Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 26 - Magic Stab


__ADS_3

“...”


Aku menatap orang besar itu, tajam tanpa berkedip untuk menunjukkan ketegasanku.


“...”


Dia juga terlihat membalas dengan baik. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya karena topeng yang dia kenakan, tapi aku bisa merasakan sebuah panas atmosfer sekarang. Bukan gelombang emosi, lebih ke arah seperti insting dan intuisi semata.


Sampai beberapa detik kami terdiam, aku tidak melihat ada respons baik dari orang besar itu. Dia masih terdiam dengan ekspresi yang tidak dapat kulihat jelasnya seperti apa. Sampai pada akhirnya ....


*Plak


Hn?


Tepuk tangan?


*Plak, plak, plak ....


“Oh, OooOOohhhHH ... aku tidak menyangka bisa seperti ini.”


“Apa?” tanyaku tegas menyentak. “Kamu masih ingin mau lanjut memancingku?”


“Tidak, tidak ... aku hanya ... hanya kagum melihat semua ini berjalan di luar dugaan. Ini membuatku semakin tertarik padamu.”


“Simpan saja jawaban itu nanti, aku cuman mau apa yang kuminta sekarang.”


“Jangan dingin seperti itu. Kamu seharusnya bangga karena kamu adalah manusia pertama yang membuatku tertarik sampai sejauh ini. Bagaimana kalau kita mulai berkenalan terlebih dahulu, namaku adalah Octalif. Panggil saja aku Octa.”


“...”


Orang besar itu menunduk kecil, dia menurunkan kepala sejajar dengan bahu dan menaruh tangan di dadanya—layaknya seorang pelayan yang memperkenalkan diri. Tapi, kala itu aku merasa sedikit janggal, mungkin karena tinggi tubuhnya yang jauh di atas membuat sudut pandangku menjadi aneh.


“Namaku ... Kaivan.”


Aku pun di sana secara memutuskan menyebut namaku. Dengan kesopanan tersebut secara otomatis kerendahan hatiku juga muncul.


“Kaivan ... akan kuingat,” ucap ulang Octa yang sampai sekarang masih terdengar suara seraknya. “Mulai detik ini, tidak ada yang namanya kesepakatan.”


*Shine ....


“Hmn?”


Di kalimat terakhir Octa, dia tiba-tiba kembali mengangkat tangannya. Layaknya sedang memegang bola voli dengan posisi telapak tangan ke atas, dia membuat sebuah orb cahaya di tangannya. Berkilau terang, menyilaukan dengan warna yang dominan di ruangan gelap.


Aku kala itu tidak punya pikiran buruk, bersikap tenang karena mengira kalau apa yang dia lakukan adalah sihir semacam teleportasi untuk mengusirku dari tempat tersebut. Gelombang emosi orang bertubuh besar itu masih terasa hambar, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan secara langsung hanya dengan merasakan pekat dan tidak pekatnya emosi di hati.


Di sana dia terus menggumpalkan cahaya di tangan, terus memadatkan bola sihir di tangan hingga pada akhirnya membentuk sebuah batang kecil seperti pulpen, dan terus dipadatkan lagi hingga sekecil korek api. Lalu ....


*Throw


Octa melemparkan bentukan sihirnya itu, dia menghempaskan tangan mengayun ke depan agar batang sihir tersebut terlontar.


*Stab


“Hh!?”


Hingga akhirnya benda tersebut menancap ke keningku.


Awalnya aku tidak merespons kuat, hanya sedikit bergidik sambil mengarahkan dua bola mata ke tengah kening melihat batang cahaya menancap di jidatku. Tapi, semua itu hanya berlangsung beberapa detik. Karena ....


“Gkhgt!!? Akghht!!? AaAaaakkkhh ...!!”


Aku mulai merasakan sensasi yang luar biasa. Selayaknya seluruh urat di wajahku disetrum dengan tegangan tinggi, membuat pikiran dan refleks di kepala menjadi tegang seketika, membuat mata, telinga, lidah, gusi, bahkan bulu hidung merasakan sengatan.


Aliran energi dari keningku tersebut membuat mataku ingin keluar, kepala yang tidak kuat diberi sebuah percikan tidak sengaja digoyang-goyang. Aku yang ingin meredam semua perasaan itu pun hanya bisa memegang kepala dengan sebelah tangan, menancapkan jari-jari dengan tenaga kuat, menimpa rasa sakit untuk menghilangkan sensasi kuat tersebut, menggaruk dengan kasar sambil sesekali menggeram gigi kesakitan.

