Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 8 - Kuharap Tidak Berlangsung Terus


__ADS_3

Hn!?


Dug, dug ....


Tiba-tiba saja ada lonjakan emosi, rasa pedas dan adrenalin kurasakan di tubuh memadat.


“... HaAakhg ...!!”


Amalia berteriak, dia menerjang dengan tinjunya ke arahku. Berlari dengan kencang dengan wajah penuh kemarahan.


Hh!?


Aku melangkah mundur, mengulur waktu untuk bisa setidaknya mendapat sepersekian detik untuk membaca gerakannya.


Sip.


Aku bergerak satu langkah ke samping, membuat pukulan Amalia meleset. Ketika tubuhnya mendekat, aku memegang balik tinju tersebut. Dengan gerakan sederhana, aku membuatnya jatuh, merusak tumpuan pada kakinya, lalu menarik tinju barusan ke belakang untuk mengunci di tubuhnya.


Gbrukh.


Gadis itu pun terjatuh. Aku memeganginya seperti seorang polisi menahan kriminal. Amalia jatuh tengkurap dengan tangan kanan yang aku kunci di punggungnya.


“Hh, hah, Hkmn ....” Napas Amalia tertahan sedikit karena wajahnya yang mencium tanah. Dengan keadaan seperti ini, dia semakin lemas dan hingga perlawanannya melemah.


*Whoush ....


“...”


Kembali hilang, gelombang emosi kemarahan Amalia lenyap secara bertahap ketika dia berhenti berontak. Melihatnya, aku pun mulai melepas cengkeraman tersebut agar gadis itu bisa lepas.


“Amalia ...?” panggilku sedikit cemas.


“...”


Gadis itu tidak menjawab. Keadaannya tidak begitu baik hingga membuat gerak tubuhnya lambat. Oleh sebab itu, ketika dia berusaha bangkit, aku berjalan ke hadapannya dan menawari bantuan.


Kujulur tangan tersebut tepat di depan wajahnya yang masih menghadap tanah. Melihat hal tersebut, Amalia pun menerima dan menangkap tanganku agar bisa kutarik berdiri.


“Kamu gak apa-apa?” lanjut tanyaku.


“...”


Jawab gadis itu dengan mengangguk.


Ekspresi Amalia juga tidak terlihat baik, pandangan matanya kosong tanpa ada senyum di wajah, kulitnya yang pucat juga mulai mengeluarkan keringat dingin. Aku bisa merasakannya ... emosi negatif dan perasaan gelap yang membuat tanganku menggigil.

__ADS_1


Rasa takut ... Tentu saja hal ini tidak akan semudah yang kubayangkan.


Suasana jadi tegang untuk sementara. Tapi, Amalia berusaha menutupi hal tersebut dengan senyuman. Biarpun wajah bisa diubah, tapi emosinya tidak bisa bohong.


Dari awal hingga akhir perjalanan pulang kami, Amalia masih terus menyimpan ketakutan di dadanya. Aku ingin membantu, akan tetapi masih bingung cara untuk menenangkannya.


*****


Kekuatan Amalia menggunakan mana pecahan emosi untuk diubah menjadi kekuatan baru, seperti kemarahan untuk kemampuan bertarung. Tapi, tentu saja ada kelemahannya.


Ketika gadis itu mulai menggunakan sihir tersebut, kesadarannya perlahan hilang dan akan tergantikan oleh kepribadian baru yang sejalur dengan emosinya. Hal tersebut yang membuat kekuatan itu sulit dikendalikan, atau lebih tepatnya Amalia menghilang dari kendali tubuhnya.


Kekuatan yang tersulit dan paling berbahaya untuk digunakan adalah kemarahan. Aku sudah mencoba dan melakukan penelitian bersama Amalia beberapa kali selama kurang lebih sebulan ini. Hasilnya cukup unik, dia punya banyak kemampuan di setiap warna emosi itu sendiri.


Seperti kebahagiaan, dia bisa membuat orang tersenyum dan menggetarkan hatinya sesaat. Kemampuan yang berguna untuk membantu menghapus kesedihan.


Atau rasa malu, dia bisa punya kemampuan menghilangkan keberadaannya agar tidak diperhatikan orang lain, walaupun kekuatan itu tidak berlaku untukku yang bisa mendeteksi gelombang emosinya.


Masih banyak emosi yang belum kami temukan kekuatannya. Entah kenapa selain emosi kemarahan kami perlu mencari tahu setiap bentuk kekuatan itu sendiri. Bahkan, kepribadian baru yang merasuki Amalia juga tidak tahu detail kekuatan mereka. Berbeda dengan si pribadi marah yang langsung berontak memberi tinju ke segala orang menampilkan keahliannya begitu diaktifkan.


Dan bicara tentang pribadi marah. Aku yang memiliki kemampuan aktif otomatis ternyata tidak sendiri, bukan sebuah kebetulan lagi kalau Amalia pernah mengaktifkan pribadi kemarahannya. Gadis itu bisa tenggelam dalam emosi yang dimilikinya hingga akhirnya pribadi tersebut mengambil alih mengaktifkan kekuatannya secara sepihak.


