Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 41 - Artefak Gunung Terpahat


__ADS_3

Satu hari sebenarnya sudah waktu yang sangat panjang. Ketika aku hidup di daerah hutan yang tidak ada pengalih waktu bisa menarikku, ternyata dua belas jam terasa sangat lama.


Setelah mengisi perut dengan makanan sampai kenyang, aku dan Farrel pergi berkeliling lagi mencari banyak suplai dan eksplorasi lingkungan. Di sana kami lebih dulu memeriksa tempat kejadian semalam di mana makhluk tersebut mengejar kami. Jejak yang besar pepohonan roboh menjadi penanda utama, aku dam Farrel kala itu juga perlu mengambil barang tertinggal di pinggiran sungai dan mengisi ulang persediaan air.


Sempat berpikir makhluk tersebut muncul lagi pada siang hari. Tapi, hal tersebut hanya bayangan buruk saja. Aku yang terus berkeliaran tetap tidak menemukan tanda-tanda monster itu kembali muncul.


Itu sebenarnya cukup masuk akal. Kemarin aku dan Farrel tidak bertemu dengan makhluk itu di waktu siang. Sepertinya, teori mekanisme guardian di waktu malam cucup cocok dengan kondisi tersebut.


Aku dan Farrel terus berjalan memperluas langkah. Tujuan utama kami sekarang bahkan cukup tinggi. Dengan berbagai alat modern yang ditemukan di dalam box suplai, kami mulai berpikir kalau bukan tidak mungkin di dalam box tersebut ada senjata api.


Di antara kami berdua memang tidak ada yang berpengalaman dengan senjata api. Tapi, di keadaan ini pistol jauh lebih efektif dibanding harus bertarung menggunakan pisau dan kapak.


Berjalan ke arah utara, tiga box ditemukan dan isinya hanya barang kecil serupa seperti tali, kayu bakar, dan bahan makanan. Berjalan ke timur, empat box ditemukan lalu isinya pun serupa hanya peralatan camping lainnya. Di sini aku bahkan sudah mendapat tiga tas gendong yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Kemudian, kami juga berjalan sedikit ke arah barat. Di sana aku dan Farrel hanya menemukan satu box yang isinya sepatu dan korek api lainnya. Selain jumlah box yang semakin berkurang, ternyata isi dari suplai juga semakin terlihat tidak berguna karena sifat duplikasinya.


Aku dan Farrel di sana sudah cukup berkeliling. Matahari mulai meredup, kami tentu sadar waktu malam adalah hal yang dihindari sekarang. Jadi, sebisa mungkin di kesempatan kedua ini kami tidak terlalu dengan goa.


"Ivan," panggilku di perjalanan menuju goa yang masih terhitung cukup jauh. "Menurutmu gimana cara kita selesaiin game ini?" lalu tanyaku pada Farrel secara menjurus.


"Kalau menurutku, satu-satunya yang mencolok itu cuman monster gorila kemarin. Mungkin si pembuat game mau tugasin kita buat bunuh monster itu."


Pikiran yang sederhana. Dari pada lari, memang lebih efisien untuk mengatasi masalah tersebut. Walaupun manusia aku dan Farrel jauh kalah secara fisik. Tapi, kami masih bisa menang jika menggunakan seluruh potensi manusia untuk melawan makhluk seperti ini.


Dengan bantuan senjata api, kami mungkin akan sangat mudah bisa melumpuhkannya. Tapi, karena hal tersebut menjadi mudah, tentu Octa tidak akan melakukan itu pada kami. Dari awal pagi sampai sore kami mencari box, tidak ada benda lain yang bisa dipakai senjata lebih baik dari pisau dan kapak.


Makhluk sebesar itu juga akan sulit diatasi karena kekuatannya yang besar dapat merobohkan pepohonan. Dengan kengerian itu, kami sudah pesimis untuk mengalahkannya dengan sesuatu sejenis jebakan. Perlu sesuatu yang lebih kuat seperti reruntuhan gunung atau parit dalam agar bisa menjebaknya, dan kedua itu tidak mungkin dibuat oleh dua siswa SMA biasa.


