
Matahari masih berdiri tegak di atas kepala, istirahat makan siang belum berakhir. Aku dan Amalia baru selesai mengambil mana milik gadis OSIS. Dia masih belum sadarkan diri dan dibiarkan tertidur dalam posisi duduk di meja taman belakang gedung ini.
Amalia mulai mengganti wujud dan pakaiannya ke keadaan normal. Semua itu dilakukannya dengan sekejap sehingga tidak terlihat prosesnya.
Aku melihat gadis OSIS yang sedang tertidur itu.
“Ngomong-ngomong, orang yang dihisap mana-nya ... mereka bakal kayak gimana nanti?”
Aku sedikit penasaran. Berdasarkan hal yang kutangkap, mana adalah perasaan kuat dari manusia. Aku bisa merasakan perasaan bahagia dari gadis OSIS di depanku, tapi apa yang terjadi setelah ini?
Jangan khawatir, dia nanti bakal bangun, kok.
“Bukan itu.”
Aku tahu dan sudah pernah melihatnya waktu di aula, hitungan menit dan gadis itu akan bangun. Bukan itu yang kutanyakan.
“Maksudnya, apa dia nanti kehilangan perasaannya? Mana yang dihisap itu berasal dari emosi dia, ‘kan?”
Amalia membuka mulutnya membentuk huruf ‘o’, tapi tidak ada suara keluar di mulutnya. Setelah beberapa detik, dia mulai menulis kembali.
Dia gak bakal sadar, karena memang gak ada efek sampingnya. Menghisap mana bukan berarti merebutnya dari mereka. Kayak berbagi ilmu, kamu gak akan bodoh waktu menjadi guru, ‘kan.
Baiklah, bisa kumengerti. Membagi kebahagiaan bukan berarti membuat si pemberi menjadi sedih. Dari awal apa yang mereka sebut mana itu tidak berbentuk fisik.
“Hgkh, Hgmn ....” Suara geraman, nafas berat, atau lebih tepatnya orang yang berusaha bangun. “Eh? Aku ketiduran?”
Gadis OSIS tersebut akhirnya tersadar. Dia melihat ke sekeliling ke kanan kiri secara cepat untuk mengamati keadaan. Aku yang mendengar ini seperti melihat deja vu.
“Tenang, gak ada yang lihat. Tadi, cuman sebentar, kok,” ucapku di depannya yang dibantu Amalia mengangguk untuk menyetujui perkataanku.
Kami menenangkan dan mengalihkan pembicaraan dengan mudah. Pembicaraan seperti tugas di aula dan kabar pekerjaan OSIS dapat membuatnya tertarik. Setiap kalimat dan pertanyaan yang keluar membuat dia semakin nyaman. Tanpa rasa curiga, gadis OSIS itu akhirnya mengabaikan penyebab dia tidak sadarkan diri.
Lima belas menit berlalu. Aku dan Amalia mulai berpisah dengan gadis OSIS, dia berterima kasih pada Amalia dan karena membantu masalah pribadinya—yang tidak kuketahui detailnya, dan padaku atas bantuan pembersihan di aula dua hari yang lalu.
“Jadi, sekarang bagaimana? Aku sudah bisa pergi?” Tanyaku pada Amalia.
Boleh, kok. Aku bakal kabarin lagi kalau nanti ada orang yang bisa diambil lagi mana-nya.
“Oh, itu juga. Bagaimana cara kamu cari orang yang bakal dihisap mana-nya?”
Botolku bakal kasih tahu waktu ada orang yang hatinya terluka. Benda itu juga bakal kasih tahu kapan orang bisa diambil mana-nya.
“Botol?”
Amalia menjepit pulpen di mulutnya, lalu dilanjut dengan catatan di ketiak kirinya. Setelah tangannya terbebas dia pun meraih sesuatu di kantung pakaiannya.
“Oh ... itu.”
Benda yang dikeluarkan Amalia adalah botol seukuran parfum yang waktu itu kulihat dan sempat menjadi penyebab Amalia terpeleset.
Kukira benda itu sudah tidak berfungsi. Tapi, dari yang kulihat, ternyata botol tersebut masih mengeluarkan cahaya unik. Warna yang dikeluarkan pun berganti-ganti, mulai dari ungu, hijau, biru, dan nila. Jika dilihat secara langsung, ini mirip seperti mainan atau aksesoris untuk anak atau sejenisnya.
“Oke, kalau bagitu, panggil aku kalau butuh lagi.”
