Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 4 - 32C


__ADS_3

“Amalia ...,” panggilku ke telepon. “Kamu belum masuk ke dalam bioskop, ‘kan? Kalaupun kamu sudah masuk, coba kamu keluar lagi. Cari pasangan yang ceweknya pakai baju terusan oren campur putih, rambutnya agak panjang diikat ke belakang, dan ukuran BH-nya 32C.”


Aku mungkin terlihat bercanda, tapi sebenarnya aura yang kukeluarkan cukup serius hingga getaran suaraku terdengar dingin. Untuk menghemat waktu yang berjalan di detik-detik sampai di mana bioskop ingin dimulai, aku menjejalkan perintah dan informasi tersebut. Pasalnya, beberapa menit lagi film akan dimulai. Memang pada kejadian aslinya akan wajar terlambat karena sudah bagian dari tradisi di negaraku. Tapi, aku juga ingin mengantisipasi pemesanan kursi terbaik yang sebisa mungkin aku dapatkan nanti.


Duut, duut ....


Amalia : Tunggu, pelan-pelan, Ivan. Aku gak dengar terlalu jelas. Barusan kamu cari apa? Pasangan? Maksudnya cewek sama cowok? Itu bukan Septian sama Fany?


“Iya,” jawabku dengan tegas. “Jelasinnya nanti lagi. Kamu masih di ruang tunggu lorong bioskop, ‘kan? Keluar sekali lagi, harusnya mereka masih ngantri tiket. Terus, kamu lihat juga kursi yang mereka ambil nanti. Ingat, cewek baju oren, rambut sekitar pundak yang diikat. Ah ... buat cowoknya, dia pakai jaket kulit warna hitam.”


Aku berjalan cukup jauh, itu karena memang jarak yang kubatasi begitu jauh hingga perlu satu menit untuk sampai dengan berjalan cepat. Arah memutar, mengelilingi bundaran di mana daerah tengahnya berlubang karena didesain untuk demikian di mana lantai dasarnya adalah aula ramai tempat di mana panggung sewaan digelar oleh komunitas tertentu. Intinya, ketika jarakku ini jauh, aku harus menambah lagi waktu karena jarak tersebut ditambah oleh rute memutar menuju bioskop tersebut. Memang akan aman jika membuat jarak sejauh itu, tapi ternyata hal ini malah menjadi senjata makan tuan.


Duut, duut ....


Amalia : Aku sudah lihat, Ivan. Mereka nonton film yang sama kayak Septian dan Fany, kursi mereka ada di paling belakang J3 sama J4.


“Oke, bagus, Amalia. Sekarang kamu boleh balik lagi ke Septian sama Fany sekarang. Makasih.”


Tit.


Ucapku dengan cepat yang langsung menutup teleponnya.


Heh, aku harap akan ada kursi kosong untukku.


****


Aku masuk ke dalam ruang bioskop. Dari waktunya, aku cukup terlambat karena layar depan sudah mulai menyala. Tapi, secara teknis aku masih tepat waktu karena yang ditayangkan masih berupa iklan sponsor dan himbauan tentang peraturan menjaga ketertiban.


Langkahku sudah sampai di tengah ruangan, menghadap ke berbagai penonton yang sedang duduk di tempatnya masing-masing. Di saat itu ....


*Whoush ....


“Hmng ...!”


Gelombang emosi terkejut. Jaraknya sedikit jauh jadi tidak terlalu beras. Dari timing dan arah gelombang emosinya, aku juga bisa tahu siapa yang mengeluarkan reaksi tersebut. Oleh sebab itu, aku pun memberikan arah pandang pada orang tersebut.


“...”

__ADS_1


Iya, itu adalah Septian. Tempat duduknya berada di tengah yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang di sisi kanan ruangan, tempat yang sudah dipesan online jauh-jauh hari dan menjadi salah satu yang ternyaman.


Dia sendiri masih tidak tahu kalau aku akan datang ke dalam bioskop. Wajah yang diperlihatkannya sedikit panik dan gugup, mungkin di pikirannya keberadaanku adalah sebagai pengawas yang menjaga Fany dari kejauhan. Tapi, sayang ... tujuanku ke sini bukan untuknya, atau lebih tepatnya bukan lagi untuknya.


Berbeda dengan partner di sampingnya, Fany sendiri tidak sadar aku datang. Dia sepertinya merasakan sedikit gugup atau mungkin menikmati ketegangan bersama pasangan di kencan tersebut, membuat dirinya tenggelam pada dunianya sendiri. Oleh sebab itu, dia juga cenderung tidak peka dengan lingkungannya sekarang.