Di satu sisi, mungkin aku bisa saja menggunakan racun untuk melumpuhkannya secara kimiawi. Tapi, racun cukup sulit disintesis, akan memakan banyak waktu dan banyak kegagalan. Sedangkan, pilihan lain untuk mengambil racun dari makhluk hidup seperti ular, kalajengking, laba-laba, dan katak emas juga tidak dapat digunakan.


Seperti kata Farrel, hutan hujan ini sangat sepi dari binatang-binatang seperti itu. Selain monster itu, tempat ini sangat aman. Bahkan, sudah seperti cagar alam yang dikelola baik di belakang rumah.


"Menurutku, membunuh monster itu gak bakal bikin kita menang."


"Iya, aku juga tahu kamu bakal ngomong gitu. Tapi, aku mau kamu tanggung jawab sama apa yang kamu bilang. Kamu punya ide lain yang lebih bagus, 'kan?" tanya Farrel menduga-duga dengan nada sedikit jahil.


"Iya, justru. Di sini kita sekarang bakal cari teka-tekinya. Masih ada ujung sisi barat yang gak kita cari, 'kan?"


"Itu bisa kita lanjut besok, sekarang sudah terlalu sore."


"Itu menurutmu, Farrel. Tapi, menurutku kita memang harus ambil risiko ini. Kita gak tahu sampai mana waktu yang kita habisin buat dimaafkan ada di dunia ini. Bisa saja batas waktu itu ada di besok dan bikin kita dihukum mati ditempat."


"Perkiraan yang mengerikan."


"Kemungkinan terburuk. Game tanpa batas waktu itu bakal ngurangin tingkat adrenalinnya."


"Hmn ... sekarang aku mulai kesal kamu bawa-bawa game ke masalah ini. Tapi, oke. Buat sekarang aku percaya dulu."

__ADS_1


Di perjalanan hari ini, kami bukan hanya box yang kami dapatkan. Tapi, kami juga telah menemukan fakta kalau sebenarnya hutan ini dikelilingi gunung dan tebing terjal yang tidak bisa dilewati tanpa alat bantu. Di ujung utara dan timur kami menemukan hal yang sama, dan di selatan adalah tebing bebatuan yang kebetulan ada goa tempat kami tidur semalam.


Intinya, dunia ini cukup terbatas, bisa dibiang Octa memang membuat kami tidak bisa melewati batas gunung tersebut. Jika utara, selatan, dan barat tidak memiliki apa pun untuk diteliti lagi. Maka, kesempatan itu ada di timur.


Memang cukup berisiko, tapi aku tetap ingin melakukannya. Seperti apa yang dikatakan oleh Farrel sebelumnya, sesuatu yang dibutuhkan sekarang adalah informasi. Seharusnya, cara untuk menyelesaikan game ini sudah ada dari awal, yaitu dengan memecahkan teka-teki.


"Kalau kamu gak mau ikut, aku juga gak apa-apa pergi sendiri. Walaupun agak ribet, aku di sini sudah hafal jalan pulang ke selatan," kataku yang sedikit merendah.


"Sudah aku bilang. Kita lebih aman berdua. Masih banyak yang gak aku tahu tentang sihir. Jangan sampai kamu mati tinggalin aku di dunia ini, Ivan."


"Heh," jawabku dengan deham keras.


Kami di sana pun mengambil jalan berputar. Awalnya lurus ke selatan, sekarang membelok mengambil jalan memutar ke timur.


Perjalanan berlangsung cukup lama. Melihat waktu tempuh dari ujung selatan ke ujung utara yang memakan waktu satu sampai dua jam, tentu arah timur juga tidak kalah jauh. Medan dataran di sana sedikit naik, membuatku harus berjalan naik sedikit memanjat. Berbeda dengan selatan ke utara yang bersifat netral, ujung timur adalah tempat awal sumber air arah datangnya hulu sungai.


