Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 13 - Anak Angkat


__ADS_3

Aku tidak tahu siapa orang tuaku.


“...”


Atau lebih tepatnya orang tua kandungku.


Keluarga di rumah itu memang keluarga sungguhan. Aku dididik, dibesarkan, dibentuk, dilatih, dan mendapat perhatian kasih sayang. Tapi, jika dilihat tentang garis keturunan biologis, aku memang bukan anak mereka. Tapi, untuk saat ini, aku tidak begitu peduli lagi dengan fakta itu.


Hal yang paling mencolok adalah tentang turunan DNA sel antigen darah. Aku punya golongan darah AB, itu artinya orang tuaku punya kemungkinan A, B, atau AB, atau campuran lain dari salah satu di antara mereka.


Mungkin ini terlihat rumit, tapi sebenarnya sangat sederhana dan dapat kumengerti saat aku ada di bangku SD tahun ke enam.


Ayahku memiliki golongan darah A, dan ibuku adalah O. Tidak mungkin aku anak dari ibuku, baik itu secara biologis melalui ayahku maupun bukan. Tidak ada kemungkinan aku berasal dari ayah lain, di ibu yang sama, tapi ada kemungkinan aku ada di ibu lain di ayah yang sama. Apa pun itu, aku tidak melihat kebenaran dari kemungkinan tersebut.


Satu hal lain yang paling mencolok adalah, akta kelahiranku palsu.


Tidak ada yang tahu kapan tepatnya aku lahir, karena aku tahu tidak ada satu anggota keluarga di rumah itu menyaksikanku lahir di dunia. Mereka membuat satunya sebagai pengganti tanggal lahir sebenarnya sebagai administrasi hidup di dunia.


Itu mungkin tindakan baik, tidak ada masalah dengan itu, pada akhirnya angka hanyalah angka. Namun, itu berbeda untuk kasusku sebagai orang berkekuatan. Karena ....


Ketika orang lain senang menantikan tanggal kelahirannya, aku adalah satu anak yang sangat membenci tanggal tersebut.


Bukan karena mereka melupakannya, bukan karena mereka tidak merayakan, mereka adalah orang tua baik yang memberikan perhatian cukup. Tapi, bukan berarti perhatian itu bisa diterjemahkan baik olehku.


Aku punya deteksi emosi, gelombang emosi kebohongan bisa kurasakan. Lalu, setiap tanggal lahir itu dirayakan, aku merasakan seluruh gelombang emosi kebohongan, baik oleh ayah, ibu, maupun kak Dina. Ini seperti semua orang tahu hari tersebut adalah hari bersandiwara, hari itu sendiri adalah kebohongan.


Aku tahu, itu mungkin hanya pandangan berlebih. Tapi, terjadi berulang secara konstan. Rasa bersalah karena mereka berbohong dan menyembunyikan masih ada. Sebagaimana pun aku percaya kalau aku salah, data statistik tentang konstannya tingkah laku mereka tidak bisa berbohong.


Mereka tersenyum, mereka berbahagia, tapi semua yang mereka keluarkan begitu asam dirasakan. Mereka memberiku hadiah, mereka memberi tepuk tangan raya menyebut hari kelahiranku. Tapi, apa yang kurasakan hanya kebohongan.


Asam, asam, asam, dan bahkan terkadang pahit. Jadi, aku mungkin salah satu dari orang yang membenci tanggal di akta kelahiranku. Aku benci kebohongan itu.


Waktu itu aku masih kecil, waktu itu aku belum mengerti pandangan orang lain tentang kekuatanku. Di umur tersebut, masih ada masa di mana aku menganggap kekuatanku adalah hal normal yang seharusnya dimiliki juga oleh orang lain. Jadi, pernah satu pertanyaan polos keluar dariku.


Ayah, ibu ... kenapa ayah dan ibu bohong soal hari ulang tahunku?


Mungkin kalau di film horor atau film psikologikal, mereka akan memarahiku karena menggali satu kebohongan. Tapi, respons sebenarnya kala itu sebaliknya, mereka menyambutku dan berusaha meyakinkan dengan kalimat lembut. Mereka bersikap seolah tidak mengerti apa yang aku maksud, mereka berdalih dan menjelaskan ulang kalau hari itu adalah hari aku lahir.


Tapi, tetap saja, gelombang emosi mereka tidak pernah berubah.

__ADS_1


Bertahun-tahun berlalu, aku hidup seperti ini di garis kebohongan. Tapi, aku mulai dewasa dan berpikir kalau itu bukan masalah.


Memangnya, apa yang salah kalau mereka bukan orang tua biologisku? Aku masih hidup di bawah kasih sayang mereka, ibu dan ayah tiri itu sudah tidak dirasa lagi, aku merasakan kasih sayang bagian dari keluarga yang sebenarnya. Tidak ada alasan menaruh dendam atas kebohongan kecil karena mereka tidak ingin memberi tahu kebenaran. Fakta aku bukan anak biologis tidak berubah, tapi fakta kalau mereka membesarkanku juga tidak berubah.


Hanya saja ....


“Aku tidak menyangka rasanya sakit waktu kak Dina bilang kayak gitu,” gumamku di kesendirian.


Iya. Ucapan kak Dina di mana aku bukan adiknya membuatku sakit sekarang. Seolah dia membuka luka lama, seolah dia membuatku memikirkan kembali sesuatu yang seharusnya sudah aku kubur rapi. Aku tidak bisa bilang itu jahat, secara tidak langsung hal tersebut juga memang benar apa adanya.


