Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 63 - Domino Ketidakberuntungan


__ADS_3

Malam yang berat, menghadapi beban berat misteri menanggung nyawa, lalu ditambah gadis gila yang menyerangku malam-malam.


Baiklah, aku tidak sepenuhnya serius mengatakan hal tersebut. Pada akhirnya, hari ini aku bisa tidur nyenyak di kamar Imarine.


"..."


Baiklah, aku bohong, tidurku tidak nyenyak.


Sekarang mataku menatap langit-langit, terbaring terlentang di kamar Imarine di mana tubuhku menolak untuk istirahat secara penuh.


Aku tidak tahu jam secara detail di kamar ini. Satu-satunya penunjuk waktu ada di aula. Jadi, ketika di kamar menikmati detik-detik malam di mana aku tidak bisa tidur, aku hanya mengira-ngira waktu saja dari cahaya bulan dan suasana malam.


Serangga seperti jangkrik, katak, atau suara berisik lain sudah mereda. Walaupun matahari belum terbit, aku bisa yakin kalau kala itu waktu tengah malam sudah lewat dan kini sedang menyambut pagi.


Huft ... hah ....


Bangun kesiangan di kondisi ini akan muncul canggung. Tentu akan menimbulkan pertanyaan tambahan bagi orang yang tidak mengerti kondisi ketika mereka menemukanku tidur di kamar Imarine. Jadi, sekarang aku memilih bangkit lebih awal, mengorbankan perasaan mata yang berat dan diam di luar kamar tersebut.


*Step, step, step ....


Aku berjalan menuju aula, melewati tangga turun dan menemui ruang luas yang cenderung kosong.


"..."


Umumnya aku akan melihat Pero sedang duduk berjaga sebagai pemilik penginapan. Tapi, kali ini meja tersebut kosong, kosong tapi dalam keadaan lampu ruangan sedang menyala. Padahal, dari instingku, setidaknya waktu tidak jauh menunjuk pada jam empat pagi, di mana Pero bilang dia sudah mulai berjaga kembali.


Aku melihat ke arah jam penunjuk waktu di ruangan tersebut, membuktikan kalau dugaan waktu tersebut secara langsung. Lalu ....


Empat tiga puluh menit.


Seperti itulah kira-kira jam menunjuk. Sistemnya yang masih bentuk lingkaran berputar atau jam non digital membuatku membulatkannya demikian.


*Prank


"Hmn?"


Suara gaduh terdengar dari arah dapur. Benturan benda aluminium yang biasa menjadi penghias suasana kerja merambat hingga sampai di telingaku yang berdiri di aula tengah.

__ADS_1


Aku tidak punya pekerjaan lain, tidak ada Pero di ruangan tersebut, dan sepertinya menemui Hanz juga bukan ide yang buruk.


Aku Berjalan mengikuti sumber suara, lewat ke ruang makan yang kosong, lalu menerobos ke pintu dapur tanpa mengetuk pintu.


*Ceklek


"... Jadi, maksudnya kita gak bisa makan sekarang?"


"... Tidak, hanya saja persediaan makanan terakhir hanya untuk hari ini."


"... Apa tidak bisa dilakukan untuk sisa makanannya?"


"... Aku tidak menyarankan, tidak ada yang tahu kalau makanan tersebut akan selamat atau tidak setelah melalui proses memasak."


"..."


"..."


Dua orang yang saling bicara itu pun berhenti. Mereka sadar dengan kondisi pintu dapur yang terbuka dan lanjut melihat ke arahku. Mereka adalah Pero dan Hanz, berdiri di depan pintu gudang makanan yang sedang terbuka sebagian. Aku tidak mengikuti pembicaraan dari awal dan tidak melihat apa yang mereka lihat karena terhalang. Jadi ....


"Ada apa?" tanyaku sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"..."


"..."


Ah ... jadi seperti ini, iya.


*****


Aku tidak tahu kalau ini adalah kesialan yang beruntun. Sepertinya dunia juga tidak terlalu kejam untuk menaruh kondisi seperti ini dalam waktu singkat. Jadi, anggap saja, Octa adalah orang di balik semua ini.


Awalnya aku bisa tenang untuk tinggal di penginapan terpencil ini karena setidaknya persediaan makanan cukup berlimpah. Setidaknya melihat jumlahnya, makanan bisa tersedia sampai seminggu ke depan.


Tapi, Octa tidak membiarkan hal tersebut.


