Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 31 - Empat Orang


__ADS_3

“Hanz! Tunggu!!” teriakku dari kejauhan mencegah lelaki tersebut bertindak lebih jauh.


Di sana Hanz sedang mengayunkan kapaknya. Belum puas membunuh satu orang, dia sedang mengarahkan senjata tersebut pada dua orang yang saling melindungi di sana.


Dua orang yang sedang berhadapan dengan Hanz, mereka sedang ketakutan. Satu di antaranya laki-laki, mengacungkan kapak dan memegang senjata tersebut dengan dua tangan membentuk kuda-kuda siap bertempur mempertahankan diri. Satu di antaranya lagi adalah perempuan, berlindung di belakang tubuh lelaki tersebut dan sama sekali tidak memegang senjatanya.


Mereka berdua bergetar, ketakutan dan hanya bisa menyerahkan nasib pada insting. Pasalnya, satu orang di antara mereka sudah terkapar mati dengan leher putus hasil bacok. Terlihat dari mata, kerja otot, dan kembang kepis napasnya, mereka jatuh dalam sebuah perasaan takut yang luar biasa.


“...”


Namun, ketika aku berteriak, tangan Hanz berhenti mengayun dan membeku di posisi atas. Layaknya tersadarkan dari sebuah gerakan dingin darah pembunuh, dia membeku tidak melanjutkan gerakan.


Aku berharap Hanz di sana segera mundur dan menghentikan tindakannya. Pembunuhan tiba-tiba ini membuatku sangat panik. Memang benar tujuan dari setiap pemain adalah bertahan sampai akhir, tapi membunuh seseorang di awal akan membuat suasana jatuh ke arah yang jauh lebih mengancam.


“Ah ... Kaivan,” ucap Hanz sambil memalingkan wajahnya perlahan memandang ke arahku. “Maaf sudah memperlihatkan kau pemandangan mengerikan. Tapi, jika kau tidak ingin kesakitan, lebih baik kau mundur sekarang.”


Di jarak tersebut kurang dari lima belas meter, artinya ada di dalam jangkauan kekuatanku. Hanz masih bisa berpikir jernih untuk memperingatiku, dia paham kalau sekarang aku dapat merasakan sakit ketika ada orang yang dia bunuh di sekitarku. Sisi negatif yang ternyata dia ketahui di mana aku dapat merasakan rasa sakit kematian yang serupa dari mereka.


Tapi ....


“Aku gak bakal mundur, kamu yang mundur sekarang, Hanz!”


“...”


Hanz memandangku dari jauh, dia dengan pandang layaknya orang buta tidak menatapku langsung dan menaruh titik penglihatan jauh di belakangku. Dia diam berdiri, tidak mundur dan terlihat kalau pria tersebut masih kuat memegang keputusannya.


“Naif, Kaivan,” ucap Hanz sedikit dengan suara bisik mengejekku. “Kau sudah lihat ingatan dan aturan di game ini, ‘kan? Jika kita tidak membunuh, maka kita yang akan dibunuh.”


“Itu bukan alasan buat bunuh orang! Kamu gak bisa pilih acak orang yang kamu bunuh.”


“Pilih acak ...? Ah ... jadi begitu iya menurut kau.”


Hanz menutup matanya, dia melelapkan pikiran untuk sesaat untuk tujuan yang tidak diketahui. Namun ....


“HAAaaAHh!!”


Pria berpakaian adat yang awalnya berhadapan dengan Hanz pun mulai menyerang. Dia mengayunkan kapaknya dengan tegas tepat mengarah ke leher pria tersebut. Dengan memanfaatkan momen kelengahan membelakanginya, Hanz yang sedang bicara menghadapku adalah kesempatan emas bagi si pria itu.


“Ah ....”


*Dodge


Hanz menghindari serangan tersebut, dia melangkah maju untuk membuat jarak lebih jauh hingga serangan pria tersebut meleset. Pergerakan itu begitu luwes, Hanz mengelak bersamaan dengan gerakan membalikkan tubuh dan langsung menghadap lawannya seketika. Posisi berubah, dia sekejap langsung menatap langsung lawannya yang sedang mengayun senjata tersebut.


