
Ruang yang memiliki penerangan rendah dan dipenuhi karpet layaknya kedap suara bernuansa bioskop itu berbentuk segi delapan. Berbeda dengan ruangan awal yang terang, luas dari ruangan ini juga tidak terlalu besar. Di satu sisi, ada pintu tempat kami datang di mana pintu tersebut menyambung ke ruangan pertama. Lalu, di setiap enam sisi sekitar terdapat enam pintu yang mengarah pada kamar masing-masing.
Aku melihat satu pintu, terletak di antara pintu normal lain yang diberi tanda gores kasar oleh benda tajam berbentuk X. Aku tidak memasuki pintu tersebut. Menurut insting dan logika, pintu yang berbeda sendiri dengan tanda X tersebut adalah jalur yang dipilih oleh Hanz tanpa sepengetahuan kami. Ketika aku bertanya tanda itu dalam hati, tidak ada ingatan muncul lagi sebagai bantuan. Itu artinya, tanda tersebut berasal dari pemain, bukan dari sang pembuat dunia, Octa.
Tiga sisi pertama di ruangan dengan satu pintu tanda X dan dua pintu normal dipilih oleh Imarine, Azarin, Amalia, dan Pero. Lalu, tiga sisi lainnya dengan tiga pintu normal dipilih oleh aku, Farrel, kak Dina, dan Verdian.
Kami semua sudah berdiri di depan pintu masing-masing. Seperti biasa, sebagian besar dari mereka menunggu keputusanku lebih dulu sebelum benar-benar menentukan keputusan. Ketika orang dari tim Imarine dan Amalia memandangku sebagai pemimpin, Verdian lebih seperti ingin memastikan keamanan dari pada sebuah pemimpin. Dia memandangku layaknya, 'aku akan maju kalau dia sudah maju dan terjamin aman'.
Keduanya aku tidak peduli, selama mereka tidak bertindak gegabah, artinya kondisi tersebut bernilai positif.
Farrel ada di samping, dia masih menunggu dan tidak memberikan pendapat saat pandangan kutengok keadaannya di sana. Lalu, ketika keadaan sudah kuanggap pas, aku pun membuka pintu tersebut.
*Ceklek ....
Ruangan tersebut gelap gulita, tanpa pencahayaan dan hanya terdapat bayang kecil di mana cahaya dari pintu tempatku masuk muncul. Aku tidak peduli dan lanjut berjalan, dari insting gelombang emosi, setidaknya aku belum menemukan ancaman apa pun di sana.
*Ceklek, ceklek, ceklek ....
Secara beruntun orang-orang dari sisi lain juga mulai membuka pintu mengikuti apa yang kulakukan. Memang di sana tidak bisa kulihat secara rinci, tapi jelas terdengar di telingaku kalau langkah mereka sedang masuk ke dalam ruangan.
Bug!
Namun, setelah beberapa langkah kami tuju, terdengar suara keras pintu tertutup.
Aku di sana diserang oleh kegelapan, sumber cahaya satu-satunya mendadak hilang dan kembali menjadi gelap gulita. Mataku tidak melihat apa pun, tubuhku juga tidak bersandar pada apa pun, hanya berdiri dan bernapas di tengah ruangan yang masih tidak diketahui apa di dalamnya.
Aku tidak kaget, ini adalah hal yang biasa dan klise terjadi ketika menemukan tempat seperti ini.
*Grip
__ADS_1
"Hn?"
Terasa pegangan di pundakku, cengkeraman halus dari orang di sampingku.
"Maaf, Ivan. Aku gak bisa lihat apa-apa di sini," kata Farrel merendahkan suara.
Namun, di sisi lain sepertinya Farrel tidak demikian. Walaupun dia punya emosi yang stabil, tapi instingnya untuk bisa menaruh pegangan di suatu tempat gelap gulita membuatnya bergantung pada pundakku sekarang.
Memang, di saat seperti ini saling terikat seperti ini terasa lebih aman. Bahkan, tidak jarang orang buta dibimbing oleh satu orang yang bisa melihat dengan cara seperti ini, memegang pundak dan berjalan di belakang.
"Santai, Farrel, kalau cuman gelap gak akan bahaya—"
*Whoush ....