Dari awal memang penginapan ini tidak dibuat dengan fasilitas canggih yang luar biasa. Tapi, keberadaannya cukup mewah untuk disebut penginapan terpencil. Sumber listrik terjamin oleh generator. Benda tersebut diperuntukkan utama untuk pengatur suhu di gudang makanan. Karena tidak ada kulkas, gudang tersebut menyandang fungsi kulkas sebagai tempat sejuk mengawetkan makanan.

__ADS_1


Lalu, masalah yang dihadapi sekarang adalah terkait soal makanan tersebut yang hancur.


Gudang makanan masih punya tingkat sama dengan ruangan lainnya. Penginapan yang dibuat dari kayu bernuansa tradisional ternyata menyatu dengan bahan utama gudang tersebut. Kemudian, ketika bicara dengan kayu, maka daya tahannya yang tidak sekuat bahan baku batu menjadi pembicaraan utama.


Gudang makanan sekarang ditembus oleh hewan pengerat, atau bisa disebut juga dengan tikus.


Cukup aneh memang, dalam satu malam hampir seluruh persediaan makanan digerogoti. Padahal, kedatangan tikus seharusnya tidak mewabah seperti itu, setidaknya mereka akan muncul di tempat yang tinggi sumber pangan secara bertahap.


Lagi pula, gangguan hama tikus lebih tinggi di perkotaan, bukan pedesaan. Makanan jauh lebih berlimpah di kota, dan pedesaan seperti ini tidak akan menjadi masalah serius soal tikus.


Namun, kejanggalan tersebut kami hadapi sekarang.


Satu lubang besar akibat gigitan tikus terbentuk di salah satu ruang gudang tersebut. Beserta dengan tanda itu, ruangan menjadi kacau balau. Kemasan rusak, sisa makanan bercecer, dan entah kenapa banyak kotoran mengikuti menjadi jejak yang menjijikkan.


Matahari pun mulai terbit, orang-orang mulai berkumpul di ruang makan layaknya yang sudah dijadwalkan. Lalu, kami secara bertahap memberitahukan kabar buruk tersebut. Respons mereka juga ditunjukkan antara bingung, takut, dan pasrah secara bersamaan.


Aku sempat bertanya pada Hanz dan Farrel secara bersamaan tentang kondisi makanan tersebut. Tapi, keduanya menjawab sama, makanan yang terkontaminasi oleh pengerat dan dalam kondisi kotor lebih baik dibuang.


Kembali ke urusan penting soal bertahan hidup di tempat terpencil. Menjadi sehat adalah urusan yang sangat penting. Membawa orang sakit akan menjadi beban yang sangat berat ke depannya. Jadi, sebisa mungkin untuk kami tidak mengambil risiko tersebut.


Jika memang makanan tersebut dibuang, tentu masalah utama tidak selesai. Bagaimana tentang persediaan makanan ke depannya. Makanan yang selamat jumlahnya sangat sedikit dan akan habis pada hari itu juga.


Aku sempat mengusulkan untuk menggunakan mobil dan turun ke gunung mendapatkan suplai makanan. Jika aku yang turun tangan, mungkin orang bisa percaya.


Tapi, ternyata maslah tersebut sebenarnya sudah terbentuk dari awal. Mobil yang di ingatanku membawa ke tempat penginapan terpencil ini ternyata sejak awal sudah tidak berfungsi. Dia tidak bisa menyala dan bahkan ban mobilnya sudah dirusak menjadi bocor.


Mulai detik tersebut, kami pun mulai kembali ditekan. Rasa khawatir di mana kami akan mati pelan-pelan di penginapan tersebut. Pengetahuan kami di sana cukup luas untuk bisa membayangkan masa depan di mana kami saling membunuh demi makanan.


Tapi, itu hanya angan-angan saja. Latar tempat kali ini adalah hutan biasa di mana tidak ada monster atau zombie yang menyebabkan situasi luar menjadi berbahaya. Dunia tempat kami sekarang lebih seperti kisah fiksi misteri saja.


Oleh sebab itu, demi kelanjutan hidup, kami pun berencana melakukan penelusuran ke hutan mencari makanan secara mandiri. Selama misteri ini belum dipecahkan, hanya hal tersebut yang bisa dilakukan.


Huft ... hah ....


Pada akhirnya aku harus berurusan dengan hutan lagi.


Setelah sarapan pagi hari selesai dihabiskan. Kami pun mulai melengkapi perlengkapan dan bersiap untuk menyusuri hutan. Awalnya ada pilihan untuk tidak membawa banyak orang. Tapi, pada akhirnya pergi bersama-sama jauh lebih aman.

__ADS_1


 


 


__ADS_2