
"Hkgh, HA!!"
Geza mencoba mengerahkan kekuatannya untuk mendorong Amalia menghempasnya.
Grk ... grk, grk ....
Tapi, tombaknya hanya bisa mendorong sedikit bagian. Dia tetap tidak bisa menang sepenuhnya adu kekuatan dengan Amalia. Kekuatan sihir yang menyelimuti gadis tersebut memang luar biasa.
*Whoush ....
*Dug, dug ....
Lalu, di sisi lain tersebut aku bisa merasakan gelombang emosi kemarahan. Efek sihir yang dipakai Amalia juga berpengaruh sebagian padaku. Kekuatan, indra, kelincahan, kecepatan, dan instingku secara bertahap meningkat. Dengan kekuatan pisau milik Pero, aku pun menyayatkan benda tajam tersebut mengarah ke lehernya.
*Slash
Serangan horizontal, melesat dari sisi kiri ke lehernya. Gerakanku cukup tajam dengan menggunakan pisau tersebut.
*Crack
"Hh!?"
Aku bisa melihat dan mendengar suara retak setelah serangan tersebut mengenai lehernya. Sensasi yang kurasakan tidak seperti membelah kulit, lebih seperti sedang memecah cangkang keras.
"HAaaAAaa!! Kaivan!!"
Sambil berteriak barbar, Geza yang marah mulai mengalihkan fokusnya padaku.
Dia yang sedang beradu senjata pun mulai melepas kekuatannya. Melangkah mundur dengan cepat untuk menghindar dan berjaga jarak dari Amalia, lalu dengan cepat melakukan serangan langsung ke arahku sebagai bentuk dendam.
*Dug, dug, dug, dug, ....
Aku yang dalam pengaruh gelombang emosi kemarahan masih bisa menghindarinya. Dari awal senjata tombak cukup buruk untuk pertarungan yang terlalu dekat. Sekali kita bisa menembus area serang ujung bilahnya, gerakan tombak sudah tidak efektif lagi.
Aku menunduk menghindar, ayunan tombak tersebut lewat begitu saja di atas kepalaku.
Di saat yang sama, Amalia mencoba maju dan melakukan serangan susulan. Geza sadar hal tersebut dan melakukan gerak penghalau menggunakan ujung lain yang berlawanan dengan bilah capit tombaknya.
__ADS_1
Itu cukup berhasil baginya, Amalia yang barusan ingin menyerang pun terganti fokus untuk kembali menghindar. Usaha penyerangan gagal, gadis tersebut perlu mengulur waktu lagi untuk menyerang.
Tapi, di sisi lain aku sudah siap dengan pisau di tangan. Kami menyerang di dua sisi yang berbeda secara bersamaan. Geza tidak cukup lincah menghindari seluruh serangan pisau, dan di saat yang bersamaan gerakan kuat tombaknya tidak efektif membalas.
Kombinasi aku dan Amalia terus diulang. Menyerang dan menghindar bergantian di dua sisi, menjaga jarak agar tetap dekat agar pisau tetap efektif, dan secara perlahan menaikkan tempo agar penyihir lobster itu semakin terpojok.
Sampai pada akhirnya ada satu celah lagi di mana aku bisa menyerang lehernya yang barusan sudah retak.
"Heh," dehamku cukup keras sambil mengayunkan senjataku.
Sayat pisauku sudah mengayun menuju lehernya. Sedangkan tombak capitnya sedang terpental ke arah lain oleh Amalia. Di saat yang sama, Amalia juga melanjutkan serangan, dia sama-sama menyerang leher Geza sebagai gerak terusan.
Insting dan indra tajamku bisa melihatnya, setiap persekian detik bilah pisauku dan Amalia menuju leher Geza. Gelombang emosi kemarahan darinya dan dari sihir Amalia terlalu kuat, campuran mereka berdua telah memberikan kekuatan luar biasa pada tubuhku.
Jika saja dia bisa lebih tenang mengendalikan emosinya, bisa saja aku tidak cukup kuat untuk menyayat tubuhnya. Jadi, setidaknya aku tahu kalau Geza sekarang juga akan terbunuh oleh faktornya sendiri.
Itulah yang kupikirkan ....
Namun ....
*Steam!!
Tiba-tiba saja muncul uap panas di sekitarku, dan ....
Stank!!
Stank!!
