
“Enggak, kalau kamu gak punya, besok aku bakal tanya saja sendiri.”
“Oh ... begitu.”
Alasanku bertanya melalui Imarine sekarang adalah sebagai peluang sumber informasi tercepat. Tidak ada gunanya jika aku mendapatkan informasi tersebut lewat dia pada esok hari.
“Iya, memang begitu. Tadinya aku mau bikin janji buat ketemu besok di sekolah.”
“Masih soal cewek yang dia tembak?”
“Masih ....”
“...”
Suaranya terhenti tidak bicara lebih jauh. Aku tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya sekarang, tentunya kekuatanku tidak bisa aktif via telepon. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menebaknya. Setomboi apapun Imarine, dia tetap seorang perempuan.
“Ima ..., apa kamu masih telanjang sekarang?”
“He!? Huh? Siapa yang telanjang!?”
“Maksudku ... aku gak dengar suara kamu lagi pakai baju.”
Entah rekaman suara yang tidak sensitif atau bukan, tapi aku tidak mendengar gesekan suara dari kesibukannya. Ini seperti dia duduk diam fokus pada telepon.
“Karena aku memang lagi gak pakai baju.”
“Kalau gitu kamu memang telanjang.”
“Maksudnya aku lagi berhenti pakai baju waktu ada telepon, kalau sekarang aku masih pakai handuk—”
Hn?
Ucapannya terhenti ketika hendak membuat kalimat tersebut.
“Ivan ... besok aku bakal ikut Septian ... biar bisa ketemu pukul kamu nanti.”
“Silahkan saja, aku bakal ajak Septian ke WC cowok.”
“WC cowok? Kamu pikir kamu bisa lari? Gak masalah, kok. Aku masih bisa tunggu kamu dari luar ... dan kalian memangnya mau ngapain di WC berdua.”
“Kalau kamu penasaran, kamu boleh ikut.”
“Maaf, aku gak mau jadi orang mesum kayak kamu.”
“...”
“...”
Lama-kelamaan percakapan kami kehilangan gairah dan menjadi sepi. Aku juga tidak bisa terus berinisiatif mengembangkan percakapan, suatu saat pasti akan ada waktunya di mana aku kehabisan kata-kata.
“Oke, makasih Imarine, dan maaf ganggu waktu kamu. Memang benar kalau aku telepon buat tanya nomor Septian, tapi sebagiannya juga aku mau dengar suara kamu.”
“He!? I-Ivan!?”
Tut.
Suara telepon yang segera kututup untuk tidak melanjutkan percakapan lebih dalam.
__ADS_1
*Whoush ....
Hn? Pahit?
Aku menoleh ke samping dan ke belakang untuk mencari sumber emosi yang kurasakan.
Ah.
Dan dengan segera orang itu ditemukan. Dia ibu-ibu dari penjaga warung yang mendengar percakapanku di telepon. Sepertinya dia jijik padaku yang melakukan percakapan gurauan mesum, seperti ‘dasar, anak-anak jaman sekarang ... sudah pada rusak’.
“...”
Pandangan kami bertemu, ekspresi ibu tersebut sedikit sinis.
“Ehehe ....”
Tapi, aku mencoba tenang dan membalas ramah, mengangguk sekali dengan wajah masam memaksakan senyum padanya.
“...”
Sial, lain kali aku perlu berhati-hati.
******
Aku kembali ke trotoar pinggir dengan kursi yang ada di dekat gerbang sekolah, tempat di mana Amalia dan Fany duduk bersama.
“...”
Namun, Aku tidak melihat Fany di sana. Amalia duduk menunggu sendiri di kursi, diam melihat ke depan dengan tangan di atas paha. Posisinya mantap layaknya posisi sigap duduk seorang anak maba.
“...!?”
Gadis itu menyadari dan melihat aku yang kembali dari warung. Pandangannya mengarah padaku, walaupun setelah itu dia kembali menghadap lurus wajahnya.
Aku berjalan dan menghampirinya, berdiri di samping tempat duduk untuk bicara. Tentu saja hal yang pertama kutanya adalah ....
“Di mana Fany?”
Amalia menoleh ke arahku. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedih, kecewa, atau apapun yang melambangkan kegagalan. Semua itu sejalur dengan gelombang emosinya, tidak ada perasaan negatif apapun.
Gadis itu mulai meraih catatan di saku, menulis dan menunjukkannya padaku.
