Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 10 - Mengubah Pikirannya


__ADS_3

Fany punya pribadi yang cenderung selalu mundur. Jika dalam kelompok, dia adalah orang yang tidak mau mengeluarkan pendapat dan selalu menyetujui apapun hasil akhir sebuah keputusan. Menghadapi Septian yang maju terus tanpa henti ternyata cukup buru. Jadi ....


“Iya, boleh saja, mungkin.”


Dia malah menerimanya.


“Eh!? Beneran? Kalau gitu kamu bisa datang hari Minggu buat nonton di mall? Ah, kamu gak perlu pikirin soal uangnya, aku yang bayar, kok.”


“Hmn ... iya,” jawabnya dengan wajah setengah sadar.


“Oke, sip. Kamu mau datang jam berapa? Jam sepuluh bisa?”


Fany masih diam dan tidak bertindak tegas. “Un ....” Hingga akhirnya dia menjawab dengan satu anggukan.


“WoooOOOoHH ...!” teriak Septian atas keberhasilannya melangkah lebih maju, laki-laki itu berlarian ke sana ke mari membuat gaduh untuk mengekspresikan perasaannya.


“...”


“...”


Cerita Fany berakhir di sana dia terdiam dengan wajah ke samping merasa malu atas tindakannya. Ini seperti dia yang menyerahkan giliran ceritanya padaku.


“Oke, biar aku lurusin sekarang,” ujarku pada Fany yang berhenti bicara. “Apa kamu suka sama Septian?”


“Enggak.”


“Kalau begitu kamu senang diajak dia main?”


“Enggak juga ....”


Baiklah ... yang satu ini akan jadi pertanyaan paling dasar.


“Kenapa kamu malah terima? Kamu mau manfaatin uangnya?”


“Enggak ..., enggak, kok,” jawabnya sambil menggeleng. “Tapi, entah kenapa waktu itu kepalaku kosong, semua omongan Septian langsung ngalir gitu saja.”


“...”


Aku tidak tahu bagaimana perasaan dia waktu itu, mungkin kegugupan membuat otak melambat dan tidak dapat mengolah data dengan benar. Akhirnya dia hanya mengikuti semua layaknya NPC game.


Aku merasa bodoh mendengar cerita itu. Septian tidak sepenuhnya salah, Fany ikut tanggung jawab atas tindakannya. Entah disengaja atau tidak, dia sendiri yang menaruh posisinya di sana.


Hah ....


Aku bernafas panjang menutup mata. Beberapa kali garukan ke dahi kulakukan untuk merangsang saraf di sana. Kejadian ini membuatku bingung tentang bagaimana solusi di sini.


“Terus ... sekarang kamu mau apa?” tanyaku pada Fany yang mulai merenung kembali mengeluarkan gelombang emosi galau.


“Aku juga gak tahu,” ucapnya dengan sedikit lirih memohon. “Makanya aku cerita, kira-kira aku harus gimana?”

__ADS_1


“...”


Kenapa dia malah bertanya padaku? Memangnya aku ini apa? Orang tuamu?


“Sebenarnya kamu ada masalah kalau ikut nonton sama Septian?”


“Iya ... habis ... kalau kayak gitu ..., berarti, itu sama saja kayak aku nerima jadi pacarnya, ‘kan?” ucapnya dengan nada sedikit memanjang, melakukan gerakan berulang di tangan sebagai penghapus kegugupan.


Aku tidak tahu hal tersebut. Entah dari mana dia menggunakan referensi jawaban itu. Tapi, aku yakin kalau bermain bersama seperti pergi nonton di bioskop masih bisa dilakukan oleh dua orang lawan jenis yang berstatus teman.


“Kalau kamu gak mau, tolak saja dari sekarang. Acaranya hari Minggu. ‘kan? Masih lima hari lagi, bilang saja kalau ada acara mendadak kayak kerja kelompok atau liburan keluarga.”


“Eh? Tunggu,” katanya dengan wajah sedikit terbelalak. “Bukannya berarti aku harus bohong?” lalu lanjutnya bertanya dengan wajah polos.


“Itu tergantung kamu. Kalau kamu bisa dapat alasan asli buat batalin ajakan dia, silahkan pakai.”


Waktu lima hari tidak terlalu mendadak. Di jeda ini masih memungkinkan untuk menemukan sebuah acara resmi dan ditaruh di hari Minggu. Hal paling mudah untuk dipilih tentu saja kerja kelompok.