Aku merasakan sensasi yang berbeda di ujung pisau. Bukan hasil tumbuk membelah cangkang seperti ketika aku menyayat lehernya barusan, yang satu ini bersuara layaknya adu logam biasa. Ini cukup aneh karena aku yakin seberapa keras kulitnya tidak akan membuat suara seperti itu.
*Whoush ....
"Hh!?"
Gelombang emosi baru kurasakan, muncul tepat di dalam awan tersebut.
"Amalia, mundur!!" teriakku memperingatkan.
__ADS_1
Bilah pisau kami tarik, mundur dengan cepat menjauh dari kebul uap panas yang tiba-tiba muncul di sekitar Geza. Tidak ada perlawanan dari Geza, lagi pula kondisinya sekarang lebih seperti tidak diketahui dengan tubuhnya yang tertutup uap panas.
Aku yang mundur melihat ke sisi lain untuk memastikan Amalia selamat. Setelah peringatan kuucap, gadis itu bergerak mundur dengan cepat layaknya ninja menggunakan gerakan lincah back flip.
Posisiku dan dia ada di lawan sisi, masih dalam formasi di mana kami mengepung Geza. Aku tidak ingin mendekat sebelum tahu apa yang terjadi di sana. Berbeda dengan penggunaan sihir, gelombang emosi yang kurasakan sekarang meluap keluar layaknya bohlam lampu. Mereka tidak mengalir, melainkan memancar keluar. Itu artinya, ada sumber lain ... ada satu individu lain yang datang menyelamatkan Geza sekarang.
"Hahah, ternyata bukan kamu saja yang punya bantuan terlambat ... Kaivan," ucap Geza ketika uap-uap panas di sana mulai memudar memperlihatkan wajahnya.
"Apa maksudnya itu saya, Tuan?" balas suara dari ucapan monolog Geza. "Saya tidak terlambat. Bukankah tuan sendiri yang menyuruh saya datang ketika terdesak saja."
Kali ini muncul suara susulan bernada rendah selayaknya pria dewasa. Bersamaan dengan hilang kabut panas yang menyelimuti, aku melihat sosok pria berpakaian pelayan dengan tinggi setara sekitar 170 cm.
Pria tersebut membawa dua bilah pedang. Bentuknya tidak lurus seperti pedang barat, tapi juga tidak cukup melengkung untuk pedang desain timur, mungkin bentuk utamanya lebih seperti pedang bajak laut. Modelnya sendiri tidak jauh berbeda dengan tombak Geza, sisi bagian tajamnya disertai gigi-gigi tajam selayaknya gergaji. Aku bisa melihat bentuk utama dari lobster hanya dengan memerhatikan detailnya.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak datang lebih awal? Apa luka di leher ini masih kurang bahaya?" ucap Geza bercanda sedikit sinis.
"Saya yakin tuan tidak akan kalah semudah itu."
Fuss ....
Angin mulai meniup uap panas yang menghalangi mereka sepenuhnya. Di sana terlihat kalau wajah orang baru itu cukup rapi dengan kacamata monocle. Mereka berdua tengah berdiri dengan saling memunggungi layaknya sedang bertahan di masing-masing sisi.
Aku tidak merasakan ancaman yang besar, tapi pria tersebut punya gelombang emosi yang stabil. Dari tutur katanya, tidak ada gemetar gugup, takut, atau semangat. Datar seperti layaknya boneka tanpa perasaan.
*Glance
Mataku dan Geza mulai bertatapan.
"Apa kamu terkejut, Kaivan?" tanyanya sambil melirik dan membetulkan posisi tombaknya. "Kamu seharunya mengerti kalau lobster punya dua capit."
"..."
__ADS_1
Aku tidak menyangka kalau orang seperti Geza sudah punya teman. Lagi pula, dari cara bahasa yang dia utarakan, aku bisa menyimpulkan kalau dia masih bekerja sendiri. Seperti ketika, 'bahkan sekelas penyihir pun tidak bisa mengerti'. Itu artinya, aku adalah orang pertama yang dia ajak bekerja sama sebagai penyihir, di mana di saat yang sama dia juga seperti sudah melakukan rekrut pada manusia biasa sebelumnya.
"Kamu jaga saja penyihir perempuan di belakang," perintah Geza pada orang tersebut. "Kalau aku ... kurasa aku akan mengurus anak munafik yang satu ini. Haha!"