Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 11 - Kemajuan Sendiri


__ADS_3

*Kring ... kring ....


Bel istirahat akhirnya berbunyi, semua murid yang kelaparan berlari keluar untuk menuju kantin. Aku yang masih duduk di kursi untuk bersantai menunggu sepi, melihat sedikit demi sedikit murid yang meninggalkan kelas.


Hn?


Fany berjalan keluar bersama dua orang temannya. Suasana yang dikeluarkan cukup bersahabat layaknya teman pada umumnya. Namun, untuk sesaat kurasakan gadis itu melirikkan matanya. Sempat mata kami bertemu di detik-detik sebelum dia keluar dari kelas mata. Aku tidak tahu maksud aslinya, tapi mungkin dia ingin mengucapkan salam tentang usahaku nanti membujuk Septian.


Aku sudah mengirimi Imarine dan Septian pesan, meminta mereka datang ke tempat gedung tak terpakai untuk bicara. Awalnya Septian keberatan dan meminta tempat yang lebih dekat. Tapi, aku bisa mengatasinya dengan menjelaskan sesuatu seperti keamanan privasi. Tempat sepi itu memang mendukung untuk pertemuan rahasia.


Sepuluh menit berlalu dan situasi mulai kondusif, aku mulai keluar kelas untuk menemui mereka. Melewati lapangan dan kelas-kelas, sebisa mungkin menghindari orang-orang yang memungkinkan mengeluarkan emosi negatif.


Sesampainya di sana aku melihat Imarine dan Septian duduk di kursi menunggu kedatanganku. Mereka yang sadar akan kemunculanku langsung serentak menatap. Arah pandang mereka tidak bergerak hingga aku benar-benar duduk berama di set meja tersebut.


“Jadi, sekarang kamu mau apa lagi, Van?” tanyanya padaku. “Aku gak perlu saran dari kamu soalnya, hehe ...,” lanjutnya dengan nada sedikit membanggakan.


“...”


Aku bisa merasakan gelombang emosinya, rasa gurih memenuhi mulut. Hatinya sekarang dilanda kebahagiaan, tidak perlu ditanya penyebabnya apa.


“Aku belum bilang apa-apa ... kenapa kamu bahas topik yang kemarin lagi?” ucapku.


“He!? Jadi, bukan?” tanya Imarine di samping.


“Lah, terus mau bahas apa?” timpal tanya Septian di depanku.


Semburan pertanyaan itu membuat efek kejut padaku. Emosi kaget yang menyengat layaknya listrik kurasakan barusan. Cukup mengganggu, mungkin lain kali aku akan gunakan kalimat lain sebagai pemutar logika.


“Enggak, kok. Memang benar aku ke sini buat bahas tentang Septian sama Fany.”


“Kalau gitu buat apa pertanyaan barusan? Bikin bingung doang?”


“Sabar ... sabar ... aku cuman mau test saja. Omongan kamu sekarang sedikit beda, apa ada yang terjadi sama hubungan kalian?”


“Ahaha, kamu tanya, ‘kan? Sekarang lagi nanya, ‘kan? Hehe, banggalah ... aku sudah dapat kemajuan sendiri,” ucapnya dengan ucapan sedikit mengejek dan merendahkanku.


Gelombang emosinya memang positif, tapi rasanya malah mengesalkan melihat orang ini memamerkannya padaku.


“Kemajuan!? Maksudnya kalian sudah pacaran, kamu beneran bisa diterima?” ranya Imarine di samping.


“Belum ... tapi kira-kira bisa kayak gitu,” ucapnya kembali dengan bangga. “Ha~ kalian minta buktinya?”


“Enggak, makasih.” tolakku memotong ucapannya.

__ADS_1


“Pasti kamu gak percaya ... aku nanti bakal nonton bareng sama Fany, hehe ....”


Aku bilang aku tidak ingin mendengarnya. Kau yang sekarang juga terasa menyebalkan, padahal ini belum sampai pada tahap berpacaran. Kakakku bilang tujuan berpacaran memang pamer, tapi bagaimana kasusnya pada orang yang pamer sebelum pacaran. Tindakan Septian sekarang tidak jauh berbeda dengan perempuan yang mengaku-ngaku istri dari boyband Korea.


“Ah ... pantas saja kamu hari ini kamu kelihatan senang banget,” kata Imarine yang mengangguk paham memegang dagu.


“Yah, awalnya aku juga ragu. Tapi, sedikit demi sedikit mungkin dia sadar dengan daya tarikku sebagai pria.”


