Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 3 - Gentleman


__ADS_3

Teknik utama dari keberhasilan sebuah kencan adalah komunikasi. Tidak peduli seberapa bagus dirimu berdandan, tidak peduli seberapa hebat kegiatan yang dilakukan, tanpa komunikasi antara kedua pasangan, semuanya akan berakhir buruk. Sebaliknya, walaupun penampilan pasangan tidak terlalu diperhatikan, acara yang diadakan sederhana berbiaya murah, tapi kalau setiap pasangan punya kualitas komunikasi yang baik, kencan tersebut akan berkesan baik.


Aku dan Imarine mulai berjalan sedikit demi sedikit agar tidak kehilangan jejak. Di sana aku masih bisa melihat Amalia mengikuti dan sigap merekam pembicaraan mereka.


“Fany, belakangan ini ada cerita seru gak?”


“Hmn ... gak tahu ..., gak ada kayaknya,” jawab Fany yang beberapa kali memiringkan kepala melihat ke arah samping membuat gesture mengingat.


“Gak apa-apa, cerita saja kalau ada. Cerita pagi misal kalau waktu masak telur kamu malah jatuh ke lantai, cerita waktu kamu pakai sepatu kaos kakinya hilang sebelah, atau waktu mandi kamu lupa bawa handuk.”


“Ehehe ...,” tawa Fany yang mungkin terhibur dengan ucapan tersebut. “Ceritaku gak ada yang seru sebenarnya, kehidupanku biasa saja. Gara-gara terlalu serius, kejadian kecil kayak gitu juga jarang buatku.”


Ini memang hal kecil. Tapi, jika harus dibandingkan, lelaki yang ingin mendengar cerita perempuan jauh lebih disukai dibanding lelaki yang terus bicara ceritanya sendiri yang bahkan cenderung ke arah sombong.


Laki-laki mungkin berpikir dengan menceritakan dirinya sendiri bisa membuatnya hebat di mata perempuan, seperti memperlihatkan bagaimana dirinya berharga di mata masyarakat. Tapi, itu semua tidak terlalu dipedulikan, justru malah berefek menyebalkan. Jika ingin membanggakan diri atas pencapaian, lakukanlah pada waktu yang tepat dan di topik yang berkesinambungan.


“Ivan, aku juga merasa aneh. Septian tiba-tiba berubah jadi lebih hebat bicara,” tanya Imarine di samping.


“Itu juga aku yang ajari.”


“He? Kamu lagi?”


“Sejak mereka jadian, Septian jadi sering tanya macam-macam. Dari mulai cara bicara, memahami perasaan perempuan, dan bagaimana agar kencannya sukses.”


“Walaupun dia tanya kamu, tapi agak aneh lihat Septian jadi serius belajar sesuatu,” ucap Imarine masih tidak terima.


Septian lelaki yang memang pada masanya masih sedikit liar tidak ingin diatur dan masih tidak peduli masa depan. Pikirannya masih pendek dengan hanya ingin melihat kebahagiaan yang ada di depannya sekarang.


“Iya, anggap saja cinta mengubah semuanya,” ucapku pada Imarine.


Sebenarnya, kebanyakan lelaki tidak peduli dengan dirinya sendiri dalam tanda kutip. Tidak jarang kalau ada laki-laki yang punya pandangan lurus sampai-sampai bisa mengabaikan semua orang di sekitarnya. Dirinya tidak mempermasalahkan kehidupan mewah dan lebih berpikir sederhana yang penting hidupnya santai.


Namun, semua itu berubah ketika laki-laki mengenal perempuan.


Keinginan ingin melindungi, keinginan untuk membahagiakan, keinginan agar orang tersebut dapat tersenyum di sampingnya. Septian terbangun dengan tekad tersebut, seluruh gelombang emosinya dapat kurasakan dengan jelas, rasa simpati bau obat povidone iodine terhadap kecemasannya.


