Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 55 - Bukti Dari Ingatan Yang Diberikan


__ADS_3

Tidak enak menunjuk kak Dina di situasi ini. Dari awal sebelum dipanggil ke dunia dan tantangan ke dua sekarang, kak Dina adalah orang yang paling tertekan dengan kondisi. Game ini telah membuat banyak sekali cobaan, tapi untuknya lebih kuat ke arah emosi.


Aku mungkin terluka, dibanting dan ditusuk menerima banyak luka fisik. Namun, semua itu bisa sembuh dan tidak berbekas sekarang. Dunia ini membuatku punya tubuh pengganti ketika dibawa pulang dan pergi. Hanya saja, berbeda dengan luka mental, aku masih bisa merasakan ketidakstabilan gelombang emosi kak Dina sekarang.


"Sebenarnya, waktu aku dipanggil ke sini, posisiku sudah tunduk setengah berdiri menghadap Verdian. Tapi, aku sendiri gak tahu kenapa Verdian bisa sampai kayak gitu," jelas kak Dina memainkan jari karena gugup hingga melihat ke bawah.


Iya, dilihat dari kondisi kak Dina kala itu. Pakaian dan seluruh tubuhnya terlalu bersih untuk menjadi pelaku pembunuhan dengan banyak darah.


"Hmn ... kalau gak ada petunjuk di waktu awal berarti—"


"Tunggu sebentar, Kaivan."


"Hn?"


Aku ingin melanjutkan topik tersebut, tapi di sisi lain Hanz memotong pembicaraanku. Masih dengan gaya khasnya yang memandang kosong ke latar jauh, dia terlihat tidak sedang menatapku ketika bicara.


"Ada apa, Hanz?" lanjutku mempersilakan.


"Kau kembali melewatkan hal penting. Di saat seperti ini, seharusnya kau bertanya atas dasar latar belakang tokoh yang diperankan, bukan atas dasar orang yang memerankan. Ketika dipanggil ke sini, seharusnya ada ingatan tentang apa yang kita lakukan satu hari sebelumnya. Aku rasa, itu akan menjadi petunjuk penting."


Ah, iya, benar juga.


Kami di sini sudah menginap satu hari, jadi sekarang adalah hari kedua. Untuk melakukan penyelidikan penuh, akan lebih efektif kalau aku bertanya tentang semua kegiatan yang berlangsung.


Pada dasarnya, aku juga memerankan murid di sini. Ingatan tersebut masih kuat ditanam Octa padaku sebagai aturan. Karenanya, aku masih bisa menjelaskan secara rurut kejadian penting yang kulakukan di penginapan ini dari sejak hari pertama walau tidak melakukannya secara langsung.


"Kalau gitu, Hanz. Mulai saja dari cerita kamu," ucapku yang membalikkan agar posisinya lebih adil secara mental.


"Ah ... iya, baiklah," jawabnya menerima. "Aku ke penginapan ini lebih dulu satu hari. Ketika keluarga kaya membuka lowongan koki berpenghasilan luar biasa, aku tertarik dan mencari detailnya. Ternyata, aku harus memasak dan melayani orang di tempat terpencil selama beberapa hari. Selama dua hari ke belakang, apa yang aku lakukan tidak jauh dari dapur tempat kerjaku. Jika tidak di kebun, maka aku ada di dapur. Jika tidak keduanya, aku berarti sedang istirahat di kamar staf lantai satu."


Hmn ....


Sebenarnya tidak ada yang salah dari penjelasannya. Tapi, tokoh koki di sini terlalu misterius. Dalam ingatan yang diberikan padaku saja, dia sangat jarang terlihat di luar jam makan. Walaupun memang pekerjaannya, tapi itu tidak mengubah fakta kalau petunjuk tentang koki masih sedikit.


"Kalau gitu, Hanz. Kapan terakhir kamu lihat Verdian di ingatanmu?"


"Kemarin, saat makan malam, di ruang makan."


Jawaban yang terlalu umum.