“...”


Aku memandanginya sinis sambil merapatkan kedua telapak tangan.


Huft ... hah ....


Lalu menarik napas panjang untuk melemparkan seluruh kondisi bodoh yang terbentuk.


“Apa, Van? Kamu gak suka?” tanya Septian yang mulai berhenti menebar kekonyolan.


“Kalau harus milih, aku memang kurang suka,” jawabku padanya. “Bukannya kemarin aku bilang buat tahan nafsu birahimu? Kenapa sekarang tiba-tiba ada acara nonton bareng?”


“Aku sudah tahan ..., tapi tetap saja meluap keluar, Van. Memangnya apa yang salah dari itu semua!?”


“Kamu juga harus mulai pikirin sudut pandang cewek. Kalau kamu serang terus, dia gak punya kesempatan buat jernihin kepalanya. Cewek juga butuh persiapan diri.”


Bukan itu bodoh.


“Maksudnya persiapan tentang kemajuan hubungan kalian?”


“Ha? Gimana?”


“Intinya dia yang gak siap sama semua tindakan kamu malah jadi nilai minus.”


“Tapi ..., dia terima ajakan aku, kok.”


“Kamu juga harus tahu, ada beberapa cewek yang susah banget nolak ajakan cowok. Mereka terima bukan berarti mereka suka.”


“...”


Septian terdiam mendengar ucapan terakhirku. Sepertinya dia juga mulai sadar dengan maksud dan arah perkataanku ini.


“Iya, bener tuh. Harusnya kamu agak sabar sedikit,” kata Imarine di samping mendukungku.


“Ha— ha? Tunggu, bukannya barusan kamu dukung aku waktu dengar kemajuan barusan? Dan lagi, kenapa aku jadi diserang gini? Kalian cuman syirik saja, 'kan?”

__ADS_1


“Aku gak bilang aku setuju. Menurutku malah perkataan Kaivan lebih masuk akal saja.”


“...”


Septian kembali diam karena diserang oleh dua orang sekaligus. Namun, kali ini ekspresinya sedikit berbeda. Dibandingkan terlihat khawatir, dia malah mengerutkan wajah memandang Imarine layaknya mencurigai sesuatu.


“Ima ... sebenarnya kamu itu ...,” ucap Septian sambil menyipitkan mata.


“Ha!? Gimana!? Kamu mau ngomong apa!? Gak jelas, Ian,” potong Imarine dengan cepat dan suara lantang.


“Ah, enggak, enggak ..., enggak apa-apa, kok,” lanjut Septian yang mengurungkan niat bicaranya.


“...”


Aku masih tidak mengerti pembicaraan barusan, tapi rasa ancaman dari arah Imarine telah membuat kulitku kesakitan. Ternyata dia masih punya pribadi kasar yang membenci laki-laki, ini seperti kebencian itu juga terasa olehku.


“Oke ... balik lagi, Ian. Kamu bisa gak batalin acara itu? Beri sedikit waktu lebih lama buat—”


“Enggak ...!” potongnya dengan kuat menolak tawaranku.


Sedikit mengendurkan ototku wajah yang menegang karena ucapannya. Aku berusaha tenang dan tidak terbawa gelombang emosi yang dikeluarkan Septian.


“Kenapa?”


“Kamu minta aku batalin? Itu sama saja kamu minta aku buang pencapaian yang diraih dari kerja keras.”


Kerja keras?


“Kamu tahu ... aku lebih menganggap itu sebagai keberuntungan, bukan kerja keras. Membuat dan memanfaatkan ketidakstabilan hati cewek.”


Kondisi yang penuh dengan keraguan melanda Fany sekarang. Semua itu karena banyak tindakan ‘tak terduga terus terjadi dan tidak memberinya waktu untuk berpikir. Akibatnya sekarang dia menerima ajakan pria yang seharusnya dia ingin tolak.


“Woi ... tunggu ... aku gak pernah berniat buat manfaatin dia.”


“Kalau gitu kenapa kamu terus menyerang waktu hati dia lagi gak stabil?”


“Heh,” Napasnya endus mengejekku. “Aku beda kayak kamu, Van. Daripada nunggu tanpa kejelasan. Lebih baik terus menyerang walaupun ditolak. Aku gak keberatan ditolak. Walaupun cuman ada sepuluh persen kemungkinan aku diterima, aku tetap gak akan mundur.”


“...”


 


 

__ADS_1


__ADS_2