“Ternyata yang naif bukan cuman kau saja ... Kaivan,” kata Hanz yang berhasil melakukan hindaran.


Pria penyerang itu masih dalam posisi mengayun kapak ke depan, bahunya terbuka dan dia tidak bisa menarik senjata tersebut saat itu juga.


Hanz menarik ancang-ancang, dia melakukan serangan terbuka untuk melumpuhkan tangan kanan sang pria yang digunakannya memegang kapak. Ayunan tersebut sedikit menukik, mengarah ke daerah lengan atas layaknya ingin memotong tangan seutuhnya.


*Swing


“Hh!?”


Akan tetapi, si pria pakaian adat tersebut tidak menyerah. Dia melanjutkan ayunan tersebut ke bawah hingga tercipta sudut yang tajam. Walaupun berbeda sedikit, tapi itu sudah cukup untuk membuat serangan Hanz meleset.


Lalu, di saat yang sama si pria tersebut melanjutkan serangannya, memutar badan dan menggunakan tangan kiri untuk memberikan pukulan di kepala Hanz. Gerakan tersebut sedikit rumit, tapi juga cerdik. Dari pada menggunakan ketangkasan dan kelincahan untuk mengubah gerakan, si pria tersebut lebih memilih melakukan gerakan lanjutan dan memanfaatkan tenaga di serangan pertama untuk menyerang lagi.


Buk!


Serangan tersebut berhasil, suara keras dari efek pukulan di keadaan sunyi terdengar jelas merambat di udara.

__ADS_1


Aku sempat mengira kalau serangan tersebut berhasil melukai Hanz. Tapi, dugaan itu semakin memudar ketika aku melihat pertarungan tersebut secara detail.


Hanz sama sekali tidak bergeming dari kuda-kudanya. Hantam tangan yang mengarah ke kepala bahkan tidak menimbulkan getaran pada tubuhnya sedikit pun. Hal tersebut sedikit membuatku bertanya, sampai akhirnya aku menemukan kalau ternyata Hanz dapat menahan serangan tersebut tepat sebelum mengenai kepalanya.


Sudut pandangku ada di kanan belakang Hanz. Itu menyebabkan sisi kiri tidak terlihat dengan jelas. Namun, kali ini aku bisa melihatnya, dia meletakkan perisai tangan tepat di kepala sebelum serangan pria berpakaian adat itu sampai.


“Arjuna, aku tahu kalau kau akan menggunakan gerakan tersebut,” ucap Hanz dengan suara dalam memendam tenaganya.


*Grip


“Hh!?”


Hanz memegang balik tangan tersebut. Perisai tangan yang dia gunakan beralih menjadi pengunci kuat tangan kiri sang pria berpakaian adat tersebut. Satu atau dua kali pria itu mencoba kabur. Tapi, cengkeraman Hanz begitu kuat, terlihat dengan rasa sulit dari si pria itu berusaha meloloskan diri.


Pada akhirnya, si pria tersebut mengayunkan lagi kapak di tangan kanannya. Mengarah tepat ke arah tangan Hanz yang sedang mengunci tersebut.


*Dodge


Tapi, tentu Hanz bisa menghindarinya dengan mudah. Tubuhnya yang dominan itu sangat mudah untuk membelokkan posisi tangan agar serangan tersebut meleset. Berbeda dengan pria berpakaian adat, Hanz masih punya kendali atas tubuhnya kala itu.


Posisi mereka berdua sekarang sudah kacau, saling terikat dengan di jarak dekat dan pada kondisi tidak dapat menyerang. Tapi, itu lebih kepada sang pria berpakaian adat. Karena, Hanz di sana masih ada satu tangan yang bebas. Tangan kanan dengan kapaknya masih menjulur di atas bersiap mengayun.


Pria berpakaian adat itu sadar, dirinya dalam bahaya setelah mengetahui kedua tangannya tidak berfungsi baik. Dia hanya bisa melihat, mata kapak yang detik demi detik mendekat ke arah lehernya.


*Slash


“Ghkuakh!!”


Serangan tersebut mengenai lehernya. Pria berpakaian adat tersebut sampai berteriak menggeram kesakitan.


