
Aku tidak ingat secara jelas kenapa aku dan Pero merahasiakan hubungan kami dan kemampuan tingkat lanjut untuk berkomunikasi jarak jauh. Mungkin aku hanya tidak punya kesempatan yang bagus, secara teknis tidak ada peraturan ketat yang dikemukakan oleh Pero tentang hal ini.
Sebelumnya aku ingat kalau Pero pernah mengajakku bicara pribadi menghalangi komunikasi dengan Amalia. Tapi, itu demi tidak Amalia bersih dari pikiran merepotkan yang menghambat keputusan. Sejak Amalia bertanya, aku kembali berpikir tidak adanya efek samping memberi tahu fakta ini. Pero yang diam juga masih tidak menimbulkan pergerakan, siluman gagak yang diam menikmati belaian tersebut kuanggap sebagai ungkapan tidak keberatan dengan percakapan tersebut.
“Iya, aku bisa ngomong sama Pero waktu dia jadi gagak. Kalau ditanya, mungkin jawabannya gara-gara sihir. Aku juga gak tahu detailnya, tapi sihir itu cuman berlaku ke aku saja.”
“...”
Respons Amalia sangat pasif, atau kembali lagi ke faktor dia yang bisu, tidak ada suara yang membalas kalimatku. Ini juga menjadi salah tahu penghalang komunikasi di antara kami. Dia diam memegang catatannya lebih bawah lagi bersentuhan dengan permukaan pahanya—terlihat jelas tidak ingin melanjutkan tulisan.
Mulanya aku merasa penasaran terhadap tulisan-tulisan yang dia ingin utarakan padaku. Tapi, seiring waktu berlalu, aku mulai merasa hal ini merepotkan, terutama ketika aku ingin melakukan percakapan cepat.
Huft ... hah ....
“Amalia,” panggilku di suasana sepi tengah transportasi bus. “Aku mau tahu, sebenarnya apa yang terjadi belakangan ini. Apa yang sebenarnya salah dariku?”
*Whoush ....
“...”
Gelombang emosi.
Iya, ini juga salah satu yang aku keluhkan belakang ini, atau lebih tepatnya hal ini yang menjadi faktor utama aku mengeluh.
Terlalu banyak gelombang emosi negatif. Hal tersebut membuatku lelah secara mental, menerima ini bertubi-tubi tanpa henti terutama dari orang terdekat menjadi siksaan tersendiri.
*Write, write, write
__ADS_1
“...”
Amalia mulai menulis lagi, ekspresinya berubah menjadi serius dengan gelombang emosi menunjukkan kekesalan. Cukup aneh ketika dia menulis tepat di sampingku, ini membuat catatannya semakin terlihat. Posisi cuku tersebut yang ditaruh di paha menjadi sangat mudah bagiku melihat apa yang ditulis dari sudut tersebut. Jadi, sesaat menutupi kecanggungan, aku mengalihkan pandangan ke jendela untuk menunggu dia bersiap sepenuhnya.
Tulis itu rasanya cukup lama, aku sedikit mengintip-intip dia yang ada di sisi semisal gadis tersebut selesai. Namun, dia lebih lama menulis dan malah membuka lembar baru lanjutan ketika tulisannya selesai memenuhi satu halaman.
“...”
*Glance ....
Sampai pada akhirnya dia selesai. Gesture mengangguk dan mengubah posisi duduk terasa kalau dirinya memanggilku. Aku pun menjawab panggilan ‘tak langsung tersebut dan melihat ke arahnya.
“Hn?”
Di sana Amalia memberikan catatannya padaku secara penuh. Berbeda dengan biasanya yang dia menunjukkan halaman tertentu, tapi sekarang dia lebih seperti menyerahkan seluruh analisa seluruhnya padaku.
Aku mengambil bukunya secara perlahan, dan tentu membuka isinya.
Tulisan halaman pertama berakhir, dan tentu aku sesaat berhenti karena tekanan khusus. Aku masih tidak mengerti inti dari tulisan tersebut. Kenapa aku benar tapi harus menerima sebuah perlakuan negatif dari mereka.
