
Atmosfer di balkon sendiri sudah tenang, dengan mendengar suara dari Pero ternyata bisa membuatku mengubur seluruh perasaan gundah sebelumnya. Ini mungkin sedikit meleset, tapi sepertinya aku mulai mengerti rasa ingin menyembunyikan emosi dari orang-orang. Ketika Pero datang, aku merasa tidak ingin bicara tentangku karena sepertinya dia juga tidak akan mengerti.
Pero di sana mulai mendekat, dia yang terbang hinggap di atap mulai mendarat secara perlahan menurun dan terus memotong jarak. Seperti burung pada umumnya, dia melompat-lompat ringan setengah terbang untuk bergerak, sangat jarang burung menggunakan kakinya untuk berjalan. Jadi, dia juga begitu, melompat ringan turun dari atap ke pagar tembok balkon, membuatnya sejajar dengan sikutku.
Kaivan ... kenapa kamu tidak hadir di sekolah? Selama ini aku juga tidak merasakan keberadaanmu di rumah. Dari mana saja kamu?
Tanya Pero di sana yang menanyaiku dengan nada serius pengekang layaknya orang tua asuh.
“Aku punya kehidupan sendiri,” jawabku sedikit ketus tanpa melakukan kontak dalam dengan Pero .”Lagian, kenapa nadamu barusan seolah kayak aku yang salah? Sejak kapan kamu jadi pengasuhku?”
Aku tidak peduli kamu melakukan hal privasi, aku tidak melarang dan tidak bisa melarang. Kamu bisa melakukannya, walaupun kamu bilang kamu akan membantu Amalia, kamu tetap bisa berhenti kapan saja. Tapi, masalah berbeda jika kamu sudah masuk terlalu jauh sekarang.
“Apa maksudnya? Apa aku terjebak di kontrak sihir yang bikin aku mati kalau lari?” tanyaku dengan nada remeh setengah bercanda.
Bukan, aku tidak memberimu kutukan merepotkan seperti itu sekarang.
“Ho ... apa itu artinya kamu bisa melakukannya nanti?” tukasku lagi memotong kalimatnya.
Tidak, iya ... aku tidak bisa bilang tidak untuk jawaban itu.
“Heh, tentu saja.”
Bukan, Kaivan. Apa yang ingin aku bicarakan padamu bukan hal tersebut. Maksudnya, aku tidak peduli denganmu, tapi orang yang bersamaku yang lebih peduli dengan kabar dirimu.
“Huh? Orang yang bersamamu—”
*Knock, knock, knock ....
“Hh!?”
Datang lagi, suara asing yang muncul di tempatku.
Itu bukan kepakkan sayap, bukan panggilan, dan bukan suara sembrono pintu terbuka. Tapi, apa yang kudengar jauh lebih sopan, itu adalah ketukan pintu.
Di rumahku sendiri sangat jarang kedatangan tamu, dan jika tetangga ingin bertamu mereka akan segan untuk datang begitu saja. Sudah menjadi rahasia umum jika rumahku adalah tempat yang tidak terbaca kegiatan dan isi penghuninya. Tidak ada yang diam di rumah secara tetap, dan sangat sering ditinggal dalam keadaan dikunci. Pada akhirnya, mereka yang ingin berkunjung setidaknya akan menghubungiku atau kak Dina untuk mengetahui kondisi rumah.
Aku belum membuka berita di ponsel hari ini, dan ketika Pero bilang orang yang bersamanya, aku hanya bisa terbayang satu orang.
__ADS_1
“Apa itu Amalia ...?” tanyaku pada Pero yang masih bertengger di pagar balkon.
Iya.
“Kenapa kamu kasih tahu rumahku?”
Karena dia yang memintaku memberi tahu.
Huft ... hah ....
*Knock, knock, knock .....
Terdengar sekali lagi satu pasang nada ketukan pintu. Menyusul dengan pertanyaanku dan dugaan yang semakin kuat.
Baiklah, mengeluh juga tidak ada gunanya. Lebih baik aku menyambut dia dari pada harus menabung gelombang emosi negatif. Amalia adalah duri bagiku, jika aku terus membuatnya dalam kondisi buruk, aku juga yang akan tersiksa.
Aku pun membulatkan tekad, turun ke lantai pertama dan datang ke sumber suara ketukan di pintu belakang. Kala itu aku masih belum mengetahui maksud mereka datang, tapi gelombang emosinya terasa melambangkan kekhawatiran asam rasa stroberi. Tidak terlalu menyiksa mulut dan kulit, tapi cukup untuk merusak kedamaian setelah sebelumnya aku menikmati kesunyian.
