Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 11 - Kamu Bukan Adikku


__ADS_3

Aku tidak tahu batas yang ada di Universitas. Ada yang bilang kalau lingkungan SMA dengan Universitas sangat jauh berbeda. Ketika SMA mengatur siswanya dengan aturan yang ketat dan jelas hukumannya untuk mendidik lebih baik, Universitas lebih melonggarkan aturan dan memberikan sanksi berupa hukuman tidak langsung di nilai akhir. Universitas sangat bergantung pada nilai di mana sang dosen tidak segan untuk memberikan nilai minimum agar tidak lulus jika ada sebuah pelanggaran. Jadi, ada yang bilang kalau mendapatkan hati dosen adalah cara tercepat dan tercurang untuk bisa lulus secepatnya.


Di sini aku orang asing tidak tahu batas antara aturan yang mengikat dengan keberadaanku. Bisa jadi aku dilaporkan pada petugas keamanan setempat dan dilaporkan ke sekolah atau orang tua pada saat terburuknya. Mungkin agak aneh ketika aku membicarakan aturan manusiawi setelah mengalami perang saling bunuh dengan Geza. Tapi, memang tidak bisa dibantah kalau aku masih hidup di dunia manusia itu sendiri.


Apa pun itu, aku masih tidak bisa memaafkan orang bernama Verdian ini. Jika dia berlaku kasar hari ini, besar kemungkinan kalau luka memar pada kak Dina memang berasal dari dirinya. Aku belum pernah merasa kesal sebelumnya, dan satu hal yang membuatku begitu adalah kak Dina yang menurutku adalah makhluk polos malah tercemar oleh tangan kasar lelaki.


“Agkht ... ah ... hah ... ah ....”


“...”


Verdian sekarang benar-benar merungus kesakitan. Aku tidak mengerti, padahal cuman dua sampai tiga serangan. Tapi, dia benar-benar masuk dalam kondisi menyedihkan.


Rasa kesalku hilang sekarang, nafsu untuk menghajar berganti. Bukan ke arah kasihan, tapi lebih ke arah jijik dan kembali meremehkan. Layaknya aku mensyukuri kejadian ini sebagai karma atas tindakan hinanya berani mengarahkan tinju pada kak Dina.


Huft ... hah ....


Aku berbalik arah, mencoba menemui kak Dina yang semula ada di belakangku. Mungkin dia masih kaget dan bingung dengan keberadaanku. Tapi, selama dia selamat itu tidak masalah, aku akan tanggung urusan lain akibat tindakanku.


“...”


Hn?


Sekarang, aku melihat kak Dina. Dia sedang membeku berekspresi kaku sambil duduk emok di tanah. Persis seperti yang kuperkirakan, kejadian yang begitu cepat di depannya membuat pikiran dia tidak bisa memproses. Pada akhirnya otaknya dalam kondisi hang.


“Kak, kakak gak apa-apa?” tanyaku sambil menjulurkan tangan menawarinya bantuan untuk berdiri.


“...”


Aku bertanya, tapi kak Dina tidak menjawab dan masih dalam keadaan kosong pikiran. Bola matanya masih tidak bergerak, tatapannya kaku tidak merespons pergerakanku yang ada di depannya sekarang. Lalu, aku juga tidak bisa merasakan gelombang emosi selayaknya dia sedang meresponsku.


“Woi, Kak?” kembali aku bertanya.


“Hh!?”


Pada panggilan kedua, kak Dina akhirnya memberikan respons. Badannya bergidik, napasnya kembali jalan, dan gerak matanya mulai aktif terlihat hidup.


Aku di sana berharap dia menjawab tawaran tangan yang kuulurkan barusan, mengakhiri dengan ucapan terima kasih karena diselamatkan, dan pulang untuk mendapat keamanan.


Namun, hal yang terjadi ternyata di luar dugaan.


“Ver? Ver ...? Verdian ...!?”