Lalu ....


*Whoush ....


Aku juga mendapat efek dari rasa sakit yang dia rasakan.


“Arjuna, apa yang kau lakukan, kau menghindar dari serangan malah membuat kematianmu menjadi menyakitkan,” ucap Hanz sesambil menghempaskan cengkeraman tangannya bergerak mundur menjauh dari pria berpakaian adat.


Cipratan darah keluar, menyembur keluar beberapa senti dan mengalir deras hingga memenuhi seluruh pundak pria tersebut. Serangan kapak tersebut tidak memotong seluruh batang lehernya, hanya sebagian kecil di bagian sisi karena sedikit meleset akibat berontak sang pria berpakaian adat.


“Embngh!!”


*Drop


Pria tersebut menjatuhkan kapak miliknya, mendentang kuat beberapa kali di permukaan tapak lantai ruangan ini.


Aku dapat merasakan rasa sakit dari luka di lehernya. Sebuah tusuk-tusuk dan rasa kulit dikuliti membuatku merasakan stres. Oleh sebab itu, aku beberapa kali mundur, meredam rasa sakit dengan cara menjauhi sumber gelombang emosi tersebut.


Laki-laki berpakaian adat itu dengan panik memegang sisi lehernya. Luka yang parah dengan darah menyembur tersebut masih dia niatkan untuk bertahan hidup. Dia menutup pembuluh darah seadanya, mencegah cipratan darah tersebut mengalir terlalu banyak keluar dari tubuhnya.


Akan tetapi, alir deras dari darah tersebut tidak berhenti. Beberapa kali aku melihat sembur darah keluar dari sela-sela jarinya, membuatku ngilu bahkan tanpa harus merasakan gelombang emosinya.


Beberapa orang di belakangku juga mulai ketakutan. Ketika aku mundur dan menjauhi Hanz dengan pria berpakaian adat tersebut, aku mungkin bisa lolos dari gelombang emosi rasa sakitnya. Tapi, di saat yang sama aku telah mendekat ke arah orang-orang di belakang. Mereka yang melihat pemandangan mengerikan juga menghasilkan emosi negatif. Terutama, tentu yang paling kuat adalah berasal dari Amalia.


“Hah ... hah ...,” napas pria berbaju adat yang keras ‘tak terkendali. “Kenapa orang tadi panggil dirimu dengan nama Hanz?” lalu lanjutnya dengan bertanya.


“Kau tidak perlu mengetahuinya. Kejanggalan dari dunia ini akan aku akhiri sekarang. Jadi, tolong jangan buat kematian kau jadi menyakitkan lebih dari ini.”


Hanz bicara dengan kepercayaan diri. Dia sama seperti Geza waktu itu, mengatakan hal yang secara tersurat adalah sebuah kejahatan, tapi dengan wajah tenang seakan dirinya benar. Di mataku, dia sedang melakukan pembunuhan acak, tidak berdasar dan terlalu tiba-tiba.


“Tunggu, Hanz!!” teriakku mencoba menghentikannya.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan menunggu, Kaivan,” jawab Hanz dengan nada khas tenangnya lagi. “Kau dari tadi tidak mengerti. Apa yang aku lakukan ini memang hal yang benar.”


“Enggak, Hanz. Kalau kamu gak punya bukti, kamu gak bisa bunuh orang itu. Dia cuman lawan kamu buat bertahan.”


“Naif, Kaivan. Asal kamu tahu saja, orang yang kamu bela itu adalah orang yang sudah mati. Dia sudah tidak ada di dunia nyata.”


“Eh?”


Aku sempat melamun sesaat, kalimat yang diutarakan Hanz membuatku lupa untuk membalas ucapannya tersebut.


Lalu, di saat yang sama Hanz kembali mengencangkan kuda-kudanya. Dia memegang erat kapak tersebut sambil melakukan ancang-ancang kuat melakukan serangan. Lawannya pria berpakaian adat sudah tidak berdaya, dia sepertinya juga tidak ada niat melawan dengan luka di lehernya yang sudah parah.


