
“Waktu hari itu kamu pernah bilang kalau kita akan bicara nanti. Maksud dari kata ‘nanti’ itu aku putuskan jadi hari ini.”
“Hmn ...”
Pero mengangguk dan membuat ekspresi mengerti. Dia juga tidak terlihat benci atau tidak nyaman dengan arah pembicaraanku.
“Jadi, waktu itu kenapa kamu bisa bicara dalam bentuk burung? Ah ... apa itu bukan bicara? Karena sensasinya seperti suara berdengung dalam telingaku langsung .... Telepati?”
“Bukan, itu bukan telepati. Jika aku punya kemampuan itu, aku bisa bicara dengan siapa pun. Tapi, dalam wujud burung gagak, aku hanya bisa bicara denganmu ... Ivan.”
“Apa ini ada hubungannya dengan deteksi emosiku?”
“Iya ... aku membuat variasi pada emosi yang kukeluarkan hingga membentuk gelombang yang bisa kamu rasakan seperti suara. Singkatnya seperti bicara melalui mesin komunikasi, aku yang memprogram mesin itu untuk bicara,” jelas Pero.
Hmn ....
Terdengar sangat luar biasa. Dari yang kutangkap, Pero sanggup mengubah gelombang emosinya hingga berbentuk layaknya suara normal bagiku. Memang benar terkadang aku bisa merasakan perubahan emosi lewat pendengaran, tapi biasanya yang terasa hanyalah dengung dan lengking. Dia yang bisa mengubahnya dalam bentuk suara benar-benar berada di level yang berbeda.
“Aku masih tidak tahu semua kekuatanmu. Tapi, akan kubuat singkat saja sekarang,” ucapku dengan sedikit menekan. “Apa aku membantu Amalia karena kebetulan ... atau karena kekuatanmu?”
“... Ah,” lagi-lagi jeda sebentar karena terkejut. “Tidak kusangka kamu bisa berpikir seperti itu.”
“Aku juga terkejut ... jadi, tolong katakan kalau tadi itu cuman khayalan berlebihku.”
"Khayalan? Apa kamu tidak ingin menerima kemungkinan tersebut?" tanya Pero.
Benar. Itu benar sekali. Aku sudah mendengar pendapat Imarine tentang diriku yang dulu, dia yakin kalau aku adalah orang yang tidak melihat lingkungan. Daripada berusaha membaur, aku lebih memilih menolaknya, daripada berusaha mengubah, aku lebih memilih mencari yang lebih baik. Intinya, aku adalah orang yang tidak peduli terhadap urusan orang lain.
Aneh, padahal aku adalah orang yang selalu membantu orang lain karena deteksi kekuatanku. Hal tersebut sudah berlangsung dari kecil.
Tapi, Imarine membantah itu. Memang benar aku membantu, tapi tidak ada rasa ingin membantu yang tulus dariku. Gadis itu bisa melihatnya. Itulah sebabnya dia beranggapan aku itu galak dan sangat aneh melihat aku yang sekarang begitu keras berusaha menyelamatkannya.
"Iya, kalau bisa aku ingin mendengar tolakanmu. Tolong katakan kalau sebenarnya aku ini berkembang tanpa campur tanganmu."
“Heh,” deham Pero sedikit mengejek, wajahnya tidak melihatku dan cenderung menutup mata. “Kekuatanmu bisa mengetahui kebohongan, ‘kan. Kalau gitu percuma jika aku bilang seperti itu.”
“...”
__ADS_1
Jadi, memang benar, yah.
Perasaan hati ingin membantu Amalia adalah sebuah anomali. Imarine yang mengenalku tahun lalu juga menyadarinya, tentang perubahan sikapku yang menjadi perhatian. Aku juga sedikit-demi sedikit menyadarinya, perasaan misterius tersebut bisa membawaku ke perjuangan membantu orang lain.
“Apa kamu tidak suka? Apa kamu menganggapku orang jahat sekarang?” tanya Pero.
“Tidak ..., burung gagak memang terkenal cerdik. Kamu pernah bilang kalau kamu bisa memanfaatkan hewan lain demi mendapatkan makanan. Apa yang kamu lakukan untuk menjebakku membantu Amalia juga tidak berbeda dengan itu.”
“Kata yang kamu gunakan sedikit jahat," ucapnya yang sedikit menunduk. "Menjebak, yah ... padahal apa yang kulakukan juga menguntungkan kamu, bisa dibilang hubungan mutualisme.”
“Kalau begitu untuk lebih jelas. Apa yang kamu lakukan dan apa keuntungannya bagiku?”
