
Keesokan harinya di pagi-pagi sepi di mana murid belum ramai memenuhi sekolah, aku kembali dihadapkan dengan Fany yang datang ingin bicara denganku. Berbeda dengan sebelumnya, posisiku sekarang sedang bersantai duduk di kelas.
“Kaivan ....”
Gadis itu menghampiri mejaku, berdiri samping depanku sambil memanggil dengan suara halus.
“Ada apa?”
“Bisa keluar sebentar?”
“...”
Aku melirik ke arah sekitar, melihat beberapa orang yang sekiranya bisa melihat kami. Ini kulakukan demi mengurangi gosip yang beredar. Jika aku terlalu banyak ditemukan dekat dengan seorang perempuan, maka akan muncul gunjingan yang membuat emosi negatif keluar.
Yah, kurasa tidak apa-apa.
*Grek.
Aku berdiri, membuat kursi sedikit bergeser menimbulkan suara. Tanpa menjawab secara langsung pertanyaan Fany, aku langsung berjalan ke luar kelas.
“...”
Lalu, Fany mengikuti dari belakang.
Aku membawanya ke selasar lorong depan kelasku. Jumlah murid sekarang masih aman untuk melakukan percakapan di ruang terbuka, efek balik akan diterima jika aku dan Fany berkumpul di tempat yang lebih sepi.
“Oke, kamu mau ngomong apa?” tanyaku.
“Uukhg ... kamu yang langsung ke intinya kadang nyeremin juga, Van.”
Huh? Apa iya?
Lalu, aku harus bagaimana? Memberikan pembukaan dan basa-basi sebelum masuk ke inti?
“...”
Aku melihat Fany, gadis itu masih diam tidak memulai cerita. Kondisinya hatinya yang gelisah ditambah gerakan tubuh yang setengah-setengah membuatku sedikit kesal. Rasa ingin menarik dia langsung dari cangkang.
“Kalau kamu gak mau ngomong, aku mau masuk lagi,” ucapku yang mulai berjalan balik.
“Ah, aaAah ... iya, iya, iya ... aku bakal ngomong, jadi tunggu bentar,” cegahnya dengan terbata-bata menghalangi arah pergiku.
“...”
Aku yang tertahan kembali oleh tubuhnya pun mundur untuk kembali menunggu. Dengan Fany bisa lebih cepat memutuskan.
__ADS_1
“Umn ... jadi, gini ...,” ujarnya dengan ragu. “Bisa kamu panggil Septian? Aku mau minta maaf soal kemarin.”
Minta maaf? Wow ....
“Kamu tahu ... sangat jarang ada cewek yang mau minta maaf duluan kayak gini. Ditambah ... ini juga bukan salah kamu.”
“Eh? Beneran? Padahal Ibuku pernah kasih tahu cara selesain masalah sama cowok. Dia bilang kalau minta maaf duluan itu cara paling bijak.”
“Yang padahal kamu gak salah?” tanyaku sedikit memancing
“Hnhg ...? Ini bukan soal salah atau benar ... ini soal mau atau enggaknya masalah selesai.”
Ah ... boleh juga.
Pria sejati akan ikut menunduk ketika seorang wanita menunduk. Aku bisa membayangkannya, ketika pria menghadapi wanita yang merendahkan diri, mereka cenderung ikut merendah. Insting melindungi yang dimiliki mereka akan aktif, kemarahan yang sebelumnya muncul bisa hilang seketika.
Namun, sebaliknya. Jika seorang wanita berani melawan pria dengan ketegasan serta urat wajah, maka pria tersebut bisa membalasnya berkali-kali lipat. Di saat itu, bukan insting melindungi pria yang aktif, melainkan instingnya sebagai pemimpin. Perempuan yang berontak cenderung melukai harga diri laki-laki tersebut, membuatnya berbalas tindak kasar demi menundukkan perempuan.
Fany ... bersyukurlah kamu dibesarkan di keluarga yang baik.
Tapi ....
“Apa bener kamu bisa minta maaf?” tanyaku memastikan. “Jangan sampai kamu minta maaf cuman setengah-setengah ... kayak misalnya bilang ke Septian ‘yang penting aku sudah minta maaf, terserah kamu mau maafin atau enggak’,” ucapku menirukan nada perempuan.
Karena hal seperti itu sangat merusak suasana. Menaikkan harga diri yang cenderung berkesan gengsi hanya akan berefek buruk pada laki-laki.
