
Hari ini dihabiskan dengan berpikir dan berpikir. Aku terkadang berusaha mencari beberapa literatur untuk mencari semua kasus yang berkaitan dengan kasus ini. Apa benar kematian adalah sebuah kelembutan? Apa benar bunuh diri diperbolehkan demi mempersingkat rasa sakit? Apa benar kami orang sehat adalah orang jahat ketika memaksa orang berpikir positif pada mereka?
Aku tidak ingin mempercayainya, aku tidak ingin dibuat percaya dengan ideologi Geza si penyihir lobster itu. Jadi, pemikiran dan seluruh teori aku kumpulkan demi membantahnya. Alasan logis tidak bisa dibantah dengan hanya perasaan, lalu aku juga perlu melawannya dengan kekuatan yang sama.
Walaupun begitu, aku tetap ingin memastikan sesuatu.
Bel pulang telah berbunyi, waktu beralih menenggelamkan matahari membuat langit menjadi kekuningan. Di sana tentu aku tidak pulang ke rumah, rutinitas yang seperti biasa untuk pergi ke rumah Pero bersama Amalia masih berlanjut sampai sekarang.
Beberapa pesan dari Amalia seperti meminta berita diterima oleh ponselku. Tapi, untuk beberapa alasan pribadi dan alasan kemudahan, aku tidak menjawabnya. Sesuatu yang kualami mungkin terlalu mengejutkan dan bahkan membuat dia terpacu emosinya hingga ingin bertemu denganku secepatnya. Jadi, untuk membuat tenang, aku menunda berita tersebut.
Sekarang aku berdiri di depan gerbang, menunggu Amalia datang karena dia sepertinya punya jadwal yang lebih lambat. Itu tidak masalah, lagi pula aku sendiri memang biasa pulang lebih lama karena kekuatan ini.
Setelah menunggu beberapa menit Amalia pun datang, dia juga berlari kecil mengejarku ketika mata kami mulai bertemu. Di jarak cukup jauh tersebut, aku masih bisa merasakan gelombang emosinya, rasa sedih, khawatir, asam-asam manis disertai sensasi dingin, mereka membekas sedikit menggores di kulit dan lidahku.
“Amalia,” panggilku saat gadis tersebut sudah mendekat. “Sebelum ke rumah Pero, aku mau tanya sesuatu.”
“...?”
Gadis tersebut membuat ekspresi bingung, wajahnya yang sedikit lelah karena lari kecil berubah dengan cepat ingin mengolah informasi tersebut.
“Oke, maaf. Aku mungkin kecepetan. Harusnya, aku pemanasan dulu sebelum ke lari ke intinya.”
“...?”
Kembali respons bingung lainnya, Amalia yang awalnya memiringkan kepala ke kiri mengubahnya jadi miring ke kanan. Pandangannya yang polos tersebut membuatku sedikit kasihan untuk membebankan sebuah pertanyaan besar padanya nanti.
“Baiklah, sebelumnya ... apa Pero ada di sini?” tanyaku membuka percakapan.
“...”
Sekarang dia gak sama aku, Pero ada di rumah.
Jawabnya ditulis di catatan.
__ADS_1
“Apa kamu yakin kalau Pero gak lihatin kamu dari jauh kayak lagi jagain dari jarak aman biar kamu gak sadar?”
“...”
Kali ini dia sedikit diam dan berpikir sebelum menulis. Walaupun hanya sesaat dia habiskan waktu, tapi terlihat kalau dia sendiri tidak yakin seratus persen dengan apa yang di pikirannya.
Aku gak pernah tahu kalau dia pernah keluar rumah sendirian. Tapi, Pero itu masuknya sudah lemah sekarang. Dia gak bisa pergi jauh terus-terusan.
Kata Amalia yang ditulis sedikit panjang dan dengan tulisan lebih kecil di halaman catatannya.
Aku sendiri merasa tidak masalah jika Pero mendengar percakapanku. Lagi pula, dia punya pribadi untuk berpura-pura, memakai topeng, dan bersikap selayaknya individu yang memang tidak tahu banyak. Bukan masalah apapun, tapi aku sudah merasakannya.
Dia seperti melakukan banyak pengawasan padaku dan Amalia bahkan di saat di mana kami tidak menyadarinya. Terkadang dia bisa tahu banyak hal, tapi terkadang dia juga menarik tangan untuk tidak ikut campur dan membiarkan kami menyelesaikan masalah sendiri.
Dia seperti guru juga, memberi soal, membiarkan anak asuhnya kesulitan, dengan tujuan membangun karakter yang lebih hebat. Tapi, di saat yang bersamaan dia punya karakter protektif pada Amalia, di mana dia tidak menginginkan gadis tersebut masuk dalam masalah besar yang membuatnya tersiksa.
