Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 33 - Shade . 1


__ADS_3

Tulang di jari jemariku patah, bahkan mungkin remuk. Di tangan kanan sangat parah karena aku menggunakan paksa tangan tersebut berkali-kali jauh melebihi batas. Di saat selanjutnya, tulang hasta dan pengumpil juga mengalami kerusakan—terutama di bagian kanan. Geza menginjakku dengan paksa di mana kekuatannya setara dengan makhluk yang bisa membelah batu aspal dan tembok beton.


Daging di lengan kiri hampir habis tercincang, serat-serat otot dan berbagai pembuluh darah sudah terputus. Aku yakin itu karena aku kala itu sudah hampir tidak bisa merasakan tangan kiriku. Tikaman dalam menembus usus, mencipratkan darah dan robekan organ dalam.


Aku tidak yakin bisa selamat dengan semua luka tersebut. Walaupun dengan tindakan luar biasa dan waktu yang cepat karena penanganan tubuhku yang dekat dengan rumah sakit, tapi kerusakan yang aku derita tidak wajar sembuh begitu saja. Aku bahkan tidak kaget jika saat bangun tangan kananku sudah diamputasi karena terlalu remuk untuk bisa diselamatkan.


Iya ... ketika hal tersebut aku utarakan pada Pero, dia juga dengan santai menjawab hal yang sudah terduga.


"Semua karena sihir."


"..."


Memang bukan sihir penyembuhan, Pero sendiri sudah jelas mengatakan untuk tidak sanggup menggunakannya. Apa yang dia lakukan sama seperti sebelumnya, telekinesis sederhana agar tulang belulangku tidak berserakan dan menekan cipratan darah agar tidak kehabisan. Tindakan pendukung di mana hal tersebut sangat membantu kinerja medis.


Dibanding melakukan sihir agar menjaga tubuhku tetap hidup, Pero kala itu lebih kesulitan untuk menjelaskan pada orang tentang penyebab luka pada rumah sakit. Sistem rumah sakit dan keluargaku cukup memojokkan, tentu saja orang-orang akan khawatir melihat keadaanku yang kacau hampir mati.


Waktu sekarang cukup terbatas. Dari pada Pero menjelaskan seluruh cerita yang telah terucap atas dasar menutupi dan kebohongan, dia lebih menyarankanku untuk terampil mengikuti pembicaraan orang nantinya. Pada dasarnya, mereka semua akan bertanya padaku, detail dan sudut pandangku langsung tentang bagaimana perasaanku baik sekarang maupun saat luka didapat. Aku sebagai korban kecelakaan sudah tertanam sebagai informasi resmi rumah sakit.


Aku sendiri cukup profesional terhadap memahami perasaan. Tanpa perlu menjadi korban kecelakaan, aku sudah mengerti perasaan mereka. Jadi, Pero memasukkanku pada daftar administrasi sebagai korban kecelakaan jalan adalah suatu kemudahan.


Percakapan kami pun di sana sepertinya harus berakhir. Dari suara langkah, aku dan Pero bisa tahu kalau ada tamu yang datang ke kamar ini. Informasi-informasi penting mungkin sudah kudapat, jadi sisanya hanya kemampuanku untuk improvisasi.


Pero membuka jendela di samping kasurku, dia mengubah wujudnya menjadi gagak dan berancang-ancang untuk terbang keluar. Walaupun aku cukup aneh, tapi untungnya siluman gagak itu bisa mengatasi dengan mudah.


Di perwujudan perubahannya, tertinggal baju kasual wanita dewasa di depan jendela bersama satu ekor gagak kecil. Pakaian itu bukan bagian dari tubuhnya, dan tentu akan bersisa saat berganti wujud. Sebelum aku sempat panik dan marah, Pero ternyata menggunakan telekinesis untuk membawa semua barang tersebut. Gagak yang terbang membawa pakaian memang aneh, tapi dari awal aku juga sudah berhadapan dengan gagak yang bisa berubah menjadi manusia.


Pero berjanji akan mengunjungiku lagi sewaktu-waktu, dan tentu jika memungkinkan Amalia juga akan datang. Untuk saat ini situasi masih terlalu gaduh oleh tenaga medis dan keluargaku. Percakapan tentang sihir tentu masih harus dalam tertutup privasi.


****


Kembali ke dua hari yang lalu ketika Geza telah lari pertempuran menghilangkan jejak. Di jam tersebut aku dibawa keluar dari alam animus untuk segera diserahkan pada rumah sakit. Jadi, ini sesuatu yang tidak diketahui olehku maupun oleh Pero.


Langit masih gelap, penyihir lobster itu masih berlari kencang walau dengan bercak darah luka berat di tubuhnya. Jika ada orang yang melihatnya, orang tersebut bisa merasakan rasa ngilu kesakitannya, melihat Geza yang berlari meninggalkan jejak darah di jalur jalannya.

__ADS_1


Hal pertama yang dia cari saat itu tentu adalah partner animus lobsternya. Entah dengan cara seperti apa, dia sangat tahu persis di mana keberadaan siluman lobster yang sebelumnya Amalia taruh di selokan berair.


Geza dengan penuh luka pun memungut lobster tersebut, dia yang sadar kalau posisinya masih di sekitar rumah sakit pun kembali melanjutkan berlari. Jauh, jauh ke tempat yang mungkin tidak akan ada orang lewat di dalamnya. Jauh, jauh ke daerah lembah di mana tidak ada sinar pencahayaan masuk ke area tersebut.


