Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 8 - Kamu Melihat


__ADS_3

Jika dilihat secara kasar, mungkin aku bukan orang baik. Ketika melihat kak Dina bahagia, aku malah cemburu serasa ditinggal seperti itu. Padahal, aku yang tidak bahagia karena tidak punya banyak teman tidak menjadikan kak Dina punya kewajiban harus mengurusiku terus menerus. Bisa jadi apa yang kurasakan bukan sebuah kasih sayang, tapi hanya egoisme, sama halnya ketika aku dengan mudahnya menyatakan ini pada orang lain.


Suara-suara serangga meriuk kecil menemani gelap, cahaya bulan sedikit hingga beberapa awan mengkilap terlihat bentuknya, dan yang paling hebat adalah udara malam dengan aroma segar yang lebih bebas dari polusi. Jalan malam menuju supermarket terasa dingin, suasana yang pas untuk mendingin hati yang mungkin hanya panas oleh sesuatu kecil ‘tak masuk akal.


Keadaan sejuk di malam hari ditambah sejuk ketika aku masuk ke ruangan di minimarket. Kondisi suhu dan kelembapan yang terjaga oleh AC tentu juga memberikan relaksasi lebih baik lagi. Ini membuatku ingin berlama-lama belanja menikmati udara, tapi di saat yang bersamaan perasaan untuk ingin menikmati jajanan di rumah juga ada.


Setelah selamat membeli cukup persediaan aku pun berjalan pulang ke rumah.


Mungkin sedikit tidak berguna ketika aku kembali mengingatkan. Tapi, seperti biasa dan memang karena terpaksa aku selalu menggunakan jalur sepi penduduk demi mengurangi efek kekuatan deteksi gelombang emosi.


Menghindari jalan raya penuh cahaya lampu jalan, melalui jalan setapak yang diperkaya rerumputan dan pohon liar. Aku memang terbiasa dengan suasana malam yang menurutku tidak ada seramnya sama sekali. Jadi, sesuatu tentang hantu tidak membuatku seram karena indra deteksi gelombang emosiku memberikan kekuatan unik layaknya melihat dengan jelas seluruh lingkungan sekitar.


Ketakutan biasanya didasarkan oleh ketidaktahuan. Jika pada gelap tidak bisa melihat, orang cenderung berimajinasi tentang kemungkinan terburuk pada satu bencana yang bisa muncul di kegelapan tersebut. Tapi, aku yang punya indra ini sedikit diberkati layaknya mata lain.


Iya ... itulah yang awalnya kupikirkan.


Rumahku ada berada tepat di tengah perumahan, untuk keluar menuju minimarket perlu berjalan jauh. Namun, ada jalan memotong yang sekaligus sepi penduduk juga tidak ditemani lampu dan gelap hanya berbekal cahaya bulan.


Di suasana tersebut, aku melihat seseorang ... atau lebih tepatnya aku kira itu adalah seseorang.


Tidak jelas karena tidak ada cahaya langsung mengarah padanya, mataku yang diburamkan karena cahaya kerlap tidak biasa melihat gelap juga tidak dapat diandalkan sementara. Tapi, waktu demi waktu gelap ini mulai menjadi jelas, bentuk dari sesuatu yang kukira adalah seseorang dapat kulihat.


Di depanku sekitar sepuluh meter, menghalangi jalan setapak yang seharusnya bersambung ke wilayah aspal dua puluh meter lebih maju, di sana aku berhenti dan memutuskan untuk menganalisis lebih lanjut. Baju gelap hitam keabuan, beberapa robek compang-camping di sisi-sisi baju semakin tidak jelas dengan berbagai noda aneh, dari pakaian tersebut hampir tidak bisa aku melihat permukaan kulitnya.


Ketika aku bilang tidak melihat bagian kulitnya, itu berarti aku juga tidak melihat wajahnya. Gelap, hitam, dibalik kupluk jaket kotor tersembunyi dari pantulan cahaya di mana semakin gelap lagi di tempat malam tanpa lampu. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu, warna dari bajunya bisa dilihat, hanya saja di bagian wajah benar-benar gelap layaknya menyedot semua cahaya yang masuk.


Jalan yang sama sebelumnya kulalui ketika berangkat, dan aku ingat betul tidak ada sesuatu yang menghalangi, kondisi yang berbeda dengan sekarang.


Itu mungkin hanya perasaan dan ilusi mataku, ada kemungkinan untuk berpura-pura bodoh, membuatku positif dengan mengira kalau apa yang dilihat sekarang hanyalah sebuah kepalsuan. Tapi, dari semua penjelasan indra tersebut, aku sama sekali tidak merasakan gelombang emosinya. Membuat analisis ini semakin bingung jalan keluarnya.


Hmn ... di film horor biasanya karakter utama akan datang penasaran menghampiri semua hantu seseram apapun kondisi di sana. Kengerian suasana bukan penghalang, mereka hanya akan kabur ketika sosok hantu terlihat atau kondisi sudah mengancam nyawa. Tapi, menurutku itu tindakan bodoh. Dari pada datang ke sesuatu yang tidak diketahui, aku lebih memilih pergi dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Huft ... hah ....

__ADS_1


Mungkin sedikit memalukan, tapi ketakutanku sekarang karena memang tidak tahu benda apa di sana yang menghalangiku.


Tarik napas satu kali, memejamkan mata sejenak, lalu dengan perlahan berbalik badan memutar balik jalan. Memang sedikit melelahkan mengambil jalan memutar lagi, tapi itu tidak masalah sekarang.


