Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 32 - Kebangkitan . 2


__ADS_3

"Baiklah ... baiklah ... dilihat dari segi apapun, aku dalam posisi berhutang padamu. Dalam hati, aku juga masih sangat berterima kasih atas keikutsertaanmu kala itu. Tanpamu, Lia mungkin saja tidak akan selamat."


"..."


Sebenarnya kamar ruang inapku terdiri dari dua kasur. Tapi, untuk alasan yang tidak aku ketahui, kasur yang satu itu tidak ditempati. Bersamaan dengan kak Dina yang tidak ada di kamar, aku sekarang benar-benar berdua dengan Pero.


Pertama soal kelanjutan cerita—tepat ketika aku pingsan dan di mana semua informasi dariku terputus, Pero memberi tahu satu hal yang penting. Informasi dan fakta yang dia lihat kalau sebenarnya kala itu Amalia tidak membunuh Geza.


Perasaanku sedikit campur aduk di sana. Bersyukur atas Amalia yang tidak berakhir menjadi pembunuh, bersyukur atas terhentinya tindak tumpah darah, bersyukur untuk mungkin memberikanku kesempatan kedua. Tapi, di saat yang sama khawatir dengan Geza dan Amalia setelahnya. Keadaanku yang sekarang membuatku tidak bisa melindungi siapa pun, Geza yang mungkin akan kembali menyerang dalam waktu dekat akan sangat rawan bagi Amalia.


Berbagai pikiran buruk menghantuiku. Namun, semua itu berhenti ketika Pero melanjutkan ceritanya.


Geza kala itu sudah terluka parah, dia hampir tidak berdaya terkena banyak luka yang bahkan bisa lebih parah dari yang kudapat. Namun, bukannya di saat itulah Amalia hilang kendali atas gelombang emosinya, penggunaan sihir di mana dia menggunakan bermacam-macam emosi telah hilang. Kemampuan tempur di mana dia menggunakan emosi kemarahan tiba-tiba terganti oleh rasa khawatir melihat anak kecil yang bersimbah darah. Jiwanya yang semula adalah tentara tanpa emosi kembali menjadi anak rapuh gadis SMA yang tentu tidak mampu mengayun senjata untuk membunuh.


Walaupun begitu, Geza tidak membalasnya dengan baik. Dia menganggap rasa menahan diri Amalia sebagai penghinaan. Jadi, ketika gadis itu membeku tidak bisa menyelesaikan satu sayatan terakhir untuk mengambil nyawanya, Geza malah mengangkat senjata untuk membalas serang dan mengambil kesempatan licik tersebut.


Amalia yang sekarang mungkin bisa menguasai kekuatan sihirnya dengan baik. Tapi, untuk mengaktifkan dalam waktu cepat, dia masih tidak bisa. Maka, saat itu dia tidak bisa melakukan pertahanan diri menggunakan sihir, kemampuan hempas menghempas pisaunya hilang dan hanya membeku karena kaget.


Sadar akan hal tersebut, Pero melesat menyelamatkannya. Dia yang masih mengawasi pun berubah ke bentuk manusia untuk menarik Amalia menjauh dari Geza. Sedikit terlambat untuk bisa menghindar sepenuhnya, akibat dari serangan tersebut Amalia sempat terkena luka di kedua tangannya. Refleksnya masih bekerja untuk berlindung mengukup kepala dengan dua tangannya.


Pero saat itu sudah cukup panik. Dia khawatir dengan keadaan Amalia yang lepas sihirnya dan tidak siap menerima perlawanan dari Geza. Tapi, sepertinya itu hanya menjadi pemikiran berlebih. Karena ketika Geza melakukan serangan balasan tersebut, dia menggunakan timing Amalia ditarik mundur untuk dirinya kabur juga dari tempat tersebut.

__ADS_1


Tidak diketahui apa tujuannya untuk mundur dari pertempuran. Setelah terdesak cukup lama dengan semangat siap mati, tiba-tiba dia kabur tanpa kata. Tidak diketahui juga apa yang akan dilakukannya sekarang, apa akan kembali menyerang atau lenyap selamanya tidak ingin berurusan lagi dengan kami. Satu orang yang punya kesempatan memahami gelombang emosi dan tahu apa yang dia rasakan hanyalah aku, dan diriku sudah tak sadarkan diri saat itu.