Walau jika aku datang pun tidak membantu sama sekali, hanya melihat dan menunggu gadis itu selesai.
****
Bel pulang berbunyi, matahari tergelincir ke arah barat. Langit mulai menggelap, dari warna biru ke oranye. Hari ini aku masih berdiri di depan kelas lantai dua, menunggu sekolah sepi agar aku bisa pulang dengan tenang tanpa gelombang emosi bertebaran.
"Woi, Van," panggil Farrel di belakang sambil mendekat. "Masih diem di sini kayak biasa?"
"Iya," jawabku santai tanpa melirik.
"Apa kamu gak bosen diem gak ngapa-ngapain? Kalau kamu mau, gabung saja sama yang lain gitu ... kumpul bareng."
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak benar-benar diam. Terkadang aku juga membaca, bermain game, belajar, dan mencari berita tentang dunia. Semua hal tersebut kulakukan lewat satu benda yang bernama Handphone.
"Asal kamu tahu, menjadi pemalas itu impian semua orang."
Tapi, kujawab seperti itu demi mengikuti pembicaraan.
"Masa iya? Kamu suka ngarang kali ... bukannya masih banyak orang yang hidup penuh gairah?"
"Orang-orang seperti itu belum cukup dewasa untuk menerima impian menjadi pemalas."
"Menurutku pemalas cuman sifat, bukan impian, Van."
"Ho ... kamu gak percaya? Kalau begitu jawab pertanyaanku. Apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus sekolah?"
"Bekerja."
"Setelah itu?"
"Hmn ...," dengung Farrel sambil melihat langit. "Menikah?"
"Setelah itu?"
"Punya anak, membangun keluarga, dan akhirnya hidup tenang di hari tua."
"Apa maksudnya hidup tenang di sana?"
"Bukannya sudah jelas? Jika sudah tua, aku ingin menikmati uang pensiunku tanpa bekerja."
"Oke, selamat. Mimpimu sekarang adalah menjadi pemalas."
"..."
Farrel yang menerima itu pun membuat ekspresi bingung. Dia sepertinya berpikir balik tentang apa yang kukatakan barusan. Wajahnya yang melihat menjadi turun melihat lantai.
"Ahaha ... mungkin ada benarnya juga. Tapi, kalau dilihat dari percakapan barusan, kamu harus jadi pekerja keras dulu, 'kan?"
"Yah, tentu saja aku setuju. Pemalas yang kuakui adalah pemalas yang tidak mengganggu kemalasan orang lain."
"Hah ...," tarik nafasnya sambil berbalik bersiap meninggalkanku. "Kamu bilang kayak gitu lagi. Punya kalimat individualisme, tapi selalu bantu orang tanpa pamrih. Justru, dari apa yang kulihat, kamu malah gak pernah punya sesuatu demi kamu sendiri. Tidak ada pemalas dari sikapmu selama ini, Van."
"Ditambah kamu gak mau menerima bantuan. Padahal, beberapa orang baik masih ada, lho," lanjut Farrel berkata padaku.
"Kamu mau bantu? Kalau begitu tolong belikan minum di kantin."
"Eh ... bukan bantuan kayak gitu yang aku minta. Kalau beli minum 'kan kamu bisa sendiri," ucapnya sambil berjalan meninggalkanku, melambaikan tangan dalam keadaan sudah membelakangiku.
Cih, dasar tidak konsisten. Padahal ini juga salah satu bentuk kebahagiaanku. Mendukung keegoisanku yang ingin melanjutkan kemalasan diam di sini.
Yah, sebenarnya aku juga setengah bercanda. Jika dia setuju, mungkin aku sudah melanggar prinsip tentang kemalasan yang tidak mengganggu kemalasan orang lain.
“...”
Ternyata menunggu juga bisa menyebalkan. Setelah percakapan yang kulakukan tadi, suasana di sini terasa sepi dan sedikit menyedihkan.
Sekitar lima belas menit berlalu sejak kepergian Farrel. Ini sudah waktu di mana aku bisa pulang dengan lebih tenang. Jadi, aku pun bersiap untuk pulang.
"..."
Tapi, alam memanggilku. Tekanan di perut seakan meminta untuk dikeluarkan. Percakapan tentang minum, dan jumlah air yang aku konsumsi menjadi penyebabnya.
Mengikuti panggilan itu, aku berjalan turun ke lantai satu. Sebagai penegasan, toilet di lantai dua bukan toilet favoritku. Salah satu alasannya adalah kebersihan.