*Open
Gadis di sana memakai seragam sekolah, tampil masih menawan dengan rambut pendek berwarna cokelat. Tubuhnya lebih pendek dariku, pandangannya sedikit kosong dengan bola mata yang lebar. Mulutnya tertutup, dia tidak bisa bicara, dan hanya dapat membuka sedikit untuk ekspresi wajahnya. Tapi, secara keseluruhan garis wajahnya menjadi kaku sekarang.
Aku melihatnya, gadis yang berdiri sambil memegang catatan di tangan. Ketika aku sudah tepat selesai membuka pintu, dia dengan segera menyodorkan buku catatan tersebut.
Kaivan, kenapa kamu gak sekolah? Kenapa kamu gak jawab pesanku? Lukamu sebelumnya gak apa-apa, ‘kan?
“...”
Tiga pertanyaan beruntun.
Aku sebenarnya tidak masalah menjawab itu semua, tidak ada alasan aneh yang mungkin akan membuatnya marah. Hanya saja, aku sedikit kesal karena dari awal dia sudah membawa gelombang emosi negatif.
“Amalia,” panggilku sebelum menjawab. “Kamu tahu, aku cuman bolos satu hari, dan kamu langsung datang ke rumah kayak gini.”
“...”
Respons Amalia kala itu sedikit tegas, dia menekuk alis dan kembali menulis catatannya tanpa mengendurkan gelombang emosinya.
__ADS_1
Kalau gitu kenapa kamu gak balas pesanku? Aku takut kalau kamu kenapa-napa.
“Maksudnya HP? Iya, maaf. Dari pagi aku belum pegang HP lagi,” jawabku dengan nada rendah yang sudah malas bicara lebih lanjut. “Tapi, sekarang kamu sudah tahu aku gak apa-apa, ‘kan? Kalau cuman itu urusan kamu, sekarang kamu bisa pulang, Amalia.”
Kondisi hatiku sekarang sedang buruk, aku tidak ingin menambah ketidakberuntunganku dengan menghadirkan Amalia dengan gelombang emosinya sekarang.
“Tidak, tidak, Kaivan ... urusan kami ke rumahmu juga tidak sampai sebatas itu.”
“Heh?”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara wanita dewasa, suara yang tentu sudah aku kenal sejak lama. Akan tetapi, bukan jenis suara maupun apa yang dikatakannya yang membuat terkejut, melainkan sumber suaranya yang berasal dari belakang, dari dalam rumahku.
Aku berbalik, mencari tahu dan melihat langsung.
“Woi, Pero, kamu gak bisa seenaknya masuk ke rumah orang.”
Di sana ada Pero dalam bentuk manusianya. Dia sendiri tahu kalau wujud manusianya sekarang sedikit bermasalah jika tidak menggunakan pakaian. Oleh sebab itu, dia sekarang muncul dengan satu pakaian sederhana yang diambil dari jemuran di balkon sebelumnya.
“Itu baju kakakku, gak ada yang bilang kamu boleh pinjam itu,” ucapku dengan sinis.
“Maaf atas kelancanganku, Kaivan. Tapi, aku mohon untuk bisa dimaafkan. Aku juga sudah bosan diceramahi kalian berdua tentang tata cara berpakaian.”
“...”
Sebenarnya aku masih punya sedikit pendapat tentang pakaian terhadapnya. Pasalnya Pero yang dengan wujud wanita dewasa ini menggunakan kemeja panjang tidak disetrika yang juga dikancinginya juga tidak rapi. Itu tidak buruk, malah berefek menjadi lebih seksi untuk beberapa alasan. Tapi, satu hal lain yang bisa kuteliti adalah bawahannya, dia menggunakan celana pendek milikku.
Baiklah, baiklah, aku akan berhenti, kurasa memang sudah jadi takdirku terikat oleh mereka berdua.
“Huft ... hah ... kalau gitu masuk ke rumah, duduk saja di sofa dan ceritain urusan kalian datang ke sini sekarang.”
Pada akhirnya aku memang sudah terjebak dengan mereka berdua. Keadaan apa pun dengan mudah disampaikan padaku. Pero dan Amalia sekarang sudah melihatku sebagai sosok yang satu kesatuan, mereka akan bicara padaku jika sesuatu terjadi.
Aku sebenarnya tidak terlalu menginginkan posisi tersebut, tapi memang ada rasa ketakutan jika mereka berdua melakukan banyak hal di belakangku. Mungkin, memang seperti inilah kondisi yang ideal.
__ADS_1