“Yah ... aku ngerti, kok. Ini semua juga tergantung sikap Septian nanti.”
Kalau misalnya dia masih keras kepala dan meminta hal macam-macam yang cenderung memaksakan kehendak, aku mungkin akan benar-benar memukulnya.
Bukan berarti semua laki-laki baik. Ada juga laki-laki yang sombong yang berlaku kasar serta keras kepala terhadap haknya. Karena, pemimpin terhormat hanya dibagi menjadi dua, yang disegani dan yang ditakuti. Orang yang dengan kasar menegaskan penghormatan biasanya adalah orang yang gagal disegani. Aku harap Septian bukan termasuk ke dalamnya.
“Iya ... makanya ... nanti istirahat bisa antar aku?”
Antar ...? Hmn ....
“Kamu tahu, keberadaanku nanti malah bikin situasi tambah buruk.”
Septian sendiri menyukai Fany, seharusnya dia tidak akan berlaku kasar jika emosinya tidak tersulut. Waktu itu, keberadaankulah yang membuat kondisi menjadi rumit.
“Aku ... aku gak tahu bisa atau enggak kalau pergi sendiri.”
“Kalau gitu jangan aku ... kenapa gak Amalia?”
Pilihan itu adalah hal yang paling baik untuk sekarang. Walaupun mungkin pada akhirnya Amalia akan menggunakan kekuatannya untuk menghilang. Tapi, setidaknya tidak akan membuat emosi Septian terguncang.
__ADS_1
“Kalau aku ajak Amalia kamu juga bakal ikut?”
“Kalau kamu ajak Amalia gunanya aku ikut itu apa?”
“Gak apa-apa, ‘kan? Kamu cuman hadir saja, jagain dari belakang, biar ada laki-laki gitu.”
“...”
Sebenarnya itu masih terlalu berisiko ....
Hmn?
Tidak, tunggu, kurasa itu ide bagus. Aku bisa membuat sudut pandangnya sedikit berubah dengan menggunakan sedikit perkataan. Tujuan Septian yang sederhana bisa kumanfaatkan dengan baik.
“Oke, aku bakal datang. Dan soal Septian, nanti bisa kupanggil waktu istirahat, kalau sudah siap aku bakal kasih pesan ke Amalia. Jadi, kamu diam saja tunggu bareng Amalia.” Ucapku mengakhiri percakapan.
“...”
Aku kembali ke kelas, masuk dan duduk di bangkuku memasang posisi bersantai. Waktu semakin berjalan, jika aku terus berada di luar, kelas akan penuh dan gelombang emosi orang-orang berkumpul memekatkan ruang kelas. Hal tersebut membuat hentakan tak nyaman bagiku ketika masuk sebagai orang terakhir.
****
Kring ... kring ....
Bel istirahat berbunyi, kali ini aku mencoba untuk berlari dengan cepat keluar kelas sebelum lingkungan luar dipenuhi orang-orang.
Hmn ....
Memang awalnya cukup sakit dan mengganggu. Tapi, jika dibandingkan dengan gelombang emosi yang kualami bersama Amalia, hal ini tidak sebanding dengannya. Lagipula, di waktu istirahat sedikit orang yang mengeluarkan emosi negatif.
Aku sampai di gedung tak terpakai sekolah, tempat biasa aku bertemu Imarine. Entah kenapa belakangan ini aku merasa kalau gedung tak terpakai adalah lokasi khusus aku dan Imarine.
Hari ini aku meminta Imarine membawa Septian. Tapi, dari arah pembicaraan yang dilakukan gadis itu, ternyata Septian sendiri juga punya niat sama. Aku cukup senang dengan hal tersebut karena dia masih punya jiwa lelaki yang mampu menghadapi masalah.
Ah ... akhirnya datang juga.
Aku melihat Imarine berjalan mendekat di lorong bersama Septian di samping. Dari sini aku merasakan kalau kondisi laki-laki itu tidak begitu kesal. Setidaknya, aku tahu kalau dia tidak akan membawa kemarahannya waktu itu hari ini. Berbeda dengan wajah Imarine, gadis itu justru membuat penampilan lebih baik dengan senyum dan wajah bahagia bahagia—
*Whoush ....
Hng!?
“...”
Gelombang emosi ... semakin pekat ketika Imarine mendekat.
__ADS_1