
“Huh? Kenapa kakak harus turutin kata kamu cuman buat minta barang punya kakak sendiri?”
Kak Dina sepertinya sedikit membantah, tapi itu bukan masalah. Keterikatannya dengan ponsel sekarang cukup kuat untuk tetap memaksa di permainan.
“Aku gak maksa, tapi aku juga ingin tahu kenapa kakak gak mau jelasin dan sampai kayak paranoid gini?”
“Pa-paranoid ...? Aku sampai gak segitunya.”
“Hmn ..., gitu, iya,” dengungku dengan nada sinis menyipitkan mata. “Oke, aku bakal kembaliin HP-nya, tapi soal memar itu aku bakal kasih tahu ayah.”
“Eh, Huh!?” respons wanita tersebut terkaget, dia meninggikan suaranya sambil melotot dan menaikkan alis. “Tunggu, tunggu, tunggu, jangan kasih tahu ayah sama ibu. Jangan sampai mereka tahu!”
Hmn ....
“Kenapa? Kalau itu luka biasa, aku cuman mau kakak dirawat.”
“Kamu tahu sendiri ‘kan, Van. Kalau aku ketahuan punya luka, mereka bakal balik lagi protektif.”
Iya, tentu aku juga tahu hal tersebut. Justru, aku memang memanfaatkan sifat mereka sebagai tambah ancaman dalam harga dari taruhan percakapan ini.
Orang tua di sini memiliki kesenggangan soal memperlakukan anaknya. Aku cenderung punya hidup bebas, kedua orang itu tidak mempermasalahkan perbuatanku selama hal tersebut tidak buruk. Cara mereka mendidikku adalah dengan mendiamkan aku mencapai tujuan sendiri dan memperingatiku ketika ada hal yang salah.
Namun, lain denganku, kak Dina punya perlakuan yang lebih spesial. Ini mungkin juga karena perbedaan gender, kedua orang tua itu lebih menutup banyak jalur berbahaya. Aturan seperti kabar terkini, alasan pergi, jadwal pulang, dan status kak Dina yang harus ada penjaga ketika di luar rumah.
Orang tua kak Dina di sini sudah merestui hubungan kekasih yang dia jalani. Untuk bagaimana kelanjutannya, kedua orang itu masih bergantung pada satu orang kepercayaan yang entah siapa itu.
Mungkin sejak kak Dina menginjak bangku kuliah, orang tua tersebut mulai melonggarkan aturan mereka. Aku pikir itu adalah sebagai pelepasan karena kakakku menginjak usia dewasa. Tapi, ternyata hal tersebut sedikit berbeda, karena kak Dina sebenarnya punya penjaga tersendiri.
Aku dan kak Dina tidak tahu siapa, tapi perbuahan sikap dari orang tua itu pasti ada alasannya. Mungkin bukan penjaga bentuk orang, mungkin juga itu hanya sebatas alat kontrol GPS jarak jauh. Apapun bentuk yang bisa membuat orang tua itu tenang melepas anak kesayangannya dari perlindungan ketat.
“Iya, kasih tahu atau enggak, itu tergantung kakak sendiri. Kalau kakak jawab pertanyaan, aku bakal kembaliin HP dan anggap luka kakak itu gak ada.”
Sudah sekitar dua tahun kak Dina hidup lepas dari pengawasan ketat. Butuh beberapa waktu sampai akhirnya kakakku terbiasa bersosialisasi dengan tenang. Jadi, ketika ayah menemukan luka yang mengukir tubuh kak Dina, mungkin hidupnya akan kembali layaknya tahanan. Karena, kemungkinan terburuknya adalah kak Dina yang akan dipaksa keluar dari kuliahnya.
“Kalau gitu kamu mau tanya apa?”
Tanya apa? Tentu saja sudah jelas.
“Dari mana kakak dapat luka barusan?”
“...”
“...”
Aku memang tidak seprotektif ayah, tapi aku juga punya rasa khawatir yang sama besarnya. Kak Dina adalah anggota keluarga yang secara teknis jauh lebih dekat denganku. Memikirkan satu hal buruk padanya membuatku juga ingin melindunginya.
“Aku ‘kan sudah bilang ketabrak tiang, kenapa kamu masih tanya?”
“Hn?”
Aneh, aku tidak merasakan gelombang emosi kebohongan. Apa dia memang tidak berbohong? Lalu, dari mana gelombang emosi busuk yang sebelumnya muncul?
__ADS_1
“Kamu cuman mau tanya itu? Karena kakak sudah jawab kenapa kamu gak kembaliin HP kakak.”
“Belum, masih ada lagi,” jawabku yang masih mempertahankan posisi terdesak kak Dina untuk diinterogasi.
“Tch,, oke,” responsnya dengan decak lidah mengeluh. “Tapi, akmu cuman boleh tanya dua pertanyaan lagi.”
Baiklah, itu sudah cukup untukku.
“Kalau gitu, apa kakak masih punya luka lain? Kayaknya baju longgar yang kakak pakai sekarang itu ada maksudnya.”
“Ada, tapi banyaknya luka kecil, dan itu gak ada hubungannya.”
“Hoo ... jadi, luka yang di tangan itu yang paling parah.”
“Iya terserah kakak ‘kan mau luka atau enggak. Kakak cuman gak suka saja banyak orang yang lebai makanya ditutupin.”
“Terserah atau enggak sebenarnya masih ada keputusanku dan ayah di sana.”