Farrel masih memimpin, tapi secara bersamaan kami tetap mengarah ke bagian timur.


"..."


Ujung timur ternyata masih sama, memiliki tebing pembatas yang mencegahku untuk pergi lebih jauh, sebuah sisi gunung berbatu yang sudah mirip seperti tembok. Tapi, hal yang luar biasa mengejutkan terlihat oleh mataku di sisi timur ini.


Monster bertubuh seperti gorila itu ternyata masih ada di sini. Ketika matahari masih menyisakan sinarnya di ufuk barat, monster itu tertidur di salah satu sisi bebatuan pojok timur ini. Mungkin bisa dikatakan kalau tempat di ujung yang dia sedang pakai tidur adalah sarangnya. Namun, apa yang kulihat sekarang jauh lebih megah jika harus dibilang sebagai sarang.


Monster itu punya tinggi sekitar tiga kali tubuhku. Lalu, kuil di gunung yang dipahat kali ini memiliki ukuran seperti lapangan olahraga, lebih dari enam puluh meter ke samping.


Jujur saja, pahatan ini termasuk dalam karya seni yang hebat. Patung-patung yang dibentuk cukup detail menggambarkan sebuah ilustrasi dewa-dewa kepercayaan dari satu kepercayaan. Dengan pakaian adat yang mereka kenakan, dan pernak-pernik khas, tembok tersebut seharusnya hanya bisa dibentuk oleh pekerja-pekerja telaten dari pihak manusia.


Aku tahu masih ada banyak patung yang jauh lebih besar. Bahkan, dua patung terbesar di tempat masuk saja melebihi dua puluh meter. Itu sudah sangat tinggi untuk bisa dipahat oleh manusia normal. Tapi, jika harus berpikir ada monster dengan tangan besar berotot bisa membuat pahatan detail ini, aku lebih memilih kemungkinan hebat dari pihak manusia yang membuatnya. Proporsi tubuh monster itu bahkan membuatku berpikir kalau jarinya saja tidak dapat masuk ke dalam hidung


Pahatan gunung itu tidak hanya lebar, tapi juga sedikit dalam sekitar sepuluh meter untuk bagian yang terlihat. Di ujung, tentu ada monster tersebut yang tertidur pulas, layaknya dia tidak akan bangun dalam waktu lama. Biarpun begitu, kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam kuil pahatan batu itu demi keamanan.


"Oke, sekarang kita sudah di sini. Terus, kamu mau apa, Ivan?" tanya Farrel menaruh tangan di pinggang agar meredakan tenaga berdirinya. "Kita sudah tahu monster ini di sini, dan harusnya kita pergi sebelum dia bangun lagi."


Di hari kedua ini, kami juga mengalami perjalanan panjang menyusuri hutan ke berbagai sisi. Dengan tenaga yang banyak terbuang selama seharian, tentu Farrel juga tidak ingin mengambil risiko untuk mati terbunuh ketika dia bangun. Terlebih, jarak kami sekarang cukup jauh dari ujung selatan. Berbeda dengan kondisi kemarin, aku dan Farrel akan tumbang sebelum sampai goa jika monster itu mengejar kami sekarang.


"Tunggu, sebentar."


Tapi, di sana aku tetap melakukan investigasi. Dari berbagai faktor seperti tempat, penghuni, dan waktu, tentu semua ini hanya hiasan kosong tidak bermakna. Dari sekian banyak sisi hutan yang dibuat begitu normal, sisi timur yang megah dengan pahatan batu pasti ada maksudnya tersendiri.


Aku mengarahkan pandangan ke arah lain. Walaupun tidak masuk ke dalam, aku tetap meneliti bagian dalam kuil pahatan batu ini. Lalu, di sana aku mulai melihat hal yang unik.


"Aa ... tri-trisula?"


Di samping monster tersebut, terdapat trisula besar yang ditaruh di tempat pajangan senjata pada umumnya. Desain utamanya sama seperti gantungan pakaian di tembok, tapi berbeda bentuk dikhususkan untuk senjata.

