Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 1 - Pengintaian


__ADS_3

Laki-laki memiliki cara pandang deduksi untuk menyukai seseorang, sedangkan perempuan lebih ke arah induksi. Ketika laki-laki mengumpulkan banyak informasi tentang lawan jenis dan menentukan dirinya menyukai atau tidaknya setelah semua nilai-nilai tersebut membentuk kesimpulan.


Ini menjelaskan kenapa laki-laki bisa berhenti menyukai pasangannya ketika menikah karena terlalu banyak gap di mana keburukan si perempuan terbongkar terus menerus. Mau tidak mau, seseorang yang hidup bersama akan terlihat seluruh warna kehidupannya, oleh sebab itu hal tersebut bisa terjadi.


Hal yang sedikit berbeda terjadi pada perempuan. Ketika mereka tidak punya niat sedikit pun dengan seorang laki-laki, hal tersebut dapat dibalik dengan mudah. Sikap keras kepala dalam memperjuangkan perempuan adalah titik utama yang bisa jadi positif dan negatif. Perempuan bisa saja tidak memiliki perasaan apapun ketika memulai hubungan asmara, tapi jika laki-laki terus secara konstan dan sabar bertahap meluruhkan hati dengan tindakan romantis, maka secara alami perempuan akan melunakkan hatinya.


Aku tidak tahu apa itu terjadi pada pasangan Fany dan Septian sekarang. Tapi, sesuatu yang jelas adalah Fany yang berbalik mengganti jawaban adalah bukti dari hal tersebut. Untuk saat ini, aku lebih berharap agar Septian tidak berhenti memberi umpan pada Fany agar mereka tidak memudar begitu cepat.


Setelah kejadian permohonan maaf dari kedua yang malah berakhir menjadi ungkapan cinta sukses, aku dan Amalia seperti biasa melakukan ritual pengambilan mana. Jumlah pecahan emosi yang mereka keluarkan tidak sebanyak yang dimiliki oleh Imarine dan Azarin, luapan-luapan gelombang sihirnya hanya membentuk sedikit warna dan tidak menjadi kaleidskop.


Aku sendiri tidak peduli, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali mengalami kemajuan. Tapi, melihat hal tersebut aku lebih menjadi kurang bersemangat, tentang apa fungsi diriku di kasus mereka.


Seminggu setelah kejadian itu, Fany dan Septian sudah berpacaran. Akhir ini cukup senang, di mana Septian tidak kini lebih menahan diri dan banyak melakukan diskusi sebelum bertindak. Rasa takutnya untuk membuat repot Fany cukup memaku di pikirannya. Fany di sana juga senang, dia merasa kalau tindakan Septian yang selalu melibatkannya untuk menyelesaikan sesuatu berdua membuat komunikasi menjadi berjalan lancar.


Sekarang aku berdiri di depan terminal, di akhir pekan menunggu kehadiran gadis-gadis yang membuat janji bertemu.


“Halo, halo ... si keren dan baik Kaivan. Hari ini kamu terlihat keren, jadi jangan lupa buat bersikap baik.”


Tidak lama setelah aku menunggu, gadis yang membuat janji akhirnya datang. Dia adalah Imarine dengan pakaian kasual santainya menghampiriku. Cuaca kota tempatku tinggal tidak dingin maupun panas, tapi untuk suhu normal siang hari cukup untuk membuat keringat banyak. Jadi, keputusannya memakai baju berbahan lembut sedikit terbuka adalah karena situasi ..., iya, begitulah yang ingin dia buat untuk aku duga.


“Berhenti panggil aku kayak gitu, Ima.”


“Eh~ bukannya itu pujian? Senanglah karena masih ada perempuan di luar sana yang anggap kamu keren ..., walaupun ujung-ujungnya malah pacaran sama orang lain.”


“...”


Mengucapkan pujian beberapa kali dengan nada menyebalkan tentu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Aku juga dapat merasakan gelombang emosi gadis itu yang cenderung menikmati, karena melihat seseorang kewalahan juga salah satu bentuk kesenangan.


Huft ... hah ....


Menjahili orang dengan memegang salah satu pengalaman memalukan dan mengungkitnya sebagai candaan cukup menyenangkan, tapi itu hanya untuk pelaku. Baru kali ini aku mendapat perlakuan serupa dan rasanya cukup tidak enak. Padahal, ketika aku melakukan hal tersebut pada Imarine, rasa di gelombang emosinya tidak terlalu buruk.


“Ngomong-ngomong, Amalia sudah datang?” tanya Imarine di samping yang ikut berdiri bersamaku di terminal bus.

__ADS_1


“Belum ..., tapi kayaknya sebentar lagi.”


“Iya, lagian masih lama juga. Kita janjiannya jam sebelas, tapi kamu sudah sampai hampir satu jam sebelum. Apa ini artinya Kaivan itu gak punya kerjaan lain di rumah? Atau saking semangatnya jadi ingin cepat-cepat ketemu kita?” tanyanya beruntun dengan nada senang.


Belakangan ini Imarine bersikap menjadi sok akrab di mana hal tersebut terasa menyebalkan. Hanya karena dia memegang satu kelemahanku senyumnya jadi terasa begitu gelap ingin menjahili. Tapi ..., entahlah, mungkin aku saja yang terlalu berlebihan.


