Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 22 - Lompatan


__ADS_3

Aku sampai di sebuah pemberhentian bus. Berbeda dengan keadaan biasanya, pemberhentian ini cenderung jauh lebih sepi. Jika biasanya halte bus dikelilingi oleh banyak tempat komersil, kali ini aku sampai di tempat yang kosong layaknya ujung jalan tanpa penghuni.


Waktu mungkin sudah malam, itu juga jadi penyebabnya. Aku sendiri hidup di negara berkembang, masih banyak kios-kios yang mungkin tidak tetap yang menempati satu tempat berdasarkan bongkar pasang. Tidak tahu pastinya seperti apa, tapi aku yakin kalau tempat kosong itu punya sumber kehidupan yang mungkin waktu datangku saja yang kurang tepat.


Halte bus ini tidak mempunyai jalan besar beraspal lagi, dia hanya satu pinggir jalan yang diterangi oleh satu lampu jalan yang terang. Tidak ada bangunan besar, yang ada hanya tempat-tempat kecil seperti warung kopi berisi empat lelaki yang dua di antaranya sedang bermain catur.


Bus sendiri sudah pergi. Aku, Amalia, dan Pero adalah penumpang terakhir yang turun di sana. Dari cara pandangnya, seperti sang supir juga bingung melihat aku turun di tempat ini.


Terlebih, ketika dia tahu aku bersama Amalia. Ini seperti dia sedang berpikir aku ingin melakukan tindak asusila, bisa dirasakan gelombang emosi negatifnya waktu itu. Tapi, sepertinya dia berhenti berpikir demikian setelah melihat tangan patahku yang digantung dan dilapis gips.


Baiklah, melihat saja mungkin tidak akan berguna, aku datang ke sini juga sudah paham kalau kondisi tempat yang dituju Pero adalah tempat sepi di dekat kaki gunung. Walaupun aku sempat dilirik oleh orang-orang di kedai kopi, tapi mereka sepertinya memutuskan untuk tidak ikut campur urusanku.


“Woi, Pero,” ucapku ke arah burung di pangkuan yang sebenarnya cukup berat karena takut dianggap gila. “Sekarang kita harus ke mana?”


Burung gagak di sana mulai bangun, menaikkan kepala dan menaruh respons pada ucapanku. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tapi sepertinya burung ini mengalami yang namanya mabuk perjalanan. Mungkin ditaruh di dalam tas membuat banyak kesehatannya terganggu barusan.


Tapi, tentu dia semakin lama mulai memulihkan diri, mencium udara segar setelah keluar bus juga cukup membuat kesadarannya pulih. Di sana dia mulai berdiri tegak dengan dua cakarnya, mengepakkan sayap untuk menstabilkan tubuh, lalu terbang dan hinggap di pundak Amalia.


Oke, maafkan sikapku barusan, ini pertama kalinya aku mendapat sebuah gangguan fisik.


Kalimat itu keluar lewat kekuatan Pero juga, dia mengantarkannya langsung pada kepalaku hingga menjadi dengung pribadi yang berbisik khusus. Jadi, untuk sekian kalinya Amalia hanya bisa memandang misterius apa yang terjadi di depannya.


Pertama, kalian masuk ke jalan kecil di sana, ada sedikit lampu di jalan setapak berbatu itu. Setelahnya aku akan bimbing kalian.


Aku mengarahkan pandangan sesuai dengan arah paruh Pero, dia sedang menunjuk satu jalan dengan persimpangan kecil yang cukup unik. Berbeda dengan jalan aspal utama, jalan tersebut memiliki kualitas yang lebih buruk dan tidak akan bisa dilewati oleh kendaraan secara mulus. Bisa dilihat kalau di jalan itu memang bukan diperuntukkan oleh fasilitas berat. Gap yang besar antara jalan aspal dengan jalan berbatu itu membuatnya tidak memungkinkan untuk bus masuk.


“Oke, jalan itu, iya,” ucapku sambil memberi sedikit kode pada Amalia untuk mengikuti.


Di perjalanan, aku mulai berjalan lagi dan lagi. Terus menjajah daerah gelap menjauhi sumber cahaya. Waktu yang sudah semakin larut menjadi pendukung juga, aku sekarang sudah ada di jam di mana orang-orang sudah mengecilkan suara mereka.


Di jalan yang kulalui, bangunan-bangunan sekitar sudah saling berjarak jauh, terlihat kalau aku dan Amalia semakin jauh dari kota. Jalan setapak semakin jelek, sumber lampu semakin terbatas, dan nyanyian serangga malam terus mendominasi.


Selama ini Pero terus menutur jalan ke arah yang lurus, mengikuti jalan tanpa berbelok tajam ke arah macam-macam. Sampai pada akhirnya aku tidak bisa berjalan lurus lagi.


“...”


“...”


Tembok ... atau lebih tepatnya pagar tembok.


