Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 4 - Memilih Diam


__ADS_3

Aku tidak mengerti pikiran wanita. Apa semua wanita akan tumbuh dan dewasa menuju ke arah seperti kak Dina barusan?


Seiring waktu berlalu, kakakku jadi tidak bergantung dengan orang tua. Dia yang memang ingin lepas dari mereka pun mendapatkannya. Hidup bebas dengan kedua orang tua yang semakin lama semakin hilang keberadaannya di rumah.


Beberapa tahun berlalu dan dia mulai lebih dekat denganku. Koneksi kami semakin erat karena kak Dina tidak punya pilihan selain berkomunikasi denganku di rumah. Bahkan, di satu titik terkadang aku cukup kesal karena dia terlalu dekat.


Tapi, beberapa bulan belakangan ini dia juga semakin menjauh dariku. Apa ini sebuah tanda kalau dia tumbuh dewasa atau itu adalah bentuk dari ketersesatan?


Selama ini aku tidak melihat lagi kak Dina bergantung padaku, setiap percakapan yang dia utarakan tidak sehangat dulu. Awalnya aku pikir itu adalah sebuah kemajuan, mungkin dia punya kehangatan lain di luar sana. Keterbukaannya kepada pergaulan mengantarkan dia pada suatu hubungan yang lebih menyenangkan daripada denganku di rumah.


Namun, timbul pertanyaan baru. Apa benar dia sebahagia itu sekarang? Gelombang emosinya sedikit janggal. Mungkin tidak sepahit dan seburuk milik Imarine, tapi dingin ketakutan dan alasan kemarahannya begitu tidak wajar. Lalu ....


Apa benar luka di tangannya tidak berarti apa-apa?


Setelah kami berpisah dengan kak Dina yang menutup kamarnya, aku pun tidak melihat batang hidungnya kembali sampai tertidur. Dari ruanganku yang di lantai dua, tidak terdengar suara decitan pintu yang menandakan wanita itu keluar.


****


Keesokan hari di waktu pagi aku kembali melihat kak Dina. Jam tersebut adalah jam di mana aku biasa menyantap sarapan. Karena kedatangannya yang terlambat aku lebih dulu di dapur dan memasak untuk jatah berdua.


Kak Dina bukan tipe orang yang periang menebar senyum, dia lebih sedikit bicara dan bercanda dengan nada datar layaknya dia sendiri tidak tertarik dengan canda yang dia ucap. Tapi, dia juga bukan tipe orang yang pemurung, ketika aku mengajaknya bicara hal positif selalu keluar darinya.


Jadi, walaupun perbedaannya tipis, aku bisa mengerti kalau kak Dina sedang tidak riang. Garis wajahnya tidak hidup, bahasa tubuhnya begitu lunglai, dan responsnya tidak tajam.


Aku sekarang sudah ada di meja makan, menyantap makanan yang sudah kumasak dengan tangan kiriku. Kak Dina sendiri diam menatap meja makan tersebut sejenak. Hari ini responsnya sedikit kaku tidak seperti biasanya, antara ling lung baru keluar kamar atau memang dia sedikit canggung. Tapi, aku sebenarnya tidak peduli dengan keduanya.


“Kenapa, Kak? Gak mau makan?” tanyaku menawarkan.


“Iya—kakak, hmn ....”


Tingkahnya kembali gugup, dia sedikit gemetar dengan sesuatu yang bahkan aku tidak mengerti. Logatnya tersendat tidak jelas, tubuhnya berdenyut ketika aku menatap maupun mengajak bicara. Melihat sikapnya yang demikian cukup membuatku ikut gugup.


Semua itu berlangsung beberapa detik sampai akhirnya dia balas bertanya.

__ADS_1


“Kakak boleh makan?”


“Huh?”


Aku menjawab sambil menaikkan alis, pertanyaannya bahkan membuat hatiku sakit ketika didengar. Ini seakan kakakku pergi semakin jauh dari sesuatu yang aku rasakan. Ini seperti hanya aku yang merasa masih menganggapnya saudara.


“Heh, jadi kakak pikir kakak gak boleh makan?” tanyaku dengan sedikit canda.


“Bu-bukan gitu, maksudnya— Ah ... gimana iya jelasinnya ...?”


Kak Dina masih berdiri di tempatnya barusan, tidak mendekat maupun menjauh. Kata-katanya keluar dan beriring dengan banyak emosi keluar.


Aku tidak menyukai atmosfer ini, aku lebih menikmati cara dia yang lama. Tindakan di mana dia dengan sembrono masuk ke meja makan dan menyantap semua yang tersedia lebih menenangkan.


“Oke, terserah. Tapi, yang penting kakak duduk dulu sekarang.”


