggangkan tangan, membuka selimut, menggosok wajah dan mata, lalu membangkitkan tubuh ke posisi duduk. Semua terasa berat layaknya ada gravitasi tambahan di dalam kasur.
Sekarang hari Minggu, tentu tidak ada sekolah yang menjadi kewajibanku di masyarakat. Rencana awal di hari ini seharusnya Pero memulangkanku pagi-pagi setelah keluar dari hotel. Tapi, mengingat belum ada hasil kemarin malam, sepertinya rencana tersebut akan dilonggarkan lagi jadwalnya.
Kematian misterius yang diduga mutasi sebuah penyakit masih berlanjut. Beberapa kasus menyebar sampai ke berbagai kota dan masih akan terus bertambah. Sampai saat ini, ada lebih dari dua puluh laporan berbagai orang dan kalangan tentang dugaan kesamaan sebab kematian yang terjadi belakangan hari ini.
“Hn?”
Suara tersebut berasal dari televisi. Di kamar hotel tersebut ada satu perangkat tersebut walau modelnya sudah tua dan masih berbentuk cembung.
Amalia ada di kasur duduk menjuntai, dari pakaian dan penampilan rambut yang masih basah, sepertinya dia sudah selesai membersihkan diri. Sekarang, pandangan gadis tersebut sedang terpaku oleh berita yang ditayangkan di televisi itu.
“Amalia, apa kamu—“
“...!?”
Ketika aku memanggil, tiba-tiba saja gadis tersebut berbalik dengan kasar. Wajahnya mengerut, tatapannya tajam sedikit mengancam, dan satu jari telunjuk ditaruh di depan bibir memberikan peringatan untuk diam.
Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan ha tersebut, memangnya ada seorang gadis yang sangat tertarik pada berita di televisi. Aku dan dia ada di umur di mana gawai adalah perangkat utama, berita dari penyiar televisi masih bisa didapat lewat benda tersebut. Tidak ada alasan sampai harus seserius itu menonton berita pagi.
Amalia pun berbalik ke arah televisi lagi, mencoba mendengar lanjutan dari tema berita yang disampaikan.
“...”
Tapi, berita yang tema berita tentang penyakit tersebut telah selesai. Si pembawa berita dengan lugas mengganti topik ke arah lain, dari kesehatan menjadi politik.
Aku tidak melihat wajah Amalia yang sedang membelakangi, tapi gelombang emosinya sudah cukup mengatakan kalau dia sedikit kecewa dengan kejadian tersebut. Sepertinya apa yang dia suka bukan acara berita, melainkan sesuatu yang lebih spesifik seperti isi berita tertentu yang kebetulan hadir di pagi ini.
*Turn off
Tekan tombol remote televisi oleh Amalia, dia benar-benar kehilangan ketertarikan dan berhenti untuk melihat kelanjutan berita tersebut.
“Jadi, apa yang barusan kamu lihat? Ada sesuatu di berita itu?”
“...”
*Glance, glance ....
Amalia melihatku ketika sedang bicara padanya, tapi itu hanya sekejap. Dia berbalik ke arah bawah, pandangan dan arah matanya lurus jauh layaknya sedang berpikir. Lalu, dia kembali melirikku untuk yang kedua kali, kegiatan berulang tersebut lebih cepat lagi terjadi dan diganti sebagai lamunan ke arah acak di ruangan.
Tentu tindakan tersebut bukan ada artinya, dia sepertinya juga sedang merencanakan sesuatu, hanya saja dia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata karena bisu. Jadi, untuk sesaat pikiran ingin menjelaskan itu tertahan, berganti dengan pemikiran berulang, sampai akhirnya dia genap tahu apa yang ingin dia sampaikan.
Apa kamu gak aneh lihat kejadian barusan?
Tulisnya di catatan sambil menunjukkannya padaku.
“Yang mana? Yang kamu lihat berita?” tanyaku menduga-duga. “Aku gak masalah soal itu, setiap orang punya hobi masing-masing— Hn?”
“...”
*Shake, shake ....
Amalia merespons negatif dengan menggelengkan kepala beberapa kali. Apa yang kuduga sepertinya tidak berhubungan dengan apa yang ingin dia sampaikan. Setelah respons tersebut, gadis tersebut pun melanjutkan menulis kalimat baru.
Soal berita tadi. Tentang kematian mendadak di banyak tempat. Bukannya itu agak aneh?
__ADS_1
Lanjut tulis gadis tersebut.
