
Kondisi macam apa ini?
Aku ditindihi perempuan, dipegang bahu, dan didempeti sambil melihat wajah sang gadis yang bernapas keras dengan wajah memerah.
Rambut Amalia tidak terlalu panjang agar bisa menjuntai hingga mengenai kulitku. Tapi, di beberapa keadaan dia menurunkan kepala sangat rendah hingga ujung rambutnya itu menggelitik di daerah sensitif seperti leher dan kulit bahuku.
Aku tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti betapa membahayakannya kondisi ini. Pasalnya, Amalia seperti tidak dalam kondisi murninya lagi. Dia menggunakan kekuatan yang membuat kesadaran hilang digantikan sifat yang berubah drastis.
Gelombang emosinya pekat terasa, manis di mulut dan bahkan membuat getar di tubuh.
*Dug, dug ... dug, dug ....
Sekarang dadaku berdetak ke arah yang berbeda, ke arah yang lebih unik karena semua rangsangan yang diberikan Amalia. Gerakan tubuhnya yang lembut, wewangian selayaknya aroma terapi manis dari gelombang emosi, kondisi gelap malam, dan bahkan berdua di ruangan tertutup. Tentu instingku sebagai lelaki mau tidak mau dipanggil menjadi aktif.
"Hah, hh, hah ...."
Napas gadis tersebut yang masih tidak berhenti sambil fokus menatapku tajam dengan wajah berkeringat panas.
"A-Amalia ...?"
Tanganku sedikit gemetar karena tenaga yang hilang akibat berbagai faktor. Tapi, aku tetap memutuskan untuk sedikit berontak. Tangan kiriku sedikit bebas kala itu, Amalia hanya mencengkeram bahu sebagai kunci utama. Jadi, sedikit demi sedikit aku mencoba mendorongnya dengan tangan tersebut agar bisa menyingkir dari atasku.
*Grip
"Hh!?"
Tapi, di sana Amalia dapat melumpuhkanku dengan cepat. Dia yang melihat tangan kiriku bergerak dengan segera mengangkat cengkeraman di bahu agar bisa memegang tanganku dan dirapatkan ke kasur.
Tanganku tertarik hingga ketiakku terbuka lebar, arahnya menjadi vertikal tinggi lurus ke arah kepala dan dikunci di sana. Dengan keadaan tangan seperti itu, akan lebih sulit untuk aku memberontak.
"Ehehe, lucu juga kamu mau coba lari dari kondisi ini, Kaivan," kata Amalia dengan nada suara halus gemulai yang menggoda.
Kali ini aku pun tidak bisa bergerak banyak, Amalia yang memegang tanganku juga terkadang merapatkan wajahnya padaku hingga napas dan ujung rambutnya menyentuh kulitku. Hal tersebut berakibat fatal, aku menjadi kehilangan tenaga. Perbedaan kekuatan kami cukup jauh walau dalam faktanya aku adalah lelaki.
"Hmng, hah," napasku yang sedikit kacau karena kondisi yang menjepit. "Apa maksudnya ini, Amalia?"
Aku di sana mencoba untuk mengambil akal sehat. Tidak mungkin ada asap tanpa api, apa yang aku kira tidak masuk akal ini mungkin punya alasan kuat dibaliknya. Aku tidak pernah melihat ada penyerangan gadis pada kamar lelaki seperti ini, dan aku tidak ingin menjadi korban begitu saja.
"Maksudnya ...? Maksudnya gimana? Maksud yang kayak gini?"
Sambil mengucap kalimatnya, Amalia mengusap pipinya ke pipiku.
__ADS_1
"Hh!?"
Rangsangan itu begitu kuat, kuat ke arah yang lain. Kulit lembut dari pipi seorang gadis benar-benar bisa bersentuh dengan wajahku. Sensasi lembut yang luar biasa bahkan membuat ruas-ruas tubuhku ikut bergidik karena tegang, rasa geli dan nikmat gesekan itu bahkan dapat menggerakkan ujung saraf di kakiku.
"Kamu ingat ini? Posisi ini bikin nostalgia waktu kita pertama bertemu, Kaivan?"
"Hn-huh? Sejak kapan kita pernah kayak gini?"
"Kamu lupa? Apa pura-pura lupa? Hmn ... mungkin ini bakal ingetin kamu."
