Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 4 - Satu Kamar


__ADS_3

Ini mungkin salah satu dari perkembanganku selama ini. Bukan hanya Amalia, tapi aku juga termasuk dalam orang yang berlatih menggunakan kekuatanku.


Berbeda dengan gadis tersebut, punyaku adalah sebuah kemampuan untuk mendeteksi. Akibat kekuatan tersebut, aku sangat anti dengan keramaian orang. Namun, semua itu terus berkurang layaknya otot yang dilatih.


Aku yang dulu selalu menghindar ketika ada emosi negatif atau gelombang emosi padat bercampur orang-orang di keramaian. Itu sangat menyakitkan, menjijikkan, bahkan juga merusak kondisi mentalku. Tapi, tentu jika tidak dihadapi, mereka akan selamanya mengerikan dan menjadi kelemahan.


Hari ini aku naik bus, dan di tengah rute aku mendapat kondisi bus yang dipenuhi banyak penumpang—tentu di sana juga banyak gelombang emosi. Tidak seperti biasanya, aku masih bisa menahan itu semua sekarang. Berkat gelombang emosi parah dari Amalia, rasa sakit dan menjijikkan tersebut tidak benar-benar membuatku pingsan atau muntah, lebih seperti sakit sementara layaknya mual sembelit.


Efeknya masih ada, tapi apa yang kudapat dari kekuatan ini tidak separah sampai aku ingin mengurung diri di kamar selamanya seperti dahulu. Mungkin ini juga akibat pengaruh Pero tentang sihir yang digunakan padaku dulu.


Pero selama ini selalu bergantung pada Amalia dan aku, cukup aneh ketika dia sendiri bisa menggunakan sihir dan melakukan hal di luar nalar. Mungkin untuk kasus pengumpulan mana, aku bisa terima dia tidak mengerti perasaan manusia seutuhnya. Tapi, untuk kasus bertarung sesama animus yang notabenya makhluk tersebut juga menggunakan sihir, bukankah aneh untuk meminta aku dan Amalia?


Aku bertanya hal tersebut pada Pero sepanjang perjalanan di bus tanpa sepengetahuan Amalia. Tapi, ternyata jawabannya cukup sederhana.


Animus yang melakukan kontrak dengan manusia layaknya Pero dan Amalia akan kehilangan sebagian besar kekuatan sihirnya. Dia masih bisa menggunakan sihir sederhana, sihir kecil, sihir jangka panjang, atau sihir rumit dengan persiapan sangat lama. Tapi, untuk melakukan pertarungan yang memiliki tempo waktu sangat cepat, mereka tidak akan bisa. Jadi, akan sangat efektif untuk Amalia yang turun tangan dengan berkat sihir perlindungan dirinya.


Dia bercerita juga kalau animus asli yang masih polos tidak terikat kontrak biasanya tidak berdiam di dunia ini. Mereka yang masuk ke dunia manusia biasanya sudah atau sesegera mungkin melakukan kontrak. Aturan-aturan ... tata cara menggunakan sihir ... segala sesuatu berkaitan tentang itu seharusnya sudah diketahui mereka sebelum masuk menyentuh dunia manusia. Tapi, animus tetap punya kekentalan sifat hewan, tidak sedikit dari mereka yang hidup bebas dari aturan tersebut.


Normalnya animus dengan instingnya punya rasa takut berlebih dan cenderung tidak akan mengambil tindakan berani untuk menjajah sesuatu yang tidak mereka ketahui. Banyak dari mereka asing dengan hinar-binar kota metropolitan, bahkan banyak dari mereka masih takut dengan api.


Jadi, ketika ada kejadian pelanggaran seperti yang dirasakan oleh Pero sekarang, sebuah tindakan penyeludupan atau menyusup ke daerah orang lain. Sangat tinggi kemungkinan animus tersebut punya partner penyihir manusia, posisi yang sama seperti Amalia sekarang, seseorang berotak manusia yang dapat mempengaruhi insting penakut hewan.


Pikiranku mulai membayang-bayang, bagaimana rupa dan seperti apa keberadaan penyihir di luar sana. Apa dia sama seperti Amalia layaknya gadis biasa yang kebetulan terpilih, atau seperti penyihir di karya fiksi di mana umumnya menyeramkan dengan nuansa kegelapan.


*****


Perjalanan bus selesai di pemberhentian daerah utara kota. Berbeda dengan pusat kota tempatku tinggal, di sana lebih banyak lahan untuk langit terlihat. Tidak banyak gedung pencakar langit, sedikit rumah-rumah berdempetan, dan jalan raya yang luasnya setara jalan tol.


Kami tidak berhenti di sana, beberapa langkah dan terkadang kembali menaiki kendaraan umum, semua arah tersebut masih ditentukan oleh Pero yang terkurung di kandang burung sekarang. Dia sendiri masih tidak memastikan tepatnya di mana penyusup tersebut layaknya alat pelacak, tapi setidaknya dia bisa mengantarkan kami ke tempat rawan untuk nanti dilacak lebih lanjut.


Amalia terlihat lelah di perjalanan tersebut, sementara kami pun beristirahat di satu tempat makan. Setelah selesai, terbesit pikiran untuk melanjutkan pencarian. Tapi, langit di sudah cukup gelap, setidaknya itu sudah waktunya untuk kami menentukan tempat bernaung di jika sekiranya harus diam sampai tengah malam.


Tidak banyak pilihan hotel di sana, rumah-rumah yang kecil, lahan luas, dan nuansa desa masih kental hingga menunjukkan sedikitnya potensi komersil bisa berkembang. Jadi, ketika kami menemukan satu di antaranya, tanpa basa-basi tempat tersebut pun menjadi pilihan untuk bernaung menumpang tidur.