Aku melirik Amalia, jaraknya yang sangat dekat duduk di sebelahku menyebabkan kecanggungan tersendiri. Walaupun, sebenarnya tatapan Amalia tajam ke arahku.
Aku kembali membuka halaman catatan tersebut untuk membaca lanjutan.
Kedua, kamu harus lebih banyak cerita tentang banyak hal ke orang-orang. Aku mungkin pernah kasih tahu, tapi kayaknya kamu masih gak tangkap. Aku tahu cerita ke orang yang gak tahu apa-apa gak bakal bantu, cerita ke orang lain bisa bikin sesuatu jadi tambah ribet. Tapi, kamu harus tahu kalau yang berpikir tentang kamu itu bukan kamu saja. Walaupun kamu bilang kondisi kamu sehat, belum tentu orang di sekitar kamu terima keadaan kamu yang kamu bilang sehat itu.
Aku menegakkan sebelah alis setelah membaca tulisan di halaman kedua ini. Rasanya seperti aku merasakan sesuatu yang lebih rumit dibanding gelombang emosi yang kurasakan. Banyak perasaan yang tertumpuk paragraf tersebut hingga aku sendiri tidak bisa menerjemahkannya sendiri. Tapi, permohonan kuat padaku agar lebih sering cerita terasa sangat jelas.
__ADS_1
Aku di sana segera melanjutkan membuka catatan Amalia, mengabaikan berbagai perasaan yang timbul untuk mengetahui lanjutannya lebih cepat.
Terakhir, kesimpulan dari semua tindakan kamu itu sebenarnya bikin aku bingung. Selama ini kamu kayak jauhin aku. Kamu yang duluan, Kaivan, dan itu bikin aku agak panik. Selama kita bareng, kayaknya mungkin banget kamu benci sama aku, aku memang gak terlalu berguna selama ini. Tapi, apa yang kamu lakukan berkesan terbalik, kamu banyak berkorban demi aku. Hal yang bikin aku bingung kalau kamu memang temenan sama aku atau enggak?
Permintaanku sederhana. Aku mau kamu lebih banyak cerita padaku walaupun itu gak penting buat kamu.
“...”
Hmn ... begitu, iya.
Melihat permintaan yang ditulis Amalia, aku mulai paham apa yang terjadi. Biarpun begitu, bukan berarti aku bisa menyelesaikan lubang yang terbentuk terlanjur besar ini.
Inti dari yang aku dapat adalah ... iya, Amalia ternyata memang gadis pada umumnya, dia punya pribadi yang mengesankan di mana dia adalah perempuan yang punya kebutuhan selayaknya seluruh perempuan yang kukenal.
Ketika di dalam kelompok, orang yang tidak bekerja akan mendapat satu perasaan telah menjadi beban. Ketika dalam perusahaan, orang yang tidak bekerja benar akan mendapat tekanan batin tersendiri yang mengira dirinya hanya lintah penyedot uang gaji. Mungkin memang tidak semua orang bisa demikian, tapi untuk beberapa orang yang terbiasa bekerja dan punya nilai di mata sosial cenderung tidak bisa diam saja menjadikan dirinya tidak bekerja.
Laki-laki punya harga diri, dan perempuan punya sesuatu yang mirip seperti kebutuhan penghargaan sosial. Baik salah satu atau keduanya, memang alami manusia memiliki hal tersebut. Jadi, melihat semua bekerja dengan baik ketika diri sendiri tidak melakukan apa-apa ... itu adalah sebuah siksaan batin tersendiri.
Perempuan ini ... intinya dia hanya meminta perhatian.
“Oke.”
*Close
Ucapku sambil menutup catatan tersebut.
“Aku ngerti, tapi aku tetap gak tahu gimana cara yang bagus buat turutin kemauanmu. Aku bakal usahain nanti, jadi untuk sekarang mungkin fokus lagi ke misi dari Pero,” lanjut kataku sambil memberikan catatan tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit setelah aku memberikan catatan, bus mulai dekat dengan tujuan. Di sana aku bukan mengalihkan perhatian, tapi memang lingkungan sendiri yang merapatkan waktu dengan kondisi percakapan kami. Jadi, dengan cepat aku juga bersiap, membenarkan posisi sambil membawa PEro yang masih letih di pangkuanku.
*****