Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 14 - Besok


__ADS_3

Septian meninggalkan kami dan berjalan pulang sendirian. Sekarang keadaan sudah tenang, masalah ditunda hingga Septian sudah berpikir jernih.


Hmn ....


Tapi, aku masih memikirkan hal yang terjadi barusan.


Kenapa aku mampu mengucapkan semua itu?


Kejadian barusan adalah pertama kalinya aku berteriak bertengkar dengan orang lain. Sifatku dan efek samping dari kekuatan pencicip emosi membuatku menjadi orang yang selalu menghindari masalah. Tapi, barusan aku dengan kuat menentang Septian untuk membela Fany. Dengan kata lain ....


Apa aku tertular emosi kemarahannya Septian?


Berbeda ketika menghadapi Azarin, kali ini Amalia ada jauh dariku sehingga tidak bisa mencampuri atmosfer ini dengan gelombang emosi pekatnya. Itu membuat diriku terus dicekoki oleh perasaan Septian, perasaan marah.


Hn!?


Tersadar dari lamunanku, aku berbalik ke belakang untuk melihat kondisi Fany lagi.


Eh?


Tapi, di sana aku malah melihat Amalia yang sudah meminjamkan dadanya. Kepala Fany dipeluk dan ditaruh hingga bersandar, itu membuat aku tidak bisa melihat wajahnya yang menempel di dada Amalia.


Apa itu? Kenapa dia barusan kabur menghindari masalah dan kembali lagi sekarang? Ini bukan terjadi sekali ... di mana Amalia meninggalkanku sendiri ketika kondisi mulai merepotkan.


Kami berpindah ke sisi untuk mendapat tempat lebih nyaman. Amalia membawa Fany ke samping jalan yang memiliki tempat duduk, di sana dia masih berusaha menenangkan Fany atas guncangan emosi barusan.


Kedua pasang paha mereka bersentuhan membentuk huruf ‘A’. Dengan arah pandangan dan posisi duduk yang miring 45 derajat, Fany dan Amalia bisa bicara saling berhadapan di satu kursi panjang.


“...”


Aku tidak duduk, berdiri bersandar di pohon yang kebetulan berada dekat dengan kursi tersebut. Duduk di tempat itu malah menyulitkanku untuk berkomunikasi.


“Apa aku orang jahat?” gumam Fany yang melihat ke bawah dengan tatapan bersalah.


“Apa maksud kamu?” Tanyaku.


“Kita kadang gak bisa milih mau suka sama siapa. Cinta bisa datang tanpa kemauan si pelaku, ‘kan?” ucap Fany dengan nada sedih. “Tapi ..., aku malah nolak dan minta jauhin Septian, bukannya itu kejam?”


“...”


Sudah dimulai, yah.


Berbeda dengan kasus Imarine yang tidak mau menceritakan detailnya. Fany lebih memilih mengungkapkan perasaan tersebut padaku.


Heh.


Tapi, keadaan ini perlu cara khusus untuk menanganinya. Memang benar Fany bilang kalau dirinya kejam atas tindakan tersebut. Tapi, jika aku menyetujuinya, itu malah membuat dia marah atau setidaknya mengeluarkan emosi negatif.


Dengan kata lain, perempuan yang menghina diri sendiri seperti ini adalah perempuan yang meminta untuk dibantah. Mereka ingin kalau pemikiran itu ditolak dan mencari seseorang yang bisa mendukungnya, meyakinkan kalau diri mereka tidak seburuk apa yang dia sebut.


Atau contoh mudahnya, kalian pasti tidak ingin menyetujui perempuan langsing yang mengatai dirinya sendiri gendut. Itu sama saja bunuh diri.

__ADS_1


“Enggak, kok. Kamu gak kejam, kamu gak salah apa-apa. Itu hal yang wajar kalau misalnya kamu keganggu sama orang yang terlalu posesif.”


“Tapi, apa benar gak apa-apa?” tanya Fany untuk kedua kalinya.


Jika dia berkata seperti ini, artinya gadis tersebut belum mendapat jawaban yang diinginkan. Terkadang bantahan juga tidak cukup, orang-orang yang melakukan ini juga masih haus akan satu hal utama.


“Kamu orang baik, kok,” ucapku dengan halus.


Yah, benar, sebuah pujian.


“Fakta kalau kamu masih mikirin itu membuktikan kalau kamu punya hati yang lembut.”


“...”


Fany masih tidak menjawab. Gelombang emosinya dipenuhi rasa asam, kegelisahan masih menyelimuti semua pikirannya. Selagi pandangannya merenung ke bawah, Amalia masih terus menenangkannya dengan elusan.


