
Aku berjalan mendekati kak Dina, posisi yang awalnya berada di belakang sofa berubah bertukar menjadi di depan. Kali ini aku ada tepat di depan gadis tersebut dan menghalangi pandangnya yang sedang menonton televisi.
“Woi, Ivan. Ngapain kamu halangin? Cuman gara-gara dibohongin dikit gak usah sampai cemberut gitu kali.”
“...”
*Whoush ....
Gelombang emosinya semakin jelas. Semakin menyengat dan tidak sedap kurasakan terus menerus lewat kulit dan mulutku. Semua ini bertolak belakang dengan perkataannya, kalimat yang keluar bernada biasa layaknya tidak terjadi apa-apa.
Aku tahu ini, kakakku sangat pandai berbohong, dia bisa mengelabuiku dan bahkan membuat situasi di mana dirinya tidak sedang menyembunyikan. Dengan kekuatanku saja, dia bahkan cukup lihai membohongi perasaannya sendiri. Itu sebabnya aku terkadang terkecoh olehnya, atau lebih tepatnya dia yang bisa mengecoh kekuatanku.
Tapi, kali ini berbeda.
“Kak,” panggilku yang masih berdiri menghalangi arah matanya, posisiku yang berdiri dan dirinya yang duduk juga membuat bayang-bayang yang menutupi tubuhnya dengan cahaya TV. “Ada apa belakangan ini?”
“Belakangan ini ...? Maksudnya gimana? Semuanya kayak biasa, kok,” ucapnya yang sambil mengangkat-angkat wajahnya berusaha melihat acara televisi yang terhalang oleh tubuhku.
Tidak ada kegugupan, tidak ada perbuahan intonasi, tidak ada perubahan nada, dan bahkan gerak tubuhnya sama seperti dirinya yang terpaku dan ingin segera menyelesaikan pembicaraan. Tapi, masih juga dengan reaksi seperti itu ....
*Whoush ....
Gelombang emosi menyengat ini tetap tidak pernah hilang.
Dia seperti bertolak belakang antara cangkang dan dalamnya. Melihatnya saja membuatku sakit, karena seseorang yang demikian punya kemungkinan untuk pecah lebih tinggi.
“Kakak yakin gak ada apa-apa?” tanyaku sedikit lebih dalam.
“Tch, hah ... kamu kenapa tumben tanya-tanya? Buat buktiin kekuatanmu lagi?” ucapnya mengalihkan dengan sedikit ejek merendahkan niat khawatirku. “Aku gak kenapa-napa, memang agak capek saja. Lagian, itu biasa buat anak kuliahan.”
“...”
Apa ini pikiran berlebihku?
Iya, secara keseluruhan aku tidak menganggap kak Dina adalah orang yang bisa berbohong menutupi keburukan terlalu lama. Mungkin dia memang bukan tidak ingin menceritakannya, mungkin karena dia menganggap kalau masalah yang dideritanya adalah masalah yang tidak akan selesai ketika dibicarakan.
Aku mengerti, kakakku sedikit berbeda dengan wanita kebanyakan. Dia yang hidup mandiri begitu lama membuat jiwanya untuk tidak bergantung lebih kuat. Beban-beban pekerjaan di kuliah juga adalah sesuatu yang tidak berguna dikeluhkan terlalu lama, itu hanya akan membuat kita semakin lelah jika dilakukan.
“Ya sudah kalau itu kata, kakak,” ucapku yang niat untuk pergi dan mengakhiri pembicaraan.
Awalnya aku memutuskan menyendiri lagi di kamar dan membiarkan waktu terbuang sampai hari esok. Tapi, entah kenapa aku tergelitik untuk melihat jam di ruangan tersebut.
Setelah melangkah hanya dua kali aku pun bertanya, “Baterai jamnya mati?”
Di ruangan tersebut terdapat satu jam yang cukup bagus. Desain modern bertema simetris dan warna abu menjadi hiasan yang bagus di tengah nuansa elektronik televisi besar. Perhatianku sedikit tertarik ke sana, karena jam tersebut berhenti di angka satu.
“Ah, kayaknya memang mati, sih,” jawab kak Dina. “Kamu mau beli baterai gantinya?”
“Kenapa gak kakak saja? Bukannya kakak datang duluan, kenapa malah diemin terusi itu jam?”