"Hh!?"
Sesuatu seperti sihir terdeteksi.
Aku tidak punya pegangan, justru aku yang jadi bahan pegangan oleh Farrel di samping. Lelaki itu memegang tanganku erat, dia menumpukkan sebagian beban agar dirinya tidak terjatuh. Tugasku semakin berat, keseimbanganku semakin terganggu. Tapi, aku tetap berusaha mempertahankan kondisi berdiri. Layaknya ada di lift yang sedang terjatuh, merapat ke tanah adalah mimpi buruk ketika lift tersebut menubruk ke tanah. Itu yang aku rasakan, berpikir tubuhku akan terkoyak, aku berusaha mempertahankan posisi dan kuda-kuda di kakiku.
*Grip
Aku memegang balik pundak Farrel. Ketika tubuhku ingin ambruk, gaya yang diberikan Farrel pun aku berikan balik di saat yang bersamaan. Kini, tubuh kami saling bertumpu, layaknya magnet, saling bekerja sama mendorong tubuh satu sama lain agar tetap stabil menapak tanah.
Pegangan tersebut mengeras, tenagaku semakin kuat, di sini bahkan aku sampai mengeramkan gigi dan mengerutkan wajah akibat efek balik energi keluar. Distorsi layaknya ruangan bergerak itu terus dirasakan. Namun, di satu titik setelah beberapa detik berlalu ....
*Silence
"..."
__ADS_1
"..."
Keadaan menjadi hening.
Distorsi kuat itu berhenti, gelombang emosi berhenti, dan getaran aneh yang membuatku dalam tegangan tinggi juga berhenti. Semua yang ada sekarang hanya kekosongan, hampir dari setiap inci indra di tubuhku tidak merasakan apa pun.
Aku pun di sana mulai mengendurkan pegangan kuat di bahu Farrel, secara bertahan mata mengerut dan gigi mengeram juga ikut dilepaskan. Di sana kendur tenaga untuk membuka mata melihat situasi pun kulakukan.
"A-ah ... jadi seperti ini, iya," gumamku setelah membuka mata secara perlahan.
Di ujung penglihatanku sekarang bukan lagi ruangan gelap gulita. Sekarang apa yang ada menyambutku adalah sebuah lingkungan terbuka berisi tanaman liar rindang dengan segala khas hijau lebatnya.
Aku di sana terkesan, melihat kalau ternyata dimensi dan dunia yang dibuat Octa bisa sampai pada tahap seluar biasa ini. Distorsi yang kurasakan ternyata sebuah katalis di mana dia membawaku ke lingkungan baru.
Aku melihat ke atas, di sana ada garis cahaya yang menembus dedaunan pohon tinggi hingga menyenter posisiku berdiri. Aku sedikit bertanya dari mana cahaya tersebut muncul. Dari sifatnya seperti cahaya matahari. Tapi aku yakin kalau sebelumnya kami sedang ada di dalam ruangan.
Aku melihat ke samping, pohon tinggi dan beberapa tumbuhan khas hutan hujan berjajar memblokade membentuk lingkaran utama. Memang tidak sangat rapat sampai aku tidak dapat keluar di antaranya, tapi formasi mereka sudah cukup membuatku sadar kalau tempatku berdiri merupakan daerah istimewa tidak ditanami pepohonan.
Bergerak sedikit ke atas, aku melihat binatang-binatang. Di sana mungkin tidak hidup satwa beragam layaknya kebun binatang. Namun, keberadaan serangga kecil seperti lalat, nyamuk, dan hewan kecil layaknya burung, tupai terlihat lewat sesekali.
*Whoush ....
Hmn ....
Ingatan dari Octa terasa mengalir. Ini adalah peraturan untuk dapat menyelesaikan tugas pertama. Pesan darinya kali ini begitu singkat, sifatnya lebih seperti teka-teki dari pada petunjuk.
Carilah siapa penguasa ekosistem. Dia yang bertugas menjaga Gerbang, dia yang memegang konsisten, dia yang tergantikan kepalanya. Bersama dia, dia menunjukkan kebenaran atas nama dewi yang memberikan anugerah.
__ADS_1