Fany sudah pulang duluan.
Begitu, yah. Tapi, bukan itu saja yang ingin kutahu.
“Kenapa kamu biarin dia pulang sendiri?”
Itu kemauan dia ... katanya dia gak mau diantar, terus Fany juga kasihan kalau misalnya kamu ditinggal sendiri.
“...”
Yah, aku mengerti. Meninggalkanku sendiri akan terkesan tidak sopan. Fany sebagai manusia sosial juga mengerti itu. Aku yang tidak tahu kondisi terbarunya tidak bisa menilai secara jeli. Jadi, aku juga masih perlu informasi lengkap tentang gadis itu.
“Kalau begitu, apa kalian ngomong sesuatu waktu aku gak ada?”
Karena hal tersebut sangat penting sebagai petunjuk untuk mengetahui kemajuan apa yang terjadi.
__ADS_1
“...”
Amalia menulis sebuah tulisan lain. Kali ini dia tidak mendekatkannya ke wajahku, melainkan meletakkan catatan itu sejajar dada sambil membuat senyum.
Maaf, itu rahasia ....
“...”
Hah ....
Biasanya rahasia yang dipegang gadis tidak akan bertahan lama. Janji rahasia untuk tidak memberitahukan sebuah berita hanyalah basa-basi. Umumnya mereka akan dengan mudah menyebar luaskan.
Namun, Amalia sepertinya bukan tipe penggosip seperti itu.
Oke, kesampingkan tentang masalah tersebut sebentar. Aku masih punya sedikit pertanyaan tentang tindakan dia hari ini.
“Amalia ...,” panggilku. “Waktu kita ketemu Septian di gerbang, kenapa waktu itu kamu lari?”
“...”
Amalia masih melihat ke depan, tapi aku bisa melihat getaran bahunya yang memberi tahu kalau dia mendengar.
“...”
Kemudian, gadis tersebut mengarahkan wajahnya ke arahku dengan senyum konyol layaknya mengatakan ‘maaf, yah’.
Gadis itu sedikit terkejut dengan pertanyaanku barusan, reaksinya menunjukkan kalau memang ada sesuatu dibaliknya.
Sebenarnya aku tidak marah, tapi bukan berarti aku baik-baik saja dengan itu. Bertanya karena ingin tahu berbeda dengan bertanya demi memojokkan, dari pandanganku, kejadian tersebut sedikit janggal.
“Waktu itu ... kenapa kamu gak bawa Fany? Kenapa kamu tinggalin dia?”
Jika Amalia pergi menjauh untuk menghindari bahaya, normalnya dia akan membawa Fany juga. Tapi, dia hanya kabur sendiri dan mengawasiku dari jauh. Lalu ....
“Kenapa juga waktu itu Fany gak sadar?”
Layaknya tidak ada yang aneh, gadis itu mendekat ke arahku untuk bersembunyi. Wajarnya di sana dia mengejar Amalia dan ikut menjauh. Jadi, sesuatu yang ingin kutanyakan adalah hal dasar.
“Apa kamu menggunakan kekuatanmu?”
“...”
Gadis itu masih diam, atau lebih tepatnya aku tidak memberikan waktu untuknya menulis pesan. Di kalimat terakhir, aku terus menunggu sampai dia mau menjawab dengan menulis catatan, walaupun kala itu ekspresi yang dikeluarkannya terlihat kurang menyenangkan.
Iya, aku menggunakannya. Waktu itu aku cuman pakai kekuatan buat menghilangkan hawa keberadaan. Tapi, entah sejak kapan aku mulai takut karena kalian berantem, itu bikin aku gak bisa kendaliin lagi.
Hmn ....
Kemampuan menyembunyikan hawa keberadaan adalah bentuk dari emosi rasa malu. Itu membuat orang akan mengabaikannya seakan Amalia tidak terlihat. Tapi, efeknya akan hilang ketika bersentuhan. Saat itu dia bersentuhan dengan Fany, itulah alasannya Fany bisa melihat Amalia sedangkan Septian cenderung mengabaikannya.
Kami sudah mencoba kekuatan itu beberapa kali. Aku dan Amalia sudah sepakat tentang keamanannya. Itu adalah kemampuan yang bisa dipakai olehnya tanpa perlu penjagaan dariku. Namun, kejadian barusan malah membuat anomali dan menimbulkan kesan tidak aman lagi.
Huft ... hah ....
__ADS_1