
Why not both ...?
Ah, iya ... aku hampir lupa tentang pilihan itu.
Dari awal, jumlah kami sebagai tim cukup berlebih untuk mengambil dua kemungkinan. Layaknya dua jalur, kami bisa saja berpencar ke arah berlawanan untuk mencapai tujuan masing-masing.
Saat mendengar hal tersebut dari Amalia, emosiku sedikit luntur. Dari sana, entah kenapa niat untuk kembali berdebat dan saling beradu mulut hilang begitu saja. Penampilan Amalia, kebodohannya, dan tingkahnya yang sangat memaksa seakan menekan seluruh perasaan tersebut.
“Hmn ... dua-duanya, iya,” gumamku sambil memegang dagu. “Mungkin itu ide yang bagus. Selama ini aku gak pernah ngerasa kalau Amalia dan aku adalah satu tim.”
Itu juga mengingatkanku dengan kasus-kasus sebelumnya, di mana aku dan Amalia selalu berpencar. Imarine dan Azarin, Fany dan Septian ... mereka semua punya dua jalur yang berbeda dan membuatku harus berpencar dengan gadis tersebut.
“Benar, sepertinya memang tidak ada jalan yang paling cepat,” balas Pero mengikuti.
Setelah kedua pihak meredup, Amalia yang mendengar pun ikut tenang. Dia melihat ke arahku dan Pero secara bergantian, memastikan setiap ekspresi yang dibuat dan baru kembali mundur untuk memberi ruang bicara. Tentu saja berdiri dia tidak bisa terus menghalangi tatapan mata kami terus menerus berdiri di tengah.
“Oke, jadi sekarang sudah jelas. Aku sama Amalia pergi cari Ima, dan kamu pergi sendiri check ke rumah sakit, Pero.”
“Tunggu ... aku tidak bisa setuju.”
“Kenapa? Bukannya ini kembali ke urusan masing-masing?” tanyaku dengan sedikit polos.
“Aku tidak bisa pergi jauh-jauh sendirian. Aku dan Amalia satu kesatuan ketika menjelajah satu tempat.”
“Hmn ... oke. Kalian berdua bisa ke rumah sakit. Aku bakal ke rumah Ima sendiri,” balas jawabku pada Pero. Pun setelah selesai refleksku mengarahkan pandangan ke Amalia dan bertanya, “Gak apa-apa, ‘kan?”
“...”
Amalia di sana tidak disangka membuat respons panik. Dia sesekali mengalihkan pandangan dan menghindari dari reaksi jawaban ‘iya’ layaknya mengangguk terbawa suasana. Aku dapat merasakannya, gelombang emosinya juga dapat dirasakan kalau dia tidak menyukainya. Rasa sunkan, rasa ingin menolak, layaknya orang yang ingin pergi dari karena tidak nyaman dengan suasana satu kelompok.
“Ahaha ...,” Pero tertawa di hadapanku. “Kenapa kamu jadi memutuskan ini sendiri? Apa ada alasan kuat? Alasan pribadi di mana kamu ingin datang bertemu gadis bernama Imarine itu?”
__ADS_1
“Ah ....”
Aku sedikit terdiam, bernapas kecil sambil sedikit melihat ke belakang.
Sebenarnya keinginanku bertemu Imarine juga ingin meminta maaf. Rasa bersalah tentang kematian Azarin juga membekas di hatiku. Dia adalah orang yang aku beri sebuah ulasan, aku mengajaknya bicara, sedikit mendorongnya, dan sedikit menghadap kembali pada dunia.
Sampai sekarang aku tidak tahu tindakanku kala itu benar atau salah.
Aku mungkin mendapat kabar baik dari Imarine. Tapi, sampai saat itu aku belum bertemu langsung dengan Azarin lagi. Dia bisa saja berbohong, gelombang emosinya bisa saja memburuk ketika sudah diisap oleh Amalia. Bisa saja keputusannya untuk menghadapi segalanya membuat dia tertekan dan malah memutuskan untuk bunuh diri.
Setidaknya, aku ingin menghadapi itu sekarang. Melihat bagaimana Imarine menanggapi situasi ini sekarang secara langsung.
“Iya,” jawabku dengan tenang. “Dari awal aku memang ingin ketemu Ima langsung.”
“Huft ... hah ... Kaivan ...,” panggil Pero di sana yang berusaha bersikap dewasa layaknya penampilan wanitanya sekarang. “Sebenarnya aku ingin memulai kembali pertanyaan barusan. Tapi, lebih baik aku memulainya lebih dulu.”
“...”
Pero kembali mengambil napas, dia menutup matanya sesaat sebelum memulai bicara lagi.
“...”
Hmn ... kembali lagi, alasan dan tindak protektif Pero pada Amalia.
