
Sebagian besar negara di dunia yang kutahu masih memiliki kesenjangan gender. Ada yang bilang gender itu memang perlu kesenjangan, mereka tidak perlu setara, tapi saling melengkapi di setiap sisinya. Seperti pria yang didahulukan dalam pekerjaan, dan perempuan yang didahulukan keselamatan.
Aku tidak peduli yang mana yang benar. Aku hanya memilih mana yang lebih menguntungkan ke depannya.
Di negaraku sudah sewajarnya pria melamar wanita. Orang-orang di sini melakukan hal tersebut layaknya sebuah prosedur utama untuk menikah. Bahkan, aku pernah dengar kalau wanita zaman dahulu tidak boleh memilih pasangannya. Ini juga termasuk kesenjangan gender di mana membuat laki-laki lebih berkuasa.
“Li-Lia? Ta-tadi kamu kasih tahu?” ucap Fany sedikit gugup.
“...!?”
Amalia menggeleng kuat beberapa kali hingga rambutnya berkibas.
“Septian teman sekelasku dulu ... dan kamu tahu ‘kan dia orangnya kayak gimana.”
“Oh, iya, ya ...,” jawabnya menerima fakta tersebut, seakan tahu bagaimana sikap Septian dan tindakan yang dia ambil. “Hah ... kenapa orang yang suka sama aku tuh orang kayak dia.”
Kalimat yang cukup kejam, menolak secara kasar keberadaan Septian itu sendiri. Aku tidak tahu apa yang dia alami, tapi bisa membayangkan berdasarkan sikap Septian ketika berbicara di gedung tak terpakai tadi.
“Memangnya orang yang suka sama kamu itu harus kayak gimana?” tanyaku pada Fany.
“Eh? Ah, iya ...,” ucapnya bertele-tele tidak memberi tahu secara langsung. “Pokoknya yang gak kayak Septian.”
“...”
Ukgh ... penolakan keras lainnya. Aku jadi bingung harus bersimpati pada siapa sekarang. Pada keadaan ini Septian juga terlihat menyedihkan karena dibenci begitu besar oleh Fany orang yang disukainya.
“Terus tipe cowok kamu itu gimana? Cowok yang gak kayak Septian itu banyak, malah Septian sendiri sudah kayak orang gila satu-satunya di kelasku dulu. Apa selain dia semua laki-laki itu oke buat kamu?” tanyaku pada Fany.
“Iya ... gak gitu juga, Van,” katanya sambil menyembunyikan wajah. “Hn, Hmn ... mungkin ... cowok yang keren, terus baik?” jelasnya yang malah meninggikan suara di akhir layaknya bertanya.
“Jangan tanya aku.”
“Bukan, aku ... aku cuman lagi mikir.”
“Memangnya sesulit itu? Sejauh ini aku masih berpikir kalau Septian itu orang baik, walaupun agak gila.”
“Itu dia, Van. Aku gak suka dia karena gak tahu malu. Aku lebih suka yang pendiam, keren terus selalu datang bantu masalah aku. Bukan cowok bucin yang malah bikin aku kena masalah,” ucapnya Fany mengarahkan wajah padaku. “Kayak kemarin ... masa saja aku ke kantin dia sampai cari aku biar bisa makan bareng. Di sana 'kan banyak banget orang, bayangin saja malunya kayak gimana.”
Ah ... aku mengerti, kok. Tidak perlu dibayangkan, aku juga bisa merasakan emosimu yang bergerak ke arahku.
“Hm, Hmn ....” Fany kembali membalikkan wajahnya untuk menghindar dari tatapanku. Pembicaraan tersebut membuatnya salah tingkah, gelombang emosi rasa malu bisa kurasakan menyusul keluar darinya.
Dari sudut pandangku, apa yang Fany rasakan dan inginkan itu masuk akal. Aku mendukung Fany yang beranggapan hal tersebut menyebalkan.
__ADS_1
“...”
Aku merasakan tatapan misterius dari Amalia. Gelombang emosinya juga sedikit asam diwarnai sedikit kebingungan. Matanya melirik ke arahku dan Fany secara bergantian sambil membuat wajah penasaran.
Mungkin dia tidak bisa mengikuti arah pembicaraan ini, atau lebih tepatnya dia memang tidak bisa bicara.
“Kalau memang kamu benci dia, kenapa gak tolak saja mentah-mentah? Bikin dia benci sama kamu. Daripada setengah-setengah dan bikin dia salah paham,” saranku pada Fany. “Asal kamu tahu, Septian itu sedikit bodoh, atau malah bodoh banget. Dia gak akan ngerti kalau kamu gak tegas.”