“Badan kakak ya punya kakak. Kakak juga bisa urus sendiri lukanya,” jawab kak Dina yang semakin lama semakin meninggi nada bicaranya, menunjukkan satu kekesalan yang mulai tumbuh ketika bercakap denganku. “Ivan, bisa udahan saja, gak? Kamu gak ada kerjaan banget tanya kayak gini, sadar gak sih juga topiknya sekarang mulai ngaco.”
“Sebenarnya aku gak anggap ini ngaco, malah—“
*Kring ... kring ....
“Hn?”
Suara dari ponsel mengganggu kalimatku, dering dan getar tersebut terasa langsung dari tangan kiri yang sedang diangkat. Suara tersebut sudah cukup membuat canggung, dan sekarang lebih canggung lagi karena sumbernya berasal dari ponsel kak Dina yang sedang kupegang.
*Whoush ....
Gelombang emosi, rasa menggigil dingin dengan sensasi perih dan pedas.
Ini cukup langka untuk dirasakan sebagai campuran emosi. Pada halnya, dingin menggigil dari ketakutan sedikit bertolak belakang dengan rasa marah.
“Ivan, kembaliin HP kakak sekarang,” ucap kak Dina dengan nada senyap mengancam.
*Kring ... kring ....
Bunyi dari ponsel terus berlangsung, suaranya menggelegar di setiap ruangan hingga mengalahkan televisi sekarang. Dari suaranya dan ekspresi yang dibuat kak Dina, dia membawa situasi ini menjadi serius.
“Tunggu, pertanyaan terakhir belum kakak jawab—“
*Kring ... kring ....
“Ivan!!”
Nada dering ponsel itu terdengar lagi berulang layaknya semakin keras memanggil kak Dina di setiap detiknya. Oleh sebab itu, dia beraksi cukup tegas, suara yang dikeluarkan bukan meninggi lagi, tapi sudah dalam kadar teriak.
Dengan tatapan ancaman, kak Dina mulai berjalan mendekat. Dia berjalan beberapa langkah hingga sampai ke depanku. Lalu ....
*Step on
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga wanita itu menginjak di sebelah pergelangan kakiku.
“...”
Reaksiku cenderung mendiamkannya. Berpura-pura kalau aku tidak kesakitan. Padahal, sensasi kulit di pergelangan kaki yang tertarik akibat kekuatan injak itu sangat ngilu. Biarpun begitu, aku tetap bertahan, sesuatu yang jauh lebih sakit pernah kurasakan.
Melihat reaksiku yang diam, kak Dina semakin kesal dan mulai melakukan sedikit rotasi pada injaknya, membuat rasa ngilu kulit tertarik menjadi lebih tajam. Tapi, aku juga masih bertahan dengan reaksiku, karena ....
*Kring ... kring ....
Hal yang kupertahankan juga masih ada di tangan.
“Ivan, cepet kembaliin!”
“Pertanyaan terakhir, apa luka kakak ada hubungannya sama telepon ini?”
“Kakak ‘kan sudah bilang kalau semua ini cuman ketabrak tiang,” jawab kak Dina yang semakin kesal. “Kamu boleh tanya kakak nanti, tapi kakak mau angkat teleponnya sekarang.”
“Angkat telepon juga bisa nanti, bilang saja kalau kakak habis di kamar mandi atau—“
*Kring ... kring ....
“Tch.”
*Stuck
“Akkh!?”
Di dering ponsel yang selanjutnya, kak Dina semakin panik. Dia yang tidak melihat aku akan mengembalikan ponselnya pun melakukan tindakan kasar.
Raih tangannya tidak mungkin mencapai ponsel yang kuangkat tinggi. Jadi, sebagai pengalih dia menancapkan kukunya ke permukaan kulit di lenganku dengan kasar.
Aku sedikit terkejut, respons sakitnya membuat tanganku bergetar. Lalu, reaksi getar tangan tersebut dimanfaatkan oleh kak Dina. Tancap kukunya di sana berubah menjadi cakaran ke bawah yang secara otomatis menarik paksa tanganku ke bawah.
*Take
Pada akhirnya ponsel tersebut pun berhasil direbut.
Kak Dina yang mendapatkannya kembali pun segera berlari menjauh dariku.
“Ha-halo.”
Dia mengangkat teleponnya sambil berusaha menuju kamarnya. Lari kecilnya begitu lihai melenggak lenggok dengan cepat mengatasi segala kursi dan meja yang menghalangi. Tujuannya ingin ke kamar terlihat jelas untuk menjaga privasi. Jadi, dengan cepat pula pintunya ditutup dan mencegahku menguping.
“...”
Aku ditinggal sendiri di sana, berdiri di ruang dengan televisi menyala yang tidak kutonton sama sekali. Entah kenapa rasanya cukup sakit, padahal secara teknis aku yang bertindak tidak benar menjahilinya.
Aku melihat tangan kiriku yang dicakar barusan, empat garis memerah timbul di sekitar sikut menjadi tanda yang cukup membuat ngilu. Bukan karena rasa sakitnya saja, tapi karena memang lengan kiriku juga sekarang masih dalam masa penyembuhan. Luka di sekitar bahu masih diperban dan ditunggu penyembuhan cangkok dagingnya. Itu sebabnya aku mengalah, karena rasa khawatir cakaran tersebut bisa mengenai luka operasiku.
__ADS_1