“Aku tahu ... memang kejam kalau menolak orang menyukaimu, cinta sendiri gak bisa milih, persis seperti apa yang kamu bilang. Tapi, itu cuman berlaku buat orang yang gak gangguin kamu. Kalau misalnya Septian sudah bikin kamu gak nyaman, kamu juga punya hak buat menjauh.”


“...”


Masih tidak menjawab.


Sepertinya kata-kataku memang tidak berpengaruh. Terkadang memang bukan kualitas nasehat yang menentukan, tapi tentang siapa yang mengucapkan juga mempengaruhi tingkat diterima atau tidaknya suatu perkataan.


Layaknya nasehat guru. Tidak peduli seberapa pintar seorang guru, perkataannya tidak akan didengar jika dia dibenci muridnya.


Hari ini dia dalam keadaan kacau. Aku sebagai pria yang menakutkan dan berani membentak Septian tidak cocok dalam peran tersebut. Mungkin seseorang yang lebih lembut bisa memberikan hasil yang lebih baik.


Duut, duut ....


“...!?”


Aku mengirimkan pesan lewat Handphone pada Amalia. Kurasa pilihan yang tersisa hanyalah menyerahkan ini padanya, bertaruh pada kemampuannya sebagai pengumpul mana untuk bisa menenangkan Fany lewat kata-kata mutiara.


“...”


Amalia memandangku setelah selesai membaca pesan itu. Dia mengangguk mantap menerima tugas tersebut. Lalu ..., di saat-saat tersebut aku hanya akan merusak suasana. Jadi ....


“Aku beli minum dulu di warung,” ucapku pamit pada mereka. “Kamu mau nitip, Fany?”


“Engn,” jawabnya sambil menggeleng.


Aku akhirnya pergi meninggalkan mereka. Memang aku berkata kalau pergiku untuk membeli minuman. Tapi, waktu yang kuhabiskan cukup lama agar Amalia mendapat kesempatan untuk menyentuh hati Fany.


Langkah kakiku berhenti di toko kecil penjual camilan dan makanan kemasan. Untuk menghabiskan waktu, aku hanya kembali bermain gadget hingga waktu pesan balasan dari Amalia datang.


Hmn ....


Aku memang fokus terhadap Fany sekarang, tapi aku juga ingin tahu kabar Septian setelah kejadian itu.


Menggeser layar Handphone, aku mencoba menelpon Imarine sebagai teman sekelasnya sekarang.

__ADS_1


Tuut ..., tuut ....


Suara khas panggilan telepon.


Krek.


“Ah, Halo, Ima—”


“H-ha-ha-halo, Ka-Kaivan!?”


“...”


Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Imarine yang keras terbata-bata. Serak suaranya menggelegar hingga membuat Hanphoneku menimbulkan bunyi gesekan keras. Akibatnya, aku menjauhkan benda itu dari telingaku sebentar.


“Kenapa kamu teriak-teriak? Kamu lagi mandi?” tanyaku.


“Mandi? Ah, enggak, kok. Aku baru selesai barusan, sekarang sih lagi pakai baju di kamar.”


“Hmn ... kalau gitu bisa kasih tahu aku detailnya sampai di mana kamu pakai baju?”


“Huh? Apa aku bisa masukin ini ke pelecehan seksual?”


“Woah ... jadi kamu ada di bagian yang kalau disebut bisa jadi pelecehan seksual.”


Seperti Imarine yang sedang memakai pakaian dalam.


“Kaivan ... boleh aku tutup teleponnya?” tanya Ima dengan nada ancaman.


“Tunggu, tunggu ... aku cuman bercanda.”


“Kamu ada maksud ‘kan telepon aku? Kenapa gak langsung saja sebutin urusan kamu?”


“Aku cuman takut ganggu waktu pribadimu.”


Walaupun tentunya aku juga penasaran bagaimana penampilannya ketika meneleponku sekarang.


“Kalau kamu ganggu, aku gak bakal angkat dari awal. Jadi, ada apa kamu telepon?”


Walaupun tubuhnya lebih feminin dan menunjukkan keibuan dengan dada besar. Tapi, sifat asli gadis itu sebenarnya sedikit tomboi. Dia yang langsung to the point tidak melambangkan sifat seorang gadis. Kakakku saja suka meneleponku dengan menambahkan banyak basa-basi.


“Septian, ini tentang dia ... kamu punya nomor teleponnya?” tanyaku.


“Kamu pikir aku tipe orang yang bakal simpen nomor cowok?”


“Iya ... buktinya kamu menyimpan nomorku, ‘kan?”


“Sayangnya Septian gak masuk pengecualian kayak kamu. Aku gak punya nomornya sekarang, tapi kalau kamu mau aku bakal tanya besok.”


Besok?


 

__ADS_1


 


__ADS_2