"Setelah itu, apa yang kamu lakukan di paginya waktu mayat ditemukan?"


"Pertama aku bangun, seperti biasa aku membereskan dapur untuk sarapan. Sampai akhirnya ada suara teriak histeris di ruang makan karena mayat itu."


Hmn? Tunggu.


"Di mana letak kamar tidur staf?" tanyaku semakin penasaran.


"Ada di bawah tangga aula. Seluruh tamu tidur di lantai dua, sedang aku ada di lantai satu."


Aula, iya. Itu berarti ....


"Pagi hari ini, harusnya kamu lewat ke ruang makan sebelum sampai ke dapur, 'kan?"


"Benar?"


"Apa di sana sudah ada mayat?"


"Tidak."


"Lalu, berapa lama waktu dari kamu datang ke dapur hingga mayat ditemukan?"


"Sekitar tiga jam."


Eh?

__ADS_1


Aku sesaat berpikir mencocokkan petunjuk. Ketika aku diminta mengawasi Hanz hingga menyusulnya ke kebun belakang, dapat aku perkirakan kalau matahari terbit menunjukkan pukul enam atau tujuh pagi. Jika Hanz bilang lewat tiga jam ....


"Apa itu artinya kamu ada di dapur dari jam tiga pagi?" tanyaku sedikit pensaran.


"Tepat."


"Buat apa kamu datang sepagi itu?"


"Tidak, Kaivan. Koki yang aku perankan ini cukup teliti dalam masakannya. Aku dan dia sekarang mengerti kalau masakan adalah sesuatu yang suci dan perlu diperjuangkan demi kelezatan. Jika kau bilang masak hanya perlu lima belas menit, itu artinya kau merendahkan pekerjaan koki."


"..."


Jujur saja, aku adalah orang yang selalu makan instan dan tidak mementingkan kelezatan terlalu keras jika memasak sendiri. Jika menu yang aku nikmati ternyata butuh proses memasak yang panjang, aku lebih memilih membeli instan di berbagai toko makanan.


Tapi, baiklah.


"Setidaknya kita tahu sekarang kalau pembunuhan itu berlangsung antara jam tiga pagi sampai jam enam waktu mayat ditemukan," ucapku mengatakan ke seluruh orang sebagai bentuk pengumuman. "Terus, Hanz. Di tiga jam itu, apa kamu gak keluar dapur?"


"Tidak sama sekali."


"Terus, suaranya? Apa kamu pernah dengar suara gaduh di arah ruang makan?"


"Aku tidak yakin. Suara yang aku dengar tidak terlalu berisik sampai aku perlu memeriksanya langsung. Jadi, sampai pagi pun aku tidak keluar dari dapur," jelas Hanz yang mengatakannya penuh keyakinan sambil menutup mata dan mengangguk kecil.


Aku menangkap apa yang dia ucapkan. Untuk sementara aku juga tidak melihat ada kejanggalan dari ceritanya. Walaupun tidak ada bukti kebenaran, aku juga tidak bisa menunjuknya salah. Jadi, informasi dari Hanz kurasa cukup sampai di sana.


"Kak," panggilku pada kak Dina mengembalikan narasumber sebelumnya. "Kakak gimana? Sebelumnya, gimana ingatan terakhir kemarin? Kapan terakhir ketemu Verdian?"


"Kakak ... hmn ...," dengung kak Dina yang berpikir sambil menaruh dagu dan menutup mata untuk merenungkan kembali. "Di sini latarnya kakak jadi guru. Terakhir ketemu sesudah makan malam dan waktu tidur, kita gantian jaga sampai jam dua belas malam biar gak ada yang begadang."


Itu pekerjaan yang cukup umum. Ketika berlaku sebuah acara kumpul menginap bersama seperti ini, sangat mungkin anak-anak malah asyik berbincang tidak bisa tidur.


