
Ketika gelombang emosi kemarahan datang, aku dapat meresponsnya dengan baik. Mata terbuka lebar, napas di perut mengeras, dan otot-otot berkontraksi memproduksi tenaga.
"HaAaaAakh!!"
Suara Geza terdengar, bilah tombaknya mulai datang menghampiri tubuhku.
Di satu titik aku bisa merasakan waktu melambat. Memanfaatkan momentum dan mengambil satu titik khusus, aku menghindar dengan mengambil langkah menyamping satu langkah hingga kembali Geza gagal menyerang.
Semua itu dilakukan dengan cepat. Belum sampai tombak penyihir lobster itu menyentuh lantai, aku sudah mengambil tindak cepat bergerak meluncur maju dan sedikit merendah. Itu bukan tanpa alasan, ini demi mengambil ancang-ancang.
Dari sudut tersebut, aku langsung mengayunkan pisauku vertikal ke atas. Dengan gaya yang bertolak saling berlawanan, aku menghantam pisau itu tepat di sendi capitnya.
Stank!!
*Break
Benar-benar mengejutkan, bahkan untukku sendiri yang sekarang sedang melakukan. Tidak disangka kalau serangan tersebut sungguh bisa menghancurkan tombak milik Geza. Walaupun tidak hancur berhamburan, tapi aku dapat merasakan kalau tombaknya membengkok hingga kehilangan bentuk aslinya.
Tubuh penyihir lobster itu sendiri ikut terpental oleh serangan ke atasku. Walaupun seluruh permukaan kulit Geza keras, tapi ternyata dorongan tidak langsung seperti itu bisa membuatnya melayang. Tombak itu tidak patah, hanya bengkok. Dari sisa gaya yang kuberikan membuat Geza melayang ke depan tercampur oleh gerak serang yang dia lakukan sebelumnya.
Badannya melakukan seperempat backflip. Dari posisi berdiri, kakinya terlontar membusur ke depan akibat dorongan pisauku yang mengarah ke atas. Akibatnya, dia jatuh dalam posisi terlentang, jatuh sambil memegang tombak yang telah rusak.
Aku yang selesai melakukan gerakan pun mendarat dengan baik. Di sana refleks pertahanan diri aktif, aku segera memutar tubuh dan melihat ke arah Geza untuk memastikan keadaan. Namun ....
*Whoush ....
"Gkhtf!?"
Gelombang emosi.
Rasa kesedihan, begitu dingin menyengat tubuhku. Aku tidak kaget untuk menerima perubahan emosinya sekarang. Dari awal kondisi mentalnya sudah tidak wajar. Tapi, untuk sekarang tubuhku entah kenapa tidak bisa menerimanya. Gelombang emosi ini menukik terlalu tajam setara dengan besarnya gelombang milik Amalia. Bahkan ....
*Throw up
"Huek, hUuuEeek ...!"
Aku muntah.
Tekanan di perut mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam. Rasa sedih ini pekat bercampur stres dan depresi. Ini bahkan hampir setara dengan orang yang mau bunuh diri. Mendapat gelombang emosi itu di tengah-tengah rasa pedas kemarahan terlalu tajam. Tubuhku benar-benar muak, otot perut berkali-kali menekan otomatis tanpa kendali otak memuntahkan isinya.
"Hueekk!!"
Lalu, aku juga mengalami muntah susulan. Aroma busuk dari muntahku sendiri membuatku jijik hingga kembali memuntahkan isi perutku. Selayaknya tidak puas, tubuhku bahkan mengulang kontraksi otot itu berkali-kali. Ini seperti dia benar-benar ingin ruang di perutku kosong.
"Hah ... hah ...," hela napasku lelah terkuras tenaga yang sebenarnya bau muntahnya kucium sendiri lagi.
Tapi, pada akhirnya tidak terlalu banyak yang keluar. Aku tidak makan banyak sebelum pergi ke sini, yang keluar dari mulutku lebih dominan lendir daripada muntahannya. Tapi, kesampingkan tentang hal tersebut ....
"Ada apa? Kenapa ada gelombang emosi ini?" tanyaku berbicara sendiri sebagai bentuk keluh. Sambil mengeram kesakitan, aku memegang kepala yang pusing dan melihat Geza di ujung sana.
Tombaknya sama seperti capit, dan dia adalah lobster. Ketika lobster kehilangan capitnya, dia akan kehilangan kepercayaan diri bahkan sampai pada tahap kehilangan gairah hidup.
Suara tersebut muncul di dalam kepalaku, Pero pada saat yang tepat menjawab pertanyaan tersebut.
"Huh?"
Artinya merusak senjata bukan hanya memperlambat serangannya. Tapi, itu juga berpengaruh pada kerusakan mental yang dibuat. Kamu bisa meredam semangat tempurnya dengan merusak tombak itu.
Kembali Pero menjelaskan.
"Kalau gitu kenapa gak kasih tahu aku dari awal? Bukannya cara ini bisa ampuh buat—"
*Whoush ....
"Hh!?"