“Singkatnya sih ... aku membuka gerbang di hatimu. Ini membuat kamu bisa berbagi perasaan secara penuh dengan orang lain.”
Membuka gerbang? Berbagi perasaan? Ah ... itu maksudnya.
Kurang lebihnya aku mengerti. Aku yang dulu sangat membenci emosi negatif, mereka semua terasa menjijikan dan membuatku sakit. Tapi, belakangan ini aku bisa bertahan dalam gelombang emosi itu. Bukan karena kemampuanku melemah, melainkan lebih ke arah aku yang memutuskan demikian. Dengan kata lain ....
Empati. Perasaan di mana seorang individu bisa memahami emosi individu lainnya. Hal yang bisa membuatku bersimpati pada orang tersebut. Jika dibandingkan aku yang dulu, aku tidak sempat memikirkan perasaan orang lain yang mengeluarkan emosi negatif dan lebih sibuk menyelamatkan diri.
“Eh? Kamu mengerti? Dengan dua kalimat barusan?”
“Aku sudah tahu apa yang terjadi padaku sebelum datang ke sini. Pertanyaan sebelumnya hanya untuk memastikan.”
“Ternyata kamu orang yang lebih peka dari perkiraanku. Walaupun itu juga mungkin akibat terbukanya gerbang di hatimu.”
Untuk aku yang sering berpikir, kurasa itu hanya sikap yang kubawa dari kecil. Tapi, baiklah.
“Tadi, kamu bilang kalau ini menguntungkan bagiku, 'kan?”
“Tentu saja. Kamu ingat, sebelumnya aku pernah bilang kalau gelombang emosimu sendiri terdapat keanehan dan ketidakstabilan. Lalu, saat kutanya, kamu tidak jawab penyebabnya. Entah itu bohong atau bukan. Penyebab aslinya pasti adalah sesuatu yang sangat dalam--.”
“Oke, aku mengerti.”
“Eh? Kamu mengerti juga?”
"Semua itu sudah jelas ... karena aku juga sudah bisa merasakannya. Ketika pengambilan mana, perasaan bahagia dan terbebasnya mereka dari masalah juga bisa kurasakan. Entah kenapa aku bisa ikut bahagia melihat mereka.”
__ADS_1
Itu adalah perasaan yang tidak kualami. Melihat orang senang biasanya tidak akan membuatku senang, hal yang kurasakan hanyalah rasa gurih. Jika terlalu lama orang tersebut merasa senang, maka akan ada orang di sekitar yang iri hingga mengeluarkan emosi negatif. Bagaimanapun jalannya, aku tetap menemui akhir yang sama.
Namun, hal tersebut berbeda ketika membantu Amalia.
Aku mulai bersiap pulang, mengantungi tas gendong dan merapikan pakaianku.
“Tunggu, kamu mau ke mana? Bukankah percakapan kita belum selesai?”
“Heh,” dehamku dengan sombong. “Aku sudah mengerti apa yang perlu kumengerti sekarang.” Ucapku sambil melangkah pergi.
“Tunggu,” ucap Pero menghentikanku tepat di pintu ruangan itu. “Sebelumnya aku tanya ... Apa kamu menyesal telah membantu Amalia?”
“...”
Tubuhku yang membelakangi tidak melihat wajah Pero, jarak ini juga terlalu jauh untuk mendeteksi emosinya dengan jelas. Kepalaku tertunduk, sedikit berpikir untuk menemukan jawaban tersebut.
“Itu hal yang tidak perlu ditanyakan. Aku yang sekarang punya simpati pada orang lain. Jadi, Jawabannya sudah jelas, ‘kan?” ucapku sambil membuka pintu dan pergi.
Pero boleh saja menggunakanku bagai alat, dengan cerdiknya mengubah cara pandang dan membuatku seolah harus membantu Amalia. Aku tidak menyesal, aku cukup senang. Melihat kekuatanku bisa digunakan untuk kebaikan dan berguna bagi orang yang membutuhkan. Entah cukup atau tidak, aku masih berpikir kalau luka hatiku sendiri bisa pulih dengan membantu orang lain.
“...”
Tapi, ada sedikit rasa ragu dan takut yang muncul. Tentang apakah yang kurasakan ini, tentang perasaan positif yang kualami. Bertahun-tahun aku hidup penuh kebencian mengutuk manusia, lalu tiba-tiba warna pelangi muncul, hal ini malah terasa mengerikan. Mengingat apa yang dilakukan Pero tentang terbukanya gerbang hatiku, menyebabkan timbulnya pertanyaan besar.
Apa perasaan bahagia ini bukan milikku?
Karena aku takut kalau semua ini hanya kepalsuan.
******
__ADS_1