Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 2 - Mengiblati


__ADS_3

Hah ....


Sebenarnya aku juga tidak keberatan jika perjalanan ini diambil sekalian dengan acara main. Tapi, lingkungan yang bisa kunikmati untuk menghilangkan stres adalah tempat sunyi seperti gunung. Menonton film di tengah bioskop hanya menyiksaku dengan berbagai perubahan emosi penonton di dalam, makan siang di restaurant yang ramai membuat indra penciumanku terganggu hingga nafsu makan hilang, berbelanja pakaian juga ide buruk karena aku lebih sering tidak sanggup menolak tawaran sales di setiap sudut.


Tapi, sekali aku memutuskan untuk masuk ke daerah umum, itu berarti aku seharusnya siap dengan risiko yang ada.


Kami mulai masuk ke gedung. Karena tujuan kami adalah memantau, tempat yang pertama kali dikunjungi adalah restaurant cepat saji tempat kedua orang itu melakukan janji temu. Berbeda dengan aku, Amalia, dan Imarine yang berkumpul di terminal, rumah Fany dan Septian cukup bertolak belakang hingga akan lebih mudah jika melakukan awal pertemuan di mall langsung.


Ah ...


Di dalam aku merasakan berbagai gelombang emosi, ini membuatku sakit dan tidak ingin banyak bergerak. Setidaknya butuh beberapa saat agar kepalaku stabil lagi.


Menurut informasi Amalia, kencan mereka berdua dimulai jam sebelas siang. Tempat restaurant yang dipilih juga sudah ditemukan menyatu di dalam mall. Dari jauh aku mencoba melihat, di sana ternyata terdapat Septian yang sedang menunggu. Lelaki itu tidak masuk ke restaurant dan hanya berdiri tegas di luar dekat pintu.


“Amalia ... apa kamu siap? Di sini tugasku agak berat, kamu bakal ikutin mereka dari dekat dan jaga kekuatanmu terus aktif,” tanyaku pada gadis di belakang sebelum kami berjalan lebih dekat lagi ke arah Septian.


Aku sudah latihan, sebisa mungkin aku coba.


Tulis Amalia di catatannya.


Kekuatan Amalia tentang mengubah dirinya ke wujud sihir dengan pakaian berjubah putih memang bisa menghilangkan keberadaan. Tapi, itu hanya berlaku sebentar sekitar tiga puluh menit. Sesuatu yang akan dia lakukan adalah ada di tingkat atas, yaitu menggunakan pengendalian sihir mengubah emosi rasa malu menjadi kemampuan penghilangan keberadaan.


“Kalau gitu kamu boleh berangkat sekarang. Pakai telepon dan loadspeaker biar aku bisa dengar apa yang mereka omongin.”


Iya, aku ngerti, kok. Kemarin-kemarin sebelum kita berangkat juga sudah bahas ini.


Tulis Amalia ditunjuknya padaku yang setelahnya berbalik kanan segera menuju tempat Septian berdiri.


Penggunaan kekuatan menghilang itu akan gagal jika ada kontak fisik yang membuat orang tersadar. Tapi, untukku yang bisa merasakan gelombang emosi Amalia, entah kenapa mataku tetap bisa melihat gadis itu walau tidak bersentuhan. Mungkin ini seperti bug atau pengecualian untuk orang-orang yang punya sangkut pautnya dengan sihir sepertiku.


“Kaivan,” panggil Imarine di sisi. “Kalau gak salah kekuatan Amalia itu pakai emosi buat bahan bakarnya. Emosi rasa malu itu yang dipakai buat menghilang, kan?”


“Kenapa? Kamu merasa dia gagal dan bisa lihat Amalia barusan?” tanyaku memastikan.


“Enggak, kok. Sama kayak uji coba kemarin, Amalia di mataku langsung menghilang.”


Selama seminggu ini sebelum aku, Imarine, dan Amalia memulai misi ini, tentu saja aku tidak terlalu bodoh untuk mencoba kekuatan baru tanpa geladiresik. Untuk memastikan aku sudah mencoba efeknya pada Imarine tentang kekuatan Amalia.


“Terus kenapa?” tanyaku kembali.


“Bahan bakar emosi itu bisa habis?”


“Hmn ....”


