Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 33 - Ruangan Baru


__ADS_3

Ruangan besar penuh lampu tersebut punya pintu terusan. Selain bilik dan berbagai pintu tempat datangnya para peserta, aku juga mulai sadar kalau ternyata ada pintu yang mengarah ke tempat baru.


Ingatanku kala itu berkata juga kalau jalan di pintu adalah pilihan yang benar. Mungkin akibat dari sihir yang ditanam, aku memiliki sebuah insting dalam dunia ini. Beberapa informasi ketika aku bertanya di dalam pikiran muncul begitu saja. Ini seperti bantuan dari 'help' saat bermain game sungguhan.


Aku memang meminta orang-orang di sana untuk segera berpindah tempat untuk nanti akan kujelaskan sedikit latar belakang tentang Hanz. Tapi, sebelum keluar dari ruangan tersebut, aku sedikit membereskan mayat di sana.


Farrel di sana tidak menyukai mayat, dia masih takut dan memilih menjauh darinya. Kak Dina dan Verdian pergi karena memang keduanya masih menjaga jarak denganku. Lalu, pada akhirnya yang benar-benar mengurus hanyalah aku dan Amalia. Pero, Imarine, dan Azarin hanya melihat dan mengamati apa yang kukerjakan.


Tiga mayat di sini aku lihat secara teliti. Walaupun sedikit menyakitkan berjalan di permukaan becek berdarah, tapi aku tetap berusaha mendekati tubuh mereka. Dengan jalan yang hati-hati, aku berusaha tidak terpeleset di ceceran darah tersebut.


Setiap tubuh tersebut punya luka yang sama, yaitu di leher dan membuat pendarahan luar biasa hingga membuat mereka mati dengan cepat. Aku tidak tahu apa ini sengaja atau bukan, tapi sepertinya Hanz memang melakukan ini untuk memperkecil rasa sakitnya. Walaupun niatnya untuk membunuh, tapi dia melakukannya dengan usaha yang sama seperti menyembelih hewan ternak.


Aku di sana menutup mata mereka mayat-mayat dengan mengusap wajah satu kali ke arah bawah. Rasa bersalah sedikit terbentuk ketika melihat setiap leher mereka terputus. Seperti mereka sudah tidak layak dikuburkan secara layak.


Selain menutup mata, aku juga di sana memutuskan untuk mengubah posisi mereka. Tidak mungkin sekarang aku melakukan prosedur pengurusan mayat sampai akhir. Selain tidak ada bahan pengawetnya, aku juga adalah orang awam yang tidak berpengalaman.


Ketenanganku menghadapi mayat mungkin dilihat aneh, tapi beberapa orang seperti Imarine, Azarin, dan Pero dapat menerimanya dengan cepat. Sepertinya, aku memang digambarkan orang yang punya ketenangan luar biasa.


Namun, di sana aku lebih terkejut dengan ketenangan Amalia. Pasalnya dia membantuku mengangkat bagian kaki agar tiga mayat ini disusun sejajar lebih rapi. Dia bersama dengan mayat yang bercucuran darah dan dengan lantai yang ikut kotor masih bisa bertahan tanpa getaran sama sekali.


Gadis penyihir itu mungkin merasakan takut dan jijik secara bersamaan ketika mendekati mayat-mayat tersebut. Tapi, dibandingkan emosi tersebut, aku lebih merasakan niatnya yang kuat untuk membantu. Ini seperti dia mengorban sisi emosionalnya untuk membantu yang benar-benar perlu dilakukan. Itu cukup mengejutkan, dengan keadaan bisunya aku dapat merasakan rasa tanggung jawabnya untuk membantu orang lain.


"Pero, apa Amalia beneran gak apa-apa bantu aku kayak gini? Bukannya yang lebih bangus kalau kamu yang bantu?" tanyaku sedikit memastikan.


"Kami burung gagak memang mengubur burung gagak lain ketika mati. Tapi, itu tidak mengubah fakta kalau sebenarnya aku tidak mengerti tata cara kalian mengurus mayat," jelas Pero mencoba menolak.


"Heh, kamu jaga Amalia dari banyak tugas, tapi malah bikin dia kasih tugas berat kayak gini," ucapku sedikit mengeluh.


"Aku bisa menggunakan sedikit sihir untuk menenangkan emosi Lia. Ini terjadi juga saat kita melawan Geza sebelumnya."

__ADS_1


"Huh? Kamu bisa menggunakan sihir kayak gitu? Terus kenapa kamu bikin aku kesiksa sama emosi punya Amalia," kembali jawabku mengeluh sedikit bercanda.


"Ini hanya sisa sihir ketika pembunuhan barusan berlangsung. Sihir ini cukup rumit dan butuh persiapan panjang. Aku tidak bisa menggunakannya setiap saat di waktu yang acak persis seperti keluhanmu, Kaivan."


"Ah ... iya, kamu pasti bilang sesuatu yang kayak gitu."


