Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 16 - Suapin


__ADS_3

“Ima ... aku tetap gak bisa," jawabku sambil menggeleng. "Meninggalkan dan membiarkan mereka melakukan hal kejam lagi? Membuatmu harus merasakan siksaan dari mereka? Maaf, aku tetap akan terjun dan menghentikan semua itu.”


“... Kamu gak ngerti, aku ... aku memang harus kayak gitu.”


“Yah, aku memang gak ngerti. Sampai sekarang aku cuman jadi orang asing yang sok bijak,” ucapku pada Imarine yang masih terisak-isak. “Tapi, aku bakal tetap gak ngerti kalau kamu gak kasih tahu.”


“...”


Gadis di depanku kembali terdiam. Sepertinya sempat terpikir untuk dia ingin bercerita, tapi sesuatu yang mengikatnya kembali menahan mulutnya terbuka. Pada akhirnya dia hanya menunduk dan menyembunyikan wajahnya dariku.


“Ima, aku tanya, sebenarnya ada apa di antara kalian?”


“...”


Untuk ke sekian kalinya, dia tetap tidak bercerita. Alih-alih merespons pertanyaanku, gadis itu malah berjalan menjauh dan mulai keluar dari lorong toilet ini.


Benar-benar orang yang merepotkan. Bagaimana ada orang yang bisa membantu kalau dia tidak memberi tahu masalahnya.


Langkah kaki Imarine cukup lambat, dibandingkan berjalan, dia lebih terlihat seperti menggusurkan kakinya. Dengan wajah yang belum kering, gadis itu pergi meninggalkanku.


“...”


Aku tidak mengejarnya, sudah cukup sikap keras kepalaku mengganggunya hari ini. Walaupun aku tidak tahu jawaban yang benar, tapi aku memilih untuk berhenti lagi dan membiarkan dia sendiri. Terlalu keras mengejarnya juga tidak akan memberikan hasil baik.


Gelombang emosi Imarine pun lama-kelamaan hilang. Udara sekitar yang sejak tadi berbau sampah organik kini telah bersih kembali.


Ck.


Namun, kali ini aku merasakan gelombang emosi lain. Perasaan sakit di kepala, tidak lain tidak bukan orang itu adalah Amalia. Berbeda di hari-hari sebelumnya, kali ini sensasi terbakar di mata sudah mereda, kurasa gejala menstruasinya telah membaik, walaupun masih tetap ada.


“Amalia ... kamu ada di sana, ‘kan?”


Memang benar aku merasakan gelombang emosinya. Namun, dia tidak memunculkan dirinya di hadapanku. Bersembunyi di balik belokan lorong di sekitar area kantin.


“...”


Amalia muncul, perlahan memunculkan penampakannya. Sambil memegang Handphone menggunakan kedua tangan, dia melihatku dari kejauhan.


Duut, duut ....


Amalia : Hasilnya bagaimana? Tadinya aku mau ke sana, cuman kayaknya aku bakal ganggu kamu dan bikin kamu sakit.


“Aku gak tahu jadinya bagus atau enggak, tapi minimal hari ini Imarine gak di-bully,” jawabku dengan sedikit berteriak menjangkau jarak Amalia. “Kamu sendiri dengar omongan Imarine, 'kan? Harusnya kamu juga ada di sini dari tadi?”


Agak aneh ketika aku bicara dengan gadis itu secara langsung, tapi menunggu jawaban dengan melihat Handphone.


Amalia : Aku dengar, tapi gak terlalu jelas.


Oh ....


Aku tidak merasakan gelombang emosi Amalia sebelumnya. Itu artinya jarak dia dan aku lebih dari dua puluh meter, itu cukup untuk membuat suara menjadi tidak jelas terdengar, apalagi posisiku yang ada di lorong.


“Amalia, aku bakal ceritain sisanya lewat Handphone. Buat nanti, kamu coba jaga Imarine saja. Dia suka menyendiri, jadi usahain buat pakai jubah sihir aneh itu biar gak ketahuan.”


Setelah memberi tahu itu, aku dan Amalia pun pulang ke rumah masing-masing. Cukup melelahkan terutama untukku setelah mengalami semua ini.


***


Hah ....


Belakangan ini, hari demi hari kulalui dengan merasakan gelombang emosi negatif yang pekat. Ketika aku sampai di rumah, kepalaku terasa lemas dan melayang-layang. Jika aku gambarkan, ini mirip seperti perasaan pusing setelah badan dan kapala diputar-putar beberapa kali. Keseimbangan dan konsentrasi dari gerak tubuhku berkurang, layaknya otakku kehabisan tenaganya.