__ADS_1


*Dug, dug ....


Detak jantungku terpacu, secara bertahap energi yang dirasakan dari kepala mengalir ke daerah bawah tubuhku. Setiap ruas jari, setiap sendi di pergelangan, setiap urat nadi di otot aktif bergerak acak tidak terkendali. Aliran energi tersebut membuat denyut yang ‘tak normal di ruas tubuhku, membuatnya bergetar layaknya sedang disengat listrik berulang.


Apa ini? Apa ini? Apa ini!?


Sakit ...?


Bukan!


Perasaan yang aku rasakan bukan sakit, tapi terasa penuh. Energi sihir yang dia berikan barusan membuat tubuhku diisi layaknya balon, terus dipaksa mengembang dalam arti yang misterius. Aku merasakannya, sebuah dorongan kuat secara bertahap yang terus memaksa tubuhku membesar.


Tapi, tentu tubuh manusia tidak didesain untuk mengembang seperti itu. Pembuluh nadiku mungkin elastis, tapi bukan berarti bisa membesar, ototku mungkin bisa dilatih untuk berkembang, tapi bukan untuk ditiup. Setiap rangsang dorongan aku rasakan, tubuhku secara otomatis melawan itu semua untuk mempertahankan bentuk aslinya. Oleh sebab itu aku terus merasakan tekanan besar di tubuhku.


Tenaga di kakiku mulai hilang, fondasi tegak di telapak kaki digantikan oleh lutut, aku ambruk ke posisi setengah berdiri.


Pandanganku semakin buram, terganggu oleh pembiasan air mata, dan entah kenapa beranjak memutih setiap detiknya. Aku yakin mataku terbuka, urat di wajahku memaksanya untuk terbuka. Sensasi bola mata ingin keluar terus ditahan, dan pada satu titik penglihatanku benar-benar digantikan oleh berkas putih.


Di sana aku berusaha menahan seluruh kesadaranku. Terus mengatur napas yang mungkin bisa memperbaiki kondisi. Tapi, semakin aku berusaha, semakin kencang juga mereka semua terbang menjauh.


Aku mulai kehilangan kendali atas tubuhku, di satu titik aku bahkan sudah tidak mengerti bagaimana kondisi tubuhku sekarang sedang membentuk. Ketika aku berpikir sedang menggerakkan tubuh, aku sama sekali tidak merasakan timbal balik dari efek berat setiap saraf yang kuperintahkan. Persis seperti sedang bermimpi.


Berkas cahaya mulai pudar, semua tersebut seakan digantikan oleh satu pemandangan yang tidak aku kenal.


*Whoush ....


Hitam ... warna yang memudarkan berkas putih. Cokelat ... warna getar yang terus menimpali warna hitam. Hijau ... warna lain yang muncul di sisi lain ketika aku berusaha menggerakkan pandangan.


Ah, iya, ini ada di sebuah wilayah dengan banyak tanaman rindang.


Pandanganku di sana tetap buram, tidak jelas layaknya bayang yang terkena pengaruh obat. Aku tidak tahu bagaimana cara menggerakkan kepala, tapi penglihatan kala itu yang bergerak-gerak layaknya kepala yang mengayun sama sekali bukan berasal dari perintah otakku.


Hmn?


Di sana pandanganku mulai terarah lebih baik, diangkat lurus sejajar untuk melihat ke depan. Lalu, pertama yang kulihat adalah dua orang, dengan poster laki-laki besar sedang berdiri saling berhadapan membicarakan sesuatu.


Eh? Ini ... di mana? Aku ... aku lagi ada di mana?


Suara?


Suara tersebut berbeda dengan suara yang didengar oleh telinga. Ketika kesimpulanku di mana tidak dapat mendengar, aku kembali dibingungkan dengan sensasi dengung di kepalaku. Suara yang datang sangat jelas berasal dari seorang perempuan, dia bicara persis seperti sedang berbicara di dalam kepalaku.


Pandangan itu terus bergerak ke segala arah, melihat ke bawah dan samping secara bergantian. Sampai pada akhirnya ....