Tapi, apapun itu, jikapun Pero sedang mengawasi sekarang hingga tahu seluruh pembicaraan kami, dia akan berpura-pura tidak tahu.
“Hmn ... oke, kalau gitu lanjut saja,” ucapku mengalihkan topik. “Aku mau bilang kalau pertanyaanku ini serius, anggap apa yang aku bilang itu benar-benar kejadian. Jangan sampai kamu cuman jawab sekilas dan pikirin yang matang.”
“...”
“Waktu aku mau bunuh diri, apa yang bakal kamu lakukan?”
“...”
*****
Setiap orang punya haknya masing-masing, berbagai hukum layaknya hak asasi manusia telah mengubah cara hidup yang terkadang menjadi terlalu liberalis. Kebebasan memang adalah sebuah kenikmatan, dibandingkan hidup penuh rasa tekanan, terkadang berjalan tanpa beban jauh lebih nyaman. Tapi, tentu tidak bisa seperti itu, manusia setidaknya perlu diatur, semua peraturan kebebasan pribadi tersebut hanya akan bisa digunakan jika tidak bersinggungan dengan hak orang lain.
Tentang mengambil nyawa adalah pelanggaran atau bukan, itu bukan urusanku, itu juga bukan ada di bidangku. Sesuatu yang bisa kujawab dan dipikirkan sekarang hanyalah apa yang ada di kepalaku.
Pukul sepuluh tengah malam, aku datang ke rumah sakit yang sama seperti kemarin.
__ADS_1
Berbeda dengan kesempatan yang lalu, kali ini tidak masuk ke dalam. Awalnya aku dan Geza sendiri tidak menentukan tempat pertemuan, kukira akan sama di ruang isolasi kemarin. Tapi, begitu aku sampai di pintu aula rumah sakit, sosok Geza yang menunggu sudah siap menghalangi.
Sedikit salam aku ucapkan, anak lelaki itu juga sepertinya senang melihat tampangku. Dengan segera, anak tersebut menuntunku ke tempat lain. Dia bilang, kami butuh tempat sepi dan luas untuk bicara hal seputar sihir ini. Baik Amalia, Pero, maupun Geza, mereka semua setuju kalau sihir adalah hal tabu untuk dibicarakan.
Sambil berjalan, dia juga sedikit memberi pembuka topik. Sesuatu yang terdengar sederhana seperti cuaca hari ini, kondisi tubuhnya, dan yang paling penting adalah rencananya yang ingin meninggalkan kota sesegera mungkin.
Aku tidak membalas banyak, hanya jawaban singkat seperti ‘iya’, ‘mengerti’, dan ‘hmn ....’. Lagi pula, dia juga seperti tidak tersinggung dengan itu, malah sikapnya sekarang lebih positif karena kedatanganku sendiri sudah dia artikan sebagai jawaban ‘setuju’ atas tawarannya yang lalu.
*Step
Langkah keras akhir cukup menggema, sekarang lokasi kami sudah aman dari keramaian berdasarkan lokasi maupun waktu. Ini membuat Geza si bocah penyihir tersebut menghentikan langkahnya.
“Jadi ... Kaivan,” panggilnya sambil berbalik ke belakang. “Apa kamu datang ke sini untuk bergabung denganku? Atau kamu ikut sama munafiknya dengan orang-orang di luar sana?”
Ekspresinya berubah-ubah, dia punya dua ekspresi di satu kalimat. Ketika dia memanggil dan bertanya tentang keputusan untuk setuju dengannya, rasa gurih umami dari sedapnya makanan muncul di mulut. Namun, ketika dia menduga kalau aku akan menolaknya, rasa tersebut tiba-tiba menjadi pedas penuh kemarahan layaknya cabai di mata.
Aku bisa merasakan ... merasakan kemarahannya yang dituju pada satu hal ketika dia bicara.
“Sebelumnya, apa yang terjadi kalau aku menerima ... dan juga menolak?”
“Jika kamu menerima, itu artinya kamu tidak keberatan dengan cara yang kulakukan. Kamu bisa berbagi mana sihir yang kudapat dengan timbal balik membantuku jika ada yang menentang.”
Menentang?
Pikirku sambil menyipitkan mata.
“Apa itu artinya kamu akan pergi ke wilayah lain? Wilayah milik animus lain?”
“Iya,” jawabnya dengan tegas. “Bukankah barusan sudah kubilang?”
“...”
Jarak kami hanya berkisar sekitar tiga meter. Walaupun tubuhnya kecil, tapi sekarang aku sudah benar-benar berhenti menganggapnya anak kecil.
__ADS_1