
Dalam keadaan tertentu, aku memang punya kesalahan. Aku seharusnya tidak mencampuri urusan orang yang jika dia tidak meminta. Tapi, terkadang membiarkan itu juga adalah jawaban yang salah, menunggu dia retak perlahan sampai hancur adalah tindakan kejam. Jika bisa dicegah, maka aku ingin membantunya lebih cepat. Membiarkan dan berpura-pura tidak tahu juga sebenarnya tindakan egois.
Biarpun begitu, tidak semua orang akan bereaksi sama. Aku mungkin naif, aku mungkin sedikit sombong ketika sudah menyelesaikan dan membantu beberapa orang, Imarine hanya satu contoh di mana dia bisa menerima tindakanku setelah mendapat akhirnya.
“...”
Di sana aku masih membeku, memegang pipiku dengan perlahan menggunakan ujung-ujung jari, mengelusnya dengan sentuhan kecil meraba bekas tamparan itu. Aku tidak melihat wajahku langsung, tapi bisa kurasakan sedikit perih dan mungkin sedikit kemerahan. Kak Dina tidak menahan diri ketika melakukannya.
Aku di sini masih membeku, tidak bergerak berjalan atau membalasnya dengan sebuah umpat. Tapi, untuk beberapa alasan wajahku mulai berbalik lagi dan melihat kak Dina. Dia saat itu mulai menjauhiku, berjalan kembali mendekat ke arah Verdian dan membantunya berdiri sekali lagi.
Aku sempat ingin memukulnya lagi, tapi perasaan itu kuurungkan karena Verdian yang dibantu oleh kak Dina juga tidak berontak. Kali ini dia menerima bantuan ringan itu tanpa banyak bicara. Keduanya pun segera pergi, meninggalkan aku di sana sendiri.
“...”
Aku di sana masih bingung ... dan juga sakit. Rasa sakit yang tidak jauh berbeda ketika aku mendapat kabar kematian Azarin. Padahal tidak ada orang yang kurasakan gelombang emosinya, tapi memang beginilah perasaanku sekarang. Itu artinya, ini memang berasal dariku.
“...”
Aku melihat ke atas, melihat langit yang sebenarnya berawan dengan berkas cahaya matahari yang membentuk lurus. Kala itu tidak terlalu siang, matahari sudah tergelincir sedikit ke arah barat, berkas cahaya yang aku maksud adalah ketika matahari itu tertutup sebagian membentuk satu cahaya layaknya cahaya senter.
Huft ... hah ....
Aku kembali memikirkan kata-kata kak Dina.
Aku tahu, itu mungkin umpatan kesal semata. Aku tahu itu hanya sebuah ungkapan kekesalan ketika aku mengabaikan perasaannya dan terus bertindak sesuka hati. Tapi, yang jadi masalahnya adalah umpatan itu bukan sebuah umpatan biasa.
Kamu itu bukan adikku.
Kata-kata itu mengalir, menampar bersamaan dengan tangannya masuk ke hatiku.
“Heh, gak usah dikasih tahu juga, sebenarnya aku sudah tahu.”
Umpatan itu terlalu benar untuk sebuah umpatan biasa. Karena memang, aku dan kak Dina tidak punya hubungan darah.
“Kaivan ....”
“Hn?”
Aku mulai tergerak lagi, melupakan seluruh kejadian itu karena ada fokus lain yang mengalihkan. Suara panggilan tersebut berasal dari Hanz, dia yang sejak tadi tidak terlihat atau memang tidak bisa terlihat karena kekuatannya mulai menampakkan diri di depanku.
“Sekarang apa yang kau ingin lakukan? tanyanya menawarkan.
“...”
Tapi, di sana aku tidak merespons langsung. Kepalaku hanya bergerak sedikit menghampiri sumber suara, setelah tahu apa yang dia tanyakan, aku pun kembali membalik arah untuk melihat langit kembali melamun.
__ADS_1
“Apa kau ingin aku antar pulang? Atau kau ingin di sini beberapa saat lagi? Jika kau mau, aku tidak keberatan meletakkan kekuatanku beberapa saat lagi.”
Kekuatan ...?
Pikirku dalam hati sedikit curiga.
“Sebelum itu, aku mau tanya. Ke mana kamu pergi selama ini? Kayaknya barusan aku sudah berantem agak lama.”
“Ke mana diriku? Aku masih di sini bersama kalian. Hanya saja, kalian tidak melihatku. Lagi pula, aku juga perlu fokus, membuat kalian menghilang agar tidak ada kekacauan terjadi di pertengkaran barusan.”
“Hn? Maksudnya?”
“Maksudku ... aku menggunakan kekuatan untuk membuat kalian diabaikan oleh banyak orang.”
“Hmn? Apa maksudnya kalian? Bukannya kekuatanmu itu punya syarat sentuhan langsung?”
“Sentuhan langsung untuk kekuatan penuh untuk benar-benar menghilangkan keberadaan. Tapi, pada satu sisi aku masih bisa memberikan kekuatan level rendah pada wilayah dan objek yang kukehendaki tanpa sentuhan.”
“Ah, jadi itu iya alasannya. Pantas saja tidak ada orang yang datang menghentikanku. Aku sampai lupa kalau sekarang aku ada di tempat kuliah.”