“Kamu gak apa-apa, Van? Makanannya gak enak?” tanya Kakakku yang sedang menyantap makanan bersama di meja.


Sekarang aku sedang di meja makan, menyantap makan malam bersama kakakku. Namun, posisiku hari ini terbalik. Aku yang biasanya menghabiskan makanan lebih cepat dari kak Dina malah terdiam melongo dengan setengah porsi makanan di piring.


“Aku lagi gak nafsu makan. Sedikit mual sama pusing,” jawabku sambil sedikit-sedikit menggerakkan kembali tangan.


“Kakak mau beresin mejanya, kalau kamu makannya lama, kapan kamu bantuinnya.”

__ADS_1


“Kalau gitu, kakak bantu aku makan dulu, nanti aku bantu beresin dapurnya.”


“Bantuin makan? Kakak sudah kenyang? Itu jatah kamu, ya kamu habisin sendiri.”


Bukan itu.


“Suapin maksudnya.”


Dengan begitu aku tidak perlu repot-repot menggerakkan tanganku. Bahkan ketika kelelahan seperti ini, hal tersebut terasa melelahkan.


“... Kamu serius?”


Sebenarnya aku setengah bercanda.


“Serius. Aku beneran gak enak badan.”


Tapi, aku menjawabnya seperti itu untuk meminta kemanjaan darinya. Lagi pula, normalnya dia akan menolak permintaan itu. Jadi, hasilnya akan sama.


*Grek.


Hn?


Kak Dina menarik kursi di sampingku. Menunda semua pekerjaan bersih-bersihnya dan memilih untuk kembali duduk di meja makan. Dia mengambil piring di depanku, menata makanannya untuk dia bisa sendok dan diberikan padaku.


“Mana sini, cepat buka mulutnya.”


He?


“Apa ini?”


“Katanya minta disuapin?" ucapnya dengan nada heran. "Kalau mau cepatan, tangan kakak pegel.”


“Kenapa kakak malah mau? Harusnya kakak tolak pake jawaban, ‘halah gak usah manja’ atau ‘bilang saja gak mau bantu beres-beres’”


Dari banyak kemungkinan yang ada. Dia yang menyuapiku makan hanya terjadi saat umurku sekitar enam tahun. Perkembangan tubuhku yang berubah menjadi tidak imut adalah salah satu penyebabnya.


“Yah, anggap saja kakak lagi baik.”


“...”


Aku sedikit ragu di awal, tapi akhirnya menurut dan membiarkan diriku disuapi olehnya. Sedikit aneh karena tubuhku yang besar menerima perlakuan seperti ini. Cukup aneh melihat perempuan yang bahkan tidak merasa iba ketika aku demam dulu, jadi baik mengikuti permintaan manja barusan. Padahal waktu sakit aku tidak mendapat perawatan sama sekali darinya.


Kali ini aku menghabiskan makananku dengan cepat. Gerakan tangan Kak Dina yang menyendok makanan dengan cepat membuat sedikit tekanan agar aku bisa mengunyah lebih cepat. Hasilnya, tidak sampai lima menit aku bisa menghabiskan semuanya.


Selanjutnya, sesuai janji, aku membantu membereskan dapur bekas masak hari ini. Dari sini aku hanya diberi tugas membersihkan piring.


“Kak, aku boleh tanya?”


“Kenapa? Tanya saja.”


“Apa kakak pernah lihat orang di-bully?”


Pembicaraan ini aku lakukan sambil terus bekerja. Kak Dina yang menjawab terkadang berjalan ke sana kemari untuk menata ruangan.


“Pernah, memangnya kenapa? Kamu lagi di-bully?”


“Bukan aku, tapi orang lain, dan dia cewek. Kira-kira apa yang bikin orang nge-bully?”


“Kamu bisa cari sendiri pakai HP-mu, ‘kan?”


“Bakal aku cari, tapi sekarang aku minta pengalaman kakak yang hidup satu tahun lebih tua.”


Ekspresi kakakku sedikit berubah mendengar kalimat barusan.


“Kamu bilang tua itu muji atau ngejek?”


“Aku bilang atas fakta dunia.”


“Hah ...,” napas keluh kakakku. “Kalau gitu, kakak tanya sebelumnya. Itu ceweknya cantik?”

__ADS_1


“Kalau pilih antara iya dan tidak. Aku bisa jamin dia masuk ke iya.”


“Hehe ...,” tawa ejek dari kak Dina. “Ternyata kamu bisa bedain juga mana cantik dan bukan.”


Tentu saja, itu pengetahuan umum. Aku yang sudah pubertas pasti dapat membedakannya. Tapi, itu berbeda jika membandingkan dengan ketertarikan untuk menjadikannya kekasih. Aku tidak berniat berpacaran dengan Imarine.