Gelombang emosi kembali berubah. Dari bentuk depresi dan kesedihan, kini lagi-lagi rasa pedas muncul.
"HAaakhg ... hakgh ... hahkgh ....!"
__ADS_1
Di balik kebul asap puing-puing bangunan, Geza mulai bangkit dari jatuh terlentangnya. Napasnya keras, napasnya serak, seakan tenggorokan ingin pecah.
Tubuhnya bangkit dengan cara yang berat, beberapa kali dia harus bertumpu pada benda lain seperti tembok dan tombaknya sendiri untuk berdiri. Kakinya tidak kokoh, sebelah tangannya lunglai menjuntai lemas, badan juga miring sedikit bungkuk, dan kepalanya yang membelakangiku juga tertutup rambut mengarah ke bawah.
*Dug, dug ....
Atmosfer di sana berubah. Aku lebih seperti melihat penampakan bangkit dibanding anak kecil yang berusaha berdiri. Aura yang dikeluarkan begitu seram, dan suara yang dia semburkan juga begitu kasar penuh dendam.
Ketika berhasil berdiri, Geza pun mulai melihat tombaknya yang bengkok. Dia melihat kesal dan kembali mengendus ganas.
"Hfknmg ...!!"
Lalu, di saat yang sama dia pun menarik pegangan tombak tersebut ke arah berlawanan. Bukan untuk membenarkan posisi bengkok, tapi lebih ke arah ingin mematahkannya menjadi dua. Kemarahannya dipakai, kekuatannya bahkan melebihi kekebalan tubuhnya sendiri.
Aku bisa merasakan rasa sakitnya, di permukaan tangannya telah mengalir darah segar. Sisi tajam dari pegangan tersebut telah melukai tangannya sendiri ketika dia ingin menarik lepas tombak tersebut.
Kretk, kretk ....
Tapi, dari usahanya itu sepertinya membuahkan hasil.
Bunyi patah-patah dari logam yang terpisah terdengar, aku bisa merasakannya sendiri dengan melihat tarikan tangannya yang mulai saling menjauh.
"HHghAAaggjkht ...!!"
*Stak
Dengan telapak penuh darah, dengan urat di wajah, dengan suara yang serak. Geza menarik lepas tombak tersebut, benar-benar membaginya menjadi dua. Dari tombak dengan bilah berbentuk capit, kini menjadi tombak lurus ditambah satu bilah pedang.
"Hakhg ... hakgh ...," napas kasarnya setelah selesai membongkar tombaknya sendiri.
Aku menelan ludah. Di gelap malam dalam rumah sakit yang penuh kerusakan aku kini berhadapan dengan sosok mengerikan.
"Woi, Pero, kenapa dia malah potong tombaknya?" tanyaku dengan pelan yang sedang kelelahan memperhatikannya dari jauh.
"Sial?"
Aku tidak memberitahukan rencana ini dari awal karena memang terlalu berisiko. Lobster memang menganggap capitnya sebagai kebanggaan. Tapi, di saat yang sama dia adalah pemberani dan petarung alami. Dia bahkan berani memutus capitnya sendiri demi bertahan hidup.
Aku mencoba mencerna kata-kata tersebut. Mungkin penjelasan tentang lobster dari Pero tersampaikan, tapi aku sedang mencerna sesuatu dari ilmu tersebut untuk diaplikasikan dan menerjemahkan pemandangan sekarang.
Intinya, ini bisa jadi pedang bermata dua. Jika dia tidak jatuh pasrah melihat kondisi, maka posisi lainnya adalah ....
*Whoush ....
"Eh?"
Dari tempatku tersungkur jatuh setengah berdiri, sosok Geza sudah berbalik melihatku. Wajahnya tidak terlihat, rambut yang setengah panjang menutupi sebagian wajah bagian atas dan sekilas dari tatap matanya. Tapi, yang pasti aku melihat ekspresi kejamnya.
*Dug, dug ....
"HaAAaAaakh ....!!"
Sial!
Geza menyambar menyerang. Kali ini tidak dengan bilah tombak capit serangan panjang, tapi menggunakan dua senjata terpisah layaknya dua pedang di mana satu di kirinya lebih panjang dari yang kanan.
Stank!
Aku menepis serangan pertama dengan pisauku. Senjata yang ada di tangan kirinya lebih dulu melesat membuatku refleks bertahan diri. Tapi ....
*Stab
"Ghuakh!"
Bilah pedang di tangan kanannya dengan cepat menusuk perutku, tidak terlalu dalam tapi terasa rasa sakitnya ketika gigi-gigi pedang yang tidak rata tersebut menggergaji ke dalam. Refleksku di sana tahu persis arah senjata tersebut datang, mata dan pendengaranku paham betul dengannya. Tapi, di saat yang bersamaan aku tidak bisa menghindar. Kedua tanganku sudah lemas yang sepertinya sama-sama patah, tenaga di kakiku juga tidak stabil di satu kaki saja, dan durasi pertempuran yang panjang membuatku mati secara perlahan.
*Pull out
__ADS_1
"Gkh!? Akht!!"