Di depanku sekarang tidak ada jalan setapak lagi, buntu hanya mengarah ke satu jalur. Jalur tersebut mengarah ke sebuah pagar besi besar setinggi lima meter. Bukan seperti pagar rumah yang berlubang dan memiliki pola indah, apa yang kuhadapi adalah sebuah pagar yang polos dan tertutup penuh layaknya dinding. Jika harus dibilang, ini seperti pintu garasi atau pintu bengkel.


Aku tidak bisa mengintip ke area dalam, aku juga tidak bisa lewat karena pagar tersebut punya rantai besar yang digembok. Siapa pun yang membangun ini, dapat dipastikan dia berniat penuh untuk menutupi privasi. Tinggi pagar tembok dan bagian pintu masuk, semuanya kompak setinggi lima meter standar pintu di lahan industri yang biasa dilewati truk.


Aku berusaha melihat ke samping untuk mencari sedikit jika sekiranya bisa mendapat jalan memutar. Tapi, tembok setinggi lima meter ini konstan menjalar ke sampai ujung yang di mana mataku juga tidak bisa menjangkaunya. Benar-benar usaha keras si pemilik untuk membatasi luas tanahnya dari penyusup. Tembok dan pagar tinggi ini sudah sekelas perusahaan besar, pemiliknya pasti memiliki uang banyak untuk bisa membangun semua ini.


“Pero, sekarang harus gimana?” tanyaku sambil melirik ke belakang menuju burung gagak yang bertengger di pundak Amalia.


Bagaimana? Tentu saja kita hanya perlu menembusnya. Aku bisa merasakan gelombang sihir tepat di balik pagar itu.


Kata Pero yang masih menggunakan telepati privatnya padaku.


“Apa itu artinya kamu punya ide sekarang? Aku gak mau rusak properti orang yang masih mencurigakan kayak gini.”


Kali ini ada, aku malah tidak mengerti kenapa kamu tidak bisa memikirkannya. Kamu hanya perlu meminta Amalia mengaktifkan kekuatannya, lalu kalian berdua bisa bekerja sama untuk memanjat pagar tersebut.


Ah ... ternyata ada juga cara seperti itu.

__ADS_1


Kekuatan Amalia cukup luas ke berbagai sisi. Selama ini yang kami latih adalah tentang menggunakan emosi kemarahan agar kondisi fisiknya meningkat tajam. Di satu sisi, ketika dia menggunakan emosi kemarahan tersebut, itu akan memacu juga pada tubuhku. Kemampuan deteksi emosiku membuat Amalia adalah salah satu saklar yang bisa mengaktifkan kekuatanku juga.


Dalam satu sisi, aku akan bergantung padanya. Aku layaknya lampu yang dipasang seri di mana tubuhku ikut aktif ketika kekuatan Amalia aktif.


“Oke, Amalia. Pero minta kamu buat pakai kekuatanmu sekarang. Pakai sedikit biar kita bisa loncat dan masuk ke dalam.”


“...”


*Nod


Amalia mengangguk, dia yang mengerti pun langsung mengeluarkan pisaunya untuk mengaktifkan sihir. Dengan posisi khusus mengangkat dan mensejajarkan pisau horizontal ke depan, gadis tersebut pun mulai melakukan transformasi singkat.


Tubuhnya sesaat menjadi putih, silau hingga tidak dapat dilihat dengan mata tentang detail tubuhnya. Lalu, tidak sampai sepuluh detik, pakaiannya pun berubah menjadi pakaian mode sihirnya yang berwarna dominan putih.


Itu belum selesai, wujudnya sihirnya tidak hanya bersifat sebagian di mana fungsinya hanya untuk memperkuat efek sihir. Layaknya baju tempur, baju sihir tersebut tidak membuatnya punya kekuatan khusus. Jadi, di satu titik dia melakukan kuda-kuda lain.


Kali ini sedikit melebarkan kaki, membuat atmosfer di sekitar bergerak lebih keras.


*Whosuh ....


*Dug, dug ... dug, dug ....


Gelombang emosi.


Iya, di detik-detik tersebut aku sudah bisa merasakan emosi dari efek sihirnya, emosi kemarahan yang membuat tubuhku terpacu keras. Dapat kudalami sendiri pengaruhnya, tubuh yang mulanya lemas karena waktu malam mulai terasa ringan layaknya dalam kondisi panas semangat olahraga.


“Oke, aku siap sekarang, Kaivan.”


“...”


Iya ... mungkin ini juga akibat kekuatannya. Walaupun dapat dikendalikan, mungkin masih ada sisa efek dari sihir tersebut. Dia pernah bilang kalau kekuatannya dipakai, dia akan mengalami sedikit pergeseran kepribadian mengikuti emosi yang sedang ia pakai.


“Kalau gitu, bisa kamu loncat tinggi tembus sampai atas? Kalau kamu berhasil kamu bisa bantu aku nanti,” balasku menaruh permintaan pada Amalia.


“Oke, aku coba ....”


“...”