Nama yang disebut oleh kak Dina adalah laki-laki itu, bukan diriku.


Mungkin aku masih bisa memaafkan kalau kak Dina kala itu menerima ulur tanganku. Tapi, dia lebih memilih untuk mencari pacar laki-lakinya, pacar yang sebelumnya ingin memukulnya. Wanita yang sudah mendapatkan kembali kesadarannya pun mencari lelaki itu, bergeleng-geleng kepala menaruh pandangan ke seluruh arah. Sampai pada akhirnya dia melihat Verdian yang memang sedang tergeletak di tanah.


“Ver! Ka-kamu, kamu gak apa-apa?” ucapnya sambil bangkit dan berlari kecil mendatanginya.


Itu mungkin respons yang normal, respons di mana dia mengkhawatirkan orang yang terluka.


“...”


Akan tetapi, jika dilihat dari luka dia dan luka yang aku derita dengan tangan menggantung gips. Seharusnya dia lebih memilihku, bukan lelaki itu. Lagi pula, aku tidak memandang sedikit pun kalau lelaki itu pantas mendapat rasa kasihan.


Biarpun begitu, kak Dina tetap memilih Verdian. Mengabaikanku dan ulur tanganku lewat begitu saja mengambang tanpa ada yang menerima.


“Ah, hah, hah, ah, ahktgh, ah!”


Verdian di sana masih tidak bisa bicara, arus napasnya akibat serangan di rusuk masih membuat jalur udaranya tersendat-sendat. Karena tidak ada yang bisa dimintai pertolongan, kak Dina pun akhirnya mulai menatapku. Bukan dengan pandangan berharap, tapi dengan tatapan ancaman.


“Ivan! Kamu ... kamu kenapa pukul Verdian!? Lihat dia sampai kesakitan kayak gini!”


“Ha?”


Aku menganga, tidak besar, tapi cukup keras mengekspresikan rasa bingung atas respons konyol kak Dina. Pasalnya ....


“Kenapa? Kenapa kak Dina malah bantuin dia?”


Kak Dina tidak bisa melakukan perawatan, tapi setidaknya dia membantu Verdian untuk bisa mendapatkan posisi nyaman. Sambil kalimatku terlontar, kak Dina sibuk membantu meringankan beban dan tidak terlalu fokus. Tapi, dari tatapan mata dan konsentrasinya, dia masih bisa mendengarkanku.


“Huh? Kenapa? Kamu yang kenapa, Ivan? Kenapa kamu pukul dia?” timpalnya yang malah berbalik marah.


“Jawabannya sudah jelas, karena dia mau pukul kakak barusan.”


“Dia gak maksud kayak gitu, dia gak sengaja.”

__ADS_1


“Gak sengaha? Dari mananya? Itu bukan gak sengaja. Jelas kalau cowok itu—“


“Ghuak!”


Di saat kami bicara, posisi Verdian sudah terlentang dengan bagian atas miring di pangkuan tangan kak Dina. Batuk yang keras itu entah kenapa menandakan kalau lelaki itu sudah sadar. Dengan perlahan, dia mulai bangkit ke posisi setengah berdiri, lalu dilanjut mengokohkan kaki berdiri tegak—tentu dengan kak Dina membantunya di samping.


“Hah, ah, hah ... wo-woi! Dina, hah ... hah ... kamu masih gak jawab. Siapa orang ini, Huh?”


“Adiknya,” jawabku mewakili kak Dina karena tak kuasa melihatnya ditanya dengan sedikit sentak.


“Tch, pantes saja, kalian sekeluarga ini gak ada akhlak.”


“Huh? Itu beneran kamu ngomong kayak gitu?” balasku yang kembali kesal mendengar ocehan dia.


“Sudah, Ver. Kita pulang saja, semuanya sudah baikan, kok—“


“Berisik— Ah! Lepas napa, huh!”


“A-ahn!?”


“Hh!?