“Kenapa kamu gak bilang kalau aku ini orang yang on time? Aku benci kebohongan, rasanya gak enak, makanya aku juga menjaga diri dari kebohongan. Sudah harusnya jadi hal umum buat tepatin janji, ‘kan?” ucapku membenarkan dan menerima semua sekaligus untuk membalik tuduhan candanya.


“Iya, aku tahu. Tapi, bukannya sudah jadi tradisi negara ini buat ngaret? Kamu sendiri sering kecewa, ‘kan waktu datang paling awal malah jadi paling lama nunggu?”


“Itu semua lebih baik daripada merasakan gelombang emosi orang kesal yang menunggu lama,” kembali ucapku menerima seluruh tuduhan dan membalikkannya.


Tidak seperti orang lain, orang yang sudah terbiasa terlambat dan menjadikan jam karet sebagai budaya cenderung tidak merasakan bersalah. Bahkan, mereka dengan santainya meminta maaf dengan alasan palsu walaupun harus menghadap orang-orang kesal menunggu karena tepat waktu. Ini malah seperti orang yang tepat waktu itu yang tidak dapat membaca situasi.


Aku bisa merasakannya, kekesalan itu terasa menusuk ke mulut dan kulitku. Orang-orang di sana sangat aneh, mereka menganggap kalau ucapan ‘aku tidak akan ngaret’ itu adalah bohong yang sudah biasa. Padahal, aku di sana bisa merasakan rasa asam tidak enak dari kebohongan tersebut.


Waktu berlalu, Amalia pun akhirnya datang di sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, berbeda dua puluh menit dengan Imarine.


Hari ini adalah tepat di mana mereka mengadakan kencan. Aku juga tidak tahu harus menyebutnya itu kencan atau bukan, di kepalaku kencan lebih mengarah sesuatu yang luar biasa romantis. Tapi, untuk dunia dan lingkungan sekitar, bermain bersama seperti menonton film atau makan sudah termasuk dalam kencan.


Oleh sebab itu, acara yang kuadakan adalah sebuah pengintaian kecil. Memang urusanku sebenarnya sudah selesai karena mana mereka telah berhasil diambil. Tapi, aku tetap tidak bisa membiarkannya begitu saja. Setidaknya aku ingin melihat kalau mereka berdua ada di jalan yang benar.


Aku, Imarine, dan Amalia naik bus menuju mall yang sama tempat mereka berdua melakukan janji. Untuk bagaimana aku bisa tahu hal tersebut, Amalia dan kemampuan yang membuatnya ‘tak terlihat adalah jawabannya.


Kami pun sampai di tempat tujuan, areanya cukup megah dan bersih, cukup membuat gugup aku yang jarang keluar karena kekuatan pencicip emosi. Kedua gadis yang pergi bersama juga ikut mengikuti, mereka berjalan di belakangku dengan berjarak satu sampai dua langkah.


“Amalia ..., apa kamu pernah ke mall ini sebelumnya?” tanya Imarine tanpa menghentikan langkahnya.


“...”


“Oh ... kamu ke sini cuman nonton film saja, iya. Terakhir nonton apa?”


“...”

__ADS_1


“Hmn ... kamu suka film horor ternyata?”


“...”


“Emang iya, sih. Lagian siapa juga yang mau nonton ke bioskop sendiri ... jadi mau gak mau harus ikut selera teman. Iya ... aku gak nonton filmnya, tapi kadang trailernya lewat di iklan internet. Kayaknya itu lebih ke thriller dari pada horornya.”


“...”


“Ahaha ... Kalau gitu kenapa kamu nonton kalau ujung-ujungnya tutup mata? Kasihan si pembuat film bikin adegan yang ujung-ujungnya malah dilewat.”


“...”


“Benar juga ..., buat film thriller, kayaknya kalimat ‘aku gak kuat lihat’ itu bisa berarti pujian.”


Aku tidak mendengar Amalia bicara, dengan saat bersamaan aku juga tidak bisa melihat catatan gadis tersebut yang sedang berbincang dengan Imarine. Tapi, secara garis besar apa yang mereka bicarakan dapat kumengerti. Mendengar mereka berkomunikasi seperti layaknya berjalan di samping orang yang melakukan panggilan telepon, hanya satu orang yang terdengar bicara tapi pembicaraan terus berjalan hingga menambah sulit untuk sekiranya ingin masuk dalam percakapan.


Namun, lupakan sejenak tentang itu.


“Ima,” panggilku dari depan mereka dan sejenak menghentikan obrolan. “Sebenarnya buat apa kamu ikut? Aku ke sini bukan buat ikutan main, tapi buat liatin perkembangan mereka.”


“Semakin banyak orang semakin bagus, ‘kan?”


“Semakin banyak orang semakin gampang buat ketahuan, aku di sekarang cuman butuh kekuatan Amalia yang bisa bikin dia gak kelihatan.”


“Kalau gitu bukannya kamu juga jadi gak guna?”


“Aku bisa lihat langsung dari jauh, dan buat perlindungan diri, aku punya deteksi jarak jauh.”


“Sama saja ... kalau cuman itu masih gak beda jauh sama aku. Masih lebih aman kalau kamu gak ikut,” ucapnya remeh padaku. “Kalau sudah sampai di sini, biar saja. Lagian, aku juga mau tahu kabar teman sekelasku sekarang. Gak ada yang salah aku di sini, walaupun memang benar aku juga gak bisa bantu banyak. Jadi, sekalian saja main.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2