Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3.5 All Round Healing : Chapter 5 - With Amalia


__ADS_3

Imarine meninggalkanku di sana, entah ke mana arah dia pergi yang penting aku tidak mengikutinya sekarang. Menghabiskan waktu di tempat itu sendiri bersama sisa makanan, aku juga sesekali berpikir tentang bagaimana perasaan yang dilanda Imarine sekarang.


Aku dan kekuatanku yang seharusnya bisa merasakan gelombang emosi malah membuat orang kesal karena tidak peka terhadap perasaan. Ini membuatku bingung di mana aku harus melakukan rekap ulang tindakan, di mana aku harus memperbaiki. Tapi, mungkin sesuatu yang salah adalah bagaimana cara pandang dan cara berpikirku yang berbeda dengannya sebagai seorang gadis.


Bel sekolah masuk berbunyi, aku pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran pada umumnya.


Sekolahku sebenarnya tidak terlalu mengasikan. Dengan keadaanku sekarang beberapa orang mulai memberi keringanan dan membantu berbagai hal. Walaupun begitu, aku tetap kesulitan untuk menulis pelajaran yang ada.


Aku sendiri bukan manusia yang kesulitan dalam belajar. Dengan mengikuti pelajaran yang ada, setidaknya aku bisa menghindari nilai buruk di laporan akhir dengan mudah.


Bel sekolah pulang berbunyi, kembali waktuku untuk menemui gadis satu lagi telah tiba. Biasa seperti sebelumnya aku selalu mengunjungi Amalia sepulang sekolah, ini sudah menjadi kegiatan wajib jika tidak ada sesuatu yang menghalangi. Walaupun latihan sihirnya sudah membaik, tapi dia tetap tidak pernah berhenti untuk meneliti kekuatannya sendiri itu bersamaku.


Lalu, hari ini ketika aku kembali sekolah, pesan ponsel kukirim pada gadis tersebut untuk menunggu di gerbang sekolah untuk memulai kegiatan tersebut kembali. Berbeda dengan kejadian bersama Imarine, kali ini aku benar-benar mendapat balasan dari Amalia di pesan tersebut. Di dalamnya dia setuju untuk kembali bertemu dan menunggu di jam pulang sekolah seperti biasa.


Matahari sudah menguning ... bahkan menjadi jingga. Sudut cahaya di jendela lantai dua sudah cukup tajam menyorot jendela terlihat dirinya mau tenggelam di ufuk barat. Ini sudah waktunya aku pergi, menjemput Amalia yang mungkin sudah menunggu cukup lama di tempat yang dijanjikan. Walaupun aku sudah tidak terlalu menderita dengan kekuatanku, tapi bukan berarti efeknya benar-benar hilang untuk bisa pergi kerumunan. Aku tetap harus berada di balik bayang kesunyian, bersama waktu menunggu para murid pulang lebih dulu.


Aku sudah sampai setengah jalan keluar kelas. Di lapangan utama menuju area depan sekolah, aku melangkahkan kaki dengan tangan terikat membeku gips dan dengan tas yang digantung sebelah. Udara dan atmosfer di sana begitu bersih dan nyaman dihirup, sampai tiba saatnya ....


*Whoush ....


“...”


Gelombang emosi.


Sesuatu yang kurasakan di mulut adalah asam dan manis yang cukup pekat. Belum sampai di tempat Amalia, dan aku sudah disambut dengan gelombang emosinya. Sekarang posisiku sudah bisa melihat tubuh Amalia, dia berdiri di dekat gerbang utama sekolah. Walaupun dia bukan kandidat yang bisa diisap mana-nya seperti Imarine dan Azarin dulu, tapi gelombang emosinya tetap tebal melebihi orang biasa ... bahkan untuk jarak kami yang terpisah lebih dari dua puluh meter.


Aku melanjutkan jalan dan menahan gelombang emosi tersebut. Secara keseluruhan, apa yang kurasakan sekarang tidak terlalu buruk untuk membuatku tumbang. Jika digambarkan, gelombang emosinya berasa seperti stroberi. Bukan stroberi yang manis seperti minuman komersil di luar sana, lebih seperti asam, manis, dan gurih sepat memenuhi mulut. Rasa yang cukup unik, tapi sayang aku tidak menyukainya.