Keadaan di mana ketika aku membutuhkan Pero malah mengelak dan menganggap kebutuhanku lebih kecil dari pada usaha yang dia keluarkan. Tapi, baiklah bukan berarti hal tersebut adalah kelihan.


Aku melihat Amalia, dia memang melakukan tugasnya dengan baik tanpa mengeluh sepertiku. Tapi, hal tersebutlah yang entah mengapa menjadi rasa sakit tersendiri.


"Tch," Imarine di ujung sana mulai mendecakkan lidah.


Sesaat aku mengira kalau gadis berdada besar itu ingin mengumpatiku.


Hn?


Akan tetapi, di sana dia malah membantuku. Tidak takut dengan ceceran darah, dia mulai tergerak karena melihat Amalia yang membantu. Di saat Imarine turun tangan, Azarin pun di sana ikut membantu. Pekerjaan pun jadi jauh lebih mudah, kecepatan bekerja untuk menggeser mayat berlangsung lebih cepat.


"Kaivan, kamu tahu kenapa orang yang kamu panggil Hanz itu bunuh orang-orang ini?" tanya Pero yang sepertinya sadar aku mulai menyelesaikan tugas.


"Entahlah, aku mungkin tahu Hanz belakangan ini. Tapi, aku gak tahu tiga orang yang dia bunuh," ucapku sambil melihat tiga mayat di sana.


Sesuatu yang aku tahu hanyalah pakaian mereka. Dua orang di sini memakai pakaian adat dan terlihat jelas kalau ini adalah bahan tua yang bukan imitasi. Artinya, pakaian ini memang asli berasal dari zamannya, setidaknya bukan barang yang digunakan untuk pentas seni atau semacamnya.


Dari awal aku sebenarnya tidak tahu dari mana asal mula tempat tinggal Hanz sebelum sampai di kotaku. Kemungkinan dia berasal dari tempat dengan nilai adat yang kuat masih ada. Apa pun yang terjadi, satu hal yang pasti adalah tiga orang ini memang punya hubungan dengan Hanz. Bahkan, anak kecil yang dibawanya juga terlihat jelas mempunyai ikatan khusus dengan pria tersebut.


"Mereka bertiga sudah mati."


"..."

__ADS_1


Aku yang sudah selesai berusaha untuk bangkit dan pergi dari tempat tersebut. Berusaha tidak melanjutkan percakapan dan sesuai janji akan menceritakan semuanya ketika kembali berkumpul. Namun, perhatianku teralih sesaat, Azarin di sana masih menunduk melihat mayat sambil bergumam demikian.


"Orang yang namanya Hanz itu bilang tiga orang ini sudah mati. Jadi, mereka sudah pasti palsu," lanjut Azarin menjelaskan dengan nada sedih.


"Itu cuman pendapat dia," jawabku membela.


"Kamu gak usah belain aku, Kaivan. Semua orang juga pasti berpikir kayak gitu. Aku gak minta dibela sekarang. Aku juga tahu kalau aku pernah sudah mati—"


"Cukup," potongku untuk menghentikan Azarin bicara. "Sekarang kita harus kerja sama, bukan saling bunuh," lalu lanjut sambil pergi dari tempat tersebut.


"..."


Gelombang emosi di lingkungan itu sudah memburuk ketika Hanz melakukan aksinya. Aku tidak ingin meninggalkan banyak kesan yang membuatku tersiksa lebih jauh lagi. Di sini keadaan memburuk bukan karena keberadaan kasus itu, tapi juga kekhawatiran untuk dirinya masing-masing tidak menjadi korban selanjutnya.


Di sini terang, sangat terang hingga membuat kesan kalau tempat ini terasa panas. Namun, mulut dan kulitku dipenuhi oleh perasaan dingin dari ketakutan.


Orang secara bergantian meninggalkan mayat tersebut. Aku sebagai orang utama yang mengurusi mayatnya sudah bergerak pergi, tentu orang yang tersisa lainnya pun serupa. Imarine, Azarin, Amalia, dan Pero secara bertahap juga berjalan dan mendekati pintu ke ruangan lain itu.


*Open ....


Aku membuka pintu, di sana sudah ada beberapa orang menunggu dan sedang menilai ruangan tersebut. Kak Dina awalnya terlihat sedang berpikir dan menilai, Verdian juga selayaknya menajamkan ketangkasan sedang waspada, sedangkan Farrel terlihat tidak peduli dan lebih memilih diam menunggu kedatanganku.


Ruangan selanjutnya tidak terlalu terang, isinya tidak dipenuhi lampu, melainkan lebih seperti karpet yang tebal anti suara di setiap sisinya.


*Whoush ....


Ingatan muncul lagi, aliran di mana pertanyaan tentang arti dari ruangan ini pun mulai terpecahkan. Bukan akibat dari analisis, melainkan terjawab sendirinya ketika berpikir demikian. Lagi-lagi, kekuatan sihir membuatku dapat menjawab itu semua.


Tempat ini punya enam kamar, seperti yang dikatakan sebelumnya, aku perlu memutuskan siapa yang akan menjadi partnerku nanti.

__ADS_1


 


 


__ADS_2