“Hmn ...,” dengung Imarine mendengar ucapanku yang sebenarnya terasa menggelikan. “Dari tadi kamu ngomong kayak yang master banget. Kenapa kamu gak praktekin sendiri?”


“Semua yang aku lakukan cuman untuk orang tidak membenciku, bukan untuk semua orang menyukaiku,” kataku berdalih dari tuduhan Imarine. “Lagian, Ima. Daripada kamu nyalahin aku sebagai cowok, mending kamu bercermin dulu. Apa yang kamu lakukan juga sedikit keluar jalur dari cewek baik.”


“Ha?”


Kami berdua masih mengikuti Fany dan Septian di belakang. Ketika Imarine mengungkapkan nada tanyanya barusan, aku tidak membalas dan cenderung mendiamkannya sesaat. Itu menyebabkan suara dari ujung telepon kembali terdengar jelas.


“Oh ... kamu hebat ternyata bisa bedain mereka semua,” tanya Septian.


“Ehehe ... awalnya aku juga susah, sih. Tapi, kalau sudah sering lihat nanti juga bisa bedain,” ucap Fany menjelaskan. “Kamu sendiri gak apa-apa aku ngomongin kayak gini? Bukannya kebanyakan cowok gak suka sama perempuan yang suka Korea?”


“Hmn ... aku bakal bohong kalau bilang gak cemburu barusan. Cuman, untuk sekarang aku lebih mau buat kenal kamu lebih jauh.”


“Ehehe ... makasih. Tapi, mereka cuman artis, kok. Cuman sebatas hiburan.”


Pembicaraan mereka sepertinya mengarah pada hobi Fany yang menikmati budaya Korea. Awal-awal dari percakapannya tertutup oleh pembicaraanku dengan Imarine hingga tidak terdengar. Akibatnya, yang sampai pada kami hanya bagian akhirnya saja.


Tapi, itu tidak penting.


“Kamu ngerti ‘kan, Ima?” tanyaku memastikan.


“Apanya?”

__ADS_1


“Sikap Fany pada Septian sekarang? Setidaknya aku bisa jamin kalau Septian gak akan berhenti suka sama Fany kalau dia terus seperti itu.”


“Aku gak ngerti, padahal dia cuman ngomong biasa.”


“Kamu bisa dengar, ‘kan? Berapa kali Fany ketawa temenin omongan Septian?”


“Itu sih cuman bawa suasana saja. Mungkin dia juga bingung mau balas apa dan akhirnya tutupin dulu pakai ketawanya.”


“Biarpun begitu, gak membantah fakta kalau Fany itu murah senyum. Salah satu penyebab cewek jadi idaman itu karena senyumnya,” ucapku menjelaskan. “Tapi, kamu sebaliknya, Ima. Dari awal kamu jarang banget senyum, setiap ocehan bodohku malah dibalas sama pukulan. Jadi, aku—“


*Whoush ....


Gelombang emosi.


Buk.


Pukulan Imarine melesat ke wajah.


*Grip


Namun, karena kekuatan dan refleksku, kembali pukulan itu bisa ditahan. Gelombang emosi kemarahan karena tersinggung oleh perkataanku barusan.


“Lihat, baru saja dibilangin,” ucapku yang masih menahan tangan Imarine.


Tatapan gadis itu cukup tajam melihatku, terdapat sedikit ancaman tapi tidak terlalu berbahaya. Dari kekuatan pukulan ..., dia juga tidak terlalu serius dengan menahan sebagian tenaganya.


“Aku pukul kamu waktu kamu memang pantas dipukul, Van. Apa kamu gak sadar sama kelakuanmu yang agak nyebelin?”


“Aku cuman bilang apa yang aku pikirkan,” ucapku berdalih.


“Hah ... iya, iya ... aku tahu,” jawab Imarine yang sudah malas melanjutkan percakapan. “Jangan salahin aku kalau aku gak sefeminin Fany ..., karena kamu juga gak se-gentleman teorimu barusan.”


