Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 36 - Dasar Survival


__ADS_3

Kalimat yang menurutku terlalu puitis dan setengah-setengah untuk dijadikan sebagai pedoman. Susunannya lebih acak, tidak kompleks, dan cenderung menyembunyikan pesan aslinya. Ini disebut sebagai teka-teki, sesuatu yang dipakai sebagai sedikit pengecoh agar aku sulit maju dari tempat ini.


Ini tidak mengejutkan, mengingat dari awal Octa ingin bermain game, dia juga tidak akan menggunakan peraturan yang membosankan. Satu atau dua hal mungkin akan dia tambahkan, bahkan aku tidak kaget kalau di waktu yang akan datang dia akan melakukan hal gila.


"Ivan, kamu ngerti apa maksudnya yang barusan?" tanya Farrel yang memegang kepala dan melihat ke arahku.


"Enggak, aku belum tahu," jawabku dengan jujur sambil menggeleng kecil. "Bagian yang aku paham cuman tentang puncak dari ekosistem."


"Oh, kamu ngerti kalimat pertamanya? Kayaknya itu bagus buat awal."


Aku mungkin bilang paham. Tapi, tentu aku tidak menjamin jawaban tersebut sepenuhnya benar. Bukan berarti aku mengerti apa yang dipikirkan si pembuat teka-teki, hanya saja ilmu pengetahuanku mengerti kata ekosistem secara keilmuan.


"Di pelajaran biologi, puncak ekosistem itu antara kucing besar kayak singa, harimau, cheetah, atau serigala. Tapi, kalau ekosistem laut mungkin hewan kayak hiu," jawabku menjelaskan.


"Ehmn ...," gumam Farrel mengerutkan wajahnya. "Kayaknya jawaban kayak anak sekolah itu gak pas dipakai sekarang, Ivan."


"Kalau gitu, kamu punya jawaban lain?"


"Aku protes bukan berarti aku tahu jawaban lain. Lagian, kalau memang kita ambil jawaban itu. Terus kita mau apa? Pergi cari singa buat diburu?"


"Secara teknis, kita punya senjata di sini."


*Sheath


Aku mengatakan itu sambil menarik kapak dari gantungan di sabukku. Secara perlahan, aku juga membuka pelindung dan menunjukkan sisi tajam selayaknya sedang bergaya menunjukkan kekuatan.


"Ahaha, aku harap itu cuman bercanda, Ivan. Mana mungkin kita pakai kapak bisa kalahin hewan buas?"


"Manusia gak sepenuhnya harus pakai otot, dan setidaknya kita juga punya nilai tambah karena lahir sebagai laki-laki. Dalam sejarah, tercatat manusia salah satu makhluk yang bisa mengalahkan singa dan harimau lewat senjata jarak dekat."


"Kita gak hidup di zaman itu, dan tolong jangan samakan aku sama mereka," tukas Farrel mengeluh mendengar jawabanku.


"..."


Aku di sana menyarungkan kembali kapakku ke tempat semula. Pertunjukkan dan gayaku sudah selesai ketika Farrel sepenuhnya menyerah untuk mengambil pilihan tersebut.


Tapi, aku juga memang setengahnya bercanda. Secara kasar, aku sendiri memang tidak punya kesempatan menang melawan hewan buas begitu saja. Perlu latihan otot, stamina, daya tahan, dan peralatan yang lebih memadai lebih dari sekadar satu buah kapak.


Selain baju pelindung dan berbagai senjata, hidup di luar menghadapi bahaya perlu obat-obatan yang memadai. Jika aku terkena gigitan dan tidak dapat membersihkannya hingga terjadi infeksi, aku juga akan mati perlahan. Ketika hal Itu terjadi, maka aku sudah gagal. Menjadi sakit akan menjadi beban, tidak ada obat membuat masalah tidak terselesaikan.


Faktor lain yang tidak mendukung adalah kekuatan dari deteksi emosiku yang terbatas. Hewan berbeda secara keseluruhan dengan manusia, terutama bahasa mereka. Entah kenapa aku tidak bisa merasakan gelombang emosi milik hewan dengan sama seperti manusia. Hewan tidak akan memberikanku lonjakan emosi, tidak akan memberikanku doping kuat ketika mereka marah. Jadi, mereka juga secara kasar tidak akan memberiku kekuatan layaknya aku bertarung melawan Geza.


Kemarahan manusia akan memompa gejolak di tubuhku dan memancing seluruh parameter kekuatanku naik. Semakin kuat emosi kemarahan, maka semakin kuat juga efek yang kurasakan. Mereka semua sejalur dengan besar kekuatan dan ketajaman insting yang kudapat.

