
*Dug, dug ....
"Huakhn!?"
Napasku tersentak, mengembang dada dengan satu tarikan akibat rasa kaget. Sensasinya keras, persis sama ketika aku bangun dari mimpi buruk secara tiba-tiba.
Mataku gelap, tidak bisa melihat ujung dari penglihatanku, ke mana pun aku mengarahkan kepala, tidak ada pantulan cahaya yang diterima. Dalam kondisi yang tidak stabil, napasku juga ikut terpacu karena sedikit panik atas kondisi yang tidak diketahui.
"A-aku sudah mati?" gumamku yang meraba-raba tubuh sendiri layaknya benda asing di ruang gelap gulita.
"Kayaknya enggak, Ivan."
"Huh?"
Di sana niatku bicara pada diri sendiri, gumam yang sering kulakukan ketika yakin tidak ada orang yang mendengar. Ketika pertanyaan yang umumnya terdengar konyol didengar oleh orang lain, rasanya cukup memalukan.
Tapi, apa pun itu, jawaban dari pertanyaan tersebut terjawab. Farrel sepertinya masih ada di ruangan yang sama. Entah tepatnya dia ada di mana, tapi yang terpenting dirinya menunjukkan eksisitensi kehidupan bersamaku.
"Kalau kamu ada di sini bareng, itu artinya kamu berhasil waktu lawan monster barusan?" tanyaku sebagai bentuk mencari informasi.
"Entahlah, aku juga gak tahu detailnya. Waktu aku sadar, aku juga sudah ada di sini, gak beda jauh kayak kamu, Ivan."
"Hn?" responsku berdengung singkat bertanya-tanya. "Kok bisa?"
"Aku malah mau tanya. Harusnya kamu yang lebih tahu, 'kan?"
Ah, itu malah menjadi senjata balik. Aku yang seharusnya menjadi pembimbing bagi Farrel di dunia sihir malah bertanya padanya. Tapi, apa boleh buat, aku kala itu dalam keadaan setengah sadar dan jatuh pingsan karena kehabisan banyak darah.
"Setidaknya kasih tahu aku apa yang terakhir kamu lihat sebelum sampai di sini?" tanyaku pada Farrel yang masih tidak tahu tubuhnya di mana, berlanjut bicara di keadaan gelap.
"Waktu aku gendong kamu, si monster itu berhenti nyerang. Dia tiba-tiba diam, melamun, terus aku sadar dan sudah ada di sini. Itu saja, aku gak ingat kita berhasil bawa dia ke arah selatan atau enggak."
"Hmn ...," dengungku merespons membuat nada sedang berpikir. "Monsternya berhenti gerak katamu?"
"Iya."
"Hmn ...."
__ADS_1
Aku mencoba berpikir lagi. Jika kematian tidak menjemput kami berdua atau setidaknya salah satu dari kami, itu artinya misi dan tugas yang diberikan telah selesai. Hal tersebutlah yang membuatku bingung, padahal aku yakin kalau rencana yang dibuat tepat sasaran di mana memancing sang monster untuk ke tempat gajah berada dan mengambil kepalanya.
Ini adalah rekap ulang dari cerita melegenda. Tentang salah satu tokoh yang terpenggal kepalanya dan digantikan oleh kepala gajah. Rencana itu seharusnya berhasil jika aku bisa mempertemukan gajah dan si monster pojok selatan.
Tapi, kami berdua sekarang di sini. Jika aku dan Farrel tidak memilik ingatan sampai pada tahap tersebut, itu artinya kami menyelesaikan teka-teki tersebut dengan cara yang berbeda.
"Oke, pikirin itu nanti lagi, Ivan. Kalau kita berhasil, berarti harusnya ada orang lain juga di sini."
*Light
Farrel mengatakan hal tersebut sambil menyalakan api. Terdengar suara petikan korek api dan disusul dengan cahaya redup dari api kecil. Tindakan tersebut membuat ruang gelap gulita menjadi terlihat.
Aku memicingkan mata, keadaan yang gelap gulita berbalik menjadi silau ketika ada cahaya walaupun sumbernya redup. Belum sempat aku melihat sekeliling, tapi api di korek tersebut membentuk bulat cahaya yang menarik perhatian.
"Dari mana kamu dapat korek, Farrel?"
"Korek? Bukannya kita dapat banyak dari box sebelumnya? Yang ini ada dari sakuku."
"Hmn?"
Cahaya dari korek mulai bisa ditangkap mataku sekarang. Berdasarkan pantulannya, aku mulai bisa melihat ruangan gelap yang semula tersisa hitam tanpa ujung.
"Oh, ternyata di sini ada lampu," kata Farrel di ujung sambil membawa sumber cahaya koreknya.
