
“...”
“...”
Aku dan Imarine saling bertatapan. Dia memandangku dengan tatapan mengancam. Bahkan dengan gelombang emosinya sekarang, tidak aneh jika dia mulai memukul berontak.
Aura yang dia keluarkan juga mencekam, melihatku dengan tajam tanpa menggerakkan garis mulutnya. Aku tidak menyangka kalau orang seperti ini adalah korban bully yang tidak melakukan perlawanan.
*Klack
Suara langkah kakinya. Gadis itu mulai berjalan belok dan ingin mengabaikanku yang berdiri di tengah pertigaan. Namun, baru sampai tiga langkah dia lakukan, kakinya kembali terhenti.
“...”
Aku berjalan menyusulnya menggunakan langkah kaki yang lebar dan cepat. Sebelum dia mendekati pintu kamar mandi, tubuhku lebih dulu menghalangi jalannya. Jarak antara kami menjadi lebih dekat, membuat gelombang emosinya terasa lebih jelas. Begitu pekat, dan penuh dengan perasaan negatif. Wajahnya menunduk tidak menatapku, tapi entah kenapa ekspresi marah dan sedihnya terasa sampai ke hatiku.
Untuk seorang dengan otot terlatih, dia punya tubuh yang pendek. Tingginya ternyata hanya sekitar bahuku, sedikit lebih pendek dari Amalia. Dengan ukuran payudara yang relatif besar, normalnya orang tidak berpikir dia adalah seorang pemain voli.
“Bisa gak kamu gak halangin jalan?” tanya gadis itu. Nadanya sedikit kasar layaknya pembicaraan kami seperti biasa.
“Maaf, aku gak bisa.” Aku menolak permintaannya, akan tetapi suaraku terdengar normal dan tidak ada niat sekali pun membalasnya kasar.
“Ivan, tolong, aku mau lewat,” ucap ulang dengan melembutkan nada bicaranya. Bertolak belakang dengan yang pertama, dia merendahkan diri agar hatiku melunak dan membiarkannya lewat.
“Mohon maaf, tetap tidak bisa kulakukan.” Tapi, aku tetap menolaknya, walaupun kali ini jawabanku juga ikut lebih lembut mengikuti sikapnya.
“...”
“...”
Imarine mulai mengangkat wajahnya. Karena tindakan tersebut, mata kami hanya berjarak sekitar dua puluh sampai tiga puluh senti.
“Minggir gak?”
Menyentak. Berbeda dengan ucapan kasarnya pertama maupun yang kedua dengan permohonan lembut, Imarine sekarang mengeluarkan berusaha memojokkanku. Dengan tatapan tajam dan suara yang meninggi, dia memberikan kesan mengancam pada ucapannya.
“...”
Terdiam sesaat. Aku memejamkan mata sambil menggeleng padanya.
Penolakan lembut, biarpun dia memaksa, jawabanku tetap sama tentang tidak bisa membiarkannya datang pada mereka bertiga. Sungguh keanehan ada orang yang seperti ini. Kelemahan apa yang pelaku itu genggam hingga bisa mengendalikan gadis ini, dendam macam apa yang memotivasi mereka melakukan ini.
“Ck.”
Imarine mendecakkan lidahnya. Berbeda dengan memanggil kucing, kali ini dia melakukannya dengan penuh rasa kesal.
Dia mengambil jalan mundur satu langkah, lalu kembali maju untuk mengambil jalan di sampingku. Tentu saja ada jalan yang tidak tertutupi, tubuhku tidak mungkin cukup lebar untuk menutupi seluruh lorong.
“Woi ....”
Ketika dia satu langkah melewati badanku dari samping, aku memanggil sambil mencoba menahannya. Kali ini tidak dengan menghalangi lajurnya, melainkan tindakan langsung dengan memegangi tangannya.
*Whoush ....
Gelombang emosi ... kemarahan.
Buk.
“...”
