Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 54 - Berbagai Ending


__ADS_3

Seluruh perhatian tergantikan dan mengarah pada Hanz. Aku ada di tengah, sedangkan Hanz ada di pojok ruangan. Akibat suaranya, aku memandang ke arah lelaki tersebut, lalu dengan serempak perhatian lain juga mengikuti arah pandangku. Dalam waktu detik, kami semua memandang ke arah Hanz yang bicara.


"Jadi, ada yang kurang dari kesimpulanku?" tanyaku pada Hanz.


"Bisa dibilang seperti itu, Kaivan. Kau hanya menjelaskan bagian awal, akan tetapi tidak menjelaskan keseluruhan dari latar cerita tersebut. Memang benar, jika kau membuat si monster bertemu dengan gajah, maka kau akan dianggap menang dan dibawa pulang. Tapi, itu hanya sebagian saja cara, selama kau masih mendapatkan hasil yang serupa, tantangan itu akan dianggap selesai," jelas Hanz dengan cukup panjang memimpin.


"Terus? Kenapa aku dam yang lain bisa dianggap selesai latar cerita itu?"


"Bisa dibilang kalian semua termasuk dalam orang-orang yang beruntung. Bisa menyelesaikan tantangan tersebut dengan kasus ketidaksengajaan. Tapi, jika kalian ingin tahu apa yang terjadi di baliknya, mungkin pertama yang harus kalian ketahui adalah kisah penuh dari sejarah dewa yang diganti kepalanya itu."


Hmn ... memang benar. Untuk beberapa alasan, sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan kisah legenda tersebut. Dari awal, aku tidak mempelajarinya langsung, hanya bertanya dan penasaran. Apa yang aku tahu persis berdasarkan kisah singkat dari orang awam yang menceritakan.


"Kalau gitu, apa saja yang kamu tahu, Hanz?" ucapku bertanya menagih pengetahuannya.


"Baiklah, aku tidak keberatan bercerita. Tapi, sampai di sini aku ingin tahu, berapa banyak yang kau tahu tentang kisah itu?"


"Aku ingat, itu kisah di mana dewa yang menjaga gerbang gagal dalam tugasnya sampai kepalanya dipenggal. Terus, dewa lain mau hidupin dia dan gantiin kepalanya sama kepala gajah."


"Ah ... seperti itu, iya," respons Hanz berjeda panjang dengan nada khasnya yang mendayu lembut.


"Apa aku salah?" tanyaku sedikit khawatir.


"Tidak, tidak sama sekali," jawab Hanz sambil menggeleng. "Akan tetapi, aku masih tidak mendengar penjelasan lanjut. Kenapa dewa penjaga gerbang itu ingin dihidupkan oleh dewa lain? Lalu, jika pun memang bisa, mengapa harus kepala gajah sebagai ganti kepala lamanya?"


"..."


Aku terdiam di sana, tidak bisa menjawab karena memang tidak ada ingatan tersebut di kepalaku. Kami yang berhadapan di sini membuat posisi Hanz semakin tinggi.


Aku sedang berdiri, dan bercakap berdua seperti ini malah membuat tekanan kalau aku terus direndahkan. Aku mengerti, memang Hanz tidak bermaksud seperti itu. Tapi, hal tersebutlah yang aku rasakan setiap detik dari lirikan orang-orang di sekeliling.


"Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Jadi, aku jelaskan saja singkatnya. Dewa penjaga gerbang itu dibunuh dan dihidupkan oleh dewa yang sama. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena pembunuhan penjaga gerbang terjadi karena kesalahpahaman. Lalu, waktu kemudian, ritual penghidupan kembali ternyata tidak berjalan mulus. Sang dewa tidak bisa menghidupkan penjaga tersebut hanya menghubungkan kepala lamanya. Sebagai ganti, dia harus mencari kepala dari orang yang tidak tidur sambil memeluk ibunya. Sampai di sini, apa kau paham, Kaivan?" jelas Hanz yang diakhiri pertanyaan.


Aku mencoba berpikir, mencerna kalimatnya satu per satu dan kembali menyimpulkan ulang dengan hasil yang aku dapat.


"Aku mengerti ceritanya, tapi aku masih belum tahu bagaimana hubungan itu dengan akhir tantangan tersebut yang bermacam-macam," jawabku yang ingin menagih penjelasan lanjutan.

__ADS_1


"Dalam kisah itu, sang dewa bisa mendapatkan kepala gajah dengan usahanya sendiri. Namun, alasan yang memaksa dia mengambil kepala gajah adalah karena tidak ada anak manusia yang tidur tanpa memeluk ibunya."


"Jadi?" tanyaku yang masih tidak mengerti.


"Jadi, Jalan alternatif untuk menyelesaikan tantangan adalah sangat sederhana. Dua orang dari tim tersebut hanya perlu berpelukan. Buat diri kalian menjadi individu yang tidak dapat menggantikan kepala tersebut, berpelukan."


"..."


Ha?


Alisku bergidik mendengarkan alasan tersebut. Masalahnya, itu terlalu lembut dan imut setelah latar cerita yang mengerikan aku dengar. Pasalnya, dari pada mengambil kepala, ternyata aku hanya perlu berpelukan. Sesuatu hal yang sangat jauh dari dua pilihan, membuatku memegang kepala dan merasa usahaku dikhianati sebelumnya.