“U-un,” jawabnya mengangguk sambil berjalan pelan mengikuti perkataanku.


Selama hidupku, tidak pernah aku merasakan gelombang emosi negatif yang sangat pekat dari kak Dina. Rasa sedihnya, rasa kemarahannya, ketakutannya, ataupun sesuatu yang menjurus pada stres lain.


Aku masih bingung, apa sebenarnya emosi bisa berbohong, atau mungkin aku saja yang terlalu terbiasa dengan keberadaan kak Dina hingga menjadi tidak peka padanya. Bahkan, dari tindak tanduknya saja aku sudah mengerti kalau ada yang tidak beres.


Kak Dina sekarang duduk di hadapanku. Dia sedang di posisi sigap di mana kedua tangannya di taruh di atas paha, mengingatkanku ketika dia dalam posisi sedang tunduk dimarahi sosok ayah di rumah ini.


Huft ... hah ....


Aku menarik napas ancang-ancang, berdiri dari tempat dudukku dan mengambil piring yang kemudian diisikan nasi. Jika aku tidak bergerak, aku merasa kalau wanita itu juga tidak akan bergerak.


Sungguh, aku tidak mengerti apa yang ada di kepala perempuan belakangan ini.


“Ah, tunggu, Ivan, kakak bisa ambil sendiri,” ucapnya dengan ekspresi segan mengangkat kedua tangan setara dada dengan gerakan minor mengikuti arah tanganku.


“Bagus, kalau gitu ambil sendiri,” ucapku yang mengikuti kesungkanan hatinya.

__ADS_1


“Un.”


Untuk mengingatkan, hari ini aku masih menggantung tangan kananku bersama gips yang membeku, luka patah tulang belum sembuh. Itu artinya, aku masih beraktivitas dengan satu tangan ... dan itu adalah tangan kiri.


“Ngomong-ngomong, ini kamu masak sendiri, Ivan?” tanya kak Dina sesudah menyendok nasi ke piringnya.


“Aku gak punya asisten tikus yang ada di kepala buat bantu masak. Jadi, iya. Aku memang masak sendiri.”


“Tangan kamu masih belum sembuh, ‘kan? Kenapa gak minta kakak saja?”


Walaupun sedikit merepotkan, tapi semua yang ada di meja makan sekarang berdasarkan dengan bumbu instan saset yang mudah dibuka. Aku tidak perlu banyak melakukan pekerjaan lentik, menu-menu seperti telur dadar atau tumis sayur di sana tidak diperkaya dengan potongan rempah-rempah dariku. Jadi ....


“Aku bisa sendiri,” jawabku dengan tegas. “Lagian, kakak pikir aku ada di posisi enak buat gedor-gedor kamar kakak sekarang?”


“Iya, kamu juga ngerasa kayak gitu. Jadi, kakak juga ngerasa kayak gini waktu mau makan masakan kamu.”


Bersama dengan perkataan itu, aku merasakan tatapan dari kak Dina. Sejenak dari tatapan itu aku melihat mata wanita itu, dari sudutnya dapat diperkirakan kalau dia sedang melihat tangan kiriku atau ... lebih tepatnya mungkin luka di tangan kiriku.


Aku tidak merasakan sakit yang berlebihan dari luka tersebut. Tapi, ternyata bekas dari cakarannya masih tersisa merah membentuk empat lajur jarinya.


“Maaf, kemarin kakak agak kasar,” kata kak Dina merendah.


“Aku gak peduli. Badanku dari awal juga banyak luka, tambah satu gak ngefek apa-apa. Jadi, dari pada minta maaf, aku cuman mau tahu alasan kakak marah kemarin.”


Aku yakin itu bukan cuman masalah privasi. Fakta kalau dia terbuka dengan masalah pribadinya tidak mendukung hal tersebut. Aku kenal kakakku sendiri, bahkan dia tidak keberatan untuk menjelaskan masa mensnya padaku jika bertanya. Tentu kemarin punya kontra dengan kakak yang kukenal.


“...”


“...”


Tapi, sesuatu yang kudapatkan hanya respons diam. Wanita itu tidak menjawab sedikit pun dan lebih memilih fokus menyendok makanannya. Dari geraknya, aku bisa sadar dia menghindar ketika aku berusaha melakukan kontak mata.


Sebenarnya, di sana aku punya pilihan untuk bertanya kembali dan memaksa menjawab. Tapi, tidak kulakukan karena aku tahu itu akan merusak waktu makanku bersamanya. Jadi, di detik-detik itu aku juga memilih diam dan menikmati saja drama itu sebentar.

__ADS_1


 


 


__ADS_2