Penginapan ini dibuat dengan fungsi satu kamar untuk satu orang. Aku tidak tahu kenapa dibuat demikian, tapi setiap kamar punya ukuran yang sempit untuk dipakai dua orang. Dalam teknisnya, jumlah kecil seperti ini sangat mudah diawasi oleh dua guru, perempuan dan laki-laki, kak Dina dan Verdian. Jadi, aku ingat betul kalau dalam ingatanku tidak ada kegiatan begadang, malam itu menjadi malam yang tenang.


"Terus, besoknya gimana? Kakak lihat mayat itu kapan?"


"Waktu pagi dan anak-anak sudah harus siap-siap berangkat, aku mau coba tanya persiapan sarapan. Dan, iya ... sisanya kamu tahu, Ivan. Aku malah ketemu mayat Verdian."


"..."


Hmn ... tidak menjurus.


Petunjuk cerita dari sudut pandang kak Dina tidak memberiku kesempatan untuk mempersempit kemungkinan. Dia yang terakhir melihat Verdian di malam jam dua belas malah membuat jarak yang tidak berarti.


Tapi, bagaimana pun kak Dina adalah orang yang pertama menemukan mayatnya. Fakta ini masih belum terbantah di mana kejadian pembunuhan terjadi di antara pukul tiga sampai enam pagi hari.


"Pero," panggil orang selanjutnya, kini aku kembali mencari narasumber baru. "Kamu, gimana ingatanmu di sini sekarang? Kalau Verdian tidur di kamar bawah, bukannya berarti kamu yang paling terakhir ketemu dia di aula?"


Sebagian ingatan memberi tahuku tentang Pero, dia adalah staf yang menjadi pengurus utama penginapan. Bisa dibilang, dia adalah seorang manajer sekaligus pembantu yang mendalami seluruh fasilitas di luar yang bisa diatasi koki. Posisinya sendiri lebih sering siaga duduk di aula. Terkadang mungkin dia membersihkan beberapa sudut ruangan, tapi itu lebih dia lakukan ketika kami sebagai penyewa sedang tidak ada di kamar.


"Hmn ... di ingatan milikku, lelaki bernama Verdian itu memang kulihat terakhir kali memasuki kamarnya lewat aula. Namun, setelah itu aku tidak melihatnya, diriku juga perlu mengistirahatkan tubuh. Walaupun sebenarnya yang istirahat kala itu adalah orang yang aku perankan sekarang," jelas Pero padaku.


Baiklah, itu mungkin memang tidak penting. Melihatnya di waktu tengah malam tidak membantu apa pun mengingat Hanz yang lewat di jam tiga saja tidak menemukan mayatnya.


"Kalau gitu, kapan kamu mulai bangun?" lanjut tanyaku masih dengan Pero sebagai pengurus penginapan.


"Sebagai pemilik yang baik, aku tentu bangun lebih awal. Walaupun tidak seawal seperti koki, tapi aku sudah kembali berjaga sekitar pukul empat pagi."


"Hoo ... kalau begitu, kamu selalu ada di aula dari jam segitu?"


"Benar, Kaivan."


"Kamu gak lihat siapa-siapa masuk ke dalam ruang makan?"


"... Tidak."

__ADS_1


"..."


Sial ini menjadi lebih rumit.


Jika Hanz dan Pero mengatakan yang benar. Itu artinya hanya ada satu jam si penjahat itu mempunyai waktu untuk melakukan aksinya.


Waktu satu jam terlalu singkat. Jika memang pelaku masuk di antara jam tiga sampai jam empat ketika dua staf mulai aktif, itu artinya dia harus berhadapan dengan jalan kabur yang terbatas.


Bayangkan saja, si penjahat ini melakukan tugasnya dengan bersih. Dia tidak membiarkan darah berceceran, dia tidak membuat suara gaduh, dan sekarang dia luput dari pengawasan.


Kalaupun ada yang bisa masuk jam tiga membawa Verdian ke ruang makan tepat setelah Hanz di dapur, akan sulit untuk bisa melakukan pembunuhan tanpa diketahui. Waktu hanya satu jam, dan setelah itu jalan kabur akan terblokade dari arah aula dan dapur secara bersamaan. Di atas jam empat pagi, pelaku sudah tidak bisa melarikan diri dari ruangan ini.


