Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 22 - Senjata Tombak Capit . 2


__ADS_3

Geza tiba-tiba saja berlari, tubuh kecilnya bergerak kencang layaknya angin kecil yang mengalir bersuara ringan. Dari arahnya, di depan anak tersebut hanya ruang kosong, untuk beberapa alasan dia seharusnya tidak bisa pergi jauh begitu saja dariku.


Aku mengikutinya, langkah kakiku refleks bergerak mengejar anak tersebut. Biarpun begitu, entah kenapa tubuhku jauh lebih lambat darinya. Lari kencang anak tersebut layaknya aku sedang mengejar tikus di malam hari, begitu cepat hingga tidak ada bayangan kalau aku bisa menyusulnya.


Tapi, aku tetap berlari, bergerak sebisa mungkin untuk mengikuti langkah anak tersebut.


Di arah kami, terdapat area lebat taman luas yang lebih seperti hutan kecil. Walaupun rumah sakit ini ada di daerah kota, tapi tanahnya yang luas banyak tidak terpakai hingga menyisakan wilayah seperti itu.


Aku kira dia akan menembus area taman tersebut untuk lari dan meloloskan diri. Tapi ....


Eh? Dia berbelok?


Tepat diujung wilayah parkir berpagar, saat-saat di mana aku mengira dia akan melompat menembus dan lari ke area rimbun, dia malah mengambil jalan lain menuju gedung rumah sakit.


Ah!? Jangan bilang kalau dia masih belum menyerah!?


Aku hampir lupa, tujuannya di sini adalah ingin membunuh orang sakit di ruang isolasi tersebut. Dengan arahnya yang berbelok menuju sisi gedung, bisa saja dia dengan cepat menyelesaikan tugasnya sebelum kabur.


Ketika sadar dengan hal tersebut, aku pun menambah cepat lariku. Tubuh Geza yang sudah tertelan bangunan rumah sakit setelah berbelok cukup membuatku panik, tertinggal jauh masih lebih baik, kemungkinan terburuk aku benar-benar kehilangan jejaknya.


Di pelarian tersebut, akhirnya aku sampai di ujung sisi gedung tempatnya berbelok dan hilang dari pandanganku.


*Whoush ...!!


"Ghkhg!!?"


Gelombang ... emosi?


Langkah terakhir di sisi ujung gedung dan berbelok membalikkan tubuh ke samping arah Geza lari. Tapi, anehnya aku merasakan sesuatu yang berbeda. Di saat itu, entah kenapa semua indra deteksi gelombang emosiku aktif secara seketika. Sensasi tersebut seperti aku sedang masuk ke dalam kolam air bertekanan.


Pandanganku kabur, tapi bukan berarti hilang tidak fokus, lebih ke arah seperti udara di sekitar membentuk gelombang berwarna hingga mengacaukan mata. Pendengaranku juga berdengung, tapi bukan seperti aku diteror oleh frekuensi tinggi, lebih ke arah dunia tiba-tiba penuh dengan gelombang suara kecil tiada akhir.


Aku sempat bingung, aku seperti di bawa ke dunia yang berbeda. Tapi, semua tersebut tidak ada hubungannya, ini mungkin efek dari deteksi emosiku, karena secara keseluruhan lingkungan rumah sakit dan area parkir masih tidak berubah.


Pupilku mengecil berusaha memandang jauh, mencari penyihir lobster yang sempat lari tersebut. Sambil berlari, sambil mencari. Walaupun tidak ada tanda-tandanya, aku tidak boleh berhenti bergerak.


*Whoush ....


Dug, dug ....


"Hh!?"


Kemarahan!


Cukup pekat dan dekat. Perih pedas menusuk mata hingga respons cepatku untuk waspada melihat ke berbagai arah.

__ADS_1


Depan selalu kosong ... kanan juga kosong dengan area luas rimbun tanaman ... belakang sempat kulirik tapi juga tidak ada tanda-tandanya, dan kiri adalah tembok gedung.


Dug, dug ....


Detak jantungku terpacu, kemarahan tersebut memicuku untuk menaikkan tekanan darah dan energi otot mencerna seluruh gula. Napasku bertambah kencang setiap detiknya, kewaspadaanku terus terpasang mengawasi lingkungan. Sampai pada saatnya ....


*Whoush ....


Atas!


Aku menengadahkan kepala, melihat ke arah langit yang seharusnya juga kosong tidak beratap.


*Jump


"Hh!?"


Tapi, tidak kali ini. Tepat saat pandanganku bertemu, Geza yang sedang bertengger di dinding tembok pun langsung melompat menerjangkan tubuhnya ke arahku begitu cepat. Bersama dengan senjata tombak besarnya, dia mengarahkan benda tersebut dengan ganas penuh niat membunuh.


*Dug, dug ....


*Push


Detak jantungku semakin terpacu, seluruh refleks tubuh menjawab tindakan bahaya tersebut. Dengan cepat aku berusaha menghindar, mendorong dinding di kiriku sekuat tenaga agar bisa bertoleh berpindah cepat agar serangannya meleset.


"HAHA!!"