__ADS_1


Selain kemarahan musuh, aku juga bisa memanfaatkan gelombang emosi dari Amalia ketika dia menggunakan kekuatannya. Tapi, partnerku yang sekarang Farrel, aku pun jadi sama lemahnya dengan manusia biasa.


"Heh, terus apa rencanamu sekarang, Farrel?" ucapku dengan deham mengeluh.


"Jalan-jalan ... paling enggak kita harus tahu lingkungan sekitar. Mau kita berburu singa atau enggak, kalau kita gak tahu medannya kayak gimana, kita gak bakal selamat."


Farrel di sana mulai mengeluarkan kapaknya, dia memimpin dan mencoba membuka jalan sambil sesekali memotong dedaunan.


Emosinya stabil, masih tidak berbeda dengan biasanya. Dengan ada Farrel di dalam timku saja sudah membuat tantangan ke depan terbayang lebih ringan. Aku sudah lama tidak merasakan hal ini. Pasalnya, ketika aku bertindak bersama Amalia dan Pero, aku selalu menjadi inti kekuatan. Mereka mungkin membantu, tapi entah kenapa bantuan mereka lebih terasa di belakang dibanding maju langsung.


"Hoo ... benar juga, di hutan ini tempat berlindung dari binatang buas juga penting."


"Enggak, Ivan," bantah Farrel yang masih melanjutkan jalan. "Tempat buat tidur memang penting. Tapi, sumber kehidupan utama itu air. Jadi, sambil kita keliling, sumber air tujuan utama yang kita cari."


"..."


Farrel tidak punya keahlian khusus layaknya pengembara pada umumnya. Tapi, dia ada di atasku untuk pengetahuan seperti ini. Hobinya adalah mendaki gunung, aku tahu jelas dan dia masih memeliharanya sampai sekarang.


Perjalanan mendaki ke gunung tidak benar-benar aku benci, tempat sepi seperti itu seharusnya cocok untuk kondisiku yang sensitif dengan keramaian. Beberapa kali Farrel mengajakku, tapi jumlah perjalanan yang aku terima tidak lebih dari sepuluh ajakan.


Aku menolaknya bukan karena tidak membenci gunung, tapi aku membenci gelombang emosi negatif. Lalu, acara mendaki adalah salah satu sumber emosi negatif muncul.


Farrel punya emosi stabil, pengalamannya juga yang banyak membuat dia tidak menyiksaku. Tapi, lain halnya dengan orang lain, terutama orang yang ikut sebagai iseng atau perempuan yang ikut demi membentuk karakternya di media sosial. Orang-orang seperti itu hanya akan menjadi beban. Stamina mereka yang lemah dan pribadi yang suka mengeluh hanya akan memberi siksaan sepanjang proses pendakian. Oleh sebab itu aku lebih sering menolak jika jumlah acara pendakian itu lebih banyak diikuti oleh pemula.


Gunung tidak lepas dari hutan. Walaupun Farrel selalu menyiapkan semuanya sebelum melakukan pendakian, tapi kemampuannya bertahan hidup di hutan tentu tidak nol.


Di sana aku sudah dalam posisi siap, kapak yang kusarungkan kembali kuambil dan membantu diri sendiri untuk berjalan menebas tanaman liar. Untungnya senjata tersebut terasa lebih ringan daripada kapak tradisional, membuatnya tidak terlalu berat ketika dipakai sebagai pengganti pisau.


"Maksudnya gimana, Ivan?" tanya Farrel yang tidak menangkap.


"Kayak yang kamu tahu, kita sekarang ada di dunia dan dimensi yang berbeda. Apa kamu gak sadar kalau lukaku sembuh? Aku bisa pakai tanganku kayak normal lagi. Sudah jelas badanku sekarang beda sama badan di dunia asli."


Pertemuanku dan Farrel masih belum terpisah jauh, seharusnya dia ingat kalau tanganku sebelumnya masih menggantung dan terbungkus gips.


"Jadi, maksudmu ada kemungkinan kalau kita gak butuh air sekarang?"


"Iya, kira-kira kayak gitu. Kita masih gak tahu batasan soal tubuh kita sekarang."


Aku di sana sengaja membuat sebuah situasi pertanyaan. Berdasarkan pengalaman, biasanya akan muncul sebuah ingatan di mana isinya adalah jawaban dari pertanyaan tersebut.


"..."


Namun, kali ini tidak muncul apa pun. Beberapa saat aku menunggu sambil terus mengikuti jalan Farrel, tapi tidak ada tanda-tanda kalau jawaban dari pertanyaan itu muncul.

__ADS_1


"Anggap saja kalau badan kita itu sama. Kalau beda, bukan berarti kita harus diam gak keliling. Ekplore tetap penting."