Hmn ....


Aku melihat ke sekeliling ruangan, memutus percakapan dan rapat sejenak demi menganalisis latar tempat kejadian.


Ruang makan itu punya empat jendela di dua sisi selain sisi yang menghubungkan ke ruang lain. Depan dan belakang, di mana satu sisi dinding punya dua jendela.


Aku berjalan ke arah masing-masing jendela, membuka mekanisme engselnya dan melihat pemandangan bawah tepat setelah jendela itu dibuka.


Orang-orang di sana cukup bingung melihatku, mereka terus diam karena aku sebagai pemimpin rapat tidak bicara. Lalu, kali ini langkahku diikuti oleh pandangan mereka yang penasaran. Terus begitu, langkah satu, dua tiga, bulak balik depan belakang hingga sampai saatnya membuka jendela terakhir.


"Ivan, kamu cari apa?" tanya Farrel mewakili semua anggota.


"Aku lagi cari tapak jejak kaki. Semisal kalau memang perkiraanku benar, harusnya ada jejak kaki di jendela."


"Hmn ... perkiraan yang bagaimana, Kaivan?" ganti tanya Pero di ujung lain.


"Waktu satu jam terlalu sempit, kemungkinan tinggi dia kabur lewat jendela kalau misal arah dapur dan aula disudah dihalang Hanz sama Pero," lanjut kataku.


"Lalu, bagaimana hasilnya?" lanjut tanya dari Pero.


"Gak ada," kataku sambil menggeleng halus memalingkan wajah. "Aku gak bisa lihat ada jejak kaki."


Beberapa orang di sana menarik napas, sedikit kecewa atau malah lega karena aku tidak menemukan apa pun. Pasalnya, dari tadi tidak ada petunjuk yang bisa mengungkap identitas pelaku.


Dari sini aku bahkan hampir menyerah pada logika. Daripada berpikir, aku ada cara paling mudah untuk menunggu dan menyerah. Lagi pula, karena kemungkinan latar ini mengambil referensi cerita yang ada, bisa saja genre dari cerita tersebut adalah supranatural. Sesuatu yang memang tidak perlu tenaga detektif agar bisa diselesaikan.


"Kaivan, apa kau masih sebodoh itu untuk tidak mengerti?"


"Huh?"


Tiba-tiba saja ada Hanz kembali bicara, dia bertanya yang disertai umpatan kasar ketika aku sudah berjalan kembali ke meja awalku.


"Ada apa, Hanz?" jawabku sedikit sinis.


"Ah ... baiklah, kau tidak mengerti. Kalau begitu, kenapa kau tidak lanjut bertanya pada sisa murid di sini?"


"Murid? Murid ada di lantai dua, kalau mereka mau keluar dari kamar, otomatis bakal ketahuan sama Pero di aula."


Lantai dua adalah ruang tertutup. Hanya satu jalan untuk bisa naik ke atas, yaitu tangga utama di aula. Tapi, aula sudah diisi oleh Pero sebagai pengurus penginapan.


"Kaivan ...," panggilnya dengan nada lembut khas bagai angin dari Hanz. "Jika kau mengambil seluruh penjelasan tiga orang tadi. Itu artinya kau mempersempit pelaku ke ranah para murid."


"..."


Ah, iya. Aku lupa. Karena terlalu fokus pada petunjuk, aku sampai mengabaikan jumlah orang yang terbatas sekarang.


Memang benar, jika aku menganggap kak Dina, Pero, dan Hanz bersih secara bersamaan, maka sisanya adalah para murid dan anak kecil bernama Ann yang aku tunjuk secara tidak langsung sebagai calon pelaku.


Apa ini? Apa artinya aku harus mengasumsikan ada orang yang berbohong di sini?


 


 

__ADS_1


__ADS_2