Amalia di ujung sana sudah mulai menyadari arah datang. Pandangan kami bertemu sambil terus memotong jarak karena jalanku. Terkadang aku juga di sana merasakan gelombang emosinya yang berubah, ini seperti dia merasa gugup ketika ingin berhadapan denganku.


“Amalia,” panggilku dengan nada lembut membuka percakapan. “Redam emosimu, gelombang emosi terlalu pekat sekarang.”


“...!?”


Amalia merespons unik mendengar ucapanku. Dia menutup mulut dengan satu rentang telapak tangan yang sedang menganga, ekspresi di wajah dengan mata terbuka lebar membuatnya seperti berkata ‘Ah!’.


Setelah itu, dia melirik-lirik ke berbagai arah di tubuhnya sendiri. Mengangkat bahu, lengan, sambil melihat seperti orang yang mencari noda menempel di pakaian.


Setelah dia melihat, dia malah kebingungan. Tindakannya untuk mencari dihentikan, gadis itu melirikku sekejap ....


“...”

__ADS_1


*Turn away


Hn?


Lalu, dengan cepat dia kembali mengalihkan tatapannya seakan kabur dari pandangan mataku. Dibanding melanjutkan tindakannya barusan, sekarang Amalia malah melihat ke bawah memegang kepala menggunakan kedua tangan sambil sesekali menggaruknya. Tanpa diberi tahu, tanpa perlu kekuatan deteksi emosi, aku bisa mengerti kalau dirinya sedang bingung bagaimana cara menuruti perintahku untuk meredam emosinya.


Itu cukup mengesalkan, apa yang dia lakukan barusan itu secara tidak langsung sudah melanggar permintaanku. Ekspresi bingung dan paniknya seakan dikejar oleh perkataanku malah memberi gelombang emosi baru.


Amalia pun di sana mengambil catatan untuk ditulis, sepertinya dia sudah memutuskan untuk bicara apa.


Maaf, aku gak tahu cara redam emosi. Tapi, kamu boleh jaga jarak kayak sebelumnya lagi, kok.


Tulis dan tunjuknya tulisan di catatan padaku.


“...”


Sebelumnya aku pernah kesal dengan Amalia sampai aku tidak ingin mendekat dengan dia berjaga jarak konstan sekitar lima belas meter. Tapi, itu dahulu, dan kondisinya pun ada ketika dia sedang mens. Berbeda dengan dirinya sekarang, gelombang emosi ini masih lebih stabil dibanding dia yang sedang menahan rasa sakit mens dan terguncang oleh gelombang emosi lain.


“Enggak, enggak usah,” jawabku menolak tawarannya. “Gelombang emosimu gak separah waktu itu, aku cuman minta kamu lebih tenang saja. Telat banget kalau kamu takut sama aku sekarang, kamu sekarang sudah lebih kuat dariku.”


“...!”


Aku gak takut kamu, aku takut kamu marah gara-gara kejadian Geza kemarin. Kamu sekarang luka, dan semua itu harusnya tugasku. Kamu bantu aku banyak, malah kebanyakan sampai aku gak tahu harus apa.


Tulisnya kembali di catatan.


Sudah lama aku tidak mengalami komunikasi lewat catatan Amalia. Pengalaman selayaknya membaca tulisan cinta dari seorang gadis yang punya tulisan feminin berperasaan, komunikasi ini terkadang terkesan mewah dibanding komunikasi biasa. Entah kenapa aku bisa membayangkan suara Amalia keluar ketika membaca hasil tulisannya.


Reaksi itu mirip dengan sesuatu yang Imarine katakan. Aku mulai mengerti, rasa sunkan dia untuk menerima bantuan dan tidak ingin aku menderita. Perasaan yang manusiawi, dan sekarang dia merasa bersalah dengan hal tersebut, ketakutan dan kegugupan yang terkumpul menjadikan gelombang emosi yang sekarang kurasakan.


“Kamu gak usah pikirin itu. Aku bertindak berdasarkan keputusanku sendiri. Kalau memang aku gak mau, aku sudah tinggalin kamu dari awal. Tapi, aku masih punya tanggung jawab, sihir yang aku curi darimu belum kukembalikan,” jawabku menjelaskan agar mengurangi rasa sunkannya.