*Switch
Saklar lampu ditekan, cahaya terang berwarna putih dari sumber listrik pun menggantikan warna api jelaga. Sekarang, ruangan tersebut terang sepenuhnya, aku bisa melihat setiap sudut dengan jelas. Di sana memang kamar, tanpa jendela, dan punya dua kasur utama di sisi kanan kirinya. Lalu, tentu di sisi-sisi lain kamar tersebut terdapat tumpukan barang dari box yang aku ambil di hutan.
"Hmn ... kayaknya memang sengaja, alat yang kita ambil dari box sudah jadi bekal utama," ucapku bergumam melihat kamar tersebut.
"Bagus, kalau gitu kita gak sia-sia dua hari keliling cari box di hutan," jawab Farrel yang menemani gumam kecil di kamar tersebut. "Tapi, Ivan. Kayaknya kamu harus ganti bajumu."
"Hn?"
Bajuku ...?
Aku melihat bajuku karena refleks.
__ADS_1
Uaa ....
Ternyata, bajuku di sana sudah empat puluh persen rusak. Memang benar bahan pakaian yang aku gunakan kala itu tidak kuat. Terakhir aku berhadapan dengan si monster, aku memakai kaos tipis biasa agar lebih mudah bergerak lincah. Terlebih untuk stamina jarak jauh, pakaian sangat berpengaruh dalam sirkulasi udara, keringat, dan berat pakaian.
Namun, hasilnya masih buruk. Aku berhasil dikejar, dan malah mendapat banyak luka karena sedikit perlindungan dari pakaianku. Karena serangan terakhir ketika banyak ranting dan cabang kayu menusukku, bajuku sekarang masih terbawa kerusakannya.
Namun, kembali lagi hal aneh. Tubuhku sekarang bersih tidak ada darah, dan bahkan tidak ada kotoran tersisa. Ketika bajuku compang-camping penuh lubang, mereka sekarang terpisah dengan debu dan tanah hutan yang awalnya mengotori. Kondisi aku sekarang, tubuh baru, bersih dari luka maupun darah, dan tidak ada kotoran melekat. Bukti kalau pertarungan itu bukan mimpi adalah bajuku yang robek saja.
Aku di sana mengganti pakaian, terutama bagian atas. Di antara barang-barang yang aku ambil di dalam box, masih banyak di antaranya berupa pakaian layak dan berbahan kuat. Aku pilih dari satu itu yang setidaknya paling nyaman digunakan.
Selain tentang pakaian, senjata yang kami dapatkan di pertama yaitu kapak juga masih terpasang utuh di pinggang. Padahal, aku yakin kalau kapak milikku sudah hilang ketika tubuhku melayang dipukul monster. Mungkin, ini memang bagian dari aturan dunia. Kapak tersebut akan terus menjadi perlengkapan dasar setiap pemain dan tidak akan lepas begitu saja.
"Apa di sini kamar khusus buat kita?" tanyaku pada Farrel.
"Kayaknya iya."
"Hmn ... aku penasaran, apa orang lain juga dapat tantangan yang sama kayak kita."
"Mungkin harusnya kamu tanya itu sama orang lain lagi."
"Hoo ... jadi, sudah ada orang lain di sini?" tanyaku menduga-duga.
"Bukan itu maksudku," kata Farrel menolak simpulan itu. "Aku cuman asal ngomong. Kalau mau tahu, kenapa gak keluar sekarang?" lalu lanjutnya menunjuk pintu dengan arah mata.
"..."
Aku menerima kalimat Farrel di sana, secara refleks mataku juga mengarah pada pintu tersebut. Sempat aku tidak menyadari, karena posisinya yang tepat di belakangku tidak terlihat jelas.
Setelah semua berlalu seperti ini. Aku juga sangat ingin mengetahui kabar orang lain terhadap dunia ini. Jika mereka menerima tantangan yang serupa denganku di mana ada monster besar menjadi musuh, aku curiga sedikit dari mereka yang bisa lolos. Pasalnya, dari semua orang seumuranku di sana, yang punya kekuatan tempur hanyalah Amalia.
Mengikuti insting itu, aku pun membuka pintu di kamar, berjalan lurus dan tepat mengarah ke ruang aula utama. Tempat itu sangat sederhana dalam bentuknya, tidak ada percabangan sama sekali hingga tidak mungkin bagiku untuk tersesat. Bahkan, aku awalnya cukup takut karena serasa sedang digiring layaknya domba peternakan.
Tapi, itu hanya perasaan sesaat. Ketika lorong pendek aku telusuri, akhirnya sampai juga aku pada pintu menuju aula segi delapan di mana awal kami menentukan partner sebelumnya.
*Ceklek
Pintu dibuka, gelombang emosi tipis menyambut. Di sana ternyata sudah terdapat orang-orang yang menunggu.
__ADS_1