Aku terkadang juga takut, tapi aku juga terkadang tenang.


Geza pada akhirnya bukan orang yang benar-benar jahat. Dia hanya tumbuh di lingkungan yang buruk. Untuk saat ini aku hanya bisa percaya dia tidak akan datang menghabisi orang yang tidak berdaya hanya karena nafsunya.


Itu untuk mengakhiri lanjutan dari kejadian setelah aku pingsan. Tapi, sebenarnya aku juga cukup penasaran apa yang terjadi sebelumnya.


Jika Amalia datang menyelamatkanku dan melawan Geza di saat-saat terakhir, itu artinya orang yang bersama Geza sudah dikalahkan. Itu pemikiran normal, karena tidak mungkin Amalia lewat begitu saja. Jadi, kembali ke pemikiranku sebelumnya ....


Apa Amalia sekarang berakhir menjadi pembunuh?


Pero menjawab pertanyaanku kala itu, dan uniknya dia memberi jawaban yang abu-abu.


"..."


Itu tidak menjawab pertanyaanku, itu malah menambah kekhawatiran. Jika animus itu adalah satu-satunya individu yang ada di sampingnya, maka Geza yang mendapati dia dibunuh tidak akan mengobati mentalnya.


Pembunuhan tidak akan menyelesaikan, setidaknya tidak untuk kali ini. Itu akan membuat rantai balas dendam.


"Ah ... ahaha ... ternyata kamu bisa dibohongi dengan cara seperti ini, Kaivan."

__ADS_1


"Huh?"


Di saat aku mulai tertekan dengan kemungkinan buruk lain akibat dari tindakan tersebut, Pero malah tertawa. Khasnya di mana dia sedikit mendayu dengan kalimat formal panjang membuat ejekan tersebut semakin menyebalkan.


Aku berhenti menanggung perasaan kesal karena kondisi yang sakit membuat hal tersebut lebih melelahkan. Jadi, ekspresiku yang diteruskan hanyalah diam layaknya tidak tertarik dengan percakapan tersebut.


Tentu Pero menjelaskan kelanjutannya. Animus yang mengambil bentuk manusia adalah tubuh pinjaman, dan tubuhnya tidak benar-benar nyata. Jika tubuh tersebut mengalami kerusakan parah dan kehilangan sihirnya, maka animus akan kembali ke wujud semulanya. Animus baru bisa dibunuh saat dalam wujud hewannya.


Setelah Amalia benar-benar mengalahkannya, dia menaruh lobster tersebut di selokan berair. Tidak membunuh, dan tidak membiarkannya mati di lingkungan darat.


Iya ... setelah dipikir lebih jeli, sebenarnya itu bukan tindakan yang mengejutkan. Cerita sebelumnya di mana Amalia sadar dan kembali ke kondisi semula saat hampir membunuh Geza sudah membuktikan. Jika dia tidak mampu membunuhnya, itu artinya dia juga memang belum pernah membunuh sebelumnya.


Sebelum mengakhiri, aku bertanya tentang berapa lama kemungkinan untuk Geza pulih dan kembali menyerang lagi. Pero pun di sana tidak menjawab dengan jawaban pasti, tapi dia sangat yakin kalau itu butuh waktu yang lama.


Geza hanya manusia biasa yang kehilangan kemampuan menua karena animus lobsternya. Tapi, lobster itu sendiri tidak punya kemampuan regenerasi yang cepat. Itu artinya, kemampuan pemulihan dia sama sepertinya manusia biasa, bahkan ada kemungkinan dia mati karena gagal menyembuhkan diri dengan luka yang dia idap sangat parahnya saat itu.


"Huft ... hah ...," hela napasku setelah mendengar cerita panjang. "Oke, aku ngerti soal kejadian itu. Sekarang gimana ceritanya aku ada di rumah sakit? Aku ingat, sebagian, tapi kayaknya obat bius bikin aku banyak lupanya."


Setidaknya masalah tentang Geza bisa ditunda. Jika pemulihannya sama seperti manusia, seharusnya dia tidak sembuh jauh lebih cepat denganku yang mendapat perawatan medis rumah sakit.


 

__ADS_1


 


__ADS_2