Tidak sampai di sana. Geza juga menarik senjata tersebut dari perutku. Rasa sakitnya bertambah karena gigi-gigi pedang di sana mengoyak daging dan kulit, selayaknya anak panah yang dicabut paksa.
Bercak darah menyembur keluar, membasahi dan mewarnai merah pakaian yang dikenakan.
"HAHA ...!! HAHA ...!! HAHA!!"
Ketika aku sibuk menjerit dan meredam rasa sakit. Geza si penyihir lobster tersebut ternyata melakukan gerakan lanjut. Tubuhnya memutar, tangan kiri yang memegang bilah senjata panjang melakukan serangan horizontal, tepat ke bawah, mengincar kakiku.
Aku berusaha melompat, tapi semua itu sia-sia karena gerak yang kulakukan tidak secepat ayunan senjatanya.
Buk
Pada akhirnya aku yang terjatuh, serangan tersebut lebih dulu menghempaskan kakiku. Tapi, bukan serangan langsung, dia menubrukkan bagian tumpul dari tongkat tombaknya yang jelas tujuannya bukan untuk memotong. Di sana dia memang berniat merubuhkan, merusak fondasi berdiriku hingga tidak seimbang dan jatuh.
Punggungku mendarat lebih dulu, terlentang tepat di hadapan lawanku dengan niat membunuh. Aku ingin bangkit dari posisi tersebut, melakukan tolak tubuh di punggung agar bisa melontarkan naik badanku. Tapi ....
*Step on
"Ghuakh!?"
Geza menginjak tubuhku agar tetap rapat dengan lantai. Membuatku terhantam dan bahkan terjepit di satu bagian. Tekan kakinya begitu menyakitkan tangan kananku yang diinjak sudah remuk, dan kali ini bertambah remuk dengan kekuatan darinya.
Detik itu aku panik, kematian ada di depan mataku ketika bilah tombak Geza ditebas. Detak jantungku berdetak begitu kencang, akibatnya darah di luka perutku bercucuran hingga meluber ke lantai. Keadaan tersebut begitu buruk, dengan atau tanpa serangan lanjutan, aku akan mati jika dibiarkan seperti ini.
"Kaivan."
*Stab
"Hh!?"
Geza memanggilku dengan nada sinis, dia yang menatap benci pun menaruh bilah tombak kirinya tepat di sebelah kepalaku. Tidak sampai mengenai, hanya berupa tindak gertakan di mana suara tumbukan senjata dengan lantai di samping telinga saja yang benar-benar kurasakan.
Itu sangat menegangkan, napasku sempat berhenti karena kaget, kepalaku memiring ke arah berlawanan sebagai bentuk penolakan.
"Kamu benar-benar membuatku kesal. Hakgh ... hahkg ... tapi kurasa ini mungkin yang terakhir aku berurusan denganmu."
"..."
Aku menatap mata Geza, wajahnya yang menghadap ke bawah membuat bayangan gelap dan hanya terlihat ekspresi seramnya saja. Kerut ekspresinya begitu hebat, keringat dan bercak darah telah mewarnai komunikasi ini. Bahkan ....
*Drops, drops ....
Tetesan darah di tubuhnya sampai ke wajahku, tepat di atas dahi dan mengalir melalui alis hingga akhirnya jatuh ke sekitar telinga. Air kental beraroma besi itu berasal dari telapak tangannya, alir darah berasal dari luka yang dia buat sendiri, luka di mana ketika dia memaksa untuk pisah dua senjata tombaknya.
"Tapi, mungkin kamu akan mengerti, Kaivan."
*Stab
"Gkuahg!? AaAaaAkhft ...!"
Di bilah pedang kedua, Geza menusuk tangan kiriku. Kali ini dia tidak membuatnya meleset, sisi tajam berbentuk gergaji di senjatanya menggesek bagian atas lengan tersebut. Daging-daging terkoyak, serat otot terpotong, dan tentu cipratan darah mulai keluar.
"Rasa sakit, rasa sakit yang katanya kamu tahu, rasa sakit yang membuat orang menyerah, rasa sakit yang merusak mental, rasa sakit yang membuatmu ingin bunuh diri ... RASA SAKIT!!"
*Sawing
Bersamaan dengan sentak terakhirnya. Geza menarik mundur bilah pedang tersebut. Rasa sakit benar-benar kurasakan, gigi-gigi tajam gergaji yang mengoyak lenganku membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dibandingkan dengan sayatan biasa, senjata tajam berbentuk gigi-gigi kecil itu lebih menyakitkan dengan efek kerusakan yang lebih acak.
"Aktfgth ...! AaaAakhggt ...!!"
Aku sudah lemas, aku sudah tidak bisa melawan. Tapi, setidaknya masih ada suara yang keluar ketika Geza menyiksaku seperti ini. Tubuhku kehilangan darah begitu banyak, di tengah napasku bahkan keluar batuk darah dari kebocoran luka perut. Ini benar-benar siksaan, di saat seperti ini aku bahkan rela melakukan apa saja demi mengakhiri penderitaan.
Tunggu ... apapun?
__ADS_1