Perempuan sendiri memang tidak jarang membenci orang yang tidak punya kelembutan hati untuk menjaga lisan mengungkap keburukan. Hanya saja, Imarine sudah ada di pihakku yang sebenarnya tidak terlalu marah ketika aku melakukan hal tersebut. Seluruh gelombang emosinya tidak benar-benar melukai busuk dilidah. Hanya sedikit tergidik yang sebenarnya itu tidak sakit dan cenderung bisa dinikmati.


Percakapan mereka berdua sepanjang perjalanan berjalan cukup baik. Memang sedikit agak canggung karena insting menahan diri di depan orang spesial, akan tetapi hal tersebut tetap bisa ditutupi oleh Septian yang membimbing topik komunikasi.


Waktu berjalan cukup lambat, itu karena aku sendiri mengalami banyak pengalaman baru di sini. Dari rasa sakit dan pengap gelombang emosi macam-macam orang, sampai tentunya perasaan bersalah melihat pasangan di dari orang yang kukenal malah kubuntuti seperti ini.


Pada akhirnya mereka pun sampai di bioskop. Kota tempat tinggal ini memang cukup ramai, oleh sebab itu keberadaan mall juga cukup bermacam-macam di sudut kota. Di tempat yang mereka masuki sekarang adalah bagian dari mall yang kecil dan tidak terlalu ramai. Jadi, keadaan hari ini juga cukup normal untuk kategori tempat umum.


“Ivan, kamu mau masuk ke dalam atau gimana?” tanya Imarine yang masih tertahan di jalur jauh melihat Septian dan Fany di kejauhan.


“Bukannya aku sudah bilang dari awal? Aku gak bakal masuk ke tempat yang terlalu banyak orang. Terutama di bioskop yang gelombang emosinya kuat berganti-ganti.”


Film punya berbagai emosi di dalamnya, tentu setiap orang memiliki sifat yang berbeda menanggapinya. Ketika semua emosi tersebut tercampur aduk dan berganti-ganti, akan timbul gelombang emosi yang tidak enak rasanya.


Sebenarnya suasana tersebut tidak berbeda jauh dengan di kelas. Tapi, di kelas aku bisa menikmati ketenangan suasana pembelajaran, berbeda dengan adrenalin keras menonton film. Jadi, aku akan tidak suka jika kelas terlalu gaduh dan ramai. Jika aku ditanya guru apa yang kusukai, aku suka guru paling membosankan yang membentuk atmosfer ideal bagiku.


“Ka-kalau gitu, kamu ... kamu mau gimana sudah ini? Apa gak apa-apa Amalia ditinggal di sana sendiri?”


Sikap Imarine tiba-tiba berubah, ketegangan dan kegugupan timbul dari badannya. Walaupun tidak begitu pekat, tapi keberadaannya tetap bisa dirasakan oleh lidahku.


“Hmn ... aku sebenarnya mau coba ke game center sebentar. Tapi, kalau misal suasananya terlalu ramai, aku bakal cari tempat sepi buat habisin waktu,” ucapku mencari jawaban karena tidak berpikir sejauh itu sebelumnya.


Namun, untuk memastikan ....


“Woi, Amalia ... kamu dengar?” ucapku pada telepon yang masih terus terhubung. “Gak apa-apa ‘kan kamu masuk ke sana sendiri? Ah, sebenarnya kamu gak sendiri, tempat duduk yang kupesan online itu sudah disetting sebelehan sama mereka berdua. Jadi, kamu cuman masuk dan perhatiin mereka terus.”


Bertanya kembali tentang perasaan Amalia yang mengemban tugas tersebut. Ada sedikit penolakan tentang menyuruh dia datang mengemban tugas tersebut sendiri. Tapi, jika dipikir lebih lanjut, memang seharusnya semua hal tentang pengumpulan emosi adalah tugasnya. Jadi, penolakan barusan aku tolak lagi dengan logika di kepalaku.

