
“Hah ... bisa kita langsung ke intinya saja,” ucapku menengahi dengan nada malas. “Dan Ima, bisa kamu berhenti? Aku bakal malas kalau kebanyakan basa-basi.”
“Oke, aku ‘kan sudah minta maaf, Van,” ujarnya sambil menurunkan tinju di tangan.
Ucapan maafmu tadi bukan untuk sebuah permintaan. Tapi, baiklah ... langsung saja mulai ke pembahasan utama.
Ketika kondisi mulai kondusif, kami duduk di set meja yang telah rapi disiapkan oleh Imarine sebelumnya. Dengan meja kayu persegi panjang, aku duduk berhadapan dengan lelaki barusan.
“Kaivan ... kamu kenal Septian, ‘kan? Sekarang dia lagi punya masalah.”
Hn?
Aku tidak merasakan stres, depresi, takut, atau hal-hal negatif lainnya. Gelombang emosi orang itu stabil dan tidak mengalami kejanggalan sama sekali. Kemungkinan besar masalahnya hanya hal tidak penting.
“...”
Tidak, tidak ... berbeda dengan perempuan, lelaki punya kekebalan terhadap perasan yang lebih kuat. Kaum adam cenderung tidak memikirkan perasaan terlalu dalam dan hanya memikirkan solusi dibanding melamuni masalah. Jadi, masalahnya bisa saja besar, aku tidak merasakan gelombang emosi juga mungkin karena dia yang ahli menyembunyikan perasaan—
“Kaivan ... kamu tahu caranya biar bisa diterima waktu nembak cewek?”
“... Huh?”
Sebelah alis kuangkat, membuat wajah bingung sambil sedikit menganga miring. Hal yang awalnya kucurigai ternyata benar, Septian malah memberiku masalah konyol. Setidaknya hal tersebut tidak sebanding dengan kisah Imarine.
*****
Nembak, ungkapan umum yang hampir semua orang di negaraku tahu. Sebuah kegiatan pengakuan perasaan pada orang yang disukai, biasanya hal tersebut berujung permintaan menjadi sepasang kekasih.
“Diterima cewek?” tanyaku mengulang pertanyaan Septian.
“Iya, kamu tahu? Kayak ... trik atau saran gitu?”
“Hmn ...?” dengungku menyipitkan mata kebingungan. “Ima, kenapa kamu pikir aku bisa selesein masalah ini?” tanyaku yang mengubah pandangan ke gadis di samping.
“Aku gak ngira kamu bisa kasih solusi. Aku cuman bawa orang yang punya masalah. Bukannya itu yang kamu minta?”
“Heh? Jadi, beneran gak ada saran apa-apa dari kamu, Van?” ucap Septian memotong.
“...”
Jika dipikir secara logika ..., benar. Hal yang paling utama adalah aku tidak pernah mengungkapkan perasaan pada perempuan manapun dalam hidupku. Imarine sudah tahu itu, dia pernah menanyaiku sebelumnya lewat pesan. Jadi, jika aku harus memberi saran tentang bagaimana cara untuk punya pacar, sebaiknya tanyakan orang yang sudah pernah berhasil.
“Hah ...,” hembus napas Septian yang mulai hingga mendorong kursinya ke belakang. “Kalau gitu buat apa aku ke sini,” lanjutnya melangkah pergi.
“Woi, woi, tunggu dulu, Ian,” panggilku mencegahnya. “Setidaknya ceritain dulu ... kalaupun aku gak tahu solusinya, aku bisa cari tahu siapa yang tahu.”
__ADS_1
“Haah~ ...? Jadi, kamu mau sebarin ceritaku nanti ke semua orang?”
“Aku cuman cerita ke orang yang sekiranya tahu solusinya. Waktu cerita juga gak bakal aku sebut namamu, santai saja ....”
Septian diam beberapa saat memejamkan mata berpikir. Dia menunduk sambil menyentuhkan jari di antara dua alis.
“Ya sudah lah ... aku juga sudah tanggung datang ke sini,” ujarnya kembali duduk.
Aku merasakan kecemasan keluar dari Septian. Emosinya mengatakan kalau dia memang memendam sesuatu yang jadi sumber permasalahan.
Kami duduk berhadapan dengan perantara meja persegi panjang, layaknya orang yang melakukan wawancara pekerjaan. Imarine ada di samping, tapi posisinya cenderung masuk ke sisi meja tempatku duduk, terlihat seperti asisten penanya.
“Jadi, Ian,” panggilku padanya. “Tadi, kamu mau tanya gimana caranya bisa diterima cewek?”