Tapi, Geza juga menyadarinya. Sebelum dia mendarat, dia lebih dulu mengaitkan senjata bersama tubuhnya ke tembok, mengerem mendadak di tengah jalan secara sempurna. Lalu, di detik tersebut dia juga kembali melompat keras, menerjangkan tubuhnya kembali ke arah yang berbeda menyesuaikan arah hindaranku.


Aku tidak bisa menghindar, tubuhku masih melayang di udara dan terpengaruh oleh gaya toleh dorong kuat barusan. Walaupun refleks dan indraku menajam, aku tetap tidak bisa menghindar di keadaan tersebut. Setiap detiknya aku hanya bisa gemetar melihat ujung tombak mengarah tepat pada leherku.


*Grip


Stank!!


"Ghuakh!!?"


Tubuhku terdorong keras ke tanah aspal, tulang punggungku sedikit terbentur hingga menimbulkan sakit dan ngilu parah. Tapi, semua itu tidak ada apa-apanya, karena di hadapanku sekarang ada tombak berbentuk capit sedang mencengkeram leherku. Giginya begitu tajam, mengikat kuat dan bahkan ujungnya sudah tertancap menembus aspal hingga retak. Sadar akan hal tersebut saja sudah cukup memberi tahu betapa keras dan tajamnya benda tersebut.



"Ghkh, hah, hh, ghaakh ...!!"


Berkali-kali aku melakukan perlawanan, mendorong tombak capit tersebut menjauh dari leherku. Tapi, semua itu sia-sia, benda itu terlalu berat dan keras.


"Hahahaha ...," suara tawa kudengar dari anak tersebut. "Tadinya aku akan membiarkanmu hidup, membunuhmu sebenarnya tidak akan memberikan apapun padaku. Tapi, jika kamu bersikeras mengejarku seperti ini, sepertinya niatmu untuk bunuh diri begitu tinggi."

__ADS_1


"Ghkfhgf ...!!"


Di tengah suaranya, aku terus mendorong keras tombak tersebut. Walaupun tidak satu mili pun benda itu bergeser, tapi kepanikanku terhadap respons dan ketakutan tubuh membuat tindakan tersebut terus dilakukan.


Aku bisa merasakan Geza mulai mendaratkan tubuhnya di sampingku. Arah tombak yang tertancap itu tidak sepenuhnya horizontal hingga membentuk sudut dan berakhir dengan kemiringan. Itu membuat posisi Geza lebih menyamping sekarang.


Tapi, untuk beberapa alasan, aku pun melihat celah tersebut. Jika aku tidak bisa melawan senjatanya, aku hanya perlu melawan penggunanya.


*Kick


Berontakku menendang tubuh anak tersebut.


*Grek!!


"GHuak!? Awkh, aaaAAaAaAahh ...!!!"


Tapi, ternyata semua itu bertentangan dengan apa yang kubayangkan. Tubuh kecil Geza yang seharusnya begitu ringan dan terpental begitu mudah malah memberikan perlawanan pada tendangan kaki barusan. Kulit dan tubuhnya begitu kokoh dan keras, aku tidak merasakan daging ataupun tulang manusia, aku lebih seperti sedang menendang beton. Dengan kekuatan maksimal bersama adrenalin kemarahan, tendangan kakiku yang keras malah merusak pergelangan kakiku sendiri. Terdengar sedikit ada tulang yang bergeser atau mungkin patah karenanya.


Sakit!


Aku seperti tidak bisa merasakan kaki lagi. Tapi, di saat bersamaan, ketika aku memastikan kakiku untuk digerakkan, semua saraf meresponsnya dengan rasa sakit.


"Ahkh, ahkh, hah, hh ... hah ...."


"Aahaha ...! Bodoh! Bodoh, Kaivan!" teriaknya mengejek ketika melihat usahaku tersebut. "Aku ini lobster, tentu saja aku punya kulit yang keras. Kamu pikir tendangan seperti itu bisa melukaiku? Ha!?"


"Gkhjh!!"


Geza menyentakku, dengan suara kerasnya dia juga mendorong tombaknya lebih dalam. Ini membuat ujung tajam capit tersebut lebih dekat lagi dengan leherku.


"Tenang, Kaivan. Aku akan membuatnya lebih mudah," ucapnya dengan nada dan senyum sinis. "Kamu tidak akan merasakan sakit, semua akan berlalu dengan sangat cepat. Capit ini sangat tajam, urat lehermu akan lebih dulu putus sebelum tubuhmu sadar telah terluka."


*Dug, dug ... dug, dug ... dug, dug ....


Waktu begitu melambat, aku bisa melihat setiap senti gerakan Geza dengan detail. Indraku terlalu tajam karena terpacu oleh gelombang emosi kemarahan. Rasa tegang tersebut terus mengalir, bersama tawa keras anak tersebut, melihat jari-jari tangannya mulai memicu pelatuk di tombak capitnya untuk memenggal leherku.


*Dug, dug ... dug, dug ... dug, dug ....


Dengan ketegangan ini aku mungkin masih bisa merasakan rasa sakit kematian. Indra yang sangat tajam ini juga mungkin membuatku sadar sebelum benar-benar mati.


*Dug, dug .... dug, dug—


Stank ...!!


 

__ADS_1


 


__ADS_2