“Jadi?” tanyaku desak kak Dina untuk menjawab.


“Ada kemungkinan dia di-bully karena cantik. Beberapa cewek yang iri bakal ngira dia sombong atau pansos. Apalagi kalau ketahuan orang itu punya banyak penggemar cowok.”


Aku tahu kalau dia termasuk gadis yang cantik. Tapi, kecantikannya termasuk normal dan tidak akan menimbulkan kehebohan. Hal paling umum hanya dia yang akan dibicarakan orang di kelas, tidak akan sampai satu sekolah.


“Entahlah, Kak. Kayaknya bukan itu. Kalau pun benar dia di-bully karena rasa iri, cara orang-orang itu terlalu kasar.”


Aku tidak tahu standarnya, tapi menurutku siksaan fisik atas alasan itu rasanya sangat berlebihan. Belum lagi niatnya untuk merekam aib berbau telanjang. Aku bisa bilang itu termasuk kegilaan. Jika hanya iri terhadap tampang fisik, mungkin yang paling sering adalah bully sosial dengan mengucilkannya.


“Terlalu kasar atau bukan, waktu itu cuman pelaku yang atur,” jawab kakakku di sana, dia yang sudah selesai dalam bersih-bersih pun akhirnya mengambil tempat duduk untuk fokus bicara denganku. “Tapi, kalau kata kamu begitu, kakak bakal setuju saja. Mungkin memang ada alasan lain, karena kasus kayak gitu juga macam-macam sebabnya.”


“Masih ada yang lain?”


“Masih, kayak di-bully karena pintar, karena disukai guru, karena disukai sama cowok yang disukai pelaku, disabilitas, atau mungkin ...,” ucap kak Dina lanjut melihat ke wajahku. “Karena jelek.”


“...”


Reaksi terakhir sangat menyebalkan.


“Bilang jeleknya gak usah lihat ke sini,” kataku sedikit kesal padanya.


“Aku ‘kan lagi ngomong sama kamu, masa lihatnya ke tembok.”


Menurutku lihat ke tembok juga masih wajar untuk percakapan dalam rumah antara dua orang yang berjarak sedikit berjauhan. Oke, baiklah. Aku tidak peduli dengan itu. Lagi pula aku juga tidak perlu dipuji tampan oleh kakakku.


“Kalau jelek sama disabilitas itu gak mungkin, lagian bully kayak gitu mungkin cuman ada di SD atau SMP.”


Pemikiran yang lebih dewasa pada anak SMA memungkinnya lebih mentolerir hal-hal seperti itu. Jadi, aku rasa hal tersebut tidak akan terjadi.


“Itu kata kamu yang laki-laki, Van. Cewek banyak yang suka ngomong di belakang. Tapi, kalau kata kamu dia cantik berarti memang gak mungkin.”


“...”


Kenapa dia menyanggah tapi di saat bersamaan juga menyetujui perkataanku. Terutama ketika dia memutus kemungkinan hanya karena aku berpendapat Imarine cantik. Rasanya sedikit menyebalkan.


“Kalau gitu, ada petunjuk lain, Van? Apa dia pernah menang lomba? Atau pernah jadi perwakilan sekolah?”


“Entahlah.”


“Oh, jadi cewek ini bukan dari kelas kamu? Kalau gitu apa boleh buat. Hmn ....”


“...”


Iya, memang benar. Aku tidak satu kelas dengannya. Informasi itu akan tipis terserap olehku yang tidak tertarik. Apalagi posisinya yang berada jauh dari kelasku.


“Tadinya ada kemungkinan dia di-bully karena pintar atau disukai guru. Tapi, karena kamu gak tahu, jadi lewat dulu. Mungkin saja alasannya juga hal lain yang simpel. Misalnya cowok, kamu tahu dia punya pacar atau enggak? Atau mungkin si pelaku bully-nya sendiri gimana?”


“Entahlah, aku juga gak tahu.”


Selama ini aku juga masih belum mengusik tentang itu.


“Hah ... ditanya ini gak tahu, tanya itu juga gak tahu. Gimana sih, Van.”


“Iya, iya ... aku memang gak tahu itu. Tapi, bukan berarti aku gak tahu apa-apa. Soalnya aku punya satu petunjuk yang aneh tentang kasus ini,” ucapku dengan sedikit menekan dan berdalih membela diri yang diremehkan. “Apa kakak tahu alasan kenapa orang diam waktu di-bully?”


Karena ini adalah hal yang mendasari tindakan Imarine.


 


 


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2