“Iya ....”
“Itu artinya, kamu sekarang lagi suka sama cewek?”
“Iya ....”
“Hng?” Aku teringat sesuatu di benakku di ketika bicara dengan Septian. “Pertanyaanmu barusan itu agak aneh.”
Bentuk kalimatnya berbeda dengan orang kebanyakan. Normalnya orang yang jatuh cinta lebih mempertanyakan tentang bagaimana cara mengungkapkan perasaan pada perempuan. Berbeda dengan hal tersebut, Septian lebih seperti maju satu langkah dari proses tersebut.
“Sebenarnya kamu sudah pernah nembak cewek atau belum?” lanjut tanyaku.
He?
Ah ... karena dia bertanya tentang ini. Itu berarti ungkapan cinta sebelumnya telah gagal menjadikan perempuan itu sebagai kekasih. Mencegah hasil yang sama, Septian bertanya padaku. Tapi ....
“Kalau kamu memang pernah, kenapa gak belajar dari pengalaman kamu sendiri? Cari tahu penyebab kamu ditolak biar gak kejadian lagi.”
“Ditolak?” reaksi bingungnya meninggikan suara. “Aku gak pernah ditolak cewek, Van.”
He?
Kebingunganku untuk kedua kalinya.
“Enggak, enggak ... tunggu ... kamu sudah punya pacar sekarang?”
“Kamu ngomong apa, Van? Buat apa aku diskusi cara biar diterima cewek kalau aku sudah punya pacar?”
“Hmn?” ucapku yang masih bingung.
“Hmn?” balas Septian yang juga membuat wajah bingung.
__ADS_1
Kami berdua saling berpikir maksud pembicaraan tersebut. Emosi kebingungan juga bisa kurasakan, Septian sedikit memutar otak mendengar pertanyaanku.
“Hmguft,” tersedak napas Imarine yang menahan tawa di samping. “Ahahaha ... kalian ini ngomongin apa, sih,” kata Imarine dengan nada ejek.
“Dia yang ngomong gak jelas,” ujar Septian menunjukku.
“Huh? Kamu yang aneh, apa maksudnya kamu pernah nembak cewek, tapi belum pacaran?”
“Iya berarti aku gak diterima lah bodoh,” ucap Septian dengan suara lebih tinggi.
“Kalau gitu kenapa kamu bilang kamu gak pernah ditolak!?” tanyaku yang mulai meninggikan suara.
“Ya karena emang aku gak pernah ditolak!”
“Mana bisa ...!?”
Kami saling meneriaki satu sama lain, meninggikan suara terus-menerus seiring percakapan berlangsung.
“Aha, ahaha, ahahaha ...,” tawa Imarine yang sejak tadi tidak mendamaikan dan cenderung menikmati pertunjukkan. “Bentar, bentar, gak ada yang salah, kok,” katanya menengahkan.
Mendengar kalimat Imarine, aku dan Septian sedikit tenang dan mulai menghadapkan wajah pada gadis itu. Wajahnya yang mesamesem menggambarkan kalau dia berusaha keras menghentikan tawanya.
“Maksudnya tuh ... Tian sudah nembak, cuman dia belum dapat jawabannya karena si cewek gak jawab langsung waktu itu.”
“...”
Ah, jadi itu maksudnya. Aku sedikit merasa bodoh karena berteriak atas hal yang salah.
“Yah, kayak gitu kira-kira,” susul septian mengatakannya padaku.
“Terus sekarang mau apa? Kamu sudah nembak dia dan sekarang tinggal tunggu, ‘kan.”
Layaknya orang yang menunggu pengumuman dari sebuah lamaran kerja. Tidak ada cara lain yang lebih baik selain menunggu. Mencari kegiatan lain yang lebih bermanfaat mungkin bisa dilakukan agar tidak stres maupun terobsesi dengan hal tersebut.
“Bukan, Van. Kamu masih gak ngerti,” ucap Septian membantah menjelaskan. “Aku sudah nembak dia, tapi dia gak jawab buat mikir tentang baik atau enggak aku jadi pacarnya.”
Tidak, aku sudah mengerti ... memangnya apa yang bisa ditanyakan sekarang?
Apa yang dikatakannya tidak membantah solusi yang kusebutkan. Apa yang dia bisa lakukan selain menunggu?
“Kaivan ...,” panggilnya seriusnya dengan menatap mataku. “Kira-kira gimana caranya dia gak nolak aku nanti?” lanjutnya bertanya padaku.
“...”
__ADS_1