Oleh sebab itu, toilet yang jadi tujuanku sekarang adalah yang di dekat kantin. Kamar mandi di sana dekat dengan pos utama petugas kebersihan, sehingga tempatnya lebih higienis.
Terus melangkah, sampai di lorong, di lapangan, dan akhirnya di area kantin. Aku berjalan ke salah satu sudut area tersebut untuk menuju toiletnya. Tapi ....
“...”
Apa ini? Bau busuk?
Seharusnya tempat ini bersih dari aroma-aroma penjahat toilet. Kamar mandi tersebut kaya dengan aliran air, alat kebersihannya lengkap, dan punya petugas yang berlalu lalang di sekitarnya. Tidak mungkin toilet itu mengeluarkan bau—
Hufh, Hufh ....
__ADS_1
Aku mencoba mengendus udara di sekitar. Mengamati perubahan dan kestabilan aroma tersebut.
“...”
Setelahnya, aku mencoba menutup hidungku. Memblokir jalan masuk indra penciuman untuk sementara.
Ternyata benar.
Aroma yang kurasakan bukanlah amonia yang berbau pesing, ataupun juga sulfur yang berbau kentut. Ini lebih ke arah sampah organik, seperti bau bangkai dan sayur sisa di TPA. Aku masih bisa merasakannya walau dengan hidung tertutup, itu berarti hal tersebut berasal dari gelombang emosi seseorang.
Depresi.
Aku tahu emosi ini. Salah satu emosi yang pernah kurasakan pada orang yang ingin bunuh diri. Stres berkepanjangan dengan banyak emosi negatif yang ditumpuk menjadi satu. Menghasilkan kumpulan gelombang yang berbau seperti sampah organik.
Normalnya aku akan langsung meninggalkan tempat ini dan mencari udara segar. Gelombang emosi ini terasa sangat menjijikkan untuk bahkan aku dekati. Tapi, aku ingin menikmati waktu kamar mandiku dengan tenang. Jika harus memilih antara merasakan emosi dengan menggunakan kamar mandi lain. Aku dengan senang hati memilih merasakan emosi. Itu mungkin menjelaskan tingkat kekotoran kamar mandi di tempat lain yang tidak ingin kukunjungi sekarang.
“...”
Selain itu, aku juga tidak mau sekolahku punya catatan buruk di mana ada siswa yang bunuh diri. Tidak ada salahnya untuk melihat.
Sumber gelombang emosi itu searah dengan jalur menuju kamar mandi. Kurasa orang tersebut memang mengurung dirinya di sana.
Dari tempatku berdiri, aku perlu masuk ke lorong lebih jauh. Melewati area kedai-kedai dan menuju ke bagian gedung yang lebih dalam, toilet itu ada di ujung.
Semakin mendekat, aku semakin merasakan berbagai emosi lain.
Rasa sedih. Dada terasa tertekan, rasa hambar berlendir seperti buah yang sudah teroksidasi dengan penuh jamur dan lembek berair.
“...”
Rasa takut. Kulitku menggigil, telingaku berdengung, dan rasanya dingin seperti timun dan sayur oyong.
Aku tetap berjalan, sampai sekiranya dua puluh meter dari kamar mandi.
Gekh.
Kebencian. Rasa hambar berlendir dengan dingin itu sekarang dicampur oleh pahit. Indra pengecapku semakin dipenuhi perasaan menjijikkan. Untung saja aku datang dari arah kejauhan untuk merasakan ini secara bertahap. Jika gelombang emosi ini datang secara tiba-tiba, aku bisa saja muntah karenanya.
Aku sampai di ujung lorong, di sini terdapat pertigaan. Arah kanan menuju kamar mandi perempuan, dan kiri untuk laki-laki.
“...”
Tapi, sayangnya sumber gelombang ini berasal dari kanan. Jadi, terpaksa aku mengikuti arah tersebut.
Tepat ketika aku berbelok membalikkan tubuh, aku melihat seorang gadis berseragam sekolah menunggu di depan pintu toilet. Dari campuran emosi negatif menjijikkan, gadis itu mengeluarkan emosi yang berbeda.
Asam manis?
“...”
Aku mendekat untuk memastikan. Berjalan beberapa langkah hingga jarakku dengan gadis itu ada di kisaran satu meter.
Stroberi.
Gadis berambut cokelat, warna mata terang, tinggi sekitar 162 cm, dan memegang catatan kecil di tangannya.
“Kamu lagi ngapain ... Amalia?”
****
__ADS_1