A-aku diikat? Kenapa? Eh? Mulutku juga ditutup!?


Gadis tersebut mulai panik. Dia yang sudah mulai memahami kondisi pun langsung dibanjiri rasa takut. Dia sadar tangan dan kakinya diikat, dia sadar mulutnya diplester, dia sadar dia ada di tempat asing yang jauh dari keramaian, dia sadar ... dirinya sedang diculik.


*Dug, dug ....


Eh?


Namun, hal yang paling mengejutkan adalah apa yang terjadi selanjutnya.


Rasa takut, rasa panik, rasa khawatir, marah, sedih, dan sakit yang dirasakan oleh gadis itu bisa dirasakan juga olehku. Setiap detak jantungnya, setiap getar tangannya, setiap tetesan air matanya, setiap rintihan di tenggorokannya ... aku bisa merasakannya. Aku layaknya orang ke dua yang sedang melakukan simulasi di dalam tubuh seseorang.


Aku tahu bagaimana hal ini terjadi. Aku tahu ketakutan yang dia rasakan. Aku juga tahu kalau apa yang gadis ini pikirkan sekarang sangat benar adanya.


Kedua pria ini mulai sadar gadis tersebut sadar, mereka pun mulai bekerja sama dan membuat satu kesepakatan. Memulai aksi mereka dan mendekat menggerayangi gadis tersebut.


Ketakutan gadis tersebut terus memuncak, dia sangat shock hingga tubuh dan pikirannya berhenti bekerja. Tidak sanggup melawan, dan memang tidak bisa melawan. Sesuatu yang dia harapkan hanyalah sebuah keajaiban, berteriak dalam hati dan berharap penuh kalau apa yang dia alami hanya sebuah mimpi.


*Whoush ....


Hh!?

__ADS_1


Aku merasakan satu sensasi lain. Ketika aku dalam sebuah siksaan menerima gelombang emosi dari korban kejahatan, di titik tertentu tubuhku mengalami guncangan berat yang membawaku ke sebuah pemandangan lain.


Kali ini, apa yang menggantikan berkas putih adalah pemandangan umum di rumah. Sebuah lingkungan yang tampak damai dengan perabot menenangkan tempat beristirahat.


Kembali tidak dapat mendengar, aku hanya bisa mengikuti pandangan yang sebenarnya tidak dikendalikan olehku. Di sana ada seorang wanita dewasa, duduk sedang memegang kepala layaknya orang pusing.


Biasanya di sini aku bisa tahu apa yang wanita itu rasakan dengan kekuatan deteksi emosiku. Tapi, kali ini terasa kosong, apa yang kurasakan hanya berlaku untuk sudut pandangku saja.


Pandanganku sedang berjalan, orang yang mewakili tubuh ini mendekat ke arah wanita tersebut. Di sana, aku baru sadar kalau ternyata tinggi arah pandangku sangat rendah. Ketika jarak semakin dekat, wanita yang sedang duduk itu ternyata punya tinggi sejajar dengan pandanganku. Sepertinya, kali ini sudut pandangku kali ini adalah seorang anak kecil.


Wanita dewasa itu melirik, dia bicara dengan ekspresi yang tidak menyenangkan. Urat wajahnya keluar layaknya dia sedang berteriak, tapi aku tetap tidak bisa mendengar percakapan mereka.


*Dug, dug ....


Lalu, kembali lagi terjadi.


Perasaan yang dialami oleh anak kecil itu dirasakan balik olehku. Tekanan kuat, rasa hancur, sayatan batin di setiap kata yang didengar, dan stres kuat yang menular akibat bentak keras yang dia terima.


Mama ... kenapa? Mama ... aku takut.


Terdengar kembali, sebuah dengung dari perkataan yang terngiang di kepalaku.


Aku tidak tahu tindakannya bagaimana, tapi pandangannya yang digesek oleh sebuah bayang hitam dan tangan membuatku mengerti kalau anak ini sedang menangis. Memang alasannya tidak jelas, tapi aku mengerti dari perasaan takut yang dia dalami. Dia tidak punya respons lain yang bisa dikeluarkan di saat berat seperti ini selain menangis.


Aku berpikir itu adalah akhirnya. Tapi, ternyata itu adalah sebuah awal penderitaan.