"Ah, iya," jawabku dengan nada lemas sedikit mengeluh. "Lagian, kita sudah tahu tiga orang bisa berdarah waktu disayat. Gak mungkin darah keluar itu cuman pajangan."


"Hmn ... harusnya kamu sedikit perhalus bahasamu, Ivan. Dan maaf, aku juga gak mau ingat kejadian itu lagi."


"Heh, responsmu kelihatan dingin buat orang yang keberatan soal ini."


"Setelah kamu kecelakaan kemarin, aku gak terlalu kaget. Aku juga bukan baru pertama lihat darah sekarang. Kamu juga tahu 'kan, Ivan?"


"Oke, maaf. Aku gak bakal bahas lagi."


Farrel bukan keluarga yang punya kehidupan buruk. Justru, dirinya adalah seseorang yang tumbuh bersama dengan lingkungan serba baik. Bersama ayah, ibu, lalu bertetangga dengan pamannya, dia punya hubungan yang baik tumbuh bersama.


Namun, karena kedekatan tersebutlah yang membuat perpisahan terasa lebih sakit. Aku tidak tahu orang tuanya bekerja seperti apa. Tapi, yang jelas mendiang pamannya adalah seorang engineer alat berat.


Kematian pamannya itu sangat berkaitan erat dengan Farrel. Di umurnya yang masih belasan saat masih menduduki bangku SMP, dia diajak oleh pamannya ke tempat kerja di garasi alat berat. Waktu itu sedikit orang yang berjaga, mereka datang di waktu lebih awal.


Seperti biasanya, dia anak SMP yang masih normal sering bermain penuh semangat berlarian mengelilingi garasi. Kembali lagi, aku tidak tahu detailnya seperti apa. Tapi, gosipnya bilang kalau paman Farrel terganggu konsentrasinya oleh ulah Farrel kala itu. Dia sedang bekerja dan memperbaiki alat berat, memperbaiki truk bermuatan yang sedikit macet di bagian pengangkutnya.


Lalu, di hari itu Farrel pun melihat. Kecelakaan di mana kepala pamannya pecah terlindas oleh ban truk yang lepas dari remnya. Paman Farrel pun mati seketika di tempat, di depan Farrel yang masih anak kecil.


Tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyalahkan dirinya. Semua orang di sana adalah orang baik. Tapi, kala itu Farrel sudah cukup besar untuk paham kalau dirinya tidak sepenuhnya bersih.


Mungkin ini menjadi kisah tragis. Aku sudah jarang mendapat lonjakan emosi darinya karena emosinya sudah meledak dan habis terkikis waktu kematian pamannya. Sejak saat itu, dia menjadi lebih sering bermain di luar, menjauh dari rumah karena tempat hangat tersebut mengingatkannya pada orang yang telah pergi.


Beberapa menit sudah berlalu, kami sepertinya sudah berjalan cukup jauh dari tempat pertama. Di sana Farrel tidak hanya membuka jalan dengan kapaknya. Tapi, lelaki itu juga memetik beberapa buah yang sekiranya bisa dimakan dan memintaku untuk ikut menyimpan sebagai cadangan makanan.


"Kayaknya kita masih beruntungnya karena jatuh di hutan yang lembab. Di sini banyak buah dan air, kalaupun gak ada sungai, kita bisa ambil embun di sini buat bertahan."


"Soal air, kenapa kamu gak cek saja dari atas? Bukannya itu lebih cepat?" tanyaku pada Farrel.


"Hutan lembab gini memang bagus buat sumber makanan. Itu artinya bukan kita saja yang hidup di sini. Pohon bisa bahaya, kita gak tahu di pohon itu ada ular atau laba-laba, apalagi daunnya lebat kayak gini."


"Ah ... ada benarnya juga," ucapku sedikit mengangguk.


Dengan terkumpulnya faktor-faktor kehidupan dan sumber makanan, tempat ini juga menjadi rumah bagi banyak hewan lain sekaligus. Tentu saja aku tidak ingin berurusan dengan ular maupun laba-laba dan berakhir keracunan. Mengingat hal di awal, kami di sini tidak punya obat-obatan.


Setelah perjalanan tersebut, aku pun mulai mendengar suara aliran air. Di depan, tepat satu arah sesuai dengan jalan yang dituju Farrel, terdapat cahaya di mana udara bergerak lebih kencang.


"Oke, satu misi mungkin selesai. Air sungai lebih sehat dari pada menggenang," ucap Farrel menghentikan langkahnya.


Di sana aku mengikuti, dan mengintip di balik tubuhnya setelah dia berhenti. Di sana terdapat sebuah sungai kecil, lebarnya tidak lebih dari dua meter dan dengan kedalaman berkisar tiga puluh senti.

__ADS_1


 


 


__ADS_2