“Kakak juga gak butuh-butuh banget jam dinding, kalau kamu butuh dan mau ganti, ya ganti saja sana. Kakak masih ada jam HP.”
“...”
__ADS_1
Itu memang ada benarnya juga. Jam adalah benda tua yang bahkan fungsinya sendiri sudah banyak tergantikan. Gadget sendiri sudah mewajibkan dia memiliki jam sendiri, bahkan orang-orang yang membeli jam tangan cenderung karena sebuah modis, bukan sebuah fungsi.
Tapi, untukku dan untuk beberapa orang sepertiku, benda tersebut masih ada fungsinya. Aku sendiri tidak terlalu sering memegang ponsel, jadi melihat jam di dinding akan lebih simpel. Selain itu, suara yang dihasilkan dan rasa gatal melihat ruangan tanpa jam menjadi alasan mendasar aku tetap memeliharanya.
“Oke, aku beli ke luar sekarang,” ucapku yang memutuskan. “Memangnya sekarang jam berapa, sih? Kayaknya gak terlalu malam juga, ‘kan?”
Aku tidak bisa melihat jam dinding, televisi juga sedang menayangkan film yang di pojok bawahnya tidak terdapat waktu setempat. Jadi, bersama kata itu keluar, aku melihat ponsel kak Dina dan berniat melihat jam di layar displaynya. Namun ....
“Hh!?”
*Grip
“Hmn?”
Kak Dina menahan tanganku di sana.
Gerak tanganku cukup cepat untuk menggapai dan menangkap ponsel kak Dina yang semula di meja kecil dekat sofa. Tapi, tangan kak Dina lebih cepat ketika aku ingin menekan tombol power agar layarnya menayangkan tampilan utama bersama jam di sana.
“Bisa lepasin aku, Kak?” tanyaku dengan nada damai.
“Kamu mau apa, Ivan?” tapi dibalas dengan panik dari kak Dina.
“Aku cuman mau lihat jam saja.”
“Kalau gitu kamu gak usah ambil HP kakak, tinggal tanya dan tungguin saja kakak lihat sendiri.”
“Kak, kakak tahu, rasanya berlebihan kalau sampai marah gak jelas cuman gara-gara HP dilihat jamnya sebentar.”
“Cewek itu punya privasi, dan kamu kalau kamu disukai sama banyak cewek, kamu harus peka sama privasi hal-hal sensitif cewek.”
“Huh? Di rumah ‘kan gak ada orang?”
“Fakta kalau aku tahu, itu berarti aku ada di rumah.”
“Kalau gitu jangan lihat lah. Gampang saja, ‘kan? Kakak mandi cuman sekali, dua kali, ya kamu jangan lihat waktu kakak lagi mandi.”
“Bukan soal mandi juga, kebiasaan kakak yang gak pakai bawahan, kayak cuman pakai baju longgar sama ******. Itu juga ganggu.”
“Itu juga cuman di rumah. Lagian, sekarang aku juga lagi gak pakai baju gitu lagi, ‘kan.”
“Eh, hmn ...?”
Percakapanku terhenti ketika sadar dengan hal yang menjanggal dari kakakku sekarang. Berdasarkan perkataan wanita itu, kondisinya memang berbeda dengan biasa.
Tanganku memang masih tercengkeram oleh kak Dina. Ketika reaksi bingung keluar dari wajahku, wanita tersebut juga ikut diam menatapiku sambil berpikir tanpa mengambil kesempatan untuk merebut ponselnya. Selayaknya aura tentang tatapanku juga mencuci otaknya sementara.
Kak Dina yang kukenal selalu memakai pakaian minim, setidaknya untuk di rumah. Dia dengan santai menunjukkan celana dalamnya, atau bahkan membiarkan banyak kulit badan terlihat olehku. Lagi pula, tinggal di satu atap seharusnya sudah biasa, terlebih aku juga sudah ada di tahap membantu mencuci pakaian di keluarga—termasuk milik kak Dina.
Tapi, hari ini dia memakai pakaian yang longgar dan tertutup. Dari ujung kaki hingga pergelangan tangan, mereka semua tertutup oleh kain. Ini sangat aneh, karena pada dasarnya aku tidak pernah melihat dia menggunakan baju terusan seperti itu di dalam rumah.