Amalia membuat gerakan lanjutan. Belum selesai memegang tangan dan mendekatkan wajahnya padaku, kali ini dia mulai bergerak dengan kakinya. Di sana aku bergerak kaku, setiap ronta kecil dari tubuh gadis itu balas dengan cengkeraman kuat tangannya, membuat tubuhku tertempel erat dengan kasur berulang-ulang,
Gadis bisu yang sekarang tidak bisu itu meletakkan kaki kanannya masuk di antara kakiku. Aku tahu, kakinya tidak bersentuhan langsung denganku. Mereka hanya masuk ke sela di antaranya. Tapi, gerak gugupku terkadang membuat mereka bertumbukan, hal tersebut yang malah membuat kondisi semakin merangsang.
Terlebih, Amalia sedikit demi sedikit menaikkan kakinya mendekat, terus mendekat ke selangkanganku. Aku bisa merasakannya, gerak lekuk di kasur dapat menjelaskan hal itu tanpa harus aku melihat langsung.
*Whoush ....
Ah ... gelombang emosi ini juga, sangat merepotkan.
Aroma yang mirip seperti lilin terapi membuatku termabukan oleh atmosfer. Terus bangkit, insting lelakiku sekarang bukan menjulang keluar, melainkan lebih ke arah ditarik paksa.
Bahaya, bahaya, bahaya ....
"Hn? Bahaya? Bahaya apanya?" balas gadis penyihir itu dengan nada imut memancing.
"Aku gak tahu kamu pakai kekuatan ini buat apa. Hn, hah ... tapi, kalau diterusin aku gak akan bisa tahan."
"He ... tahan? Tahan apa, iya? Aku gak ngerti, coba kamu sebutin, Kaivan," kembali lagi Amalia dengan nada menggodanya.
"Berhenti, Amalia. Kamu sadar sekarang kita lagi di kondisi apa?"
Aku di sana mencoba mengurangi faktor, menutup mata dan menolak bertatapan dengan Amalia sebisa mungkin. Wajah, ekspresi, aroma tubuh, gelombang emosi, dan nada suara, semuanya benar-benar menjatuhkan.
"Iya, aku tahu. Tapi, aku gak lihat itu jadi masalah. Kita sekarang juga ada di dunia buatan. Kalau memang kejadian yang diinginkan kamu terjadi, kita bisa saja bilang kalau ini cuman mimpi yang agak mesum."
"..."
Eh?
Aku terdiam membeku sesaat. Pikiran tersebut tiba-tiba muncul dan menjadi pertanyaan juga bagiku.
__ADS_1
Sekarang aku ada di dunia buatan, aku dibawa dengan tubuh yang berbeda dengan dunia asli. Aku yakin hal tersebut dilakukan, tubuh asliku yang sekarang masih dalam penyembuhan di patah tulang tangan kanan.
Tapi, bukan hanya itu.
Tubuh baru juga selalu dibawa di setiap babak yang baru. Ketika aku menyelesaikan tantangan pertama dengan monster mirip gorila, tubuhku juga seharusnya sudah hancur di sana. Tapi, di waktu yang singkat, aku dibawa kembali dengan kondisi utuh tanpa luka.
Tubuh kami selalu direset, tidak ada yang dilanjut dan tidak akan meninggalkan bekas apa pun. Apa yang aku kerjakan di sini tidak akan bersisa karena akan diberi tubuh baru lagi nanti.
Tunggu, kenapa aku berpikir seperti itu? Ini bukan berarti aku ingin mengukir cinta dari apa yang ditawarkan Amalia sekarang. Pikirkan sesuatu yang lebih logis, seperti ... alasan, alasan dia melakukan ini—
"Kaivan~"
"Hh!?"
Amalia kembali memanggil namaku, kali ini dia membisik halus tepat menghembus di telingaku. Rangsangan halus itu membuat tubuhku kembali bergidik, lemas dan tidak bisa melawan. Remas-remas kecil di ujung jari, napas kecil dan bahkan desah yang bahkan ternyata bisa keluar dari mulut seorang lelaki sepertiku.
Sampai saat itu, aku mulai berpikir, sesuatu yang memang menjadi hal utama dari bagaimana aku melihat kejadian ini.
Apa benar aku harus melawan? Apa alasanku untuk menolak ini sekarang?
Dari pada menolak, mungkin memang lebih mudah menerimanya. Tubuhku tidak bisa berbohong, bagian bawahku sudah berdenyut-denyut ingin keluar, kepalaku sudah kosong dan mulai mengabaikan akal sehat.
Ah, iya ... masa bodoh.
.
.
.
*Ceklek
"Ivan, sebelumnya aku minta maaf. Barusan aku cuman—"
Sorot cahaya mulai terlihat, dari sisi ujung terlihat kalau pintu terbuka yang disertai oleh sosok orang memasuki ruangan.
"... Eh?" respons orang di depan pintu.
Dia adalah Imarine.
__ADS_1