__ADS_1


Bicara tentang kemudahan, ketika masuk hotel, Pero mengubah bentuk ke wujud manusia. Cukup mencurigakan kami berdua di mana Amalia dan aku ada di dalam usia remaja memesan kamar hotel bersama. Secara fisik, perawakan Pero sebagai manusia itu terlihat layaknya wanita dewasa. Jadi, dia akan terlihat sangat pas sebagai wali sementara sekarang.


Tapi, bukan berarti suasana sekarang bisa diambil begitu mudah layaknya tidak ada halangan sama sekali.


“Pesan satu kamar buat satu malam,” ucap Pero di sana.


“He?”


“...!?”


Iya, benar. Pero memesan satu kamar, itu artinya aku dan Amalia akan tidur di ruangan yang sama. Tidak berbatas dinding, laki-laki dan perempuan, di malam hari, menginap bersama.


*Grip


Aku memegang tangan Pero yang sedang berdiri dan bicara dengan resepsionis hotel. Pegangan kuat tersebut cukup membuat rasa kejut hingga dia berhenti sementara dalam percakapan memesan kamar hotel.


*Grip


Amalia juga memegang pakaian longgar Pero di lengan satunya lagi. Gadis itu tidak bicara, tapi ekspresi dan gelombang emosinya cukup jelas tentang ungkapan perasaan yang sama denganku ... rasa tabu.


*Nod, nod ....


Angguk Amalia yang setuju dengan ucapanku sambil bantu menarik wanita siluman gagak tersebut.


Setelah sampai cukup jauh di sudut aula utama, aku dan Amalia mulai bicara membahas kejadian tersebut ... walaupun sebenarnya sekarang hanya aku yang benar-benar bicara.


“Apa maksudnya satu kamar? Kenapa gak pesan dua?”


“Maksudnya sama seperti apa yang diucap, kita pesan satu kamar dan diisi buat bertiga,” ucap Pero layaknya tidak punya kesalahan. “Apa kamu tidak cukup pintar memahami ini?”


“Itu harusnya pertanyaanku ... apa kamu punya sedikit kepintaran? Sedikit saja buat paham di mana kesalahanmu sekarang?”


“Sebenarnya aku sedikit sadar dengan beberapa hal.”

__ADS_1


“Ah ... aku harap kamu punya kesadaran penuh tentang hal ini,” ucapku dengan malas. “Aku sama Amalia gak bisa satu ruangan berdua, kalau seperti ini mungkin aku bakal ikut masuk.”


“Gak masuk? Kamar yang aku pesan hanya satu sebelumnya, dan kamar lain sudah terisi. Apa rencanamu malam ini?” tanya Pero dengan nada bingung.


“Entahlah ... mungkin aku bakal cari pom bensin atau terminal dua puluh empat jam. Setidaknya itu lebih baik daripada berdua di kamar hotel.”


“Ahaha ...,” tertawa ejek Pero yang bernada sinis menyunggingkan sebelah mulutnya. “Aku tidak mengerti kenapa kamu menyebutnya berdua, ternyata aku memang tidak dianggap individu olehmu. Padahal, sudah jelas kalau aku juga akan masuk ke dalamnya, efek buruk tentang berdua dengan Amalia sudah tidak ada. Atau ... kamu masih punya masalah lain?”


Sebenarnya alasan utamaku tidak ingin bersama Amalia adalah karena efek gelombang emosinya. Tidur nyenyak yang seharusnya jadi tenang dapat kacau oleh gelombang emosi gadis tersebut yang tidak stabil, terutama jika ada tingkat kewaspadaan tentang keberadaanku. Tapi ....


“...”


Amalia sekarang melihatku dengan cemas. Mungkin karena dia mendengar pilihanku untuk berdiam di terminal atau pom bensin layaknya transmigran yang tidak punya uang. Walaupun aku bilang seperti itu, sebenarnya ada pilihan untukku bisa langsung pulang berubah pikiran untuk tidak mengikuti rencana ini dari awal.


“Huft ... hah ...,” hela napasku yang mulai kelelahan berpikir. “Aku gak keberatan kalau Amalia gak apa-apa soal ini.”


“Ah ... akhirnya kamu bisa bersikap dewasa. Aku harap kepercayaan ini tidak kamu khianati ketika ada di kamar,” ucapnya dengan nada sedikit jahil.


“Satu kejadian buruk pada Amalia sudah cukup menyiksa. Gelombang emosinya akan menghancurkanku sebelum aku bisa melakukan hal buruk padanya. Itu sama saja bunuh diri dalam arti sebenarnya.”


“Ahaha ... aku suka candamu.”


“...”


Itu sama sekali bukan candaan.


Setelah percakapan kamu selesai, Pero pun kembali ke meja resepsionis untuk kembali memesan kamar yang tertunda barusan.


Wanita resepsionis tersebut sempat bertanya ada masalah apa, dan Pero menjawab santai kalau itu hanya pertengkaran ringan. Dia bilang kalau aku dan Amalia adalah sepupu, kejadian tersebut dia ungkapkan sebagai rasa malu untuk tinggal satu kamar setelah sekian lama terpisah dan tumbuh besar.


Aku tidak menyangkalnya sama sekali, tapi kemampuan Pero menyiapkan latar belakang seperti itu cukup mendapat pujianku. Selain cerita tersebut, aku bahkan dapat melihat Pero memiliki surat identitas lengkap, tanpa ada masalah atau apapun yang dicurigai, dia berhasil melakukan transaksi tersebut.


Apapun hasilnya, aku sekarang juga sudah lelah dengan perjalanan panjang menahan rasa mual di bus sebelumnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2