Aku memalingkan wajah, menarik mata mengabaikan reaksi Septian dan berjalan ke atas menuju wilayah tempat duduk layaknya tidak terjadi apa-apa. Lalu, di sana juga aku tepat menghadapi seseorang. Jarak yang jauh sebelumnya membuat tubuh dan wajahku tidak jelas, tapi tentu semua itu terhapus seiring aku mendekat.


*Whoush ...


“Hh!?”


Gelombang emosi.


Berapa kali aku merasakannya, tetap saja rangsangan dari kekuatan deteksi emosi cukup menyakitkan dan menyiksa, tubuhku tidak bisa kebal dan terbiasa dengan hal ini sepenuhnya.


Rasa sengat dengan dari kaget dirasakan kembali, tepat ketika tatapanku dan kak Dina saling bertemu.


“...”


“...”


Bergeser sedikit, selagi ruangan masih terang, aku ingin melihat langsung secara dekat kekasih kakak perempuanku ini.


“Hmn ....”


Dari wajahnya, dia tidak terlalu tampan, hanya saja perawatan dirinya cukup untuk membuat dirinya tidak terlihat kacau dan penuh jerawat. Lalu, dari penampilan pakaian, dia terlihat seperti anak badung dengan jaket kulit hitam dan celana jeans. Tapi, aku hanya menganggap itu sebagai style saja untuk sekarang. Tidak ada tanda-tanda keburukan dari gelombang emosi layaknya penjahat berhati busuk.


“Huft ... hah ....”


Aku menarik napas, membuat keadaan lebih ringan untuk diriku sendiri. Lalu, aku dengan santainya pergi ke tempat duduk yang dipesan.


Deret paling belakang di bagian kiri telah penuh, aku tidak dapat kesempatan untuk mendapatkan tiket di waktu yang terlalu sempit seperti sekarang. Tapi, untungnya bioskop tidak terlalu ramai, aku masih bisa mendapat tempat yang berbeda satu deret di depan kak Dina sekarang.


Itu memang tidak bisa membuatku melihat mereka, tapi aku masih bisa merasakan gelombang emosi mereka. Dari semua indra yang kumiliki, pencicip emosilah yang paling kupercayai, walaupun sebenarnya kemampuan ini juga cukup merepotkan. Lagi pula, aku juga tidak bisa melihat mereka dengan jelas karena ruangan tersebut akan menjadi gelap.


Aku duduk di sana, gelombang emosi yang kurasakan dari berbagai orang mulai membias karena indra tersebut yang semakin menumpul. Kemampuanku sebenarnya lebih peka terhadap perubahan emosi itu, jika aku berada di tempat yang padat dengan orang-orang yang memiliki emosi stabil, penderitaanku di sana juga akan berhenti.

__ADS_1


Ruangan sekarang benar-benar menggelap. Tayangan yang menggelegar juga terus berlanjut dari himbauan peraturan bioskop berganti jadi iklan dan sponsor serta pembukaan film.


*Whoush ....


Gelombang emosi, dari belakang, dan tentunya itu berasal dari kak Dina.


Dari rasanya, aku mendapat sensasi sedikit pusing melambung bercampur dengan pedas dan aroma santan kelapa. Mungkin, jika kusimpulkan dari kepribadian kak Dina, dirinya bertanya-tanya tentang arti tindakanku yang cenderung mengesalkan dan terlalu ikut campur.


Film utama belum dimulai, di sana terdapat sebuah iklan dari trailer film lain.


Wait! Why are you come here!? This is not place for stangers like you to enter!


I’m not stangers here, i’m your brother.


No, you're not related to this. This is a sacred ritual and should not be touched by others.


Are you sure? Are you sure you want to end this way? Is this really what can make you happy?


You don't need to control me, I choose my own path. What do you know about me? All this time you only take care of your own life.


Just because I don't spend time with you, doesn't mean I don't care about you.


Whatever, I don't need you, I already know that my choice is right now.


Percakapan tersebut terdengar sangat keras, memang bioskop seperti itu. Tapi, telingaku tetap tidak suka dengan yang seperti ini. Butuh waktu untuk terbiasa, dan sepertinya yang tadi cukup untuk pemanasan.


Potongan film barusan cukup menarik, setidaknya ada beberapa orang yang terpukau dan sepertinya tertarik dengannya.


Duut, duut ....


Tapi, kak Dina sepertinya lebih penasaran denganku. Setelah tatapan kami bertemu, tidak ada satu ucapan keluar sapaan maupun ucapan, itu karena memang situasi di sana kurang berpihak. Jadi, sebagai gantinya dia mengirimiku pesan.


Kak Dina : Kaivan, kenapa kamu di sini? Kamu gak sengaja ketemu dan mau nonton film juga? Atau kamu tahu kakak di sini terus ikutin kakak?


 


 

__ADS_1


__ADS_2