Aku juga tidak memikirkannya sejauh ini. Amalia waktu itu tidak menjelaskan secara detail tentang itu. Dia juga seperti tidak merasa kewalahan dan memberi tahuku kalau dirinya punya batas waktu penggunaan. Tapi, setidaknya aku pernah bertanya dari mana emosi tersebut muncul.

__ADS_1


“Untuk kekuatan yang dia pakai kayak sekarang, itu berasal dari emosinya sendiri. Jadi, beda dengan yang dia kumpulin di botol. Tentang bisa habis atau enggak, aku juga gak tahu. Kalaupun habis, aku tinggal isi ulang,” jelasku pada Imarine.


“Isi ulang ... emangnya galon?”


“Memangnya harus gimana? Kamu punya cara lain?”


“Aku cuman tahu apa yang kamu kasih tahu, mana mungkin aku bisa kasih saran tentang sihir kayak gini? Cuman ....”


“Cuman?” ucap ulangku karena refleks.


“Cuman aku bingung, gimana cara kamu isi ulang emosinya?”


“Sebelumnya dia pernah lepas kendali jika rasa marahnya memuncak hingga kekuatannya aktif. Jadi, cara isi ulangnya mungkin hanya dengan membuat dia merasakan emosi yang serupa.”


Mungkin jika diibaratkan, penggunaan sihir Amalia seperti berbagai minuman rasa di meja yang terus diisi. Aliran dari isi masing-masing minuman itu adalah jenis-jenis emosi yang setiap darinya punya aliran yang berbeda tergantung situasi hatinya. Ketika salah satu gelas telah penuh, mau tidak mau dia harus menggunakannya agar tidak tumpah.


“Membuat marah? Memangnya kamu bisa? Kalau orang bilang buat marah, orang itu malah jadi susah marah. Emosi dan perasaan kayaknya gak bisa dimanipulasi kayak gitu, Van.”


“Tenang saja, yang dia gunakan itu emosi rasa malu. Kalau waktunya tiba, aku bisa meremas dadanya kayak waktu di bawah jalan tol kemarin,” ucapku memberikan solusi.


“Kamu serius?”


“Apa yang terjadi kalau aku serius?”


“Aku bakal pukul kamu sekarang.”


Memegang dada Amalia memang bisa membuatnya melonjakkan emosi rasa malu. Tapi, jika dia harus menanggung semua tindakan tersebut demi kegiatan dan tujuanku yang masih tidak pasti ini, kurasa hal tersebut terlalu besar bebannya untuk dia.


Amalia sudah berada dekat dengan Septian, dia menunggu beberapa saat sambil melihat tindakan lelaki tersebut.


Jam sebelas sudah lewat, orang yang ditunggu pun telah tiba. Fany datang dari arah pintu utama, dia membuat wajah sedikit khawatir karena dirinya yang datang cenderung terlambat.


Amalia ada di tengah-tengah mereka, tentu saja dengan kekuatannya dia tidak terlihat. Oleh sebab itu, tindakannya yang sedang membuka telepon loadspeaker di antara mereka juga tetap tidak disadari.


“Maaf, Ian. Aku barusan sedikit nyasar, kamu tunggu lama di sini?” tanya Fany yang kudengar lewat telepon Amalia di sana. Walaupun sedikit kasar, tapi aku tetap bisa mengerti.


“Santai, aku baru juga baru sampai, kok.” Septian berusaha mencairkan suasana dan merendahkan hatinya mengikuti sikap Fany.


Aku dan Imarine melihat mereka dari jarak yang sangat jauh. Bahkan, jika diutarakan ukuran mereka sudah seperti jari telunjuk. Ini bukan masalah, setidaknya kami hanya perlu tahu ke mana tepatnya mereka pergi.


Pembicaraan mereka tidak mungkin terdengar walau hanya gema kecil, itu sebabnya kami menggunakan cara telepon. Kekuatan Amalia sendiri berpengaruh pada apapun yang disentuh olehnya. Suara obrolanku dari ponsel miliknya tetap diabaikan dan tidak disadari oleh mereka berdua.


“Filmnya mulai jam dua belas, terus tiketnya sendiri sudah dipesan. Sambil tunggu, mungkin kamu punya tempat yang mau kamu datangin?” tanya Septian.