"Iya, ada benarnya juga. Waktu di hari pertama, aku sama Arin gak nemuin api unggun. Jadi, kami waktu itu tidur agak rapat biar gak dingin," kata Imarine menyusul kekosongan dari percakapan tersebut sebagai bukti penerus.


"Kasusku sama Kaivan kayaknya hampir mirip. Waktu itu Kaivan sudah luka berat sampai dia gak bisa jalan. Jadi, terpaksa aku gendong. Cuman, karena posisi yang gak enak, aku gendong dia dari depan. Mungkin itu sudah dianggap jadi pelukan," lanjut Farrel yang membantu memperkuat bukti.


Aku yang mendengar kalimat dua temanku itu pun menjadi lebih yakin. Entah kenapa semua fakta kejut yang menyedihkan barusan bisa kuterima lebih layak. Ternyata, tidak ada orang yang menganggap hal ini adalah kekonyolan.


"Ah ... iya, tepat sekali," kata Hanz membalas gumam-gumam Farrel dan Imarine. "Kalian mungkin bisa memenggal kepala si monster atau mempertemukan monster dengan si gajah. Tapi, cara tersembunyi di sana adalah dengan membuat monster tidak bisa memilih kita dan membiarkan dia mendapatkan gajahnya sendiri."


"Aku? Aku hanya memenggal kepala gajah, dan memberikannya langsung pada si monster."


"A-ah, jadi ternyata ada juga cara seperti itu," responsku sedikit terkagum.


"Tepat, keputusanku juga tidak menjadi masalah. Pada kondisi ini, kepala apa pun bisa jadi ganti untuk menyelesaikan tantangan tersebut."


"..."


Apa pun, iya.


Aku sedikit terganggu dengan kalimat terakhir. Rasa sedih kembali aku rasakan ketika mendengar ucapan tersebut. Karena, bukan berarti semua dari kami bisa menyelesaikan tantangan tersebut.


Melirik ke arah kak Dina, dia masih diam tidak ikut berdiskusi atau setidaknya bertukar kata.


Iya, aku ingat. Kak Dina kala itu tidak pulang bersama Verdian. Dicerita kak Dina, Verdian tertangkap oleh monster dan diputus paksa kepala olehnya. Di saat itu kak Dina dianggap menyelesaikan tantangan, ketika sang monster mendapatkan kepala yang diinginkan, hal tersebutlah yang menjadi tanda kemenangan.

__ADS_1


*Clench


Kepal tanganku mengingat kejadian itu. Rasa kesal karena aku tidak mampu membuat kak Dina menjadi tenang,


"Baiklah, topik ini selesai. Kita tidak menunjukkan perkembangan dari pembicaraan barusan," kata Hanz yang ingin mengakhiri percakapan. "Kaivan, kenapa kau tidak mulai saja rurut kejadian pembunuhan sekarang?"


Ah ....


Mataku terbuka lebar mendengar kalimat tersebut. Hampir saja aku melamun di tengah presentasi yang melibatkan seluruh anggota. Sempat topik berjalan ke banyak arah, ini membuatku melamun hingga memikirkan banyak hal.


"Huft ... hah ...," hela napasku mulai berpikir jernih. "Oke, kalau gitu aku anggap gak ada petunjuk dari literatur luar sekarang. Jadi, mungkin kita cuman bisa pecahin misteri ini pakai cara manual."


Mungkin akan sedikit melelahkan. Tapi, aku tidak punya pilihan selain melakukannya.


Biasa dalam novel misteri akan ada tokoh pintar yang menjadi detektif. Entah itu tokoh utama atau hanya seorang tokoh sampingan yang membantu tokoh utama. Hal yang penting adalah cukup jarang ketika cerita bertema misteri dapat berjalan sendiri, mereka butuh seseorang untuk dapat dijalankan agar misteri itu terasa hidup.


Sekarang, masalahnya aku tidak tahu siapa tokoh detektif itu. Tapi, mungkin orang-orang di sini bisa menjadi salah satunya.


"Baiklah, kita mulai," ucapku membuka percakapan dan topik baru walau terlihat beberapa orang sudah kelelahan. "Hal paling utama. Aku sendiri bukan orang yang menjadi saksi awal pagi ini. Jadi, pertanyaannya, siapa orang pertama yang lihat mayat di ruang makan?"


"..."


Orang-orang di ruangan tersebut terdiam, mereka tidak menjawab dan membiarkan ruangan menjadi hening.


*Glance


Tapi, bukan berarti mereka sepenuhnya tidak merespons. Secara tidak langsung sebenarnya aku sudah mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.


Tanpa aba-aba, aku melihat kalau orang-orang di sana melakukan gerakan yang sama, mengganti lirikan pada satu arah tertentu di sudut kananku. Di sana aku juga mulai melihat, mengikuti arah pandang serempak tersebut.


Di sana ada wanita berpakaian rapi menjawab. Berbeda dengan semua siswa yang seragam, dia memiliki dandanan yang sedikit berbeda dan khas.


"A-aku yang pertama," ucap kak Dina sambil mengacungkan tangannya sejajar telinga.


 

__ADS_1


 


__ADS_2