"Hahgh ... hakh ... gluk, ah ...."


Langkah kakinya melambat, bahkan sekarang bisa disebut lebih lambat dari berjalan. Kakinya digusur sedikit demi sedikit, dengan lobster dibawa di saku jaketnya, dia masih berusaha mencari tempat aman.


Tuan, sepertinya tempat ini sudah cukup aman. Jika tuan terus memaksa, luka tuan akan semakin parah dan sulit disembuhkan.


Terdengar ucapan tersebut oleh Geza sebuah telepati dari siluman lobster partner penyihirnya.


"Yang terluka bukan cuman aku, kamu juga hampir lenyap karena kehabisan sihir—Uhuk," sedak batuk darah yang memotong kalimatnya. "Hah ... hh ..., setidaknya aku harus bisa cari air laut agar kamu bisa istirahat lebih tenang."


Tidak juga ... setelah aku lama meninggalkan laut, tubuhku sudah terbiasa dengan udara darat dan air tawar. Aku sudah tidak terlalu bergantung dengan tempat itu sekarang. Lebih baik tuan mengistirahatkan diri agar regenerasi molting lebih cepat.


"..."


Mendengar kalimat tersebut, Geza pun mulai mengambil tempat duduk di salah satu pohon di tengah rerimbunan. Luka-luka yang parah membuatnya menderita dan perlu beristirahat. Jadi, ketika dia mendapatkannya, suara bernapas lega pun keluar, dia mengendurkan kekuatan sambil menselonjorkan kakinya ke depan merilekskan otot agar pendarahannya tidak semakin parah.


Molting sendiri sebenarnya bisa dilakukan sekarang, tuan bisa mendapatkan cangkang lebih keras dari sebelumnya. Tapi, jika untuk regenerasi organ dalam secara total, sepertinya butuh satu atau dua minggu.


"Cukup lama."


Sebenarnya itu sudah termasuk cepat jika dibanding manusia biasa. Lagi pula, bukan hanya regenerasi saja yang jadi manfaat. Dengan molting dan pengalaman bertarung baru, tuan akan terus bertambah kuat secara signifikan.


"Haha, benar juga ... dengan cangkang yang lebih kuat, pisau gadis penyihir itu mungkin tidak akan menembus tubuhku lagi nanti."


Lobster yang sebelumnya ada di saku jaket Geza mulai berjalan sendiri keluar, dia merangkak dengan pelan dan menjauh dari tubuh anak tersebut.


*Posh


Setelah terbentuk sedikit jarak, asap kecil muncul di sekitar tubuhnya. Dari kebul gas-gas pekat putih tersebut, muncul tubuh pria dewasa yang memang sebelumnya berpakaian selayaknya pelayan. Animus lobster barusan telah berubah ke bentuk manusia lagi sekarang.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Tuan," ucap merendah si animus tersebut. "Seharusnya sihir membentuk cangkang yang sebelumnya juga masih cukup untuk menangkal serangan penyihir gadis itu. Tapi ...."


"Haha, iya, kamu sudah kehilangan sihir melawan penyihir perempuan itu. Itu alasannya kenapa dia bisa melukaiku langsung."


"..."


Respons Gosta menganggung pelan dengan perasaan bersalah.


Normalnya pisau milik Amalia juga tidak bisa melukai Geza secara langsung, tekstur dari senjatanya mirip dengan senjataku. Jadi, ketika Amalia berhasil menikam dan menembus tubuh Geza tanpa masalah, itu berarti kulit kerasnya termasuk dalam sihir yang dianugerahi dari animus-nya.


"Seharusnya aku tidak membiarkan penyihir perempuan itu melawanmu sendirian. Kemungkinan untuk menang dua lawan dua masih lebih tinggi dibanding pertarungan satu lawan satu barusan," jelas Geza yang menganalisis kekalahannya.


"Maaf, Tuan."


"Enggak, itu juga kesalahanku. Setidaknya sekarang aku tahu kalau tindakan waktu itu terlalu sembrono dan meremehkan kekuatan penyihir."


"Penyihir perempuan itu juga seharusnya punya animus, Tuan. Jika kita melemahkan dia lebih dulu, baik si perempuan maupun laki-laki bernama Kaivan, mereka berdua tidak akan berdaya."


"Itu mungkin memang benar, tapi tidak akan aku lakukan."


"Kenapa, Tuan?"


"Jika kamu mampu berpikir seperti itu, berarti mereka juga berpikir demikian. Pada akhirnya persiapan mereka akan dibuat untuk menjauhkan animus dari jangkau seranganku. Lagi pula ...."


"Lagi pula?"


"Lagi pula, menyerang sesuatu yang lemah tidak menyenangkan. Dengan kekuatanku yang berkembang terus, aku bisa menghancurkan mereka di kondisi maksimal mereka. Haha, setelah aku pulih, pertarungan akan lebih mudah dengan pertahananku yang tidak tertembus, kondisi mereka dan kondisi kita sudah berubah. Haha!"


Di dalam pemulihannya sekarang, dia masih bisa tertawa positif. Luka-luka yang melubangi banyak tubuh seakan bukanlah derita, dia seperti memandang semua itu dengan luka lecet yang bisa sembuh dengan diludahi. Pikirannya terus ke depan, mengabaikan hal negatif di tubuhnya untuk mencapai tujuannya sekarang.


"... Namun, begitu naif jika kau pikir perubahan kondisi melulu tentang kelebihanmu."


"...!?"

__ADS_1


"Hh!? Siapa itu!?"


__ADS_2