Di sana Amalia menjawab dengan positif, membuat ekspresi senyum semangat sambil mundur beberapa langkah membuat ancang-ancang. Aku tidak tahu bagaimana sihir bekerja, tapi mungkin hal tersebut juga tetap membutuhkan sebuah faktor penopang dari tubuh. Amalia terlihat melakukan beberapa peregangan kaki, dia tidak sembarangan atau sembrono langsung melompat tanpa rencana.


Satu, Amalia mulai melakukan tolakan kuat melontarkan tubuhnya.


Dua, dia berlari untuk memperbesar kekuatan selanjutnya di jarak yang tidak terlalu jauh.


Tiga, gadis itu berhenti di satu titik dan menggunakan seluruh tenaganya barusan untuk melakukan gerakan lanjutan melompat tinggi ke atas.


Terakhir, dia juga menaikkan tangan ke atas untuk meraih ujung atas pagar besi setinggi lima meter itu.


*Land


“...”


Tapi, tidak berhasil. Ternyata dengan kekuatan Amalia, tembok lima meter masih di luar jangkauannya. Ujung tangan yang dijulurkan ke atas itu masih berjarak setengah meter lagi untuk bisa menyentuh ujung atas. Artinya, perbedaan tersebut masih terlalu besar untuk mengandalkan keberuntungan di lompatan berulang selanjutnya. Cara yang sama tidak akan berhasil.


“Ah, hah ... maaf, Kaivan. Kayaknya aku gak bisa,” ucapnya sambil mengatur napas.


Ini bukan sesuatu yang mengecewakan, lagi pula pagar yang polos tanpa ada lubang atau sela untuk bisa dipanjat juga menjadi kesulitan tersendiri. Jadi, mungkin yang paling mungkin dilakukan adalah sedikit kerja sama.

__ADS_1


“Gak apa-apa, setidaknya aku tahu bisa loncat setinggi itu,” ucapku sambil berpikir dan menaruh tangan kiri di dagu menentukan rencana. “Oke, sekarang aku yang bakal loncat. Tapi, aku mau kamu bantu aku.”


“Oh ... bantu, memangnya loncat bisa dibantu?”


“Ikutin saja.”


Aku pernah melihat sesuatu teknik di mana lebih dari satu orang bekerja sama melompat di sebuah video acak internet. Di sini aku juga akan mempraktikkannya, sepertinya tidak sulit juga dengan kekuatan kami berdua.


Aku meminta Amalia merapat ke pagar, menghadap ke arahku dengan membelakangi pagar besi tersebut. Di dia juga dalam posisi menjaga kuda-kuda, menaruh kedua telapak tangan sejajar dengan perut. Lebih tepatnya, aku meminta dia untuk menjadi pijakan yang nanti akan membantuku melontarkan tubuh ke atas.


Lalu, rencana kedua dimulai, kali ini aku yang melompat. Dengan menggunakan cara yang sama dengan Amalia, mengambil jarak, melakukan tolakan awal, dan berlari hingga melompat. Namun, kali ini aku melompat untuk menumpukan kaki ke tangan Amalia, itu membuat gadis tersebut menerima tekanan hingga dia bisa melontarkan balik kaki beserta tubuhku ke atas.


*Jump


Dengan kekuatan Amalia, aku bisa melayang dengan tinggi ke atas hingga dengan mudah melewati dinding 5 meter tersebut. Lalu, dengan insting dan refleks yang dipacu gelombang emosi, aku bisa membuat gerakan cekatan untuk mengaitkan tubuh dan memposisikan diri walau hanya dengan satu tangan.


Sekarang posisiku sudah di atas. Pagar besi yang tinggi dan rata itu lebih mirip sebagai pintu garasi. Karena bentuknya yang datar dan tebal tanpa duri-duri pengganggu, aku pun bisa menopang tubuhku lebih aman sambil memberikan tangan pada Amalia.


Gadis penyihir tersebut sudah bisa memahaminya. Dia yang melihat aku berhasil menyangkut di atas pun segera menyusul melompat.


*Jump


Di kesempatan tersebut, Amalia tetap tidak bisa mencapai ujung atasnya. Tapi ....


*Grip


Gadis tersebut bisa menggapai tanganku.


Dengan cepat aku di sana menguncinya, menaruh kekuatan dan langsung menariknya sekuat tenaga ke atas.


Mungkin itu akan berbahaya, orang normalnya akan jatuh dengan menyakitkan. Tapi, Amalia dengan kekuatannya dapat mengatasi hal tersebut. Dia bisa tenang dan melakukan flip hingga mengatur posisi mendaratnya dengan sempurna layaknya anggota sirkus.


*Land


Kami berdua pun bisa mendarat dan masuk tanpa masalah—.


*Whosuh!!


“Hh!?”


Tepat setelah aku menapakkan kaki, ada sebuah gelombang emosi kuat yang memekikkan telinga dan memepatkan kepalaku. Gelombang tersebut sangat kuat hingga membuat mataku berair menahan rasa sakit.


Di saat aku ingin menelaah kondisi melihat keadaan Amalia di samping.


*Vanish


“...”


“...”


Semua perasaan tersebut menghilang.


Eh?


 


 

__ADS_1


__ADS_2