__ADS_1


Duut, duut ....


Getar ponselku menerima pesan. Jenis Smartphone sekarang sudah cukup canggih untuk melakukan panggilan dan tukar pesan secara bersamaan. Jadi, gadis itu sebenarnya tidak perlu kesulitan untuk berkomunikasi lewat panggilan telepon.


Amalia : Aku sebenarnya gak suka duduk deket mereka kalau kayak gitu sambil pakai kekuatan yang bikin aku gak dianggap, percuma saja nonton bareng kalau gitu. Tapi, aku bisa ke sana sendiri, kok.


Septian hampir memberitahu detail-detail tentang rencana kencannya hari ini, termasuk dengan kursi yang akan dipesannya nanti. Jadi, aku juga tahu di mana dia duduk, itu sebabnya dengan mudah aksi ini dilakukan.


“Amalia beneran bakal ke sana sendiri. Jadi, kamu mau gimana sekarang? Tunggu di cafe sendiri?”


“Iya, mungkin bakal kayak gitu,” jawabku pada Imarine.


“Kenapa kamu gak co-coba jalan-jalan dulu? Waktunya juga dua jam, ‘kan?”


Hmn?


Gelombang emosi Imarine sedikit unik. Rasa kebahagiaan dan dicampur sedikit ketegangan akan sesuatu. Dia seperti membayangkan sesuatu yang menyenangkan, tapi belum sempat jatuh ke tangannya.


“Kalau kamu mau jalan-jalan, kenapa gak sendiri saja? Aku bakal tunggu di cafe sendiri nanti.”


“Bukan itu bodoh,” jawabnya dengan cepat, tapi tidak terlalu menyentak. “Kalau aku jalan-jalan sendiri, sama saja bohong.”


“Huh?”


“Kamu ingat, ‘kan? Aku memang suka sendiri, tapi aku gak suka kalau orang lain menganggapku kesepian. Pandangan orang yang liat aku jalan-jalan ke mall itu bikin aku berpikir kalau mereka gambarin aku kayak gitu.”


“Itu terlalu berlebihan, perasaan itu cuman ilusi. Gak ada yang peduli sama orang sekitar kecuali pengangguran stres yang— Hh!?” Napasku tersendat ketika di tengah pembicaraan dengan Imarine.


“Hmn? Kamu kenapa, Ivan?”


“...”


Arah mataku menuju ke pintu bioskop. Tapi, di ujung penglihatan bukan Septian dan Fany, mereka sudah lama masuk ke dalam. Kali ini penglihatan itu menujukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang di mana hanya aku saja yang bisa terkejut.


“Ima, bisa kamu tunggu di sini? Ah, kamu juga sebenarnya boleh tunggu di cafe atau terserah kamu mau ke mana.”


“Tunggu, memangnya kamu mau apa?”


“Maaf, kayaknya aku bakal masuk bioskop sekarang.”


“He? Masuk? Kenapa—“


“Jelasinnya nanti, pokoknya aku masuk sekarang, ” ucapku setengah berlari menuju pintu bioskop.


“Tunggu, Ivan—“ Imarine yang tidak terima sepertinya mencoba mengikutiku. Tapi ....


“Ima, kamu gak usah ikut, tunggu saja di luar.”


“...”


Bersamaan dengan ucapan itu, jalan cepat Imarine pun terhenti. Dia yang tertinggal start-ku barusan pun semakin tertinggal jauh.


Maaf, Ima. Tapi, ini bukan urusanmu, di luar sihir Amalia hal tersebut hanyalah keegoisan pribadiku.


“...”


Kak Dina ..., aku melihat kakakku bersama dengan pria lain berjalan masuk ke bioskop itu.


Menonton film bersama mungkin bisa dikategorikan sebagai teman, tapi tidak untuk saling berpegangan mengunci tangan berjalan bersama. Sudah dipastikan lelaki tersebut adalah kekasihnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2