“...”


Masih tidak diketahui emosi apa yang diwakilkan atas pribadi waktu itu. Tapi, yang jelas itu bukan emosi kemarahan biasa. Kepribadiannya waktu itu lebih tenang dan dalam. Walaupun sama-sama marah, tetapi kemarahan yang biasa cenderung brutal tanpa arah. Berbeda dengan waktu itu yang cenderung menunjukkan darah dingin psikopat.


Aku akhirnya sampai di halaman belakang rumah, berjalan dari arah tersebut dan akhirnya membuka pintu untuk masuk.


*Klack.


Suara hentakan mekanik selot pintu yang kutarik. Akibat suasana lingkungan yang sunyi, gerakan membuka pintu bisa menghasilkan bunyi keras.


Belakangan ini aku sering pulang lebih larut, itu semua karena latihan penggunaan kekuatan milik Amalia. Tapi, sepertinya tidak ada anggota keluarga ini yang mengkhawatirkanku. Malah, aku lebih aneh dengan gadis itu yang tidak pernah mendapat telepon khawatir orang tua setiap kepulangan larutnya.


“Ehehe ....” Suara tawa gadis dari dalam rumah, walaupun lebih terdengar seperti cengengesan. “Eh!? Masa, sih? Eh~ jadi, dia habis jalan sama Januar, yah.”


“...”


Itu adalah kak Dina, belakangan ini dia jadi pecandu telepon dan sering menciptakan dunia sendiri di dalam rumah. Suara tawa dan potongan obrolan yang tidak kumengerti membuat atmosfer berat untuk masuk lingkup percakapannya. Ini seperti ada tembok khusus yang membatasi obrolan kak Dina dengan orang di ujung telepon.


Gadis itu duduk di sofa, membiarkan televisi menyala tanpa ditonton dan asik sendiri dengan Handphonenya. Aku tidak berniat mematikan televisi, atau bahkan memindahkannya. Jika kulakukan dia akan marah dan menimbulkan emosi negatif. Entah kenapa belakangan ini dia sedikit berubah menjadi anak terbuka penuh pergaulan.


Itu mungkin hal positif. Namun, terkadang aku merasa sedikit kesal ketika kak Dina mulai membangkang mengabaikan tugas rumah.


“Kak, makan sekarang sama apa?”

__ADS_1


“Un, un, jadi baso di dekat toko alat pancing itu enak, yah?”


“...”


Sayangnya itu bukan jawaban. Gadis tersebut tidak bicara denganku, dia masih sibuk dengan teleponnya hingga mengabaikan aku yang ada di samping.


“Kak?” panggilku sekali lagi.


“Hah? Gimana? Kamu mau ke sana nanti? Ajak juga, donk~”


Hmn?


Kali ini responsnya sedikit berbeda. Kak Dina memberiku isyarat tangan yang kuartikan sebagai tanda 'berhenti' atau 'tunggu'. Walaupun perkataannya lugas tidak berubah dan ingin tetap fokus pada telepon, tapi dia masih berusaha berkomunikasi denganku barusan.


Baiklah, aku akan bicara padanya ketika selesai saja. Lagipula, bukan berarti aku tidak bisa mengurus diri sendiri. Memasak sesuatu yang sederhana masih bisa kulakukan.


Aku berjalan berbalik, dari ruang tamu bersofa menuju dapur dan kompornya.


“Ah ... Van,” panggil kakakku dari ruang keluarga. “Kalau mau makan ambil saja goreng saja tempe di kulkas.”


Sedikit kecewa dengan ucapannya, menu hari ini tidak tersentuh tangan terampil memasaknya. Tapi, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya dia sudah berusaha bicara denganku.


Aku menuruti perintahnya untuk menyiapkan makan sendiri. Selain karena kak Dina yang berubah sibuk dengan temannya, aku yang pulang lebih larut juga alasan semua ini bisa terjadi. Belakangan ini kami tidak makan bersama ketika makan malam. Suasana yang sepi di rumah juga bertambah sepi, rasanya tidak nyaman tinggal di rumah luas dengan sedikit penghuni.


Setelah selesai memasak dan menghabiskan jatah makan, aku juga tidak lupa membersihkan kekotoran yang dibuat. Itu membuat aku lebih tenang dan terhindar dari emosi negatif kak Dina yang terkadang kesal ketika aku menyerahkan piring kotor padanya.


Aku mulai menghampiri kakakku di ruang keluarga. Menyadari suara obrolan yang terhenti menandakan gadis itu sudah selesai dengan teleponnya.


“...”


Akan tetapi, sekarang dia masih sibuk dengan Handphonenya. Dengan menggerakkan jari, kak Dina terlihat lincah melakukan chatting.


Hah ....


Rasa malas malah menyerang, selera untuk berkomunikasi dengan kak Dina juga hilang. Aku mengurungkan niat dan pergi ke kamar lantai dua untuk mengurung diri beristirahat.


 


 


****


 


 

__ADS_1


__ADS_2