Tindakan kasar kembali muncul. Bahkan sampai titik ini, aku tidak mengerti apa yang lelaki di depanku pikirkan.


Dia sudah dibantu oleh seorang gadis, sudah mendapat rasa belas kasih dan masih untung tidak dibuang begitu saja. Tapi, dengan kasar lelaki tersebut melemparkan rasa kasih itu, dia kembali berontak untuk lepas dari lekat peluk perhatian kak Dina.


“Gak usah tahan-tahan aku, adikmu itu kayaknya memang butuh pelajaran—“


Buk!


Belum sempat Verdian menyelesaikan kalimatnya, tinju sudah kembali melayang ke wajah lelaki tersebut. Tidak cukup kuat, tapi sudah cukup untuk membuat kepalanya terdorong ke belakang dan memutar pandangannya ke berbagai arah.


“Akh, AaaAAhhlknhh ...!”


Kali ini Verdian mengeluarkan suara yang lebih keras. Tulang pelipis yang terkena tinju kiriku ternyata cukup rentan terhadap hantaman seperti itu.


“Kenapa? Huh? Mana pelajarannya? Kamu mau pukul aku sekarang?”


“Tch!”


*Dug, dug ... dug, dug .....


Verdian yang kesal mendecakkan lidahnya lagi, dia mengambil acang-acang pukulan lain walaupun merasakan sakit di wajahnya.


*Punch


Aku kembali menghindar, instingku yang kuat dengan kekuatan deteksi emosi kemarahan tidak ada tandingannya dengan gerak yang kukira termasuk lamban. Serangan tersebut masih berlanjut, dia melakukan pukulan kedua, bahkan ketiga, dengan gerakan sederhana tinju bergantian ke arah wajah.


Aku sudah bisa membacanya, bahkan tanpa kekuatan gelombang emosi. Gerakannya sederhana, dia tidak punya dasar gerakan bela diri. Setelah pukul kanan, lalu dia memukul kiri, ketika dia kesal dengan serangan meleset, dia mencoba menangkapku dan menghentikan gerak lincah. Itu bisa terbaca, dan aku bisa menghindarinya.


Tapi, tentu aku tidak ingin dalam posisi menghindar, lama kelamaan aku mulai gatal. Untuk itu aku pun kembali memukulnya.


Buk.


“AAAaaahkgt ...!”


Itu mengarah ke hidungnya. Tidak keras, tapi tentu ngilu akibat geser tilang rawan tidak bisa diabaikan. Dia tidak punya postur hidung yang terlalu mancung, aku juga tidak berpikir serangan tersebut bisa membuat hidungnya patah. Tapi, gelombang emosi dan volume teriaknya sudah memekikkan telinga.


“Ivan, sudah, stop!” teriak kak Dina di sisi lain yang sudah tercipta jarak akibat gerak pindah dari hindaranku.


Aku sebenarnya ingin saja berhenti. Tapi ....


“Ah! Hah! AaaAAaahH!”


Lawanku masih keras kepala.


Kali ini dia melakukan gerak berantai semakin tidak jelas. Sambil memegang hidung, lelaki bernama Verdian itu mengayun-ayun tangannya berputar sambil mendekat agar tinjunya punya kesempatan menyabit ke arahku.


Huft ... hah ....


Buk ... buk, buk ... buk!


Tapi, tentu aku bisa mengatasinya. Gerakan itu begitu kacau. Respons pun kala itu memutar sedikit agar keluar dari jangkauan tangan, menyergap dari samping dan memukul lengan atasnya.


“Akhgt!”

__ADS_1


Pukulan itu membuat ngilu karena menghentikan peredaran darah sesaat. Urat di lengannya yang tipis terbuka untuk serangan, dia akan mengalami kesemutan dahsyat menyebabkan tangannya mati rasa.


Verdian yang bingung jatuh ke posisi setengah berdiri, dia sendiri kaget dan tidak menyangka kalau sebelah tangannya bisa ngilu seperti itu.