Pernyataan itu memukul keras, ingin kutimpali tapi aku tidak tega membuka lembar tersebut lebih besar. Ini membuat pikiran seolah aku lepas dari keluarga ini. Pikiran yang aku takutkan kembali muncul.


Huft ... hah ... aku cuman punya perasaan yang sama dengan ayah. Tapi, apa itu artinya aku harus jadi adik sungguhanmu?


Perasaanku untuk melindungi kak Dina masih sama, tidak peduli posisiku sebagai keluarga seperti apa. Tapi, aku benar-benar menyayanginya. Dia adalah orang yang menemani hidup selama bertahun-tahun lamanya.


Aku melamun dan tenggelam dalam pikiran itu ketika sedang diantar oleh Hanz. Walaupun cara dia membawaku dengan perubahan burung terbang bersama itu menyeramkan, tapi hal tersebut diabaikan karena kondisi hati yang kacau.


“Ah.”


Akibatnya, waktu tidak terasa kalau aku telah sampai di rumah. Keberangkatanku terasa begitu lama dibandingkan pulangku saat ini.


*Flap, flap, flap ....


Setelah aku mendarat, aku muai berjalan ke rumah dan mendekat pintu. Tentu niatku sebelum itu juga ingin mengucapkan salam perpisahan sebelum masuk.


“Eh?”


Tapi, sosok Hanz yang burung hantu raksasa itu sudah menghilang ... atau lebih tepatnya tidak terdeteksi akibat kekuatan yang dimilikinya.


“Eheh, ternyata memang merepotkan juga punya kekuatan seperti itu, Hanz,” ucapku yang bergumam keras. Namun, kali ini aku berbicara selayaknya dua arah, berpikir kalau Hanz masih mendengarkanku. “Oke, ada atau enggak, aku berterima kasih atas apa yang kamu lakukan. Jika ada satu hal yang bisa kulakukan, aku juga ingin membantumu nanti.”


“...”


“...”


“...”


Tidak ada jawaban, aku tidak bisa merasakan apa pun, yang kulihat hanya jalan yang sama seperti biasanya.

__ADS_1


“Baiklah, itu mungkin cukup untuk sekarang.”


*****


Beberapa jam aku diam di rumah, mendalami kesendirian tanpa ada pekerjaan yang bisa kulakukan. Sesekali aku membuka buku, membuka gadget, atau menyalakan televisi. Tapi, tetap dari semua kegiatan tersebut tidak ada yang membuatku nyaman.


Hatiku masih dipenuhi rasa kegelisahan, rasa penasaran tentang kabar kak Dina terus berputar di kepalaku. Aku ingin pergi, aku ingin menemui atau mungkin sekadar menghubunginya. Tapi, hubunganku tetap terasa lebih jauh sekarang.


Aku pun memutuskan untuk mencari angin, ke luar menuju balkon lantai dua, tempat di mana keluarga biasa menjemur pakaiannya.


Cuaca saat itu sepertinya sudah berubah dibanding siang barusan. Aku yang berdiam dan mulai memasuki waktu sore berhadapan dengan awan mendung. Langit-langit biru bercampur jingga tertutup, sedikit berkas cahaya dan hanya bersisa tampak gelap seakan isyarat mau hujan.


Huft ... hah ....


Aku bernapas, menarik dalam udara dan merasakan aroma khas dari kelembapan atmosfer tersebut. Sensasi relaksasi bau khas dari tanah basah dan air dingin membuatku lebih tenang. Walaupun tidak benar-benar menyelesaikan masalah, tapi itu bisa menghentikan kerja otak berlebihku saat ini.


Aku di sana berjalan lebih jauh, menuju ujung balkon yang dibatasi oleh pagar setinggi dada. Di sana tempat yang sempurna untuk berdiam diri, menyandarkan dekap tangan sambil kembali melihat pemandangan.


Jika aku berpikir dan lebih melihat balik. Ternyata rumahku sendiri punya ukuran besar dan masih pantas disebut pemilik yang ada di ranah ekonomi menengah ke atas. Aku sekarang hidup di dalamnya, beruntung bisa masuk dalam keluarga ini.


Jadi, jika pun satu titik aku diusir dan dikeluarkan untuk tidak dianggap lagi keluarga, mungkin itu bukan sebuah kejahatan mengingat mereka sudah memberi banyak padaku sekarang.


Itu sesuatu yang kupikirkan lagi sambil melihat langit. Tapi, lamunanku kembali diganggu oleh hal lain.


*Flap, flap, flap ....


Kepakkan sayap, suaranya berulang khas mendekat, bukan burung-burung kecil yang biasa lewat. Aku bisa tahu itu, entah kenapa instingku mengatakan demikian.


Apa yang kudengar bukan berasal dari Hanz, dia tidak datang dengan seperti ini karena kekuatannya yang luar biasa bisa membuat dia seperti hantu. Jadi, satu kemungkinan yang tersisa, hanya satu dan aku bisa tahu tanpa melihat sumber suara itu secara langsung.


“Pero, itu kamu?” tanyaku yang seolah bicara ke udara lepas.


Iya ... ini aku.


Jawabnya suara tersebut berdengung di kepalaku.


 


 

__ADS_1


__ADS_2