Untuk beberapa alasan, aku tidak ingin mengungkapkan langsung tujuanku yang ingin bertemu Imarine sekarang. Tapi, aku melihat sedikit celah di sana.
“Bukannya aku yang ke rumah sakit gak akan ada gunanya?” tanyaku memastikan. “Aku gak bisa bedain mana penyusup itu.”
Dari awal yang menyadari keberadaan penyusup adalah Pero itu sendiri. Aku tidak sadar akan perbedaan yang terjadi di kota ini, jadi tentu aku juga tidak bisa mendeteksi pelaku dari penyusup tersebut.
“Enggak, kamu bisa, Kaivan ...,” jawab Pero sambil menggeleng lembut. “Percaya pada kekuatanmu, aku tahu deteksi emosi yang kamu pegang akan memberi jawaban pada masalah tersebut. Semua hanya pada dirimu. Jika kamu memang melakukannya dengan benar, penyusup itu sama asingnya dengan keberadaan Amalia dan diriku.”
__ADS_1
“...”
****
Pada akhirnya Amalia dan Pero yang pergi menemui Imarine. Mereka menggunakan petunjuk yang kudapat dari pesan misterius mengatas namakan teman Azarin. Dari bentuknya mungkin sedikit mencurigakan, tapi rasanya tidak ada kemungkinan yang terlalu buruk menghadapi itu semua. Lagi pula, jika ada manusia yang mencoba bermain kriminal dengan Amalia, aku yakin orang tersebut sudah memilih taruhan yang salah. Amalia bersama Pero dengan kekuatan sihirnya cukup mengerikan menurutku.
Kekhawatiranku pada Imarine masih tidak hilang. Jika masalah ini selesai, tentu aku juga ingin mengunjunginya nanti. Jadi, kali ini aku harus menemukan sesuatu dan melakukan kemajuan cepat.
Imarine yang diduga olehku punya ketidakstabilan mental mungkin akan tenang ketika Amalia ada mengunjunginya. Lagi pula, penyebab stres yang menyebabkan orang bunuh diri lebih banyaknya karena kesendirian. Jika ada satu individu yang hadir menemani dan mendengarkan curahan hatinya, keinginan bunuh diri akan hilang secara bertahap.
Sekarang aku dengan langkahku sendiri. Ucapan apapun yang kuutarakan ternyata tetap tidak mengubah takdir untuk datang ke tempat terkutuk tersebut.
Aku selalu sendiri, menyelesaikan masalahku sendiri, mendapat masalah sendiri, dan pada akhirnya juga memutuskan sendiri demi menghindari banyak masalah. Sekarang ... aku berjalan sudah berada di rumah sakit, sendirian dan berdiri bingung dari mana aku harus memulai tugas penyelidikan.
Rasanya aneh, sangat aneh ....
Biasanya orang masuk ke rumah sakit sudah jelas tujuannya, menjenguk pasien, atau pergi mendapat pelayanan kesehatan. Masuk ke tempat umum tersebut sendiri dan menunggu hal terjadi malah membuat bingung.
Untungnya, aku tidak bisa merasakan kegugupan yang biasa dirasakan orang lain di kondisi serupa. Normalnya mungkin orang-orang akan khawatir dengan pandangan seseorang, dia yang masuk ke lingkungan baru serasa mendapat satu kekhawatiran berlebih tentang bagaimana orang melihatnya sekarang.
Tapi, aku lebih teralihkan oleh gelombang emosi. Apa yang mereka pikirkan padaku tidak begitu sehebat rasa kekhawatiran tersebut. Orang-orang umumnya akan mengabaikan satu sama lain, hanya para penjaga keamanan seperti satpam yang akan menanyakan hal tersebut, itu juga karena sudah menjadi tugasnya.
Ketika ditanya demikian, aku hanya menjawab singkat seperti menunggu teman dan pergi menjauh. Pada akhirnya, rumah sakit adalah tempat yang ramai. Jika aku masuk ke lobi dan memojok di satu tempat, maka aku sudah cukup untuk membaur dengan mereka. Tidak akan ada kasus diriku diusir kecuali jika aku berdiam diri sampai malam.
Ah ....
Benar juga, kunci di sini berasal dari penjaga keamanan ... satpam yang menanggung semua urusan ini.
Pero bilang kalau si penyusup adalah animus nokturnal. Jika aku hanya diam tanpa bertindak di lobi terus menerus, maka kemungkinan besar hasil nihil akan kembali terulang. Malam adalah waktu sensitif, dan jika aku tergusur oleh satpam saat rumah sakit ditutup, maka pergerakan penyusup tidak akan terdeteksi lagi.
Baiklah ... mungkin seharusnya aku mendekati satpam sekarang.
__ADS_1