Wanita dewasa yang terganggu dengan tangisan anak itu pun mulai mengambil benda tongkat kayu. Itu adalah sebuah sapu, wanita itu memukul anak tersebut berkali-kali tanpa menahan kekuatannya.


Aku bisa merasakannya, rasa sakit di setiap ruas tubuh anak tersebut yang menderita. Setiap gerik tubuhnya yang kesakitan penuh memar, napas tersedak tangisnya yang tersentak oleh pukulan beruntun selanjutnya. Dia hanya bisa merungut, melindungi kepala dan terus menerima pukulan lagi.


Entah di pukulan ke berapa, si anak itu mulai pingsan. Dia kelelahan dan mulai kehilangan kesadarannya secara bertahap. Tergeletak di lantai rumah tanpa karpet dan mencium ubin dingin.


Wanita itu yang melihat si anak sudah ‘tak melawan dan diam dari tangisnya pun mulai bosan. Dia berhenti memukulnya dan meninggalkan anak tersebut sendiri.


Aku di sini bisa merasakan penderitaannya. Anak kecil itu tidak diam, dia hanya kehabisan tenaga untuk menangis, dan bahkan kehabisan napas untuk berteriak.


*Whoush ....


Tersentak kembali aku dalam sebuah penglihatan baru, sebuah penderitaan baru dari berbagai orang. Ini seperti aku masuk dalam dunia ilusi dan terus dicekoki oleh hipnotis tersendiri.


Aku diperlihatkan kehidupan banyak orang, penderitaannya, kehidupan beratnya, dan seluruh rasa sakitnya. Ketika mereka semua menemukan jalan kebenaran dan akhir dari kebahagiaan yang pantas mereka dapatkan. Semua itu pun kembali diulang, mereka pun secara paksa direset kembali ke kehidupan siksa mereka.


Terus begitu, terus terulang, hidup di loop waktu yang mereka tidak inginkan.


Penderitaan mereka berlangsung selama berminggu-minggu bahkan hitungan bulan. Mereka ditolong dan mendapatkan harapan, lalu dicuci otaknya lagi untuk merasakan penderitaan serupa. Mereka dipaksa mengalami hal yang serupa, dipaksa memohon dan berdoa kepada keajaiban, dipaksa untuk menghasilkan sebuah sihir.


Aku sekarang mengerti, betapa bejatnya rencana yang semula aku diamkan di sana.


Namun, hal yang paling tidak bisa kumaafkan adalah ketika melihat salah satu dari korban rencana Octa ini. Di penglihatan tersebut, aku jelas melihat kak Dina dan Azarin. Mereka berdua dipaksa melakukan sebuah drama untuk terus merasakan penderitaan agar bisa menghasilkan sihir.


Kak Dina dengan pasangannya Verdian, mereka terus menjalani kehidupan penuh pengkhianatan dan kejahatan, bahkan masuk dalam tindak berlendir. Begitu saja terus diulang hingga ada yang menolongnya yang tentu selanjutnya akan dicuci otaknya.


Azarin, dia dipaksa mengalami kekerasan dari ibunya terus menerus. Ketika semuanya membaik dan mengarah ke sebuah jalan terang. Mereka kembali dicuci otaknya agar kembali mengulang penderitaan yang sama.


Aku bisa melihatnya, alasan kenapa Azarin mati ternyata ada sangkut pautnya dengan siluman bernama Octa ini. Ketika aku mengambil mana milik Azarin, Octa sedikit mengira kalau itu adalah sebuah anomali. Dia yang kecewa tidak mendapatkan mana pun mulai mereset kembali hubungan KDRT tersebut dan menambahkan improvisasi ke arah yang lebih kejam agar Azarin lebih menderita.


Tapi, hasilnya terlalu berlebihan. Azarin mengalami depresi dan stres tanpa sepengetahuanku yang akhirnya dia memilih untuk bunuh diri.


*Whoush ....


“Ghakh!! Hh!? Hah ... hah ....”


Ilusi itu mulai berhenti, aku bisa merasakan tubuhku sedang bernapas cepat sekarang.


Di sana pandanganku masih kabur, tapi jelas aku sedang memandang karpet tempat di mana sebelumnya aku bertemu Octa.

__ADS_1


“OOoooOhhhHH ... bagaimana tidurmu barusan ... Kaivan?”


__ADS_2