“Berita tentang penyakit? Entahlah ... aku bukan ada di bidangnya buat tahu ada yang aneh atau bukan. Lagian, aku sendiri sudah jarang lihat berita pagi kayak barusan.”
Berita tentang kematian acak itu korbannya selalu sama. Orang yang sakit parah atau yang sudah tua, terjadi berulang-ulang sekitar satu bulan terakhir dan kasusnya mulai menjalar ke kota kita. Mereka bilang kasusnya masih disidik, mereka bilang penyebabnya misterius, kamu ngerti, ‘kan?
Selama ini aku tidak pernah menaruh perhatian pada kejadian seperti itu, pikiranku tentang sihir sama sekali tidak menyentuh dan tidak menghubungkannya dengan kasus tersebut. Tapi, jika dugaanku berhubungan dengan apa yang ingin Amalia sampaikan, keadaan seperti ini terlalu kebetulan dengan timing penyusupan wilayah Pero sekarang.
“Maksudmu, kasus kematian di berita barusan ada hubungannya sama penyusup sekarang?” tanyaku memastikan.
“...”
Mungkin.
Dengan cepat Amalia menjawab satu kata di catatannya.
“Aku gak ngerti kenapa kamu bisa ambil kemungkinan kayak gitu,” ucapku sedikit meragukan. “Memangnya kasus kayak gini bisa berhubungan?”
“Secara teknis tidak ada yang tidak mungkin.”
Wo-woah ....
Sedikit terkejut dengan jawaban tegas dari arah berlawanan. Pero di sisi ruangan lain membalas percakapanku, komunikasi bisu dengan Amalia mendadak diwarnai balas suara wanita tersebut. Dari arahnya, dia sedikit lebih ujung dekat pintu kamar mandi, sepertinya dia baru selesai dengan urusan pribadinya di sana.
“Mungkin? Apa maksudnya mungkin?” tanyaku yang masih bingung.
“Mungkin berarti ya mungkin. Tidak mustahil kami dari pihak animus ada di balik kejadian janggal tersebut.”
“Itu aneh,” timpalku ketika mendengar pernyataan Pero.
“Benarkah?”
“Iya, itu aneh. Sebelumnya kamu bilang kalau animus itu mau jadi manusia, tugas mereka ambil mana dari manusia dengan cara membuat mereka meluapkan emosi kebahagiaannya,” jelasku yang mencoba menerangkan balik posisi para animus. “Artinya, gak ada alasan mereka bikin masalah sama manusia.”
“Tidak ada alasan kami membuat masalah?” ucap ulang Pero sambil sedikit berpikir. “Lebih tepatnya, tidak ada alasan untukku membuat masalah. Aku dan animus lain tidak sepenuhnya sama, layaknya kalian satu manusia dengan manusia lain. Tidak semua melakukan dan memutuskan hal yang sama sepertiku.”
“...”
Ah, benar juga. Apa yang dia lakukan tidak bisa menjadi standar dari setiap makhluk yang sejenis. Satu orang pembunuh di suatu negara, tidak menjadikan negara tersebut menjadi negara penuh kriminal. Satu semut yang menggigit tidak menentu memperbolehkanku membakar satu pohon.
“Kita balik lagi ke pembicaraan barusan,” kata Pero yang berusaha mengembalikan topik.
Di sana Amalia juga sepertinya ingin melanjutkan, melirik-lirik tapi juga bingung harus mulai dari mana.
“Lia bilang kalau isi berita tentang kematian barusan ada hubungannya dengan penyusup sekarang. Lalu, aku juga di sini punya petunjuk.”
“Oh, maksudmu petunjuk yang kamu dapat waktu kemarin malam?”
“Iya.”
Kemarin malam sebelum aku tidur, Pero sempat membicarakan hal tersebut. Tapi, topik di akhir sedikit melenceng karena aku membawanya demikian. Jadi, dia tidak punya kesempatan bagus menyatakan pencapaiannya kala itu.
“Waktu kamu pergi, aku merasakan mana mengalir di arah utara. Rasanya sedikit kuat kalau cuman gelombang sihir biasa. Sesuatu yang animus ini lakukan lebih kasar dan cenderung menarik ke akar.”
“Hmn? Memangnya apa bedanya?”
“Sesuatu yang kulakukan adalah memetik buah yang sudah matang. Kelebihan nutrisi yang sama sekali tidak membuat pohon itu menderita ketika dipanen. Berbeda dengan animus ini, dia lebih seperti mencabut wortel, memanen seluruh sihir itu hingga tidak bersisa,” jelas Pero sambil sedikit diiringi dengan gelagat tangan.