*Slash


Pada akhirnya, dengan gerakan sederhana mengayun horizontal, Hanz membunuh pria tersebut dengan sekejap. Satu serangan tersebut sangat kuat, membuat daging di leher pria tersebut terpotong sempurna, dan mencipratkan darah ke tubuh Hanz.


“Kau ingat apa yang jadi peraturan di dunia ini, Kaivan?” tanya Hanz dengan nada bertanya pada diri sendiri. “Dunia dibentuk atas dua individu, manusia asli yang ditarik, dan manusia palsu yang dijadikan pion.”


“...”


“Apa kau tidak menangkapnya? Ingatan itu bilang kalau pemain yang dibunuh akan benar-benar mati di dunia nyata. Lalu, bagaimana jika dari orang tersebut sudah mati? Bukankah orang yang mati tidak dapat mati lagi? Aku harap kau sudah mengerti maksudku di sini, Kaivan.”


Terkapar dua mayat di sekitar Hanz sekarang. Darah segar yang mengalir di lantai membuat lingkungan di sekitar kakinya becek dan dipenuhi bau khas besi. Bahkan, untuk beberapa alasan ruangan ini sudah terlihat seperti tempat jagal.


Lama kelamaan gelombang emosi dari rasa sakit orang tersebut menghilang, orang yang tergeletak dengan darah tersebut akhirnya ada di kondisi kematian. Satu keadaan mungkin membaik, tapi gelombang emosi dari orang lain tidak berjalan serupa.


Aku dapat merasakannya, ketakutan, kebencian, dan rasa jijik muncul terus menerus di belakang tubuhku. Tidak aneh jika ada suara bisik dari ketegangan melihat pembunuhan secara langsung seperti ini.


Amalia ditutup matanya oleh Pero, kak Dina dibawa semakin jauh oleh Verdian dan menatap dari kejauhan, Farrel berdiri sendiri dengan wajah mengerut melihat sesuatu yang menjijikkan, lalu Imarine ....


“...”


“...”


Dia membeku dengan ekspresi melongo. Tidak bertenaga dan lemas menggantung tangan dan dengan kaki yang tidak kokoh. Mata kosongnya seakan tidak terima dengan fakta yang dia dengar, sesuatu yang tentu akan mengejutkan jika harus dia terima secara keseluruhan. Aku di sana juga bisa mengerti, terlebih ketika Hanz membahas tentang orang mati.


*Splat


Hanz mencipratkan darah di kapaknya ke lantai, dia menghempaskan senjata tersebut dengan keras agar kotoran cairan merah tersebut terhempas dan melakukan pembersihan utama.


Di sana dia tidak punya lap, di sana dia juga sudah ada di dalam kondisi pakaian penuh darah. Lalu, di sana juga Hanz berjalan mendekati satu perempuan yang berpakaian adat serupa di mana sebelumnya dia berlindung dari pria yang terbunuh.


“Woi, Hanz!!?”


Hanz kembali mengangkat kapaknya. Pria berlumuran darah tersebut masih ingin melayangkan senjata pada orang lain. Tidak puas dengan hanya membunuh dua, dia masih ingin membunuh perempuan tersebut.


Si perempuan tidak bergerak, dia bergetar tidak dapat melarikan diri dari tempatnya. Kakinya kaku, responsnya lambat, dan pandangannya kosong. Sepertinya dia shock sampai tidak bisa melarikan diri sama sekali.


*Step, step, step ....


Hanz terus mendekat, dia melakukan ancang-ancang dan sedikit pemanasan dengan menggerakkan kapaknya ke berbagai arah, persis seperti orang yang siap untuk menjagal hewan ternak.


*Fall


Perempuan tersebut ketakutan, dia pun akhirnya jatuh ke posisi duduk sambil melihat Hanz dengan ketakutannya. Tapi, di waktu tersebut si perempuan tetap tidak melawan, dia hanya menatap Hanz dengan ekspresi keputusasaan.


“Kaivan, mungkin kau bertanya siapa empat orang yang ada di sekitarku ini. Namun, sayangnya kau tidak perlu jawaban yang jelas. Satu hal yang pasti, tidak ada di antara mereka yang masih hidup di dunia nyata.”


*Slash


Kata Hanz sambil mengayunkan kapaknya membunuh perempuan tersebut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2