Imarine melayangkan pukulannya. Ketika tangan kirinya kupegang, dia dengan ganas memberiku tinju dengan tangan kanan, mengarah tepat ke arah wajahku. Namun, seperti biasa aku bisa menangkisnya, membuat arah pukulan itu meleset berbelok ke arah lain.
Plak.
Karena gerakannya tersebut, gadis itu bisa melepaskan diri dari peganganku. Setelah pukulan pertama tadi, tangan kirinya berontak dan dihentakkan hingga menampar lenganku. Gertakan dan tekanan darinya membuat cengkeraman tersebut lepas.
__ADS_1
“Hah ... hah ....”
Nafasnya terengah-engah, emosi kemarahan telah bercampur memenuhi lorong toilet. Jika kemarahannya seperti ini, mungkin akan terjadi perkelahian.
“...”
Sangat menyedihkan jika lawanku adalah perempuan di sini. Jadi, sebisa mungkin aku menghindari kemungkinan itu.
Menanyakan kenapa dia marah hanya akan menambah besar apinya. Sama seperti sebelumnya, akan sangat menyebalkan jika orang yang tidak tahu apa-apa bersikeras bertanya. Orang sok tahu, sok akrab, tapi datang seolah menggurui.
Baiklah ... kalau begitu.
“Ima ... apa tiga orang itu temanmu?”
“...!?”
*Whoush ....
Hn ....
Bingo.
Aku merasakan gelombang emosinya bergetar. Dia sedikit terguncang dengan dugaan tersebut.
“Aku masih gak ngerti, kenapa kamu masih anggap mereka itu teman? Sudah jelas kalau mereka cuman manfaatin kamu buat senang-senang doank.”
“Enggak! Salah! Kamu gak tahu apa-apa!” ucapnya sambil teriak membantahku, wajahnya dipenuhi kekesalan. “Mereka gak gitu ... mereka gak mungkin ... kayak gitu.”
Hn?
Gelombang emosinya terasa sedikit asam. Kemarahan yang dia keluarkan tiba-tiba memudar dan digantikan oleh keraguan. Mengikuti suara yang ikut merendah, aku bisa merasakan kalau sesuatu yang berbeda ada di sini.
Baiklah, sepertinya aku salah. Seharunya aku menyerahkan tugas Imarine pada Amalia.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Di sana terlihat tiga murid perempuan yang sebelumnya menyerang Imarine. Mereka sepertinya terpancing dengan terakan barusan.
“Woi, Ima. Kamu apa— ah, kamu lagi.”
“...”
Gadis pemimpin bernama Azarin melemparkan tatapannya padaku. Sepertinya kejadian itu cukup untuk membuat mereka mengenal wajahku.
Hn?
“Ima? Kamu mau cari perlindungan ke orang ini, ha?”
“Sayang sekali aku di sini karena keinginanku sendiri,” tukasku memotong ucapannya.
“...”
Aku dan Azarin saling bertatapan lagi. Gadis itu memberi tatapan sinis, bukan ancaman maupun rasa benci. Tapi, lebih ke rasa risih karena terganggu oleh atmosfer yang tercipta.
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Begitupun diriku. Kedatangannya membuatku merasakan emosi stres yang berbeda dengan Imarine. Waktu pertama kami bertemu, aku tidak begitu sadar akibat tercampur dengan perasaan milik Imarine. Gelombang emosi yang dikeluarkan Azarin lebih ke arah pahit dicampur rasa pasir.
“Hah ... kita pulang saja,” ucap Azarin pada dua teman di sampingnya.
Tentu saja dia tidak akan melakukan tindakan bullying di depanku. Walaupun aku tidak membela, tetapi keberadaan laki-laki saja sudah cukup untuk membuat penjahat mundur. Ini seperti skill pasif yang dimiliki semua pria, aura untuk melindungi orang-orang sekitar.