Jika dipikir secara logis, seharusnya akan ada banyak orang yang memisahkan pertengkaran itu, baik dari pihakku maupun pihak Verdian. Orang-orang di tempat itu juga sudah cukup untuk memegangi kami berdua, seharusnya kondisi di sana cukup ramai.
Tapi, kenyataannya aku malah tidak melihat satu orang pun di sini. Sebelum disadari, ternyata aku sudah berdiri di kesendirian diabaikan oleh semua orang. Itu cukup aneh, dan memang jawabannya adalah pasti ada orang di belakangnya.
Jika memang apa yang dikatakan Hanz, berarti dia memang berhasil membuatku tidak tercampuri urusannya oleh orang lain.
“Hmn ... enggak, bukan itu maksudnya. Lagian, aku juga yang bilang kalau aku gak boleh kelihatan orang-orang kampus. Harusnya, kamu sudah bertindak benar. Terima kasih.”
Dari pandanganku, keterlibatan orang lain sekarang akan menambah banyak masalah. Jika kejadian normal terjadi, aku ditahan Rio, Verdian ditahan oleh kak Dina, lalu banyak orang yang berdatangan membantu juga hingga pertengkaran bisa diredam. Tapi, aku dengan kekuatanku bisa menyingkirkan mereka semua, Verdian juga bisa berontak dengan bringasnya dia. Jadi, pada akhirnya hal yang paling parah adalah keterlibatan orang dewasa seperti petugas keamanan dan para guru.
Dilihat dari sisi hasil, ini mungkin yang paling baik. Tapi ....
“...”
Aku masih penasaran apa yang arti sebenarnya hal yang kulakukan sekarang.
Huft ... hah ....
“Hanz,” panggilku yang sudah ingin mengakhiri lamunan.
“Ada apa?”
“Gimana pendapatmu tentang apa yang kulakukan? Apa menurutmu aku salah?”
Apa mungkin aku seharusnya tidak datang ke sini? Apa mungkin seharusnya aku mengabaikan semuanya? Lagi pula, kak Dina lebih dewasa dariku, mungkin saja dia punya alasan kuat dan alasan masuk akal untuk semua ini. Apa yang kulakukan ini benar sebuah tindakan kekanak-kanakan?
__ADS_1
Itu semua berputar di kepalaku sekarang. Semua pertanyaan tersebut mengarah tentang satu hal yang pasti.
Bagaimana aku menghadapi kakakku sekarang? Setelah kejadian ini.
“Hmn ...? Jadi, kau berpikir aku adalah pihak yang boleh menentukan?” tanya Hanz memastikan sebelum menjawab.
“Sayangnya aku gak punya orang lain sekarang. Tapi, kalau kamu gak bisa jawab, aku gak maksa.”
“Hmn ... aku bukan tidak ingin menjawab. Jika ada dua pilihan antara benar dan salah. Aku lebih memilih tindakan kau yang barusan sebagai pilihan yang benar. Aku bisa mengerti perasaanmu untuk tidak ingin membiarkan wanita dipukuli. Tapi, aku sendiri merasakan keanehan di kejadian itu.”
“Aneh?” ucapku mulai tertarik. “Hoo ... kalau gitu jelaskan.”
“Aku masih tidak mengerti perasaan wanita, aku juga tidak punya kekuatan seperti kau yang bisa mengetahui emosi orang lain. Tapi, sepertinya wanita kakak kau itu memang punya kejanggalan.”
“Dari awal aku juga sudah mengira, ada yang gak sehat dari mereka. Pasalnya, kakakku masih membela orang itu. Padahal, sudah jelas dia itu sampah.”
“Aku tidak berkomentar tentang itu. Tapi, aku berkomentar tentang aura mereka. Ada sedikit sihir, seperti satu segel yang terpasang di antara mereka. Apa kau tidak merasakannya?”
Segel? Aura? Sihir?
Ah ... jadi begitu, iya.
Ternyata memang bukan akal sehatku yang tidak bekerja, bukan mereka yang sudah keluar dari jalur kemanusiaan. Aku ingin percaya pada kakakku sekarang, apa yang terjadi di sini memang bukan berdasarkan sikap asli mereka.
“Aku gak tahu soal itu. Kalau bukan bagian dari emosi, aku gak bisa tahu.”
“Jika memang demikian, Kaivan, boleh aku mengikuti mereka untuk kejelasan lebih lanjut? Mungkin akan ada petunjuk lagi yang bisa kudapatkan.”
“Eh? Tunggu, apa maksudnya ‘aku’? Kamu gak bawa aku bareng lagi?”
“Maaf, tapi jika boleh jujur, aku ingin bisa bergerak bebas saat pengintaian.”
“Ah, jadi intinya aku ini beban, iya?”
“Jangan bilang begitu, aku tidak pernah berpikir demikian. Hanya ... kemampuanmu saja yang belum dibutuhkan sekarang.”
“...”
Kemampuanku adalah deteksi emosi. Jika aku sudah tahu ada satu hal yang berlainan, itu artinya aku memang tidak diperlukan. Kemampuanku tidak dibutuhkan untuk memata-matai, hal ini hanya bisa kupakai untuk mencari sumber gelombang emosi.
Aku tidak punya urusan penting, di lain sisi bertemu dengan Verdian memungkinkanku untuk punya keinginan memukulnya lagi.
“Oke, kalau gitu antar aku pulang saja.”
__ADS_1