Aku yakin itu bukan pakaian miliknya, itu lebih seperti pakaian milik ibu di rumah ini. Dari desainnya tidak feminin, tidak cocok untuk dibawa ke luar. Pakaian tersebut memang diperuntukkan untuk kenyamanan bergerak dibanding modis.
“Kenapa kakak pakai baju itu? Biasanya juga jarang pakai celana, ‘kan?” tanyaku yang tetap memegang ponsel kak Dina.
__ADS_1
“Ivan, kalau bukan kakak, kata-katamu masuk ke pelecehan.”
“Aku tahu, aku ngomong itu karena targetnya memang kakak,” kilahku yang menolak peringatan. “Lagian, memang nyata juga ‘kan kakak jarang pakai celana di rumah.”
“Terserah kakak mau pakai apa,” kembali balas kak Dina yang sama-sama menolak perkataan terlontar. “Sudahlah, baju kakak gak penting. Cepat Siniin HP kakak saja.”
*Whoush ....
“...”
Aku merasakannya, gelombang emosi yang tidak membawa kebaikan. Sesuatu yang sama merepotkannya dengan Imarine dan Fany.
“Cepet, ukh ... kembaliin napa, Van?”
Kak Dina meraih-raih ponsel yang masih aku sita, dia menaik-naikkan tangannya untuk merebut ponsel tersebut. Tapi, aku tidak kalah bodoh, dengan memanfaatkan perbedaan tinggi, aku mengangkat ponsel tersebut hingga tidak bisa dijangkaunya.
Wanita itu juga tidak bodoh. Mengetahui tidak mungkinnya dia untuk meraih ponsel karena tinggiku, dia pun mulai naik ke sofa yang awalnya diduduki. Tentu saja tinggi sofa dan dirinya yang berdiri mampu meraih ponsel yang kuangkat dengan mudah.
Aku tidak kehabisan ide, langkah mundur menjauhi sofa kulakukan hingga dia tetap tidak bisa meraih ponselnya yang kuangkat.
Itu mungkin hanya perkelahian biasa, sedikit jahil di antara hubungan saudara. Namun, hal tersebut ternyata telah membuka satu fakta lebar.
“Hn?”
Ketika kak Dina mengangkat tangannya mengangkat, lengan baju yang panjang pun turun mengikuti gravitasi. Pakaiannya yang longgar membuat hal tersebut terjadi. Di saat itulah aku menemukan sesuatu yang aneh, di permukaan kulit yang terbuka itu aku melihat satu luka memar di tangan kak Dina.
“Ah!?”
Wanita itu langsung sadar ketika merasakan arah pandanganku itu. Dengan segera dia menutup lengan pakaiannya yang terbuka tersebut.
“Apa itu? Luka?” tanyaku dengan sedikit tekanan.
“Hn, hmn, bu-bukan apa-apa.”
“Kalau gitu buka lagi buat aku lihat.”
“I-ini cuman luka ketabrak tiang.”
“...”
Kami saling menatap sementara, tekanan yang kuberikan sedikit tajam untuk membuat wanita itu bicara lebih terbuka.
“...”
Tapi, kak Dina lebih memilih memalingkan wajahnya. Sampai saat ini aku bisa mengerti kalau dia menyembunyikan sesuatu. Tingkahnya yang aneh sudah ada pada tahap asing di mana aku tidak melihat bayang kakakku lagi. Tapi, masih belum terbukti, aku butuh sesuatu yang lebih dalam.
“Kak, apa kakak—“
“Tch, hah,” decak kesal kak Dina yang dari raut wajahnya kurang menyenangkan.
Belum sempat aku memulai percakapan lagi, tapi lebih dulu dia memotong. Sepertinya rasa ingin memimpin dan berdiri di atas sebagai kakak menjadi tujuan. Intonasinya sekarang mulai berubah, dia seakan sedang mereset kembali kegugupan untuk bisa bicara lurus denganku.
“Ivan, kembaliin saja HP kakak sekarang. atau kamu mau kakak tendang burungmu?”
__ADS_1
Aku tidak menyangka dia bisa semarah ini karena direbut ponselnya sesaat, padahal secara teknis dia tidak sedang menggunakannya. Tapi, berpikir tentang itu, mungkin memang ini petunjuknya.
“Aku bakal kembaliin kalau kakak jawab pertanyaanku sebentar.”