Walaupun sebenarnya Septian sudah sadar akan ditolak, kemungkinan dia tidak menyerah itu cukup tinggi. Alasan pengalihan halus seperti ‘aku mau fokus sekolah’ atau ‘kamu terlalu baik untukku’ hanya akan membuatnya kembali berjuang sambil menunggu.
“Tolak ... mentah-mentah?” ucapnya dengan nada meninggi. “Gimana caranya?”
“Bentak saja dia ... bilang kalau kamu benci sama dia, dia nyebelin, dia bikin kamu jijik, atau hinaan lainnya.”
“He-eh? Gak apa-apa itu? Gak kasihan?”
Hmn ....
Aku tidak bilang kalau tidak ada perasaan iba pada Septian dengan melakukan ini. Tapi ....
“Perasaan kamu sekarang lebih penting,” ucapku pada Fany. “Jujur saja sama hatimu sekarang, kamu juga berhak memilih.”
Inilah yang aku maksud budaya lokal tentang kesenjangan gender, beberapa orang masih memiliki pikiran kalau wanita memang tidak punya hak untuk memilih. Mereka hanya menerima lamaran, dari sana dia hanya perlu menerima atau menolak. Seakan kalau mereka tidak diperuntukkan untuk membuat jalan baru, wanita yang melamar lelaki atau setidaknya minta dilamar lelaki akan dinilai sebagai wanita murahan.
Fany termenung mendengar kalimatku, kembali menundukkan kepala menolak bertatapan. Gelombang emosi gadis itu terasa seperti santan kelapa, aku tidak mengerti apa yang memalukan dari perkataan barusan.
“Kamu gak sanggup? Kalau gitu kamu bisa coba latihan sama aku, coba keluarin hinaan terbesar kamu.”
“Hi-hinaan?”
“Iya, kalau mau coba, coba saja sekarang? Bilang saja aku ini nyebelin, bilang kalau kamu itu benci aku. Mungkin itu bisa jadi latihan.”
Fany mengangkat wajahnya dengan perlahan, lalu dia memalingkannya sekali lagi. Sesaat dia berpikir sambil melihat latar jauh di sekitarnya, tapi akhirnya dia mengangguk dan setuju.
“...”
Gadis itu mulai berpindah sedikit tempat duduknya, yang awalnya berhadapan dengan Amalia menjadi berhadapan denganku. Setelah itu, Fany membenarkan posisi duduknya. Dengan tubuh tegap dan tangan lurus di atas paha memegang rok, dia berusaha untuk mengeluarkan hinaannya.
*Whoush ....
“I-Ivan ... ka-kamu— nyebelin ..., a-aku benci kamu.”
“...”
__ADS_1
Apa ini ...?
Intonasinya parah, tinggi nadanya sangat kacau, kegugupannya membuat seluruh badannya bergetar, mulut yang terbata-bata juga memberi kesan yang sangat jauh dari kata hinaan, dan ....
Menggelikan, merinding, serta rasa santan.
Fany yang memaksa berkata kasar membuatku merasakan sensasi unik. Entah karena keimutan suara atau gelombang emosinya, dibandingkan terhina, aku lebih merasa senang ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.
Tapi, tentu saja ini adalah tindakan yang gagal.
“Ke-kenapa kamu malah malu-malu?” tanyaku yang mulai gugup karena tertular emosinya.
“Iya, habis, kamu suruh aku yang aneh-aneh.”
“Apanya yang aneh? Aku cuman minta kamu buat tegas saja.”
“Ha-habis, aku gak pernah bilang kayak gitu ke cowok.”
“...”
Aku terdiam mendengar perkataannya, berpikir tentang kebenaran ucapannya. Di setiap detiknya, emosi yang keluar dari tubu Fany murni rasa malu, tidak ada kebohongan.
Apa benar ada orang yang tidak pernah menghina laki-laki? Ah, tidak ... tentu saja mengucapkan secara langsung itu berbeda
Kegugupan juga tidak akan membuatnya berpikir jernih, orang bertutur kata lembut seperti Fany akan sulit jika disuruh berteriak kasar pada orang lain.
“Iya, oke, maaf kalau gitu,” ucapku berusaha menenangkan emosi Fany. “Mungkin cara tadi terlalu jahat buat kamu. Jadi, daripada tolak mentah-mentah, kenapa gak kamu coba tolak terang-terangan.”
Gelombang emosi Fany mulai meredup, dia sedikit demi sedikit bisa kembali stabil agar bisa berkomunikasi dengan baik.
“Sekarang apa lagi itu terang-terangan?” tanya gadis itu.
“Tolak saja seperti biasa kamu nolak cowok.”
“Nolak cowok ...? Nolak cowok yang biasa itu kayak gimana?”
“Huh?” reaksiku yang terbelalak mendengarnya. “Kamu gak pernah ditembak cowok sebelumnya.”
“Enggak ....”
“...”
__ADS_1