“Tapi ..., tapi, kalau aku gak ada acara penggantinya gimana? Aku harus bilang apa?”


Eh ...? Apa ini? Perasaan berdosa apa yang menghantui tubuhku. Ini seperti aku berusaha mengotori gadis kecil polos.


Jika kau tidak menemukannya, kenapa tidak karang saja!?


Teriakku dalam hati.


“Kalau begitu kamu mau apa? Aku gak punya ide lagi. Kalau mau tahan saja dirimu dan biarin Septian jalan sama kamu.”


“Iya, umn ... Kaivan,” gumamnya dengan kembali memutar-mutar tangannya tanda dia gelisah.


“Ada apa?”


“Bisa gak kira-kira Septian sendiri yang batalin acara itu?” pintanya dengan nada memohon.


“Kayaknya gak bisa.”


Menurut kepribadian Septian, kurasa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Laki-laki itu pasti akan menyingkirkan acara-acara tak penting agar tidak jatuh di hari Minggu. Satu tahun bersamanya cukup untukku bisa mengetahui hal tersebut.


“Beneran gak bisa?” tanya Fany untuk kedua kalinya.


“Serius ... memangnya kamu pikir aku bisa apa?”


“Kamu mungkin bisa bikin Septian sibuk dan punya acara, kayak ajak dia main?”


“Enggak mungkin ... kalaupun aku coba, dia pasti lebih milih jalan sama kamu daripada main sama teman cowoknya.”


“Kalau gitu bikin kerja kelompok sama dia di hari Minggu.”


“Mana bisa ... dia ada di kelas G.”

__ADS_1


Yang tentunya kami berbeda kelas.


“Bikin acara keluarga?”


“Itu juga gak mungkin. Septian pasti lebih milih buat jalan sama kamu. Ditambah lagi aku bukan keluarganya, kamu pikir acara jalan-jalan keluarga bisa bikin dia nyerah?”


“Bukan acara jalan-jalan ... tapi, bikin keluarganya adain acara sakral kayak pemakaman.”


“Wo-woi!? Kamu mau aku bunuh keluarga dia? Cuman buat menghindar dari ini!?” Teriakku yang cukup keras mendengar ucapan seram dari mulut seorang gadis polos.


Gadis itu membuat ekspresi kaget, sentakan barusan membuat mulutnya berhenti bicara. Tapi, setelah itu dia mulai membuat ekspresi baru sambil sedikit menyudut ke bawah.


“Humn ...,” cemberutnya sambil menggembungkan pipi. “Terus aku harus gimana?”


Huft .... hah ....


Mencari alasan yang kuat untuk membuat Septian membatalkan rencana tersebut adalah hal yang sulit. Tapi, bukan berarti cara tersebut adalah satu-satunya jalan.


“Iya sudah, nanti istirahat aku bakal coba ngomong sama dia. Mungkin saja dia bisa berubah pikiran—”


“Eh!? Beneran, Van?” teriaknya memotong ucapanku.


“... yah, aku bakal coba, tapi jangan terlalu berharap.”


Karena dia salah satu orang paling merepotkan yang pernah kukenal. Tidak aku sangka orang seperti menambah masalah kita jatuh cinta.


“Gak apa-apa, kok. Aku makasih banget sama kamu,” ucapnya dengan tersenyum membalikkan emosi negatifnya sekarang. “Kalau misalnya kamu berhasil, kasih tahu aku juga, ya,” lanjutnya yang kemudian masuk ke kelas.


“...”


Memang benar membuat rencana yang bisa mengalahkan status prioritas kencan pada Septian adalah hal sulit. Oleh sebab itu aku tidak akan melakukannya. Sesuatu yang mungkin membuat dia berubah pikiran adalah mengubah pikirannya.


Yah, mengubah pikirannya.


Dengan kata lain, aku akan mengubah jalan pikiran Septian kalau rencana kencan itu adalah sesuatu yang buruk. Jika berhasil, dia akan membela keselamatan agar tidak dibenci Fany. Untuk simpelnya sih, seperti cuci otak.


Walaupun aku tidak tahu apa kemampuan bicaraku bisa berpengaruh padanya atau tidak.


Terkadang orang bodoh yang polos lebih sulit dikendalikan.


 


 


******


 


 

__ADS_1


__ADS_2