“Apa itu buruk?”
__ADS_1
“Jika dugaan tersebut benar, setidaknya cara dia tidak bernilai lebih baik dariku.”
Memetik buah, dan mencabut wortel. Sebenarnya itu pengibaratan yang cukup mudah dipahami, perbedaan yang mencolok dari kegiatan tersebut adalah keadaan tanaman yang dipanen. Pohon tidak akan mati ketika dipetik, tapi umbi-umbian seperti wortel akan kehilangan batang daunnya ketika dipanen. Ini cukup bersambung jika mereka ingin menyatukannya sekaligus secara gamblang.
“Aku mengerti perbedaan cara animus mengumpulkan mana. Tapi, dari kasus ini sedikit janggal. Jika kedua informasi benar, maka ada sedikit kejanggalan.”
“Janggal ...? Coba jelaskan padaku, Kaican,” ucap Pero yang dengan baik membuka diskusi.
“Data pertama adalah kasus kematian beruntun yang dialami orang-orang sakit parah. Benar begitu, Amalia?”
Gadis tersebut duduk di kasur satu lagi yang berbeda denganku. Kami bertiga seperti sedang mengobrol dengan posisi segitiga, aku di ujung kasur dekat bantal dan tembok, Amalia yang duduk menjuntai mendekat ke televisi di kasurnya sendiri, dan Pero yang berdiri di sisi ruangan dekat lorong.
Tentu Amalia masih mendengarkan, dia hanya sedikit sulit bergabung karena kebisuannya. Tapi, untuk beberapa informasi penting seperti barusan dia perlu keterlibatan dia sebagai pengamat utama.
Iya, aku sudah dengar selama ini. Korban kematian beruntun yang lagi ramai di berita itu cenderung pengidap penyakit keras kayak kanker, AIDS, penyakit mental, atau orang-orang yang gak ketahuan terselubung. Belum ada laporan orang sehat yang mati mendadak, cuman semua kasus terlalu kebetulan buat kematian di korban yang riwayat kesehatannya beda.
Amalia kala itu sedikit lama menulis. Dari sana hanya aku yang membaca pasti apa yang ada di catatannya, Pero di jaraknya—entah mampu membaca atau tidak, tidak mendekat dan tetap berdiri di dekat lorong.
“Hmn, kamu bisa lihat anehnya di sana, Amalia?”
“...”
Gadis tersebut melamun, dia melihatku dengan tatapan polos tanpa ada tanda-tanda menulis jawaban di catatannya.
Sejujurnya, aku sedikit kecewa dengan sikap tersebut. Jadi, aku melirik Pero sebagai gantinya. Tapi, wanita siluman gagak itu juga tidak memberi ekspresi seolah bisa membalas topikku barusan. Gesture tubuhnya lebih mengarahkanku untuk terus melanjutkan sendiri.
Oleh sebab itu, pandanganku kembali ke Amalia.
“Kenapa kamu sadar tentang kasus kematian ini, tapi kamu gak sadar kejanggalan dari titik temu mereka?”
“...”
Amalia masih berekspresi sama, memandang kosong tidak mengerti.
“Huft ... hah ...,” hela napasku mencoba beristirahat. “Maksudku itu tentang korbannya. Kalau memang kematian beruntun itu berhubungan, kenapa si penyusup ini cuman cari orang-orang sakit?”
“...”
‘Ah ...’ membuka mulut Amalia tanpa suara keluar. Dia berekspresi layaknya menangkap apa maksudku di sana. Garis wajah gadis tersebut begitu jelas, mengikuti dengan gerak tangan dan angguk kepalanya.
“Kamu tahu alasan itu? Atau kamu menghubungkan semuanya tanpa mengetahui kejanggalan barusan?” tanyaku pada Amalia.
“...”
*Glance
“Hn?”
Tapi, gadis tersebut lebih mengarahkan pandangan pada Pero di sisi lain ruangan. Responsnya seakan bilang kalau dia meminta bantuan wanita tersebut untuk menjawab. Di sana, Pero menjawab dengan senyum, dia menarik napas sebelum akhirnya menjawab dan mengambil alih percakapan.
“Sampai di sini, kita akan menaruh tujuan dari penyusup itu sama sepertiku, mencari sumber mana dari manusia,” ucap Pero membuka topik dengan kalimat rekap ulang. “Lalu, tentang korbannya sendiri ... sebenarnya ada dua kemungkinan kenapa orang itu memilih orang sakit.”
“...”
****
__ADS_1