“Hmn ... kayaknya gak ada,” jawab Fany dengan menolak tawaran. “Lagian, bioskop letaknya agak jauh di lantai empat. Mending ke sana saja terus tunggu daripada nanti telat.”

__ADS_1


“Oh, kamu tahu tempatnya?”


“Sebelumnya aku suka nonton di sini, kamu memangnya enggak?”


“Rumahku agak jauh dari sini, jadi kalau nonton aku ke bioskop yang lebih dekat.”


“Hm, hmn ....”


Pembicaraan mereka normal, layaknya kedua orang yang akrab satu sama lain. Aku di sini juga bingung mencari bagian mana yang hilang untuk sekiranya menjadi petunjuk.


Karena pembicaraan berhenti, pada akhirnya Septian mencoba mengalirkannya untuk segera berjalan ke bioskop. Tapi, karena dia tidak tahu mall ini secara keseluruhan, terpaksa dirinya menggantungkan diri pada Fany sebagai petunjuk arah.


“Oh, iya, Fany ....” Namun, sebelum mereka berjalan lebih jauh, Septian mencoba memanggilnya. “Hari ini kamu cantik— ah, bukan, setiap hari juga kamu cantik. Cuman, aku suka baju sama dandananmu. Itu bikin kamu lebih cerah menurutku.”


“Eh?” Suara Fany cukup bergetar kewalahan dan bingung ingin merespons seperti apa. “Ehehe ... iya, makasih.”


Lalu, terdengar lanjutan kalau mereka melanjutkan perjalanan.


“Kamu tahu, Van. Pujian kayak gitu mungkin kelihatan bohongnya. Tapi, cewek kadang bodoh buat terima gitu saja sebagai pujian,” kata Imarine yang berkomentar di sampingku layaknya pengamat yang sedang menonton film.


“Aku tahu, tapi pujian yang bohong lebih baik daripada masukan yang jujur. Setidaknya kalau mau memberi masukan, pujilah terlebih dahulu agar hatinya lebih lunak.”


Ini berdasarkan pengalamanku, gelombang emosi seseorang ketika dikritik secara tegas dan langsung akan menimbulkan kesedihan atau kekesalan. Tidak jarang kalau kritik dan pendapat jujur yang bilang langsung suatu hal jelek hanya akan berujung saling dendam dan tidak berakhir untuk memperbaiki.


Jadi, lebih baik pujilah bagian yang bagus sebagai pembukaan. Setelah orang telah jatuh hati pada kita di pembicaraan, maka seluruh pemikirannya akan terbuka dengan apa yang akan diucapkan.


“Kalau gitu kenapa kamu gak pakai kayak gitu, Van? Apa kamu cuman bisa berteori?” tanya Imarine.


“Aku sudah memakainya waktu kasus Azarin dan kasusmu, apa kamu gak ingat? Cuman respons kalian waktu itu jauh banget sama Fany.”


“A-ah ... iya juga. Aku sedikit lupa.”


Heh ... itu wajar. Normalnya orang lebih melupakan sifat baik seseorang dan lebih memajang sisa keburukan di pikirannya. Mungkin waktu itu juga kondisinya sedikit rumit, bukan ke pujian tapi lebih ke bujukan untuk membuka kesempatan untukku masuk ke masalahnya.


“Dan lagian, Septian bisa kayak puji kayak gitu juga termasuk dari saranku. Sebelumnya dia beberapa kali bertanya tentang bagaimana memahami hati perempuan.”


“Ohoho ... tentu saja ... aku memang salah pasangan bicara kali ini ... si keren dan baik Kaivan.”


“Stop, jangan panggil aku kayak gitu lagi.”


“Ahaha ... tapi itu ‘kan namamu, Van,” kata Imarine yang terus memainkan nadanya.


Cih, aku benar-benar ingin menghentikan hal tersebut. Bahkan, ini sudah di tahap aku ingin mencari kekuatan untuk membersihkan ingatan seseorang. Entah kenapa rasanya begitu kesal, mungkin lain kali akan kutanyakan kekuatan pelupa itu pada Amalia.


Kenapa kondisi sekarang malah seperti Fany dan Septian mengiblatiku menjadi si keren nan baik.

__ADS_1


 


 


__ADS_2