Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 3 - Kemarahan


__ADS_3

Rasa pedas dan panas memang kurasakan. Tapi, berbeda dengan yang muncul pada Amalia, emosi milik gadis itu bercampur dengan depresi. Lagipula ....


“...”


Tanganku ikut menggigil, rasa melambung seperti gempa, dan bau khas obat seperti povidone iodine. Aku lebih bisa merasakan emosi milik Amalia sekarang. Gadis itu membeku akibat tamparan dan bantahan keras dari si gadis korban bully.


Hn?


Amalia memungut kembali catatannya yang jatuh, mencoba menuliskan sesuatu untuk diberikan pada korban bully. Gadis itu masih belum berdiri, dan sebelum bisa bangkit, dia dihadapkan oleh catatan milik Amalia. Secara otomatis dia pun membaca tulisan di dalamnya.


“...”


*Whoush


Gelombang emosi.


Aku segera maju menghampiri dua orang di hadapanku. Jalan cepat dan lebar kulakukan, membuatku bisa sampai kurang dari tiga detik.


Si korban bully mulai berdiri, dia menatap Amalia yang awalnya sedikit menunduk untuk memperlihatkan catatan miliknya.


Dug, dug ....


Gadis korban bully itu mengangkat tangannya sejajar telinga.


“Stop.”


Namun, aku masuk memutus jarak antara mereka berdua. Berjalan menyalip dan berdiri tepat di tengah, membuat Amalia tersembunyi di belakangku.


Sesuatu yang kurasakan semakin pekat dan ada pada kondisi bahaya, hal ini akan berakibat pada lonjakan emosi dan membuat gadis itu tidak terkendali.


"..."


Gadis di depanku melirik, ke arahku. Urat wajah dan geraman rahangnya terlihat, dia membuat ekspresi kesal dengan tatapan mengancam.


“Tadi, kamu beneran mau mukul dia, ‘kan?”


Emosi kemarahan semakin pekat ketika Amalia menunjukkan catatannya. Kedatanganku barusan membuat dia sedikit terkejut dan menghentikan gerakan tangannya untuk memukul. Aku tidak tahu apa isinya, tapi jelas kalau hal tersebut malah menggali lubang lebih dalam pada gadis itu.


“Ck,” decak lidah si korban bully.


Dia menolak melihatku, mengarahkan kepalanya ke samping sambil sesekali mengintip sinis.


Kondisi gadis ini terlihat menyedihkan. Celak matanya besar, tatapannya terasa berat, garis wajahnya kaku, dan rambutnya berantakan. Siapa pun yang melihatnya akan terbesit pertanyaan tentang penyebab bagaimana dia bisa seperti ini.


Setelah beberapa detik kami terdiam, dia akhirnya mulai bergerak. Membenarkan kancing bajunya, mulai mengikat rambut, dan berjalan memutariku.


“Jangan pernah ganggu aku lagi,” kata gadis itu dengan sinis.

__ADS_1


Aku bisa merasakan. Itu bukan intimidasi, melainkan benar-benar suatu ancaman. Baik Si pem-bully dan korbannya, mereka berdua memiliki emosi yang mirip. Mereka sama-sama kasar dan mudah tersulut kemarahannya.


“...!?”


Amalia bergerak, dia berdiri dan mencoba untuk mengejar gadis tersebut. Sempat berbalik dan bergerak satu langkah ke belakang.


“Tunggu.” Namun, aku menahan Amalia dengan memegang tangannya.


Dia masih tidak menyerah setelah mengalami bentakan keras. Sebelum Amalia benar-benar mengejarnya, aku lebih dulu mengunci dan membuat Amalia tidak bisa bergerak.


Gadis korban bully pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Amalia yang sejak tadi kupegang tangannya hanya bisa melihat dan celengak-celenguk kebingungan.


Aku terus memeganginya, kekuatan berontak yang Amalia keluarkan tidak sebanding dengan cengkeraman itu. Ekspresi wajahnya sejak tadi berteriak padaku ... layaknya berkata ‘kenapa kamu biarkan dia pergi?’