“Tch!”


Namun, pandangannya padaku masih dipenuhi dendam, tidak ada sedikit pun rasa penyesalan mau pun rasa takut. Dia seolah masih menantangku walau sudah dalam keadaan getir seperti itu.


Aku tidak takut, aku masih bisa memukulnya meski dengan sebelah tangan. Tangan kirku mungkin mulai sakit karena memukul tanpa pengaman juga lama-lama berefek balik padaku. Di saat aku melangkah maju mendatangi Verdian untuk pukulan selanjutnya. Tiba-tiba ....


“Stop!”


*Push


Kak Dina dari depan mendorong keras tubuhku hingga mundur menjauhkan aku dan lelaki tersebut.


“Ivan, berhenti. Kamu gak pantes buat mukul dia,” ucapnya sambil terus menahanku dengan tenaga dorong.


“Kakak kenapa? Dia barusan mau pukul kakak lagi. Memangnya kakak gak sadar?”


“Ini bukan urusan kamu, Ivan. Kamu harusnya gak ada di sini.”


Ujung kepalaku lebih atas dari kak Dina, badanku lebih tinggi untuk tidak bisa tertutupi pandangannya oleh wanita itu. Dengan dorong-dorong itu, mataku masih bisa saling bertemu dengan Verdian. Wajahnya masih mengesalkan, aku ingin memukulnya lagi.


“Aku adik kakak, aku urusan kakak urusanku juga.”


“Enggak!!”


*Grip


“Hh!?”


Di satu titik, aku terkejut oleh tindakan kak Dina.


Tiba-tiba saja dia membuat suara keras yang mengalahkan suaraku dan suara Verdian. Itu membuatku kaget karena pada dasarnya hal tersebut bertentangan dengan kak Dina. Baik aku dan dia, kami berdua punya pribadi dengan emosi yang cenderung stabil untuk bisa marah. Jadi, ini salah satu untuk pertama kalinya aku mendengar wanita itu berteriak keras.


Dia sekarang meremas bajuku dengan keras, bersamaan dengan tenaga dan volume teriak itu, aku pun mulai melemaskan badan dan mengurungkan niat menyambar Verdian lagi.


*Push


“E-eh?”


Lalu, di sana kak Dina mendorongku menjauh. Memang tidak terlalu kuat untuk bisa membuatku mundur terpental, tapi itu aku di sana merasakan sebuah perasaan yang gelap karena gelombang emosinya menusuk padaku.


Aku sekarang berhadapan dengannya dengan jarak setengah meter, wanita itu menundukkan wajah. Rambutnya kala itu turun dengan acak, ekspresinya tidak terlihat dan tergantikan dengan bayang hitam.


“Ka-kak Dina?”


Aku memanggilnya, aku sedikit khawatir dengannya. Karena dengan kondisi fisik tersebut, aku juga bisa merasakan gelombang emosi yang mulai tidak beres.


“Kamu, kamu bukan adikku, Ivan.”


“Huh? Apa maksudnya?”


“Hmn!”


*Plak


“Kamu bukan adikku!”


“...”


Aku di sana terdiam membeku, garis wajahku berhenti bergerak dan terhenti di satu ekspresi. Itu adalah ekspresi kaget, ketika kak Dina menamparku, yang kulakukan hanya menerimanya dan mematung dengan kepala ke samping.


“Kamu bukan adikku, Ivan. Jadi, gak usah ikut lagi urusanku.”


“...”


Lagi, kak Dina mengucapkan kalimat itu lagi.


Dari semua kalimat, aku tidak pernah merasakan hal yang lebih sakit lagi dari ini. Setiap katanya menusuk, setiap katanya menyayat dan menguliti perasaanku. Itu sangat sakit, karena itu dikeluarkan bersama tamparan keras.


 


 

__ADS_1


__ADS_2