__ADS_1


Ruang di dalam tidak memiliki penerangan, butuh beberapa waktu sampai pandanganku terbiasa dan bisa mengetahui keberadaan senjata tersebut. Bentuknya besar, dan kali ini aku bisa paham kalau trisula tersebut hanya bisa dipakai oleh makhluk yang seukuran dengan sang monster. Biarpun begitu, aku tidak bisa membayangkannya berkeliaran dengan trisula. Selain tidak cocok, kemarin malam juga aku tidak melihatnya membawa senjata tersebut.


Kemudian, aku kembali mengarahkan pandangan ke sisi lain.


"Hmn ... hn?" responsku menyipitkan mata untuk menajamkan penglihatan di area gelap. "Tengkorak? Ah ... tulang mayat?"


Keadaan gelap dan jarak yang cukup jauh masih menjadi halangan. Tapi, aku masih berusaha meneliti. Di satu sudut ruang tebing berpahat ini ternyata punya hal asing, yaitu tulang manusia.


"Iya, aku juga bisa lihat itu, Ivan," jawab Farrel di sampingku yang tentu dia juga ikut melihat. "Apa mungkin dia juga orang yang pernah dibawa ke sini?" lalu lanjut tanyanya.


"Heh, kenapa kamu ngira kayak gitu?" tukasku bertanya.


"Tulang mayat itu pegang kapak. Bukannya pertama kita ke sini juga dikasih kapak?"


Kapak ...?


Aku melihat secara rinci ke arah tangan mayat tulang tersebut. Lalu, benar saja, ternyata memang di tangan mayat tersebut terdapat kapak. Tapi ....


"Kayaknya enggak. Mungkin kapaknya benar, tapi dari desain sama ukurannya jauh beda," jawabku sedikit bernapas lega.


Kapak milik kami para pemain memiliki desain unik yang modern, ringan, dan bahkan cocok untuk dijadikan pajangan. Sedangkan, kapak yang tergeletak di tangan mayat tulang tersebut adalah kapak tua dengan gagang kayu sederhana layaknya yang dipakai pada zaman dahulu.


"Hmn ... aku juga ngiranya bukan, sih. Tingginya saja sudah bukan kayak manusia biasa, kalau dari sini, mungkin dia dekat sekitar dua meter. Terus, yang paling aneh aku gak tahu bentuk kepalanya," kata Farrel kembali menjelaskan.


"Bentuk kepala?"


"Iya," jawab Farrel kembali dengan tegas. "Tulang kepala, tengkorak. Dari tadi aku lihat sekeliling, tapi tulang kepala mayat itu gak ada di sekitar sini."


"Apa mungkin tulang kepalanya hancur duluan?"


"Kayaknya itu gak mungkin. Mayat itu ada di posisi duduk bersandar di tembok, ada di ruang kayak kuil gini."


"Oh, masuk akal juga."


Manusia punya berbagai budaya memperlakukan mayat. Untuk dia yang mati di sana, mayatnya tidak dikubur, didudukkan di sisi ruang mewah tanpa ada tanda reruntuhan, dan kondisi tulang yang lain masih utuh bersatu. Dari segi mana pun, itu terlihat persis seperti tulang manusia. Hal yang paling masuk akal terjadi adalah ada orang yang memenggal kepala si mayat tersebut—


"Hh!?"


Di saat itu aku tersendat napasku sendiri, selewat pikiran dan teori muncul di kepala. Ketika aku mereka ulang semua petunjuk yang didapatkan di hutan ini, akhirnya sebuah kemungkinan bisa terjangkau oleh logikaku. Setidaknya, aku mulai mengerti teka-teki yang dimaksud oleh Octa.


"Heh," dehamku sambil menyunggingkan senyum. "Ternyata memang benar, kita di sini cuman jadi bahan pertunjukkan saja."


 


 

__ADS_1


__ADS_2