Aku berjalan beberapa langkah meninggalkan sosok tersebut tanpa melihat kembali ke belakang. Walau hati dipenuhi rasa penasaran bercampur ketakutan, aku kembali membodohi diri sendiri untuk tenang tidak berlari.


“Kenapa kau malah pergi ....”


He?


Tapi, sesuatu yang di luar dugaanku kembali terjadi.


“Hh!?”


Jantungku terpacu, bahuku bergidik, seluruh glukosa tiba-tiba mengalir diubah menjadi energi. Aku terkejut, tapi terkejut oleh sesuatu yang hampir selama ini aku tidak pernah alami. Suara sinis di gelap malam tiba-tiba saja terdengar jelas mengalir ke telingaku, berdengung keras menggetarkan kuat seluruh sisi tengkorak, membuat bekas tajam gema yang begitu mengejutkan.


“Kau melihatku, ‘kan ...? Kaivan ....”


Aku tidak pernah terkejut oleh rangsangan fisik, sesuatu seperti gelombang emosi jauh lebih cepat terasa. Namun, sosok yang sekarang ada di belakangku tidak terasa sama sekali, ini seperti aku mendadak buta dalam arti lain. Kekuatan yang sebenarnya kubenci malah menjadi ketakutan ketika aku tidak bisa merasakannya.


Aku berontak, melakukan gerakan tolak pukul memutar untuk menyerang dan melindungi diri ke belakang, tepat mengarah ke sumber suara yang semulanya aku kira tepat di belakang.


“...”


Tapi, aku kembali dibingungkan ... dan secara bersamaan dikejutkan. Gerakan memutar ke belakang mendorong pukul sikut dan ujung tangan tersebut ternyata tidak mengenai apa-apa ... hanya udara kosong di kegelapan malam.


Tubuhku menghadap ke belakang, kebingunganku di sana terarahkan pada sosok sama yang kini ada di depan. Dia memang tidak tepat berdekatan, tapi aku paham kalau dirinya memotong jarak hingga lima meter lebih dekat.


“Woah ... hahaha ... ketakutan ... sumber dari seluruh gerakan sia-sia dan tindakan spontan tanpa berpikir. Haha ... apa itu alasanmu berontak barusan.”


“...”


Bicara .... Iya, aku yakin sosok tersebut bicara.

__ADS_1


Sampai sekarang aku tidak melihat wajahnya, masih gelap tertutupi bayang kelam tanpa siluet sedikit pun. Tapi, aku yakin mendengar suara tersebut datang darinya.


“Kau tidak perlu takut, aku datang tidak mencari masalah denganmu. Aku hanya datang layaknya rayap alates yang tertarik dengan lampu hangat.”


“...”


Aku tidak menjawab, masih diam dan melihat lebih jauh apa yang akan terjadi. Pasalnya, aku masih tidak mengerti kondisi di sini. Walau suara sosok tersebut jelas terdengar, tapi sampai sekarang kemampuan deteksi gelombang emosiku masih datar, tidak sedikit pun ada getaran dari sosok tersebut bahkan saat dia sedang bicara.


“Aku tidak suka tatapan itu, kau memandangku layaknya makhluk berbahaya. Jika kau memang punya kesopanan, setidaknya berikan satu kata untukku di sini.”


Kalimatnya semakin lama semakin melembut, nada dingin dan sinis yang awalnya kurasakan bergetar di tengkorakku kini tidak terasa. Rasa takut ini masih misterius sumbernya, dadaku yang berdetak kencang juga membuat setiap ruas tubuh terpacu keras.


Memang tidak ada alasan untuk memberikan penolakan pada orang yang baru pertama kali bertemu, terkadang penampilan orang bisa bertolak belakang dengan gelombang emosinya. Namun, kasusnya sekarang masih tidak diketahui, di saat yang sama aku juga tidak punya alasan untuk mempercayainya.


“Sebelum dimulai, kenapa kau tidak tunjukkan dirimu dengan jelas. Apa penampakanmu memang seperti itu?”


Pada akhirnya aku bicara untuk memulai komunikasi dari start awal. Pilihan tentang kabur atau mengikuti juga masih tidak jelas akibatnya. Jadi, aku bertaruh saja kalau dia mungkin bukan orang jahat.


“Ah ... kalau begitu maaf atas kelancangannya. Ini bukan karena aku ingin menyembunyikan, hanya saja sihirku sendiri yang membuatku seperti ini.”


Sihir ...?


Sosok tersebut berjalan mendekat, langkah kaki yang perlahan di suasana malam membuat gesekan tanah dan kaki terdengar jelas di telingaku. Kali ini tubuhku tidak mundur dan panik, karena sesuatu yang membuatku penasaran jauh lebih didahulukan.


Sosok yang mulanya manusia tanpa wajah tertutup kupluk gelap tanpa masuk cahaya pun lama kelamaan bisa dilihat. Orang itu selagi berjalan juga sambil membuka penutup kelapa tersebut, membuat sedikit bulan yang minim memantulkan corak wajahnya.


“Aku ... aku sekarang tidak punya nama. Tapi, aku tahu kalau kau punya sihir di tubuh itu. Ketertarikanku datang adalah karena hal tersebut.”


“...”


Dengan ekspresi khas yang ramah sekaligus tegas, aku melihat sosok pria muda dengan rambut keperakan dan mata biru. Wajahnya mungkin sedikit kotor, tapi secara keseluruhan tidak ada luka yang benar-benar mengotori garis kulitnya. Tatapan mata pria tersebut sedikit sayu, tapi mata biru terang membuatnya memiliki cahaya sendiri.


 

__ADS_1


 


__ADS_2