“...”


Amalia menekuk alisnya, dia merespons tidak nyaman. Apa yang kukatakan selayaknya tidak dia terima. Padahal, aku berharap kalau itu bisa membuatnya tenang.


Kaivan, sebenarnya kamu sudah membantu lebih. Kasus Imarine sama Azarin, kasus Fany sama Septian. Itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Memang kamu gak kembaliin mana punyaku sebelumnya, tapi apa yang kamu kasih harusnya sudah cukup, malah lebih kalau dihitung sama kasus Geza sekarang.


Tulisnya di catatan.


“Tapi, Geza sekarang gak menghasilkan. Kasus Geza gak kasih mana luapan emosi—”

__ADS_1


“...!”


*Whosuh ....


Sedikit gelombang emosi kurasakan memotong kalimatku.


Bukan itu maksudnya.


Lalu, dilanjut dengan sentaknya menunjuk catatannya. Walaupun tulisan di sana tidak membentak, tapi aku bisa merasakan kalau Amalia sedang memarahiku untuk alasan yang tidak aku ketahui.


“Huft ... hah ...,” napasku mengeluh mencoba mengembalikan atmosfer di sini. “Terus, kamu mau apa? Aku tahu kamu gak bisa berhenti sekarang, dan aku gak mau tinggalin kamu sendiri selama masih ada kemungkinan musuh kayak kasus Geza.”


“...”


Aku tahu, cuman tetap saja rasanya gak enak.


Tunjuk Amalia padaku tentang catatannya. Tapi, sebelum aku memberikan jawaban, gerak tubuhnya lebih cepat untuk menarik kembali dan menulis lanjutan.


Aku gak tahu cara buat balas bantuan kamu. Kamu mungkin bilang ini cuman karena tugas soal mana yang terhisap waktu itu. Tapi, aku mau bilang makasih juga.


Kaivan, kamu harus belajar. Kalaupun kamu gak apa-apa dengan kamu yang sekarang, tapi kamu harus tahu ada orang yang gak bisa gitu. Kalaupun kamu gak apa-apa luka kayak gini, tapi aku gak bisa terima gitu saja.


“Hn?”


Jadi, kalau ada sesuatu, bilang saja dan aku bakal lakukan apapun.


Aku tidak merespons cepat ketika membaca tersebut. Pasalnya, aku memang tidak tahu harus bagaimana. Sama halnya dengan apa yang dia nyatakan, ini seperti emosi dan pikirannya menular padaku. Perasaan di mana dia bingung ingin bertindak seperti apa juga membuatku bingung untuk bagaimana memperlakukannya sekarang. Dari awal sampai detik ini aku tidak pernah mengharapkan apapun dari Amalia.


Tapi, keadaan ini ada di tingkat di mana dia hanya akan puas jika tidak melakukan sesuatu untukku. Aku tahu kondisi mental tersebut. Ketika orang mengerti keadaan satu lingkungan sedang terdesak, terkadang ada orang yang berusaha keras agar bisa berguna di lingkungan tersebut. Diam sendiri melihat lingkungan itu rusak, atau diam melihat orang lain bekerja keras tanpa memacu dirinya untuk berguna adalah siksaan batin.


Aku sebenarnya ingin meyakinkan dirinya kalau dia juga orang yang paling berperan di sini. Hanya saja, dia merasa bersalah ketika hampir semua efek buruk jatuh ke padaku. Setelah pertarungan kala itu, Amalia hanya meninggalkan luka ringan yang sembuh dalam tiga hari.


“Kalau gitu langsung saja, ada satu hal yang mau kuminta. Ini mungkin berat, dan aku bakal berterima kasih dari dalam hatiku terdalam. Cuman kamu di dunia ini yang bisa melakukannya,” ucapku pada Amalia.


*Nod ....


“...”


Amalia mengangguk, dia terlihat kalau dirinya tertarik dengan ini. Dari ekspresinya yang fokus memandang, perasaan layaknya dia ingin mendengar lebih jauh tersampaikan padaku.


“Bisa aku raba dadamu sekarang?”

__ADS_1


__ADS_2