Mulutku tetap terkunci, aku tidak ingin pembicaraanku didengar gadis korban bully itu. Keputusan yang kupilih untuk menjawab tindakan Amalia hanyalah memberi isyarat dengan menggeleng kepala, mencoba mengalihkan pandangan Amalia dari sana.


Beberapa detik berlalu setelah gadis korban bully itu menjauh, tarikan tangan Amalia pun mulai mengendur. Tapi, aku tidak melepaskan tangannya sampai gelombang emosi depresi itu benar-benar hilang.


“Biarin saja dia, sekarang percuma juga kalau kamu kejar,” ucapku sambil melepas cengkeramanku.


Mendengar kalimat tersebut, tangan Amalia bergelayutan, satu atau dua ayunan tepat setelah kulepas genggaman itu.


“...”


Amalia terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia mulai menulis sesuatu di catatannya.


“Kamu gak lihat barusan? Dia sendiri yang gak mau dibantu.”


Tapi tetap harus kita bantu. Kalau enggak ‘kan kasihan.


Emosi kekhawatiran muncul. Asam dan bau obat tersebar lagi. Dibandingkan kesakitan atau luka pada tindakan kasar si korban bully itu, Amalia lebih memikirkan bagaimana cara membantunya untuk membantu.


Aku menarik nafas panjang, berusaha tenang untuk menjelaskan situasi di sini.


“Dengar, yah. Pertolongan secara langsung bukan selalu solusi. Kalau dia mau begitu, dia juga bisa minta sendiri. Kayak teriak minta tolong atau ngadu ke guru. Murid biasa kayak kita gak dibutuhin.”


Amalia segera membuka lebar baru di catatannya.


Kalau begitu cepet kita lapor guru.


*Plak


Aku menampar wajahku sendiri. Berusaha menenangkan diriku yang sedikit kesal akibat jawabannya.


Apa dia tidak bisa menangkap maksud dari apa yang kuucapkan barusan? Sudah jelas kalau yang satu itu bukan keputusan tepat.


Huft ... hah ....

__ADS_1


“Kamu masih gak ngerti? Kalau dia mau lapor ke guru, sudah dari dulu dia laporin. Masalahnya memang bukan di sana.”


Jadi, kita harus bagaimana? Kamu tahu, Ivan?


Kenapa kau menggunakan kata ‘kita’? Apa aku di sini sudah dipastikan terlibat dalam tugasmu? Ini berbeda dengan yang kubayangkan.


“Aku masih gak tahu harus kayak bagaimana. Untuk sementara kamu harus tenang dan cari tahu latar belakang mereka dengan jelas.”


Jika si penyelamat tidak mengetahui sumber masalah dan tidak mengenal baik tokoh-tokoh yang terlibat, dia hanya akan terlihat seperti orang menyebalkan yang suka mengatur. Mengerti dan memahami adalah langkah pertama dalam menyelesaikan masalah, jika aku punya sudut pandang atas kasus ini, si pelaku dan si korban pun punya masing-masing sudut pandangnya.


Baiklah ... aku ngerti.


Amalia mulai tenang, emosi yang dia keluarkan memudar hingga membuat indraku bebas dari gelombang pekat.


Hn?


Namun, sesuatu yang mengejutkan kusadari. Karena sebelumnya banyak gelombang emosi bertebaran, hal ini tidak terasa sampai sekarang. Perasan ini begitu kuat hingga mencungkil rasa penasaranku.


“Ngomong-ngomong ... bau WC cewek memang kayak gini, yah?”


“...!?”


Berbeda dengan kamar mandi laki-laki, tempat ini lebih berbau khas. Jika aku bayangkan dalam warna, ternyata memang sangat cocok kalau kamar mandi perempuan berwarna merah muda.


“Baunya itu lebih amis dan—”


*Whoush ....


Gelombang emosi.


*Buk


Tiba-tiba saja buku catatan Amalia melesat ke kepalaku. Membuat kalimat yang keluar terhenti. Tapi, bukan berarti benda itu benar-benar mengenaiku. Karena aku bisa merasakan perubahan emosinya, refleksku dalam melindungi jadi cukup baik.


Heh.


Lengan kananku lebih dulu melesat dan melindungi kepala. Terlalu lambat untuk dia bisa memukulku seperti itu.


 


 


*****


 


 

__ADS_1


__ADS_2