Ketika mereka pergi, beberapa kali salah satu dari tiga gadis itu mengintip ke arah Imarine. Entah tatapan kasihan, atau tatapan ancaman, aku tidak melihat dengan jelas. Gelombang emosi yang kurasakan sekarang terlalu pekat untuk mendeteksi hal sekecil itu. Tapi, aku bisa mengerti kalau memang ada sesuatu yang berbeda dari mereka.
Imarine masih menundukkan kepala. Sejak kemunculan tiga gadis itu, dia terus menyembunyikan wajahnya dariku maupun dari mereka.
__ADS_1
“...”
“...”
Hampir satu menit berlalu, ketiga gadis itu sudah pergi jauh dari tempat ini.
*Klack.
Imarine maju satu langkah mendekat ke arahku. Dengan kepala yang masih melihat ke bawah, dia mulai mengangkat tangannya ke atas, melakukan ancang-ancang untuk memukulku lagi.
Berbeda dengan biasanya, kali ini dia tidak mengeluarkan emosi kemarahan. Tarikan tinju itu juga terlihat begitu lemah untuk disebut sebagai pukulan, lebih seperti mengangkat kepalan tangan biasa.
“...”
Buk.
Dia memukul tepat ke dadaku, tapi tidak terasa sama sekali. Hanya membuatku terdorong beberapa senti dan tidak sampai menimbulkan rasa sakit.
“...”
Tapi ..., pukulan itu malah membuatku bergetar kengerian, gelombang emosinya meledak-ledak lewat tindakan itu. Aku bisa merasakannya ... emosi depresi keluar bertambah besar.
*Whoush ....
“Kenapa ...,” ucap Imarine dengan suara lesu.
“...”
Klak.
Aku mencengkeram tangan kanannya yang masih menempel di dada karena pukulan tadi. Mencoba tenang dengan semua tekanan ini, aku ingin mengambil jarak dengan menyingkirkan tangan tersebut.
“...!?”
Hng!?
Tapi, sesaat setelah kusentuh tangan itu, Imarine mengangkat wajahnya. Aku begitu terkejut, di balik tundukkan kepala dan emosi depresinya yang besar barusan, ada gadis yang sedang menangis.
“Kenapa ... kenapa kamu gak biarin aku lewat?” ucapnya tersendat-sendat menahan tangis.
“...”
Air matanya mengalir cukup panjang, tidak terlalu banyak tapi cukup untuk membasahi seluruh pipi hingga jatuh dari dagunya. Tatapannya sayu, hidung dan pipinya memerah, mulut dan giginya bergetar seperti menahan sesuatu.
“Mereka ...,” kata Imarine dengan napas berat. “Arin butuh aku, dia gak boleh sendiri. Aku ... aku harus ada di sana, sampai aku bisa tebus semuanya.”
“...”
"Kamu itu gak ngerti ... apa yang Arin lihat, apa yang dia alami, apa yang dia rasain, apa yang dia tahan, dan apa yang dia lawan. Dia dipenuhi ketakutan dan kesakitan, dan sekarang dia masih butuh aku. Aku harus ada di sana, menemaninya, membiarkan dia mengeluarkan semuanya."
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, kekuatanku hanya bisa membaca emosi, bukan isi pikiran. Penyebab dia sedih, penyebab dia depresi, maupun arti dari tangisannya. Aku tetap tidak akan tahu jika dia tidak mengatakannya. Hal yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melepas cengkeraman tanganku, membuat dia bebas dan bisa bergerak kembali.
“Kaivan,” panggil Imarine padaku. “Jadi, bisa kamu gak ganggu aku lagi?”
“...”
Apa ini? Kenapa dengannya kali ini? Nada bicaranya, wajahnya, ekspresinya, dan gelombang emosinya, semua yang keluar darinya terasa begitu lembut memintaku demikian. Setelah semua kata kasar dan paksaan yang dia keluarkan, tindakannya kali ini sangat berbeda dengan biasanya.
Aku menelan ludah. Berusaha untuk berpikir jernih dan tetap menjaga pikiranku dari lonjakan emosinya.
“Ima ... aku—”
__ADS_1